LOGINDi tengah hancurnya rumah tangga akibat pengkhianatan sang istri, Julian berdiri di persimpangan terberat: mempertahankan kehormatan janji sucinya, atau tenggelam dalam jeratan para wanita-wanita penggoda di sekelilingnya.
View More"Ayolah, Sayang… kita selesaikan malam ini," bisikku, mencoba menagih janji kemesraan yang sudah berbulan-bulan ia abaikan.
Namun, Karina refleks memunggungiku, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi lehernya.
"Jangan sekarang, Julian. Aku capek banget," ucap Karina, desahan napasnya menyusul terdengar berat.
Aku menahan tangan yang baru saja hendak mengusap bahunya, membiarkan jemariku menggantung di udara.
"Hanya beberapa menit saja, Rin. Kita bahkan hampir tidak pernah bicara minggu ini," bujukku, mencoba menahan rasa inferior yang mulai menekan di dada.
"Pekerjaan di kantor lagi numpuk, Jul. Tolong mengerti, aku butuh tidur karena besok harus presentasi pagi," jawabnya tanpa berniat menoleh sedikit pun ke arahku.
Aku menarik kembali tanganku, mengepalkannya di bawah bantal untuk meredam rasa kecewa yang luar biasa menyakitkan.
Sebagai arsitek lepas yang proyeknya sedang mandek, penolakannya malam ini terasa seperti tamparan keras yang menegaskan bahwa posisiku di rumah ini semakin tidak berarti.
Apalagi membayangkan besok sore aku harus mempresentasikan revisi desain resor kepada Nyonya Raline—investor properti VVIP berdarah dingin yang memegang kendali penuh atas nasib karierku.
Jika wanita eksentrik yang terkenal suka mempermainkan bisnis orang itu sampai membatalkan kontrak miliaran ini, aku benar-benar tidak akan punya harga diri lagi di hadapan Karina.
Keheningan kamar berubah menjadi badai dalam kepalaku, memperparah rasa frustrasi yang sudah berbulan-bulan kutahan sendirian.
Drettt… drettt….! Ponselku di atas meja tiba-tiba bergetar pendek, memecah kesunyian, bersama deru hujan deras di luar jendela.
Aku duduk menepi di ranjang, meraih benda kotak itu dengan malas, mengira itu hanya pesan otomatis atau notif tagihan bulanan yang terlambat.
Namun, sebuah nomor asing tanpa identitas muncul di layar, mengirimkan sebuah pesan yang langsung membuat jantungku berdetak tiga kali lebih cepat.
“Mau percaya istirmu sibuk kerja? Nih, lihat sendiri…”
Kalimat singkat itu disertai sebuah lampiran foto dengan kualitas seidkit buram, namun cukup jelas untuk menghancurkan jiwaku malam ini.
Di dalam foto itu, seorang wanita bergaun merah marun—gaun yang sangat kukenali berada di lemari pakaian—sedang duduk intim di sebuah kelab malam mewah. Tubuhnya bersandar pasrah, dirangkul mesra oleh seorang lelaki paruh baya, berperut buncit, hanya wajahnya terlihat samar.
"Karin…, ini kamu?" tanyaku dengan suara bergetar, nyaris tidak mengenali suaraku sendiri karena amarah yang mendadak membakar dada.
"Jul, tolong jangan mulai lagi. Aku mau tidur," gumamnya dengan kesal, bahkan sama sekali tidak bergerak dari posisi tidurnya.
Aku menatap layar ponsel dengan mata nanar, mencengkeram tepian ponsel dengan emosi yang meluap.
Rasa curiga, amarah, dan hancurnya harga diri sebagai seorang suami bercampur menjadi satu, menciptakan tekanan hebat yang siap meledakkan kepalaku.
Tepat saat aku hendak menarik bahu Karina secara paksa untuk menuntut penjelasan, suara bel pintu depan berbunyi nyaring, memotong ketegangan.
Ting-nong…! Ting-nong…! Ting-nong…!
"Siapa sih tengah malam begini?" gerutu Karina sambil mendesah jengkel, akhirnya ia duduk dan menyibak selimutnya dengan kasar.
"Biar aku saja yang lihat," kataku pendek, mencoba menyimpan getaran amarah sambil buru-buru mengunci layar ponselku.
Namun, Karina tetap turun dari ranjang, mungkin karena rasa penasaran. Ia merapikan piyamanya yang kusut dengan wajah berkerut, memperlihatkan kejengkelannya.
Aku berjalan duluan menuju ruang depan, istriku mengekori langkah di belakangku.
Di luar hujan masih turun, bersama suara guntur yang sesekali terdengar menggelegar.
Begitu pintu depan terbuka, sosok dua wanita yang basah kuyup langsung berdiri di ambang pintu dengan wajah memelas.
"Karina! Untung kamu belum tidur, maaf banget ya kami mengganggu malam-malam begini."
Itu Bianca, sepupu tiriKarina, dengan suara manja yang bergetar karena kedinginan.
"Bianca? Elena? Kenapa kalian berdua bisa basah kuyup begini?" tanya Karina, matanya melebar karena terkejut melihat kedatangan mereka yang mendadak.
"Rumah kami mendadak bocor parah, Rin… karena sedang renovasi dan atapnya belum selesai. Semua kamar terendam air, kami bingung mau ke mana lagi," timpal Elena, sahabat Bianca yang berdiri di belakangnya sambil memeluk tubuhnya sendiri.
Karina menghela napas panjang, menatap jam dinding di ruang tengah sebelum akhirnya membuka pintu lebih lebar untuk membiarkan mereka masuk.
"Ya sudah, masuk dulu. Kamar tamu di sebelah kanan kosong, kalian bisa pakai malam ini sampai hujannya reda."
"Makasih banyak ya, Rin. Kamu penyelamat kami banget," ucap Bianca sambil tersenyum manis, melirik sekilas ke arahku dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku balik ke kamar dulu ya, badanku benar-benar lemas. Julian, tolong bantu mereka bawa kopernya ke dalam," ujar Karina datar, langsung berbalik tanpa menunggu jawabanku.
Aku hanya bisa mengangguk pasrah, memperhatikan punggung istriku yang menghilang di balik pintu kamar utama tanpa memedulikan situasiku yang masih terguncang.
Rasa sesak akibat foto tadi masih mengganjal di pikiranku, membuatku merasa tsk bersemangat.
Aku mengalihkan pandangan pada dua koper berukuran sederhana yang tergeletak di lantai, mencoba mengalihkan pikiran dari rasa sakit hati yang membakar.
"Biar aku bawa koper ini ke kamar tamu," kataku sambil meraih salah satu pegangan koper yang terasa basah dan dingin karena air hujan.
"Makasih ya, Mas Julian... Maaf lho, kami jadi merepotkan," bisik Bianca, melangkah mendekat hingga aku bisa mencium aroma parfumnya yang kuat bercampur air hujan.
Saat aku berbalik untuk mengangkat koper kedua, Bianca melangkah terburu-buru di atas lantai ubin yang licin akibat tetesan air dari pakaian mereka.
Kakinya yang polos tanpa alas kaki mendadak kehilangan keseimbangan, membuatnya memekik tertahan saat tubuhnya limbung ke arah depan.
Secara refleks, aku melepaskan pegangan koper dan mengulurkan kedua tanganku untuk menangkap tubuhnya sebelum menyentuh lantai.
Bruk… ! Tubuh sintal Bianca mendarat dengan sempurna di dalam pelukanku, membuat dada kami menempel sangat erat, tanpa ada jarak sedikit pun.
Detik itu juga, aku menyadari bahwa kemeja putih tipis yang dikenakannya telah basah kuyup, hingga mencetak lekuk tubuhnya dengan amat jelas.
Sentuhan fisik yang begitu refleks, setelah berbulan-bulan mengalami kegersangan intim bersama wanita, membuat darahku jadi mudah berdesir dengan hebat.
"Kamu tidak apa-apa?" tanyaku, suaraku mendadak serak saat menyadari kehangatan tubuhnya yang kontras dengan dinginnya udara malam.
"Nggak apa-apa... cuma agak kaget aja, Mas," jawab Bianca pelan, matanya menatap langsung ke dalam mataku dengan binar yang sengaja menggoda.
Napasnya yang hangat menerpa leherku, mengirimkan sensasi aneh yang membuat aku bergidik, karena gairah yang cukup lama terpendam.
Tanganku yang sesaat berada di pinggangnya bisa merasakan dengan jelas bahwa wanita di pelukanku ini sama sekali tidak mengenakan pakaian dalam di balik baju kemejanya.
Seketika, aroma tubuh Bianca yang memikat, bertemu kegersanganku yang sedang memuncak, membuat pikiran sehatku perlahan goyah.
Aku menundukkan kepala perlahan, terpaku pada bibir tipisnya yang sedikit terbuka seolah memberikan ajakan untuk disentuh dan dinikmati.
“Ah…”
Jarak di antara wajah kami sangat tipis, menyisakan ketegangan yang membuatku melupakan sejenak rasa sakit hati akibat foto misterius Karina dengan lelaki berperut buncit itu.
Aku menghempaskan tubuhku ke atas sofa ruang tengah dengan perasaan campur aduk setelah pulang dari kelab malam misterius itu. Kemeja putihku yang sempat kotor terkena tumpahan alkohol semalam sudah kulemparkan ke dalam mesin cuci agar tidak memancing kecurigaan. Beruntung, Karina tidak terlalu mempermasalahkan jam kepulanganku karena dia sendiri tenggelam dalam tumpukan berkas kantor hingga larut malam. Pagi ini, apartemen kembali terasa sepi karena istriku itu sudah berangkat menuju kantor pusat sejak fajar menyingsing. Aku mendesah panjang mencoba mengurai ketegangan yang terus-menerus mengikat isi kepalaku akhir-akhir ini.Keheningan di dalam ruang tengah mendadak pecah ketika pintu kamar tamu perlahan terbuka menampilkan sosok yang sangat kukenal. Bianca keluar dari kamarnya dengan mengenakan pakaian olahraga ketat berwarna abu-abu muda yang membungkus rapi lekuk tubuhnya. Ia membawa sebuah gelas kaca besar berisi cairan sirup melon berwarna hijau pekat di tangan kanannya. Tat
Aku mengemudikan mobil membelah kemacetan jalanan malam setelah mengantar Elena kembali ke apartemen pasca-insiden ruang ganti butik. Jantungku masih berdegup agak kencang akibat ketegangan fisik dan adrenalin yang sempat memuncak di dalam ruangan sempit tadi. Keberuntungan tampaknya masih berpihak padaku karena kami tidak sampai melangkah terlalu jauh hingga tertangkap basah oleh pelayan mal. Pikiranku yang sempat kacau mendadak teralihkan ketika ponsel pintarku di atas dasbor bergetar nyaring memecah keheningan kabin mobil.Saat pulang dari butik itu, Derren menghubungiku melalui panggilan suara terenkripsi dengan nada bicara yang sangat serius. Sahabatku itu rupanya tidak main-main dengan janjinya untuk membantuku mengupas tuntas misteri selingkuhan istriku. Ia mengabarkan bahwa target utama kami sedang terlihat berada di lokasi yang sama seperti beberapa malam yang lalu. Informasi segar ini seketika membakar kembali api amarah di dalam dadaku yang sempat meredup oleh urusan wani
Siang hari setelah ketegangan meja makan bersama Karina mereda, suasana apartemen kembali sunyi. Aku mencoba memfokuskan pikiran pada kelanjutan rencana besar yang sudah kubangun bersama Derren. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama karena kehadiran Elena kembali mengacaukan konsentrasiku. Teman sepupu iparku itu mendadak muncul di depan kamarku dengan pakaian kasual yang sangat modis.Elena memaksaku menemaninya ke sebuah butik olahraga di pusat perbelanjaan mewah. Alasan yang ia gunakan adalah untuk memilih pakaian pilates baru yang sesuai dengan bentuk tubuhnya. Aku sempat menolak karena memikirkan risiko jika ada kerabat Karina yang melihat kami jalan berdua. Namun, Elena terus merengek dan mengancam akan membocorkan rahasia kedatangannya ke ruang kerjaku semalam.Terpaksa aku menuruti kemauannya pada keesokan sore harinya demi menjaga rahasia besar itu tetap aman. Kami berkendara membelah jalanan kota menuju sebuah mal elite di kawasan Jakarta Selatan. Sepanjang perjalanan,
Keesokan paginya, suasana di dalam apartemen terasa begitu sunyi dan mencekam. Aroma kopi hitam yang baru kuseduh menguar di udara, namun tidak mampu mencairkan kebekuan di antara kami. Sisa-sisa ketegangan akibat insiden pipa bocor dan pelarian darurat Bianca semalam masih membekas jelas di benakku. Aku mencoba menata hati sembari melangkah menuju meja makan kayu yang terletak di dekat dapur bersih.Karina sudah duduk sarapan pagi bersamaku di sana dengan penampilan yang sangat rapi. Ia mengenakan pakaian kerja formal berwarna hitam legam yang membuatnya tampak semakin berjarak. Wajahnya terlihat begitu dingin tanpa ada gurat kemesraan sedikit pun terpancar dari sepasang matanya. Sikapnya sama sekali tidak mencerminkan tindakan layaknya sepasang suami istri yang sah dan saling mencintai.Aku mendudukkan diri di kursi yang berada tepat di hadapannya dengan perasaan yang bercampur aduk. Kilasan bayangan uang 10 juta rupiah di dalam rekeningku semalam mendadak memicu gelombang keperca
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.