MasukMobil mewah Angel berdecit keras saat berhenti tepat di pelataran depan lobi utama Rumah Sakit Pusat Jakarta. Sinar matahari siang yang terik menyengat kulitnya begitu dia melompat turun dari balik kemudi.Dengan mantel panjang yang berkibar menutupi gaun tidur sutra di balik pakaian kasualnya, Angel melangkah lebar dengan napas memburu. Penampilannya acak-acakan, matanya merah berselimut sisa air mata, dan dadanya bergemuruh hebat menahan rindu serta ketakutan yang memuncak.Angel menerobos pintu kaca otomatis lobi rumah sakit, lalu berlari cepat menuju lift khusus lantai VIP tempat ruang ICU Alexis Permana berada. Begitu pintu lift emas terbuka di lantai atas, Angel melangkah keluar dengan terburu-buru.Namun, baru tiga langkah kakinya memijak permukaan lantai marmer lorong steril tersebut, tubuhnya langsung diadang paksa. Dua orang pengawal bertubuh tinggi besar dengan setelan jas hitam formal dan emblem platinum Permana Group di kerah mereka mendadak melangkah maju, memasang badan
Lexi hanya mengangguk pelan. Dia membiarkan Clarissa merapatkan tubuh ke lengannya. Tatapan matanya lurus menatap langit-langit putih kamar rawat. Isi di dalam kepalanya terasa begitu hampa. Setiap kali dia mencoba mengingat garis waktu beberapa tahun terakhir, hanya rasa pening luar biasa yang dia dapatkan. Ada sensasi aneh di dadanya, seperti ada sesuatu yang hilang dan tertinggal di luar sana. Namun, konfirmasi dari Viona dan senyuman penuh kemenangan Clarissa mengunci semua keraguannya untuk saat ini. "Ya, aku dengar," sahut Lexi datar, suaranya parau dan tanpa riak emosi. Clarissa menyeringai tipis, merasa berada di atas angin. Baginya, hilangnya ingatan Lexi adalah karpet merah untuk menguasai takhta Permana Group dan mengubur nama Angel selamanya. ...... Sementara itu, di belahan kota Jakarta yang lain, atmosfer kesedihan yang begitu pekat menyelimuti kediaman Van Holden di Menteng. Angel sedang berdiri mematung di kamar tidur utamanya. Di hadapannya, sebuah koper besar
"Maaf, Nyonya Viona. Ini adalah hasil pemeriksaan yang paling objektif berdasarkan cedera kepala yang dialami Tuan Muda," jawab dokter utama itu dengan kepala yang tertunduk makin dalam, tidak berani menentang langsung tatapan menghunjam dari putri sulung Abraham Permana. Dokter itu menghela napas berat, mencoba menjelaskan kerusakan medis di dalam tempurung kepala Lexi dengan seuniversal mungkin agar mudah dipahami. "Benturan keras pada lobus temporal kiri akibat hantaman beton pembatas jalan semalam telah memicu trauma kontusi cerebral yang cukup parah. Pendarahan hebat yang sempat kita bersihkan di ruang operasi kemarin menekan jaringan saraf yang menyimpan memori jangka pendek dan jangka menengah." Viona menarik napas tajam. Keangkuhan alaminya sebagai pemimpin operasional Permana Group yang biasanya selalu kaku dan tenang, mendadak goyah. Dia melangkah maju satu tindak, mencengkeram besi ranjang tempat Lexi berbaring kaku. "Maksud Dokter, memori beberapa tahun belakangan i
Jtak! Rian memukul meja komputer dengan kepalan tangannya yang kuat, matanya membelalak saat data pelacakan satelit selesai memproses sinkronisasi akhir. Namun, detik berikutnya, senyum smirk di wajah Rian lenyap tanpa sisa. Keningnya berkerut dalam, menatap baris kode enkripsi yang tiba-tiba berubah warna menjadi merah di layar monitor. "Sialan! Ini data fiktif!" umpat Rian beringas, giginya bergemeletuk menahan dongkol. Rupanya, nomor ponsel rahasia yang sempat terhubung dengan menara pemancar jalan layang Pusat itu sengaja dirancang menggunakan sistem pengalihan IP ganda dari London. Begitu Rian mencoba membongkar server intinya, seluruh data digital itu hancur secara otomatis dan memantulkan identitas acak yang sama sekali tidak merujuk pada nama Clarissa Kensington ataupun pengawal pribadinya. Tim hacker bayaran dari Inggris benar-benar sudah membersihkan seluruh jejak pembantaian tersebut dengan sangat rapi tanpa cacat. "Hebat banget lo, Kensington. Bersih banget mainnya,
"Cukup! Jaga mulut kalian berdua!" potong Viona tegas, melayangkan tatapan sedingin es yang membuat Clarissa dan Angel bungkam seketika. "Kalian berdua sama saja. Hanya peduli pada ego masing-masing saat Alexis bertaruh nyawa di dalam."Viona memutar tubuhnya menghadap Hendra. Wajahnya mengeras tanpa kompromi. "Hendra, amankan koridor ini. Mulai detik ini, tidak ada satu pun orang luar yang boleh mendekati ruang ICU tanpa izin tertulis dariku atau Bapak. Siapa pun itu."Mendengar perintah mutlak The Ice Queen, Clarissa menyeringai menang ke arah Angel. Namun, senyumnya langsung lenyap saat Viona berbalik menatapnya dengan tajam."Itu termasuk kamu, Clarissa," sambung Viona kaku, suaranya ketat tanpa keraguan. "Statusmu belum resmi. Jadi, kamu juga orang luar di sini. Lebih baik kamu kembali ke hotel bersama ayahmu sampai tim dokter memberikan perkembangan terbaru mengenai Alexis."Clarissa melongo tidak percaya, wajah cantiknya memerah menahan malu. "Tapi Mbak Vio, aku ini calon tun
"Clarissa! Cukup!" bentak Viona Permana, memotong pekikan histeris gadis London itu dengan suara yang menggelegar dingin bak hantaman badai es.Aura tiran The Ice Queen bangkit sepenuhnya, membuat koridor VIP rumah sakit seketika senyap mencekam. Sepasang mata jernih Viona berkilat murka, menatap tajam tepat ke arah mata Clarissa yang seketika menciut ketakutan."Ini rumah sakit, tempat adikku sedang bertaruh nyawa di dalam, bukan panggung sirkus atau pasar malam tempat kamu bisa berteriak histeris seperti wanita kurang didikan!" desis Viona ketus, nadanya begitu menusuk, menguliti seluruh sisa keangkuhan aristokrat milik Clarissa dalam satu kedipan mata."Mbak Vio... aku tidak bermaksud—""Diam!" potong Viona mutlak, tidak memberikan celah sedikit pun bagi Clarissa untuk berkelit. "Aku tidak peduli seberapa tinggi kastamu di London, tapi jika kamu berani mengeluarkan satu suara melengking lagi yang mengganggu ketenangan area ICU ini, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari gedu
Mobil Mercedes-Benz hitam itu akhirnya masuk ke area parkir sebuah butik mewah di kawasan elit pusat kota. Begitu mobil berhenti mulus, Angel tidak langsung turun. Dia melirik Lexi lewat spion tengah, merapikan rambutnya sebentar, lalu berdehem pelan."Lexi," panggil Angel. Nadanya sedikit canggung
Sementara Mercedes-Benz hitam yang membawa Angel dan Lexi melaju pergi meninggalkan rumah, di belahan kota yang lain, suasana di dalam ruangan kerja Direktur Utama Van Holden Group justru terasa sangat sunyi seperti berada di area kuburan.Ruangan luas itu dilapisi dinding kaca besar yang langsung
Setelah keluar dari ruang kerja Baron, Lexi berjalan menuju area belakang yang sepi, di dekat garasi mobil mewah.Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah sedikit retak, lalu menekan sebuah nomor yang sengaja dia simpan untuk keadaan darurat tertentu terkait masa lalun
"Lexi, kalau kau bisa menghamili istriku, aku akan memberikan sejumlah uang yang cukup untuk biaya hidupmu seumur hidup!” Sesuara yang familier tiba-tiba saja berteriak ke arah Lexi, supir pribadi yang tampan milik Keluarga Van Holden.Lexi yang sedang mencuci mobil di halaman, langsung menoleh ke