แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Ochos
Saat Fiona dan Kenny tiba di lokasi, semuanya sudah terlambat. Beberapa teman Nicholas sedang menonton siaran langsung di layar lebar dengan perasaan cemas dan tegang.

"Sudah terlambat! Mereka sudah berada di lintasan. Kalau terjadi sesuatu, gimana kita harus mempertanggungjawabkannya kepada ayah Nico?"

"Cuih! Jangan ngomong hal-hal sial seperti itu!"

"Sudah kutahu, setiap kali Brenda terlibat, anak itu pasti menggila dan siapa pun nggak akan bisa hentikan dia! Dulu, dia cuma berkelahi, dan paling-paling akan dihukum. Sekarang, dia bahkan mempertaruhkan nyawanya. Dia benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya."

Mendengar keluhan itu, Kenny yang bahkan belum sempat mengatur napasnya segera menyenggol beberapa temannya itu. Mereka menoleh dan seketika terdiam begitu melihat Fiona.

Dua puluh menit kemudian, suara raungan mesin terdengar dari kejauhan dan berangsur-angsur mengeras.

Fiona memperhatikan kedua mobil yang saling salip memimpin di layar, lalu melirik sisa lintasan sejauh tiga kilometer dengan dahi berkerut dalam. Beberapa menit kemudian, kedua mobil balap itu muncul dalam pandangan. Itu berarti lomba ini hampir berakhir.

Nicholas memimpin, tetapi selisih jaraknya sangat tipis. Saat mereka memasuki lintasan terakhir, teman-teman Nicholas memperhatikan perubahan angka di layar dan mulai mengumpat dengan penuh frustrasi.

"Nicholas, apa kamu sudah gila? Sialan! Kamu sama sekali nggak peduli dengan nyawamu sendiri?"

Fiona mengikuti arah pandang mereka dan melihat mobil balap hitam itu memelesat cepat bagaikan kilat, hingga hanya terlihat sebagai bayangan samar.

Dari 100 meter, 50 meter, hingga 10 meter terakhir, Nicholas tidak melambat. Dia terlebih dahulu melintasi garis finis. Namun, kemenangan itu harus dibayar mahal. Mobilnya menghantam bantalan pengaman di luar garis finis hingga hancur tak berbentuk. Dia sendiri terlempar keluar dari mobil akibat benturan tersebut.

Lomba itu telah berakhir.

Teman-teman Nicholas telah menunggu di garis finis. Mereka segera berlari menghampiri Nicholas dan menarik tubuhnya yang bersimbah darah keluar dari puing-puing kendaraan. Dia memuntahkan darah dalam jumlah yang sangat banyak. Tatapannya juga perlahan-lahan kehilangan fokus.

"Be ... berikan kalung itu ... ke ... kepada Brenda. Ja ... jangan beri tahu dia ... masalah hari ini ...."

Sebelum kehilangan kesadaran, Nicholas hanya meninggalkan kata-kata itu. Semuanya tentang Brenda dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan Fiona yang sedang menunggu di samping.

Nicholas mengalami patah tulang di tangan sebelah kiri. Tulangnya nyaris remuk dan cedera ini bisa mengakhiri kariernya. Bahkan saat tak sadarkan diri setelah operasi, dia terus mengigau dan menyebut nama Brenda.

Melihat Nicholas yang tetap begitu cemas dan takut kehilangan bahkan dalam tidurnya, Fiona diam-diam mengalihkan pandangannya.

Keesokan paginya, efek obat bius telah hilang. Nicholas membuka matanya, lalu melihat wajah lesu gadis yang berada di sisi tempat tidur. Hatinya pun melunak sedikit. "Kamu rawat aku sepanjang malam dan nggak tidur?"

Fiona memijat pangkal hidungnya dan mengiakan dengan pelan.

Melihat keletihan di mata gadis itu, Nicholas mengusap kepalanya dengan lembut. "Terima kasih."

Fiona menyahut dengan tenang, "Nggak masalah. Kamu itu sahabat kakakku. Sudah sepantasnya aku merawatmu."

Nicholas merasa kata-kata Fiona terasa sangat janggal. Bukankah alasannya seharusnya karena dia adalah kekasih Fiona? Kenapa jadi karena dia adalah sahabat kakak Fiona?

Nicholas pun menyadari bahwa gadis ini marah karena dia telah mempertaruhkan nyawanya dalam balapan berisiko tinggi demi orang lain. Dia hendak menjelaskan, tetapi merasa apa pun yang dikatakannya tidaklah cocok. Jadi, dia mengurungkan niatnya.

Untungnya, Fiona tidak meminta penjelasan lebih lanjut. Nicholas pun mengalihkan topik pembicaraan. "Siapa saja yang datang menjengukku selama aku nggak sadarkan diri?"

"Belasan temanmu itu dan manajer klub."

Senyum di wajah Nicholas perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi dingin dan kosong. Namun, karena masih tidak mau menyerah, dia menyunggingkan senyum tipis yang tidak mencapai matanya dan bertanya lagi, "Cuma mereka? Nggak ada orang lain?"

Melihat Fiona mengangguk, ekspresi Nicholas berubah sedingin es. Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun sepanjang sisa pagi itu. Fiona tahu siapa yang dinantikan pria itu, tetapi tetap diam.

Nicholas dirawat di rumah sakit selama beberapa hari, sedangkan Fiona mendampinginya sepanjang waktu. Pada hari kepulangannya, dia menatap wajah Fiona yang terlihat tirus. Secercah rasa sakit hati melintas di matanya. "Fio, terima kasih atas segalanya selama beberapa hari ini."

Fiona mengambil barang-barangnya dengan ekspresi tenang.

"Nggak perlu berterima kasih. Atas permintaan kakakku, kamu selalu menjagaku sejak aku kuliah di Kota Jabura. Anggap saja ini caraku membalas budi. Meskipun beberapa hari ini nggak sebanding dengan tahun-tahun kamu menjagaku, aku seharusnya juga nggak banyak merepotkanmu selama berada di sini. Jadi, anggap saja kita sudah impas."

Ini adalah yang kedua kalinya Fiona mengabaikan hubungan mereka. Mendengar hal itu, Nicholas merasa ada yang tidak beres dan mau tak mau meliriknya.

"Kamu itu pacarku, kenapa harus bicara soal balas budi? Bukannya kelak aku masih akan terus menjagamu?"

Fiona memalingkan wajah. Suaranya nyaris berupa bisikan saat menyahut, "Nggak ada kelak lagi."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 24

    Fiona hanya menjawab singkat, “Aku juga.” Jika Fiona sudah yakin bahwa sesuatu tidak lagi bisa diperbaiki, dia tidak akan pernah menoleh kembali. Sebaliknya, begitu dia sudah memutuskan untuk menghabiskan seumur hidup bersama seseorang, dia pasti akan memberikan orang itu sebuah kesempatan. Sementara itu, hubungan Fiona dan Nicholas sejak awal memang merupakan sebuah kesalahan. Fiona butuh waktu delapan tahun untuk menyadari bahwa selama ini dia berjalan di jalan yang salah. Jadi, mana mungkin dia mengulangi kesalahannya lagi?Jadi, Fiona mengangkat kepala dan menatap Nicholas dengan tegas, lalu berkata dengan jelas, “Nicholas, yang kamu sukai selama ini bukan aku, melainkan bayangan Brenda yang kamu lihat dalam diriku.”“Aku bisa mengajukan putus sama kamu bukan karena lagi merajuk, juga bukan menunggu dibujuk olehmu, melainkan karena aku sudah nggak mencintaimu lagi.”"‘Segala bentuk kebohongan nggak layak dimaafkan’, apa kamu masih ingat dengan kalimat yang pernah kamu katakan sebe

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 23

    Setelah resepsi pernikahan selesai, Fiona mengganti pakaian yang lebih santai, menggandeng Maverick untuk pulang ke rumah baru.Ini pertama kalinya mereka berdua bergandengan tangan dengan jari saling bertaut sebagai pasangan suami istri.Saat merasakan kehangatan dari telapak tangan Maverick, Fiona merasa kulitnya yang sempat terasa dingin karena embusan AC itu, perlahan kembali hangat.Pasangan pengantin baru itu menghindari keramaian di pintu depan dan memilih keluar melalui pintu belakang.Baru saja Fiona membuka pintu, pandangannya langsung tertuju pada Nicholas yang berdiri beberapa meter di depan.Bukan karena Fiona sedang mengenang masa lalu, melainkan karena wajah Nicholas yang bengkak dan lebam akibat dihajar itu memang sangat menarik perhatian. Saat melihat penampilannya seperti ini, akhirnya Fiona mengerti kenapa kakaknya berkelahi hingga kemejanya robek.Betul juga, Fiona adalah adik kandung Francis yang tumbuh bersamanya sejak kecil. Mana mungkin Francis tidak turun tanga

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 22

    Keributan kecil itu tidak menarik terlalu banyak perhatian. Setelah para sekuriti menjalankan instruksi untuk membawa orang yang mengganggu jalannya acara keluar dari lokasi, pernikahan tetap berlangsung dengan tertib.Orang-orang yang ekspresinya benar-benar berubah saat itu hanyalah keempat sahabat dekat yang dulu tinggal di asrama yang sama.Francis yang berada di belakang panggung dapat melihat seluruh kejadian itu dengan sangat jelas.Saat Nicholas berlari naik ke panggung, Francis seolah-olah menyadari sesuatu. Raut wajahnya menjadi muram dalam seketika.Ketika mendengar pembawa acara mengatakan bahwa masih ada sepuluh menit sebelum giliran pengiring pria memberikan pidato, Francis melepas jasnya, menggerakkan pergelangan tangannya, lalu berjalan keluar.Baru saja sampai di pintu, Francis langsung berpapasan dengan Nicholas yang sudah kehilangan kendali serta Mason yang masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Francis mengayunkan tangannya, kemudian langsung mencengk

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 21

    Belum sempat Nicholas merespons, alunan musik pernikahan mulai berkumandang tepat pada waktunya.Saat mendengar suara, Nicholas langsung mengangkat kepalanya. Dia melihat pintu di panggung yang berjarak sekitar 20 meter darinya terbuka. Seorang pria mengenakan jas hitam berjalan perlahan memasuki ruangan, lalu berdiri di tengah panggung.Nicholas memiliki sedikit rabun jauh, sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di kejauhan. Dia pun menyenggol lengan Mason. “Apa sekarang giliran Francis masuk ruangan?”Mendengar pertanyaan itu, kedua teman di sampingnya langsung menoleh bersamaan, menatapnya dengan ekspresi penuh keterkejutan.“Buat apa dia naik ke panggung? Hari ini bukan dia yang menikah.”Bukan Francis yang menikah?Jadi, kenapa Nicholas disuruh datang kemari?Raut wajah Nicholas menjadi muram. Dia bertanya dengan nada menguji, “Dia bukan pengantin pria?”“Tentu saja bukan. Pengantin pria adalah putra kedua dari Keluarga Saputra, Maverick Saputra.”Nicholas

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 20

    Pada hari Kamis malam, Nicholas masih tidak menerima balasan telepon dari Fiona. Hatinya sungguh terasa gelisah. Dia terus meneguk alkohol. Tatapannya terus-menerus melirik layar ponsel. Kenny mengetahui masalah hati Nicholas. Dia pun memikirkan cara untuk menghibur Nicholas. “Pasti dia sedang merajuk dan menunggu kamu membujuknya. Semua orang bisa melihat kalau Fio sangat menyukaimu, mana mungkin dia benar-benar ingin putus?”“Menurutku, kemungkinan besar dia meminta kakaknya membujukmu untuk datang ke pesta pernikahan itu. Dia hanya ingin memberimu jalan keluar agar kamu nggak merasa malu.”Ketika mendengar ucapan itu, akhirnya hati Nicholas merasa lebih nyaman. Dia melihat jam. Pada pukul sembilan nanti, dia akan segera berangkat ke bandara.Kenny mengendarai mobil untuk mengantarnya. Saat berhenti pada lampu merah, dia melirik beberapa kotak hadiah yang dibungkus dengan indah di baris belakang. Terdengar rasa iri di dalam nada bicaranya. “Bukannya hanya pernikahan teman satu asram

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 19

    Hanya Brenda saja yang masih tenggelam dalam mimpi indah dilamar. Dia masih seperti biasanya, menunjukkan ekspresi manja dan merajuk.“Kalau kamu seperti ini, aku nggak akan setuju!”Nicholas mengangguk dengan raut wajah tidak peduli. Dia melontarkan kalimat yang membuat semua orang di tempat terbelalak. “Setuju atau nggak juga nggak penting, karena sebenarnya orang yang ingin aku lamar bukan kamu.”Brenda menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Sekujur tubuhnya tanpa sadar mulai gemetar. “Apa maksud … ucapanmu?”“Apa maksudku?” Nicholas membuang bunga ke atas lantai, kemudian menutup kotak cincin di telapak tangannya. “Maksudku, orang yang ingin aku lamar, bukan Brenda.”Setelah selesai berbicara, seluruh ruangan menjadi hening, hanya tersisa suara napas ringan saja.Nicholas juga tidak menghiraukan ekspresi Brenda saat ini. Dia berbalik, lalu membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada para hadirin. Nada bicaranya menyimpan sedikit senyuman.“Maaf, semuanya. Sebenarnya acara

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status