Home / Romansa / Bukan Sekedar Asisten Pribadi / 29. Bukan Perempuan Rendahan

Share

29. Bukan Perempuan Rendahan

Author: Angdan
last update publish date: 2026-05-06 05:56:10

Zahra melirik Kris yang terlihat sedang sibuk dengan layar laptop dan kertas yang ada di mejanya. Ia tidak sedang ingin berdebat dengannya karena tidak penting untuknya.

Zahra tetap sibuk dengan papan ketik dan layar laptop yang berisi angka dan huruf serta diberi tanda dengan warna yang berbeda. Zahra juga memeriksa jadwal Kris untuk esok hari dan ke depannya.

“Minggu depan Bapak ada rapat bersama orang Inggris yang pertemuannya diadakan di sebuah restoran yang ada di hotel.” Zahra memberitahu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   30. Berusaha Mendapatkan Maaf

    “Aku sudah mengirim file rapat untuk hari Senin depan sebelum Bapak berangkat ke luar negeri bersama rekan kerja karena tanggal merah dan libur panjang. Jadi, Bapak bisa mempelajarinya terlebih dahulu sebelum rapat dan seperti biasa sudah saya buatkan naskah untuk rapat hari Senin,” cerocos Zahra sembari menggendong tas ransel dan meletakkan dokumen pekerjaannya di mejanya.Zahra pergi dari hadapannya, tetapi lagi dan lagi tangannya ditahan. Zahra tidak ingin membahas masalah dengan Kris yang terjadi kemarin.Walaupun masalahnya tidak besar, tetapi ia tidak ingin siapa pun bertanya masalah pribadinya dan tidak ingin menyusahkan orang lain.“Aku sedang bicara denganmu, Zahra,” kata Kris pelan sambil menatap lamat.“Tidak ada yang perlu dibicarakan dan hubungan kita sudah selesai!” balas Zahra dengan intonasi penekanan sambil menatap tajam lalu menampis tangan Kris dengan kasar.“Bagi kamu hubungan kita sudah selesai, tapi aku gak, Zahra!” balas Kris yang berusaha menahan emosinya.“Sud

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   29. Bukan Perempuan Rendahan

    Zahra melirik Kris yang terlihat sedang sibuk dengan layar laptop dan kertas yang ada di mejanya. Ia tidak sedang ingin berdebat dengannya karena tidak penting untuknya.Zahra tetap sibuk dengan papan ketik dan layar laptop yang berisi angka dan huruf serta diberi tanda dengan warna yang berbeda. Zahra juga memeriksa jadwal Kris untuk esok hari dan ke depannya.“Minggu depan Bapak ada rapat bersama orang Inggris yang pertemuannya diadakan di sebuah restoran yang ada di hotel.” Zahra memberitahu Kris dengan ramah sambil membawa tablet untuk memberitahu jadwal padatnya.Kris melirik tablet yang diserahkan oleh Zahra lalu diambil olehnya. Kris memeriksa jadwal yang ada di tablet dan pertemuan itu diadakan sebelum mereka pergi ke luar negeri.“Oke. Kamu atur pertemuannya saja dan aku tunggu di restoran yang menyediakan makanan barat di tengah kota bernama Kuich,” ucap Kris pelan sambil menatap lamat.“Saya tidak bisa datang ke sana nanti sore. Saya sibuk kalau bukan pekerjaan dan bapak pa

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   28. Pertemuan dengan Detektif

    “Saya yakin bisa melawan mereka dengan keyakinan dan bukti yang kuat maka dari itu saya menghubungi Zahra dan meminta dukungan penuh untuk mengusut kasus kematian Ayah dan adik Anda yang belum terungkap hampir puluhan tahun,” jawab Robby dengan santai lalu tersenyum lebar.“Tidak ada satu orang dari kepolisian yang mengusut kasus kematian adik saya dan hasil forensik sudah jelas mengatakan bahwa ada cairan putih dan kental pada bagian sensitif adik saya, artinya dia tidak bunuh diri, tapi dibunuh.” Zahra menjelaskan dengan pelan sambil menatap foto adiknya yang ada pada berkasnya.“Mereka berspekulasi bahwa adik Zahra bunuh diri?” tanya Robby dengan intonasi penekanan.“Iya. Mereka berspekulasi, padahal ada bukti yang menjawab atau bisa mematahkan argumen mereka terhadap kasus kematian adik saya,” jawab Zahra dengan intonasi penekanan dan anggukan yang tajam sembari menatap lamat kepadanya.Robby menghela napas pelan seraya melirik berkas dokumen yang dibawa olehnya yang diletakkan di

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   27. Persetujuan Kasus Kematian Ayah dan Adik Dibuka

    “Karena aku sayang, cinta dan peduli denganmu. Apa pun yang ada dalam dirimu, aku menerimanya dan kamu jangan mengkhawatirkan itu.” Kris menjawab dengan santai sambil mengendarai mobil.“Kamu lebih baik tidak perlu sayang, cinta dan peduli denganku karena aku adalah orang yang berbahaya. Aku bisa menyakiti siapa pun yang aku mau lukai, termasuk kamu,” balas Zahra dengan intonasi penekanan sembari menyeka air mata dan mengalihkan pandangan ke jalanan.“Apa maksudmu, Zahra?” tanya Kris dengan intonasi penekanan dan nada bergetar.“Maksudku adalah kamu mundur dan jalanin saja hari saat aku bekerja denganmu. Jalanin hari dengan sikapmu yang dingin dan tak berperasaan. Aku ingin kembali seperti dulu dan jangan pernah menganggap pernah menjalin hubungan denganku. Anggap saja aku angin lalu dan kamu bisa menikah dengan Maya,” jawab Zahra dengan intonasi penekanan sambil menatap lamat ke arah Kris sedang menyetir.“Tidak. Aku tidak mau dan akan pernah melepaskanmu.” Kris menolak permintaan Za

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   26. Tidak Terbuka

    Zahra tersenyum tipis sambil menatap Kris dengan lamat. Ia mengusap pipi Kris pelan dan lembut sembari menggeleng pelan.“Maaf, aku belum bisa terbuka lebar kalau soal ini, Sayang. Ini masalah pribadiku dan suatu hari nanti, aku akan memberitahumu permasalahanku. Permasalahanku sangat rumit dan aku tidak ingin berbagi kisahku kepada siapa pun karena aku tidak ingin dikasihani oleh banyak orang. Biarlah masalahku yang aku pendam dari pada aku cerita ke banyak orang malah menjadi bahan pembicaraan mereka dalam kondisi apa pun.”Zahra menjelaskan kepada Kris ketika ia menyimpan kisahnya secara rapat dan tidak perlu orang tahu mengenai permasalahannya. Ia terbiasa menyimpan masalah sendiri sehingga mudah untuk tidak menceritakannya.“Sayang, kamu tidak sendiri lagi sekarang. Kamu harus berbagi cerita kepada seseorang yang ada di sampingmu atau kepada orang yang kamu percaya. Kamu bisa berbagi cerita denganku karena aku selalu ada di sisimu sampai mati,” balas Kris lembut sambil menatap la

  • Bukan Sekedar Asisten Pribadi   25. Permintaan Saling Terbuka

    Zahra mengangguk pelan. “Kamu kayak badut, tapi badut bukan yang menyeramkan.”“Sudah gak marah sama aku?” tanya Kris lagi.“Masih marah.” Zahra menjawab singkat lalu memeriksa ponsel yang berdering sekilas saat bermain dan berbicara dengan Kris.“Aku minta maaf sudah membuatmu marah dan melanggar semua yang aku ucapkan kepadamu. Aku memang bukan pria yang bisa menepati dan menjaga semua ucapanku kepada seorang wanita, terutama kepadamu yang sudah menjadi kekasihku. Bahkan, kamu menjaga kepercayaanku, meskipun Seno ingin sekali menyentuh dan memelukmu saat kalian bermain basket dan bowling dan kalian memenangkannya,” cerocos Kris dengan intonasi penekanan sambil menatap Zahra yang memandangi ponselnya.Zahra mendapat pesan dari nomor tak dikenal yang berisi tentang mengetahui kematian adiknya.[Kamu Zahra, kan, kakak dari Gladys? Aku tahu kematian adikmu dan siapa saja yang ada di baliknya. Dia mengembuskan napas dan nyawa yang telah direnggut oleh tiga orang dan mereka bukanlah orang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status