INICIAR SESIÓN“Mas Julian, jangan dia terus, aku juga mau…” >>> Baca sekarang! Pernikahan Julian dan Karina merenggang sejak karier sang istri melejit dan dingin di ranjang. Kehancuran Julian memuncak saat nomor anonim mengirim foto dan video mesra, dan Karina-lah pemeran utamanya! Di tengah tekadnya mencari kebenaran, Julian justru dikepung wanita-wanita penggoda di apartemennya sendiri yang memancing gairah. Kini Julian harus memilih; menjaga janji suci pernikahan atau membalas perbuatan istrinya dan menuntaskan hasrat yang lama terpendam!
Ver más"Ayolah, Sayang… kita selesaikan malam ini," bisikku, mencoba menagih janji kemesraan yang sudah berbulan-bulan ia abaikan.
Namun, Karina refleks memunggungiku, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi lehernya.
"Jangan sekarang, Julian. Aku capek banget," ucap Karina, desahan napasnya menyusul terdengar berat.
Aku menahan tangan yang baru saja hendak mengusap bahunya, membiarkan jemariku menggantung di udara.
"Hanya beberapa menit saja, Rin. Kita bahkan hampir tidak pernah bicara minggu ini," bujukku, mencoba menahan rasa inferior yang mulai menekan di dada.
"Pekerjaan di kantor lagi numpuk, Jul. Tolong mengerti, aku butuh tidur karena besok harus presentasi pagi," jawabnya tanpa berniat menoleh sedikit pun ke arahku.
Aku menarik kembali tanganku, mengepalkannya di bawah bantal untuk meredam rasa kecewa yang luar biasa menyakitkan.
Sebagai arsitek lepas yang proyeknya sedang mandek, penolakannya malam ini terasa seperti tamparan keras yang menegaskan bahwa posisiku di rumah ini semakin tidak berarti.
Apalagi membayangkan besok sore aku harus mempresentasikan revisi desain resor kepada Nyonya Raline—investor properti VVIP berdarah dingin yang memegang kendali penuh atas nasib karierku.
Jika wanita eksentrik yang terkenal suka mempermainkan bisnis orang itu sampai membatalkan kontrak miliaran ini, aku benar-benar tidak akan punya harga diri lagi di hadapan Karina.
Keheningan kamar berubah menjadi badai dalam kepalaku, memperparah rasa frustrasi yang sudah berbulan-bulan kutahan sendirian.
Drettt… drettt….! Ponselku di atas meja tiba-tiba bergetar pendek, memecah kesunyian, bersama deru hujan deras di luar jendela.
Aku duduk menepi di ranjang, meraih benda kotak itu dengan malas, mengira itu hanya pesan otomatis atau notif tagihan bulanan yang terlambat.
Namun, sebuah nomor asing tanpa identitas muncul di layar, mengirimkan sebuah pesan yang langsung membuat jantungku berdetak tiga kali lebih cepat.
“Mau percaya istirmu sibuk kerja? Nih, lihat sendiri…”
Kalimat singkat itu disertai sebuah lampiran foto dengan kualitas seidkit buram, namun cukup jelas untuk menghancurkan jiwaku malam ini.
Di dalam foto itu, seorang wanita bergaun merah marun—gaun yang sangat kukenali berada di lemari pakaian—sedang duduk intim di sebuah kelab malam mewah. Tubuhnya bersandar pasrah, dirangkul mesra oleh seorang lelaki paruh baya, berperut buncit, hanya wajahnya terlihat samar.
"Karin…, ini kamu?" tanyaku dengan suara bergetar, nyaris tidak mengenali suaraku sendiri karena amarah yang mendadak membakar dada.
"Jul, tolong jangan mulai lagi. Aku mau tidur," gumamnya dengan kesal, bahkan sama sekali tidak bergerak dari posisi tidurnya.
Aku menatap layar ponsel dengan mata nanar, mencengkeram tepian ponsel dengan emosi yang meluap.
Rasa curiga, amarah, dan hancurnya harga diri sebagai seorang suami bercampur menjadi satu, menciptakan tekanan hebat yang siap meledakkan kepalaku.
Tepat saat aku hendak menarik bahu Karina secara paksa untuk menuntut penjelasan, suara bel pintu depan berbunyi nyaring, memotong ketegangan.
Ting-nong…! Ting-nong…! Ting-nong…!
"Siapa sih tengah malam begini?" gerutu Karina sambil mendesah jengkel, akhirnya ia duduk dan menyibak selimutnya dengan kasar.
"Biar aku saja yang lihat," kataku pendek, mencoba menyimpan getaran amarah sambil buru-buru mengunci layar ponselku.
Namun, Karina tetap turun dari ranjang, mungkin karena rasa penasaran. Ia merapikan piyamanya yang kusut dengan wajah berkerut, memperlihatkan kejengkelannya.
Aku berjalan duluan menuju ruang depan, istriku mengekori langkah di belakangku.
Di luar hujan masih turun, bersama suara guntur yang sesekali terdengar menggelegar.
Begitu pintu depan terbuka, sosok dua wanita yang basah kuyup langsung berdiri di ambang pintu dengan wajah memelas.
"Karina! Untung kamu belum tidur, maaf banget ya kami mengganggu malam-malam begini."
Itu Bianca, sepupu tiriKarina, dengan suara manja yang bergetar karena kedinginan.
"Bianca? Elena? Kenapa kalian berdua bisa basah kuyup begini?" tanya Karina, matanya melebar karena terkejut melihat kedatangan mereka yang mendadak.
"Rumah kami mendadak bocor parah, Rin… karena sedang renovasi dan atapnya belum selesai. Semua kamar terendam air, kami bingung mau ke mana lagi," timpal Elena, sahabat Bianca yang berdiri di belakangnya sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Karina menghela napas panjang, menatap jam dinding di ruang tengah sebelum akhirnya membuka pintu lebih lebar untuk membiarkan mereka masuk.
"Ya sudah, masuk dulu. Kamar tamu di sebelah kanan kosong, kalian bisa pakai malam ini sampai hujannya reda."
"Makasih banyak ya, Rin. Kamu penyelamat kami banget," ucap Bianca sambil tersenyum manis, melirik sekilas ke arahku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku balik ke kamar dulu ya, badanku benar-benar lemas. Julian, tolong bantu mereka bawa kopernya ke dalam," ujar Karina datar, langsung berbalik tanpa menunggu jawabanku.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah, memperhatikan punggung istriku yang menghilang di balik pintu kamar utama tanpa memedulikan situasiku yang masih terguncang.
Rasa sesak akibat foto tadi masih mengganjal di pikiranku, membuatku merasa tsk bersemangat.
Aku mengalihkan pandangan pada dua koper berukuran sederhana yang tergeletak di lantai, mencoba mengalihkan pikiran dari rasa sakit hati yang membakar.
"Biar aku bawa koper ini ke kamar tamu," kataku sambil meraih salah satu pegangan koper yang terasa basah dan dingin karena air hujan.
"Makasih ya, Mas Julian... Maaf lho, kami jadi merepotkan," bisik Bianca, melangkah mendekat hingga aku bisa mencium aroma parfumnya yang kuat bercampur air hujan.
Saat aku berbalik untuk mengangkat koper kedua, Bianca melangkah terburu-buru di atas lantai ubin yang licin akibat tetesan air dari pakaian mereka.
Kakinya yang polos tanpa alas kaki mendadak kehilangan keseimbangan, membuatnya memekik tertahan saat tubuhnya limbung ke arah depan.
Secara refleks, aku melepaskan pegangan koper dan mengulurkan kedua tanganku untuk menangkap tubuhnya sebelum menyentuh lantai.
Bruk… ! Tubuh sintal Bianca mendarat dengan sempurna di dalam pelukanku, membuat dada kami menempel sangat erat, tanpa ada jarak sedikit pun.
Detik itu juga, aku menyadari bahwa kemeja putih tipis yang dikenakannya telah basah kuyup, hingga mencetak lekuk tubuhnya dengan amat jelas.
Sentuhan fisik yang begitu refleks, setelah berbulan-bulan mengalami kegersangan intim bersama wanita, membuat darahku jadi mudah berdesir dengan hebat.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyaku, suaraku mendadak serak saat menyadari kehangatan tubuhnya yang kontras dengan dinginnya udara malam.
"Nggak apa-apa... cuma agak kaget aja, Mas," jawab Bianca pelan, matanya menatap langsung ke dalam mataku dengan binar yang sengaja menggoda.
Napasnya yang hangat menerpa leherku, mengirimkan sensasi aneh yang membuat aku bergidik, karena gairah yang cukup lama terpendam.
Tanganku yang sesaat berada di pinggangnya bisa merasakan dengan jelas bahwa wanita di pelukanku ini sama sekali tidak mengenakan pakaian dalam di balik baju kemejanya.
Seketika, aroma tubuh Bianca yang memikat, bertemu kegersanganku yang sedang memuncak, membuat pikiran sehatku perlahan goyah.
Aku menundukkan kepala perlahan, terpaku pada bibir tipisnya yang sedikit terbuka seolah memberikan ajakan untuk disentuh dan dinikmati.
“Ah…”
Jarak di antara wajah kami sangat tipis, menyisakan ketegangan yang membuatku melupakan sejenak rasa sakit hati akibat foto misterius Karina dengan lelaki berperut buncit itu.
Semalaman aku tidak bisa memejamkan mata sedikit pun setelah rentetan teror video Karina itu. Bayangan punggung istriku dengan tanda lahir lingkaran kecil di kamar hotel mewah terus berputar di otakku. Pukul dua siang, sebuah pesan singkat masuk dari Nyonya Raline yang memintaku segera turun ke lobi.Sebuah limosin hitam panjang yang sangat mewah sudah terparkir megah di depan pintu lobi apartemen. Pintunya terbuka otomatis begitu langkah kakiku yang lemas dan berantakan mendekat ke arah mobil tersebut. Nyonya Raline sudah duduk manis di dalam dengan setelan blazer formal sewarna marun yang sangat elegan. Senyuman tipis terpancar dari bibirnya yang merah menyala, seolah dia tahu persis kondisi mentalku yang hancur."Mas…,, masuklah. Kita harus segera berangkat sekarang juga," ujar Nyonya Raline dengan nada suara yang penuh wibawa."Baik, Nyonya. Ke mana tujuan kita siang ini?" tanyaku sambil mendudukkan diri di kursi kulit yang empuk."Kita akan meninjau lokasi proyek resor baru kit
"Kau mau menghiburku, Bianca? Benar-benar mau melayaniku?" tanyaku sambil mencengkeram kedua bahunya dengan kasar."Iya, Mas... lakukan apa saja yang Mas mau padaku malam ini," desah Bianca sambil memejamkan matanya pasrah.Tanpa membuang waktu lagi, aku langsung menyambar permukaan bibirnya dengan ciuman yang sangat kasar. Rasa sakit hati yang diberikan Karina kini kuubah menjadi gairah liar yang menuntut pelampiasan seketika. Aku mendorong tubuh Bianca hingga kami berdua ambruk bersamaan di atas kasur yang empuk. Tanganku bergerak agresif, melucuti sisa pakaian yang menghalangi kulit kami hingga tubuh mulusnya terekspos sempurna.Milikku yang sejak sore di dapur dan di atas matras yoga Elena sudah menegang, kini semakin berdenyut hebat. Bianca merespons dengan sangat liar, melilitkan kedua kaki jenjangnya ke pinggangku untuk mengunci pergerakan kami. Dia menuntun milikku yang mengeras kokoh untuk bersiap melakukan eksekusi akhir di atas ranjang pernikahanku dengan Karina. Jarak d
Malam kian larut, namun gemuruh di dalam dadaku tidak kunjung reda. Hawa dingin dari pendingin ruangan sama sekali tidak mampu mendinginkan otakku yang rasanya mau meledak. Aku duduk di tepi ranjang dengan napas yang masih berat. Pandanganku menatap nanar ke arah pintu kamar yang sudah kukunci sejak sore tadi.Bayangan kode genit dari Bianca di dapur dan desahan sensual Elena di pantry masih terus berputar-putar. Semuanya merusak sisa kesadaran yang kupertahankan mati-matian seharian ini. Mengapa rumah tanggaku yang semula tenang kini berubah menjadi penuh jebakan hasrat? Aku memijat pelipis yang berdenyut kencang, mencoba mengusir bayangan sensual yang terus menggerogoti pikiranku.Drrrt… Drrrt…! Ponselku di atas meja mendadak bergetar keras, memutus keheningan. Jantungku seketika tersentak, mengira itu adalah pesan atau kabar penting dari Karina. Dengan tangan yang agak gemetar, aku meraih ponsel itu. Namun, bukan nama Karina yang muncul di layar, melainkan sebuah nomor asing.No
Posisi kami sudah sangat intim dan mengunci satu sama lain, siap untuk melakukan eksekusi gairah yang brutal di atas lantai ruang tengah apartemenku sendiri.Aku membuka kancing kemejaku sendiri hingga terlepas semua, lalu tanganku bergerak agresif menyingkirkan pembatas pakaian terakhir yang menutupi tubuh Elena sore hingga miliknya yang terbuka terlihat basah dan menuntut untuk dijelajahi. Kutanggalkan celana secepat kilat, milikku yang sudah menegang sempurna kini menjuntai panjang, lalu kuarahkan dengan tidak sabar ke arah milik Elena dan bergesekan langsung dengan titik paling sensitifnya itu.Aku memejamkan mata, memajukan pinggulku untuk melakukan satu dorongan bertenaga yang akan menghancurkan kesetiaanku pada Karina untuk selama-lamanya.Kehancuran rumah tanggaku rasanya sudah berada di ujung tanduk dan tinggal hitungan milidetik saja sebelum segalanya menjadi sah di atas matras ini."AAARRGGHH…. TOLOOONG….!!!" sebuah jeritan histeris yang sangat melengking mendadak meleda
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.