共有

Bab 4. Ketemu Mantan

作者: Nona Muda
last update 公開日: 2026-05-25 23:40:01

Mobil Mercedes-Benz hitam itu akhirnya masuk ke area parkir sebuah butik mewah di kawasan elit pusat kota. Begitu mobil berhenti mulus, Angel tidak langsung turun. Dia melirik Lexi lewat spion tengah, merapikan rambutnya sebentar, lalu berdehem pelan.

"Lexi," panggil Angel. Nadanya sedikit canggung, tapi sisa ketus dan angkuhnya masih terasa.

"Ya, Nyonya? Ada yang ketinggalan?" Lexi menoleh ke belakang dengan senyum paling manis yang dia miliki.

Angel memutar-mutar tali tas Hermès di pangkuannya. Wajah cantiknya agak merona, seperti sedang menahan malu untuk mengucapkan sesuatu yang tabu tapi nikmat.

"Baron, sudah bicara sama kamu, kan? Soal..., rencana itu?"

Lexi menahan senyum jahil. Dia tahu persis mau ke mana arah omongan ini.

"Rencana yang mana, Nyonya? Soal nganter Nyonya belanja hari ini, atau soal saya yang diminta Tuan Baron untuk membantu menghamili Nyonya?" jawab Lexi dengan nada yang bisa didengar oleh satu RT, beruntung saat ini mereka masih berada di dalam mobil.

"Hei! Kecilin suaramu, Lexi! Blo'on banget sih!"

Angel mendongak ke depan dan memukul pundak Lexi dengan tasnya. Wajahnya kini merah padam.

"Kok bahasamu vulgar banget! Maksud aku ..., iya, itu, soal penawaran Baron."

"Ooh... iya, jadi pejantan sewaan kan," sahut Lexi santai.

Angel semakin melotot, seperti ingin menelan hidup-hidup supirnya itu.

"Sudah, Nyonya. Tadi pagi sebelum cuci mobil, Tuan Baron memang memanggil saya ke ruang kerjanya. Saya setuju, malah saya kasih syarat tambahan," tambah Lexi lagi, dia ingin tahu seperti apa wajah Angel kalau mendengar syarat tambahan yang dia ajukan pada Baron tadi.

Kening Angel langsung berkerut. Rasa penasarannya memuncak.

"Syarat? Syarat apa? Baron ngijinin apa?" Angel bertanya dengan wajah penasaran. Kok bisa-bisanya ada syarat tambahan, pikir Angel.

Lexi memutar tubuhnya, menyandarkan siku di sandaran jok, lalu menyeringai ke arah Angel.

"Saya bilang ke Tuan Baron, daripada hubungan kita cuma kayak jual putus lalu habis itu saya dicampakkan begitu aja, bagaimana kalau saya jadi simpanan tetap Nyonya? Bikin anak itu nggak sekali tusuk, Nyonya, butuh berkali-kali, jadi saya juga mau totalitas, dan profesional." Lexi menjawab rasa penasaran Angel barusan, dan seperti yang sudah disangka, kedua mata indah Angel membelalak. Mulutnya sedikit menganga.

"Kamu... kamu gila ya? Berani-beraninya kamu minta jadi simpanan aku? Dan Baron... Baron setuju?"

"Setuju banget, Nyonya. Tuan Baron malah tertawa. Beliau bilang, silakan saja kalau saya tahan dengan mulut kayak mercon milik Nyonya. Terus kata Tuan Baron lagi yang penting buat beliau adalah anak itu lahir atas namanya. Soal siapa yang memiliki hati dan tubuh Nyonya ke depannya, Tuan kayaknya nggak terlalu peduli deh," kata Lexi.

Kalimat terakhir Lexi menusuk ego Angel. Ada kilatan marah sekaligus perih yang melintas di mata wanita itu, karena selama empat tahun menikah, Baron tidak pernah benar-benar menghargai dirinya sebagai istri.

Tapi Angel buru-buru menepis perasaan itu. Dia memasang kembali topeng arogannya.

"Kurang ajar si Baron," umpat Angel lirih. Lalu matanya menyorot tajam ke arah Lexi. "Dan kamu! Berani banget ambil kesempatan! Kamu pikir aku mau punya simpanan modal tampang doang, tapi miskin kayak kamu!"

"Tenang aja., Nya, masalah pelayanan, saya jamin nggak bakal ngecewain, Nyonya. Biar saya cuma supir, modal tampang doang, tapi tenaga saya bisa diadu sama Tuan Baron," goda Lexi, sengaja bikin Nyonya mudanya tambah panas.

Angel yang mendengar ucapan Lexi langsung mengerutkan kening, lalu menaikkan satu alisnya.

‘Gila nih orang, pede banget. Tampang sih oke, cuma otaknya setengah ons juga nggak sampe,’ batin Angel sembari meringis.

"Diam! Cepet bukain pintunya! Aku udah telat!" pekik Angel. Angel benar-benar dibuat salah tingkah oleh kelakuan ajaib Lexi yang urat malunya sendiri sudah putus.

Lexi ketawa kecil dalam hati. Dia buru-buru turun, muterin mobil, lalu bukain pintu belakang sambil membungkuk khidmat seperti seorang pelayan kerajaan.

"Silakan turun, Nyonya Calon Sugar Mommy ..., eh maksudku, Nyonya Besar," kata Lexi sembari mengulum senyum. Sumpah, rasanya gemas melihat tingkah laku wanita cantik yang jutek setengah mampus tapi bisa bikin mata jadi segar hanya dengan melihat liak-liuk bodi aduhai, bemper montok kanan-kiri.

"Awas kamu ya, Lexi! Tunggu balasanku!" ancamnya ketus sebelum melenggang anggun masuk ke butik.

Usai memarkirkan mobil, Lexi berjalan santai menuju sudut area parkir yang agak teduh di bawah pohon beringin rindang .

Setelah memastikan posisi mobil Mercedes-Benz milik majikannya aman dari jangkauan terik matahari, dia menyandarkan punggungnya ke pembatas semen. Tangannya bergerak lincah merogoh saku celana, mengeluarkan sebungkus rokok murahan dan sebuah korek api gas.

"Tadi ke butik, sekarang ke salon, habis ini minta ke luar negeri kali ya? Sekalian aja ajak gue bulan madu ke sana," oceh Lexi makin ngawur, sama ngawurnya dengan jalan hidupnya.

Ctek!

Asap tembakau mengepul perlahan dari mulutnya, menari-nari di udara sebelum hilang ditiup angin siang yang gerah. Lexi memandangi ujung rokoknya yang membara sambil geleng-geleng kepala. Senyum kecut terukir di wajah tampannya.

Dia sendiri benar-benar tidak menyangka jalan hidupnya akan melintir sejauh ini. Niat awalnya kabur dari rumah sangat sederhana, dia hanya ingin iseng mencari ketenangan, keluar dari tekanan sang bapak, dan merasakan bagaimana rasanya menjalani kehidupan sebagai lelaki biasa tanpa embel-embel status apa pun.

Tiga tahun lalu, saat dia melamar menjadi supir pribadi Keluarga Van Holden, Lexi pikir pekerjaannya hanya sebatas memegang setir, mengantar jemput orang, dan mendengarkan musik di radio saat menunggu bos-bosnya yang berengek itu selesai dengan urusan mereka.

Tapi hari ini?

Dia justru mendapat tawaran ajaib yang berada di luar nalar sehat dari bosnya sendiri.

"Menghamili istri bos, ya?" Lexi bergumam lirih, lalu terkekeh sendiri sampai hampir tersedak asap rokok. "Gila. Kalau si Baron tahu siapa aku sebenarnya, dia mungkin bakal sujud syukur karena dapat bibit unggul secara cuma-cuma."

Asap tembakau kembali mengepul dari belahan bibir Lexi, membubung tipis sebelum disapu angin siang yang mulai terasa menyengat kulit. Pemuda itu menyipitkan mata, menikmati isapan demi isapan rokok murahnya dengan perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata terindah sekalipun.

Namun, ketenangan yang baru saja dinikmatinya itu mendadak menguap tanpa sisa ketika indra pendengarannya menangkap suara tawa manja yang sangat dia kenali.

Sebuah suara yang pernah mengisi hari-harinya beberapa tahun lalu, sekaligus suara yang memicu salah satu memori paling memuakkan dalam hidupnya.

Lexi refleks menolehkan kepala ke arah kanan, tepat ke area lobi luar butik mewah tempat Angel baru saja masuk.

Di sana, berdiri seorang wanita dengan gaun tanpa lengan berwarna pastel, menenteng tas bermerek, dengan riasan wajah yang tampak dipoles sedemikian rupa agar terlihat seperti sosialita papan atas.

Wanita itu sedang bergelayut manja di lengan seorang pria bertubuh gempal yang memakai kemeja sutra bermotif penuh.

"Shit! Cabe-cabean penggoda lelaki itu kok bisa ketemu di sini sih," gerutu Lexi. Jantung Lexi tidak berdegup kencang karena cinta, melainkan karena rasa gondok yang mendadak naik dari lambung menuju dada, membuat mual-mual jijik seketika.

Empat tahun lalu, wanita bernama Clara itulah yang dia putuskan tanpa ampun. Alasan pemutusannya bahkan masih terekam jelas di otak Lexi layaknya video berkualitas HD 1080p, dia memergoki Clara sedang tidur seranjang dengan sahabat dekatnya sendiri di sebuah kamar hotel.

Kejadian laknat itu juga yang menjadi salah satu pemicu mental dan otak Lexi agak bergeser, hingga akhirnya dia memutuskan kabur dari rumah mewah keluarganya dan memilih hidup luntang-lantung menjadi orang biasa.

Seolah ada radar tak kasat mata, Clara yang sedang tertawa manja mendadak menghentikan lamunannya.

Pandangannya bergeser, menyisir area parkir, hingga akhirnya sepasang mata yang dilapisi lensa kontak abu-abu itu bersirobok pandang secara tepat dengan mata Lexi.

Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti di antara mereka. Lexi tetap bergeming di bawah pohon beringin dengan rokok yang masih menjepit di jarinya, sementara wajah Clara yang tadinya ceria langsung berubah tegang.

Mulut wanita itu sedikit terbuka, tidak menyangka akan bertemu kembali dengan lelaki yang dulu dia khianati di tempat se-elit ini.

Clara membisikkan sesuatu ke telinga pria gempal di sebelahnya, melepas gelayutan tangannya, lalu berjalan setengah berlari memotong area parkir menuju tempat Lexi berdiri. Langkah kakinya yang ditopang sepatu hak tinggi terdengar berisik di atas aspal.

"Lexi? Kamu... Lexi, kan?" Clara membuka suara begitu jarak mereka tinggal dua meter. Matanya menatap intens ke arah seragam supir biru pudar yang melekat di tubuh tegap Lexi.

Ada binar keterkejutan yang dengan cepat berubah menjadi tatapan menilai, lalu berakhir dengan senyuman sinis yang meremehkan.

Lexi membuang puntung rokoknya ke tanah, lalu menginjaknya dengan ujung sepatu pantofelnya yang agak berdebu. Dia melipat tangan di dada, menatap mantan kekasihnya itu dengan wajah sedatar tembok.

"Ya. Kenapa? Gue emang Lexi, mantan terindah lo," jawab Lexi sok cool.

Clara tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dipaksakan untuk mengejek, "Ya ampun, Lexi! Empat tahun nggak ketemu, dan sekarang kamu jadi begini? Seragam ini... jadi kamu sekarang cuma kerja jadi supir?"

"Keliatannya gimana? Nggak usah pura-pura rabun deh, udah pakai soft lens, masih nggak jelas? Gue memang sopir, terus?" sahut Lexi santai, tidak ada nada minder sedikit pun dalam suaranya.

Malahan, dia menatap Clara dengan pandangan malas seolah sedang melihat tumpukan sampah plastik di pinggir jalan.

Wajah Clara agak mengeras mendapat respons sedingin itu. Gengsinya terusik. Dia sengaja memamerkan tas tangan mahalnya dengan cara menaikkan sikunya lebih tinggi.

"Aku cuma nggak nyangka aja. Dulu waktu kita masih pacaran, kamu kan gayanya idealis banget. Sok pintar, sok punya prinsip. Eh, ujung-ujungnya sekarang cuma jadi kacung yang nungguin mobil orang di bawah pohon beringin sambil ngerokok murahan."

Lexi tersenyum simpul. Senyuman meremehkan yang membuat Clara mendadak merasa tidak nyaman.

"Lebih baik jadi kacung yang nungguin mobil di bawah pohon beringin. Dari pada jadi kayak lo, dari spek modelan Andre, sekarang dapetnya modelan begini," kata Lexi sembari menunjuk laki-laki bertubuh gempal dengan dagunya.

"Ke mana Andre? Sahabat gue yang pernah lo ajak bobo bareng sambil mendesah kepedesan di kamar hotel itu? Dia udah bosen sama lo, hm?" cecar Lexi, kali ini mulut Lexi persis seperti Ibu-Ibu komplek yang sedang menghujat pelakor!

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 171. Mengubur Dalam-Dalam Kenangan

    Sementara mobil yang membawa Lexi dan Tasya melaju menjauh membelah kabut Prigen, gerbang kayu vila Private Sanctuary kembali menutup rapat, mengunci segala bentuk kekacauan fisik yang baru saja terjadi di halaman depan.Bramantya membalikkan tubuhnya, melangkah masuk ke dalam rumah utama dengan napas yang mulai teratur. Ia mengabaikan noda tanah dan bercak darah di kemeja putih mewahnya. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: kondisi wanita yang berada di lantai dua.Bram melangkah lebar menaiki anak tangga, lalu mengetuk pintu kamar Angel dengan ritme yang teratur dan lembut."Angel? Ini saya. Lexi sudah pergi."CEKLEK.Pintu terbuka lambat, menampilkan sosok Angel yang bersandar lemas pada kusen pintu. Wajah cantiknya tampak begitu pucat, bertolak belakang dengan keangkuhan yang biasa ia tunjukkan di depan musuh-musuhnya. Sepasang matanya yang sembap menyiratkan duka yang pekat."Kamu terluka, Bram?" bisik Angel parau, matanya menatap sudut bibir Bramantya yang robek akibat pukula

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 170. Pergi!

    Di balik kain gorden yang baru saja dirapatkan, Angel menyandarkan punggungnya pada dinding kamar. Tubuhnya perlahan merosot hingga ia terduduk di atas lantai yang dingin, memeluk kedua lututnya sendiri. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini pecah dalam kesunyian kamar yang pengap. Tangannya berpindah, mengusap perutnya dengan usapan yang gemetar. "Maafkan Mama, Sayang. Maafkan Mama karena harus membuat papamu terluka," batin Angel meratapi nasibnya yang begitu malang. Keangkuhan alaminya sebagai putri konglomerat runtuh total di kamar itu, menyisakan seorang wanita rapuh yang sedang hancur lebur dihantam kenyataan. Dia tahu, jika dia membiarkan Lexi mendekat sekarang, Keluarga Permana tidak akan segan-segan menguliti hidupnya dan merebut bayinya. Mengabaikan Lexi adalah satu-satunya tameng paling kejam yang harus ia pasang. Sementara itu, di halaman depan vila, atmosfer pertempuran masih terasa begitu mencekam. Lexi terbatuk, menyemburkan sisa darah dari sudut bibirnya ke

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 169. Takdir Itu ... Kejam, Lex!

    Semburat merah keunguan baru saja memecah langit subuh di lereng Prigen ketika sebuah mobil sewaan hitam berhenti dengan decitan kasar tepat di depan gerbang kayu kokoh vila pribadi Bramantya. Kabut tebal yang dingin bergulung-gulung, menyelimuti sosok Lexi yang melangkah turun dari mobil dengan napas memburu yang mengembun di udara.Penampilannya berantakan. Jaket hitamnya kusut, dan sepasang mata kelamnya memerah sempurna akibat amarah, frustrasi, dan denyut sakit kepala yang kian menggila di dalam tempurung kepalanya. Sisa waktu menuju jam sembilan pagi di Jakarta tinggal hitungan jam, dan jiwanya menolak untuk menyerah pada takdir yang sedang mempermainkannya."Buka gerbangnya!" teriak Lexi, suaranya parau memecah keheningan subuh pegunungan. Dia menghantamkan tubuhnya ke gerbang kayu itu dengan nekat. "Angel! Keluar kamu! Gue tahu lo di dalam!"Dua penjaga perimeter satu milik Bramantya langsung berlari menghadang, mencoba mengunci pergerakan Lexi. Namun, Lexi yang sudah kehila

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 168. Keraguan Seorang Ayah

    Pagi hari di Jakarta, atmosfer di dalam ruang kerja pribadi kediaman megah Keluarga Permana terasa begitu sunyi dan menekan. Jam dinding antik berdentang pelan menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit, menyisakan waktu tiga puluh menit lagi sebelum pengumuman pencabutan hak waris itu resmi ditandatangani di depan notaris keluarga.Di balik meja kerja mahoni yang kokoh, Abraham Permana duduk terdiam. Surat-surat legalitas yang dibawa oleh tim hukum dan Viona sejak subuh tadi tergeletak rapi di hadapannya. Pena emas miliknya sudah berada di dalam cengkeraman jemarinya yang mulai berkerut dimakan usia, namun anehnya, ujung pena itu tak kunjung menyentuh kertas.Viona yang berdiri di dekat jendela besar dengan blazer marunnya yang kaku, mulai menangkap kegelisahan sang ayah. Ia melangkah mendekati meja kerja, matanya menyipit tajam."Bapak, waktu kita tidak banyak. Notaris sudah menunggu di ruang depan," tegur Viona dengan nada suara yang ditekan, mencoba mempertahankan ketegasan

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 167. Aku Tidak Butuh Uang!

    Pukul dua dini hari, lereng bukit Prigen diselimuti kabut tebal yang bergulung-gulung ditiup angin gunung yang membekukan. Di dalam kamar utama vila, Angel kembali terbangun dengan napas memburu. Jantungnya berdegup brutal secara abnormal. Kram di perut bawahnya tidak lagi terasa, namun dadanya mendadak terasa begitu hampa dan sesak, seolah-olah ada ikatan batin tak kasat mata yang sedang ditarik paksa dari kejauhan. Angel bangkit dari ranjang, melangkah pelan menuju balkon kamar dengan gaun hamil katunnya. Di ujung ruangan, Bramantya yang selalu sensitif terhadap pergerakan Angel langsung terjaga dari sofa panjangnya. Pria itu menyelimuti bahu Angel dengan selimut tebal dari belakang, dengan gestur manis yang protektif. "Ada apa, Angel? Firasatmu buruk lagi?" tanya Bramantya lembut, suaranya yang berat memecah keheningan kabut. "Bram, dadaku sakit sekali," bisik Angel, air matanya perlahan menetes tanpa sebab yang jelas. "Aku merasa... aku merasa malam ini ada sesuatu yang

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 166. Berpacu Dengan Waktu

    Lexi mematung di kursinya, menatap nanar pintu ruang rapat yang baru saja tertutup rapat.Keheningan yang ditinggalkan oleh Bramantya dan Kevin terasa begitu pekat, seolah mencekik seluruh pasokan oksigen di dalam dadanya. Urat-urat di pelipisnya menegang hebat seiring dengan rasa pening yang kembali menghantam kepalanya dengan brutal.Lagi-lagi dia gagal. Selisih waktu, benteng hukum, dan barikade proteksi Bramantya selalu berhasil memotong jalurnya tepat sebelum dia bisa menjangkau Angel."Lex." Tasya menyentuh lengan adiknya dengan lembut, matanya memancarkan rasa khawatir yang mendalam melihat tubuh Lexi yang perlahan bergetar menahan gejolak emosi."Kita balik ke Dharmahusada dulu, ya? Kamu butuh istirahat.""Nggak, Mbak," desis Lexi, suaranya terdengar begitu parau, serak, dan pecah akibat keputusasaan yang sudah berada di ambang batas. Ia menepis tangan Tasya perlahan, lalu mencengkeram tepi meja oval mahoni itu dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna.Tiba

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 8. Salah Remas

    "Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 7. Tinggal Ngadon Lagi, Enak Kan?

    Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 6. Surat Perjanjian Menghamili

    Malam harinya, kediaman megah Keluarga Van Holden tampak sunyi. Sinar lampu kristal berpendar temaram, menyinari koridor-koridor sepi rumah mewah berarsitektur kolonial modern tersebut.Lexi, yang baru saja selesai membersihkan diri di paviliun belakang khusus kacung macam dirinya, berjalan santai

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 5. Sugar Mommy

    Wajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi."Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu m

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status