LOGINPagi datang lebih cepat dari yang mereka kira.Serena membuka mata dengan kepala berdenyut—sisa wiski semalam belum sepenuhnya hilang. Tapi ada yang lebih hangat di sampingnya, sesuatu yang membuatnya enggan bergerak.Lalu ia ingat. Semuanya.Bayu. Darah di lantai. Tangis yang akhirnya pecah di balkonnya. Bibir Arga.Serena duduk tegak secepat kilat, selimut ditarik sampai dada. Arga ikut terbangun, rambutnya berantakan, menatap Serena sambil setengah tersenyum—padahal semalam ia menangis di pelukan wanita itu.“Jangan dibahas.”“Aku belum bilang apa-apa.”“Tapi mau dibahas kan?!”“Lumayan jeli buat orang yang baru bangun.” Arga menyandarkan kepala ke headboard, suaranya masih serak. “Tapi oke. Nggak dibahas.”Serena melempar bantal ke wajahnya sebelum buru-buru turun dari ranjang, masih sempat tersipu meski berusaha terlihat sibuk.Ding-dong.Keduanya membeku.Ding-dong, lebih panjang, lebih tidak sabar.“Siapa yang ke apartemen orang jam segini,” gerutu Serena, menyambar kemeja dari
Arga sangat mengetahui bagaimana mantan atasannya bergerak. Tapi kali ini, untuk pertama kalinya, ia benar-benar marah — marah yang membakar lebih panas dari yang pernah ia rasakan, tidak bisa lagi ia kunci dengan logika dingin yang biasa jadi perisainya.Hendra membawa seorang anak yang tidak tahu apa-apa ke dalam permainan kotor ini. Pikiran itu menggerogoti kepalanya, berulang, tidak mau melepaskan cengkeramannya.Sebelum boarding, Arga mengirim pesan ke Pak Rahmat, jarinya hampir merobek layar. "Anaknya Bayu dalam bahaya. Kalau ada info, tolong sampaikan. Sekarang."Sepanjang penerbangan ia menggali file-file lama seperti orang kehabisan udara, rahangnya mengeras, matanya membaca tanpa benar-benar menyerap."Arga—""Jangan sekarang." Suaranya lebih tajam dari yang ia maksudkan. "Saya tahu betul betapa bengisnya Hendra.""Saya sudah kirim info anonim ke rekan jurnalis saya," sahut Serena, tidak gentar. "Kalau nama Hendra ikut tersangkut, dia akan sibuk dengan pengalihan isu. Sebeng
Arga tertidur di kursi di samping ranjang Serena, kepalanya miring pada sandaran yang terlalu keras untuk disebut nyaman. Satu tangannya masih berada dekat tepi ranjang, seolah bahkan dalam tidur pun ia siap bergerak kapan saja jika Serena membutuhkannya.Serena bangun lebih dulu.Tangannya bergerak lebih dulu daripada pikirannya. Ujung jarinya menyentuh rambut Arga, mengusap pelan, hati-hati sekali, seolah takut membangunkannya."Apa yang membuatmu begitu ingin aku selamat?""Apakah hanya sekadar bentuk trauma kehilangan?"Serena menelan ludah. Ia menarik napas pelan, masih terus mengelus rambut Arga tanpa sadar. Ia tidak ingin terlalu percaya pada siapa pun lagi. Arga memberinya terlalu banyak alasan untuk percaya, dan itulah yang membuatnya takut.Ini cuma profesionalitas, pikirnya, mencoba menenangkan diri. Dia pasti akan melakukan hal yang sama untuk siapa pun yang dia lindungi. Bukan karena ini saya.Tapi bagian dirinya yang paling jujur tahu, cara Arga menjaganya semalam tidak
“Arga!”Randi berlari saat melihat Arga duduk di tanah, memangku Serena yang pingsan.“Gue udah bilang jangan ke gudang itu,” tegurnya, berjongkok di depan mereka.Arga tak menoleh. “Bantu gue selamatin dia dulu. Nanti lo bebas marah.”Randi terdiam, lalu memeriksa nadi Serena. Matanya menangkap bahu Arga yang basah darah.“Ambulans dua menit lagi. Bahu lo kena parah.”“Gue gak apa-apa.”“Ga, ini bukan lecet.”“Gue bilang gak apa-apa.”Randi memilih diam. Ia melepas jaketnya, menekan luka Arga, lalu kembali fokus ke Serena.Di belakang mereka, api melahap gudang. Orang-orang berkerumun, suara panik bersahut. Arga tak mendengar apa-apa selain napas Serena yang tipis.“Dia bakal selamat,” kata Randi pelan. “Dan ini bukan salah lo.”Arga tak menjawab. Hanya ada satu pikirannya: langkahnya seperti selalu dibaca Hendra. Belum sehari di Makassar, Serena nyaris mati dua kali.Sirene kian dekat. Arga baru melepaskan Serena ketika paramedis datang. Tangannya sempat tertahan sebelum mundur. Ia
Ia melirik layar sekilas, lalu mengangkatnya tanpa berkata apa-apa pada Serena yang berdiri di sampingnya."Arga, Arga—" Suara di seberang terdengar santai, terlalu santai. "Masih naif ya? Sudah cukup. Ini bukan urusan anda. Saya peringatkan anda!""Sekali lagi anda atau orang-orang anda menyentuh Serena, saya tidak akan tinggal diam!" balas Arga dingin, suaranya rendah dan mengancam seperti geraman."Haha… Baiklah, kalau itu keinginan anda."Sambungan langsung terputus.Serena menatapnya khawatir. "Hendra?""Ya.""Jangan dengarkan dia."Serena diam sebentar, lalu berkata pelan, "Gudang itu… Apa kita bisa masuk?"Arga menggeleng. "Sebaiknya jangan. Tempat itu pasti sudah kosong sekarang. Terlalu berbahaya.""Tapi saya tetap harus lihat sendiri," tegas Serena. "Temani saya. Saya butuh bukti yang nyata. Saya tidak bisa kembali ke Jakarta dengan tangan kosong."Arga menatapnya lama, tatapannya berat. Akhirnya ia menghela napas berat. "Ya sudah. Nanti malam. Jangan melakukan hal nekat.""
Serena menyusuri jalan kecil dekat tempat pelelangan ikan, seperti instruksi Arga. Ramai, sulit dibuntuti — begitu katanya.Tapi ramai tidak selalu berarti aman.Motor hitam itu muncul lagi di belokan ketiga. Helm berbeda, tapi sepatu yang sama — putih bergaris merah. Arga yang mengajarinya memperhatikan detail semacam itu, dan sekarang detail itu membuat tengkuknya dingin.Ia membelok ke gang sempit di antara kios-kios ikan, berharap kerumunan bisa menelannya. Bau amis, lantai licin, suara tawar-menawar dari segala penjuru.Hampir di ujung gang, seseorang keluar dari balik tumpukan peti kayu. Bukan motor hitam — tapi gerakannya sama terarahnya untuk disebut kebetulan.Serena berbalik. Yang pertama sudah di belakangnya.Dua orang. Gang sempit. Tidak ada ruang untuk lari, dan tidak ada gunanya berteriak — ia cukup lama di lapangan untuk tahu keramaian kadang hanya melahirkan kepanikan yang menguntungkan pihak yang salah.Yang di depan bergerak lebih dulu. Serena mengelak, mendorong pet
Arga mulai bekerja begitu mereka sampai di apartemen Serena.Ia tidak duduk dulu, tidak ganti baju seperti yang ia bilang akan dilakukan. Begitu pintu tertutup, ia langsung membuka laptopnya di meja dapur, mengetik serangkaian kata sandi yang Serena belum pernah lihat sebelumnya, masuk ke sesuatu ya
"Clara! Dia masuk UGD RS Premier dua jam lalu. Dipukuli." kata Bima. Suaranya terdengar terlalu cepat Serena berdiri dari kursinya tanpa sadar. "Apa?!" "Dia ditemukan Security apartemennya. Pintunya terbuka, Clara tergeletak di lantai." Bima menarik napas, dan untuk pertama kalinya, seperti oran
Serena tidak membalas pesan itu.Ia menutup ponselnya, meletakkannya menghadap bawah, dan untuk beberapa menit hanya duduk di sana dengan kopi yang sudah dingin dan satu kalimat yang terus berputar di kepalanya."Hendra Prawiratama tahu kamu sudah temukan rekamannya."Ia tidak langsung menghubungi
Serena tidak langsung membuka flash disk itu.Ia pulang ke apartemennya — pertama kalinya setelah beberapa malam. Mandi, ganti baju, duduk di meja dapur dengan laptop yang menyala dan secangkir kopi yang ia buat tapi belum ia sentuh.Flash disk itu di sebelah kanannya. Ia mencolokkannya pukul 21.15







