แชร์

Bab 8

ผู้เขียน: Ochos
Setelah kembali ke rumah, Fiona menerima telepon dari editornya.

"Fio! Komikmu itu langsung viral begitu dirilis. Pembaca sudah minta sambungannya. Gimana rencanamu?"

Selama beberapa hari terakhir, Fiona sibuk menjaga Nicholas di rumah sakit. Jadi, dia baru mengetahui kabar tersebut. Editornya mencoba membujuknya untuk memanfaatkan momentum itu dan membuat sekuel. Namun, dia menolaknya dengan sopan.

Komik itu diangkat dari kisah cintanya dengan Nicholas. Dia memilih untuk mengakhirinya tepat sebelum kebenaran terungkap. Membuat sekuel hanya akan merusak sesuatu yang sudah ada.

Fiona membuka akun media sosial komikusnya, yang sudah lama tidak dibukanya. Melihat komentar-komentar yang membanjiri akun itu, ekspresinya terlihat lebih ceria.

Nicholas mendekat dan menggodanya lagi, "Komikmu dapat sambutan hangat? Gimana kalau aku adakan pesta perayaan untuk komikusku ini?"

Sebelum Fiona sempat mencegah, pria itu sudah mengirimkan rentetan pesan kepada semua orang.

Fiona menelan kembali kata-kata penolakannya dan mengalihkan pembicaraan. "Memangnya kamu sudah baca komik itu?"

"Nggak. Aku kurang suka komik untuk perempuan. Ceritakan saja padaku apa isinya."

Nicholas bahkan belum membacanya, tetapi ingin mengadakan pesta perayaan? Itu seharusnya hanyalah alasan untuk bertemu Brenda.

Fiona memperhatikan jari-jari Nicholas yang bergerak cepat di atas keyboard dan ekspresinya yang santai. Berhubung tidak ingin menghabiskan energinya untuk bercerita, dia bangkit dan kembali ke kamar.

Pesta perayaan itu diadakan di aula hotel. Sesuai dugaan, Brenda juga datang, tetapi tidak sendirian. Dia membawa seorang teman pria. Keduanya saling merangkul dan mengobrol tanpa henti.

Melihat pemandangan itu, Nicholas nyaris meremukkan gelas di tangannya. Mengabaikan suasana hati pria itu, Fiona bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.

Saat keluar, Fiona melihat tanda "dalam perbaikan" digantung di pintu masuk. Tepat ketika dia bertanya-tanya apakah ada masalah, sosok seseorang tiba-tiba muncul dari bayang-bayang di sudut ruangan. Itu adalah teman pria yang datang bersama Brenda. Pria itu menghalangi jalannya dan menatapnya dengan pandangan penuh nafsu sambil terus bersiul.

Fiona mengernyit dan mencoba berjalan melewatinya. Namun, pria itu mencengkeram tangannya dan hendak menciumnya dengan mulut yang berbau alkohol.

Gerakan tiba-tiba itu sangat mengejutkan Fiona, hingga wajahnya pucat pasi. Dia secara refleks mengangkat tangannya untuk melawan. "Apa-apaan kamu!"

Pria itu mengangkat alisnya, lalu menyunggingkan senyum angkuh yang penuh nafsu.

"Ngapain kamu bersikap sok suci? Brenda sudah ceritakan semuanya padaku. Kamu sangat haus akan sentuhan pria, 'kan? Jangan berebut dengannya lagi. Gimana kalau kamu bersamaku saja?"

Sambil berbicara, pria itu menekan Fiona ke wastafel kamar mandi. Memanfaatkan postur tubuhnya yang tinggi dan kekuatannya, pria itu mencoba melecehkannya.

Fiona meronta sekuat tenaga, tetapi tak mampu melepaskan diri. Tepat saat pria itu hendak merobek kerah bajunya, tangannya menyentuh pot bunga di atas meja. Tanpa berpikir panjang, dia menyambar pot itu dan menghantamkannya ke belakang kepala pria tersebut.

Diiringi suara benturan keras, pria itu ambruk ke lantai sambil meringis kesakitan.

Setelah berhasil menyelamatkan diri, Fiona bahkan tak berani melirik pria itu. Dia segera memaksakan diri untuk melangkah keluar dari kamar mandi. Begitu keluar, dia melihat Brenda sudah menunggu di sana.

Fiona tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat melindunginya sehingga dia memiliki kepribadian yang sangat lembut. Namun, selembut apa pun kepribadiannya, dia juga tidak mampu membendung emosinya setelah mengalami percobaan pelecehan yang telah direncanakan tadi.

Mengingat kembali ucapan pria tadi, Fiona tak ragu lagi. Dia mengayunkan tangannya dan menampar Brenda dengan kuat. "Brenda, kamu sengaja, 'kan?"

Setelah ditampar, Brenda menatap Fiona yang terlihat murka. Namun, dia sama sekali tidak marah, bahkan masih bisa tersenyum.

"Oh, maksudmu temanku itu? Memangnya kenapa meski aku sengaja memilihnya untukmu? Aku juga cuma kasihan sama kamu. Sejak aku kembali, kamu ditinggal sendiri. Memangnya kamu nggak kesepian? Kak Carlos sudah sangat berpengalaman di industri hiburan malam. Dia pasti bisa memuaskanmu ...."

Mendengar rentetan hinaan itu, Fiona yang sudah sangat marah tak bisa menahan diri dan mengangkat tangannya lagi. Namun, kali ini, tangannya ditahan oleh seseorang sebelum sempat mendarat di wajah Brenda.

Fiona menoleh dan mendapati Nicholas berdiri di sana, dengan raut wajah yang muram.

Begitu melihat orang yang dinantikannya tiba, Brenda segera memasang wajah seolah-olah dia barulah korbannya. Dia menghambur ke pelukan Nicholas dan menangis tersedu-sedu. "Nico, apa pacarmu begitu membenciku? Cuma karena aku menghalangi jalannya, dia langsung mau menamparku. Huhuhu ...."

Melihat wanita di pelukannya menangis dengan begitu memilukan, raut wajah Nicholas seketika berubah menjadi gelap. "Fiona, kenapa kamu persulit orang tanpa alasan? Apa ini yang Francis ajarkan padamu? Apa aku pernah mengajarimu begini?"

Mata Fiona memerah karena marah. Suaranya sedikit gemetar akibat ketakutan yang masih tersisa. "Tanpa alasan? Ada rekaman CCTV di koridor. Lihat saja sendiri kenapa aku menamparnya dan apa sebenarnya yang sudah dia lakukan!"

Fiona awalnya ingin membeberkan fakta dan bukti yang ada. Namun, Nicholas memercayai Brenda tanpa syarat dan merasa Brenda tidak bersalah. Dia sama sekali tidak berniat untuk melihat rekaman CCTV.

"Apa pun yang terjadi, kamu nggak seharusnya menampar orang! Lagian, Brenda baru bertemu denganmu sekali. Memangnya apa yang bisa dia lakukan padamu? Kamu harus minta maaf padanya!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 24

    Fiona hanya menjawab singkat, “Aku juga.” Jika Fiona sudah yakin bahwa sesuatu tidak lagi bisa diperbaiki, dia tidak akan pernah menoleh kembali. Sebaliknya, begitu dia sudah memutuskan untuk menghabiskan seumur hidup bersama seseorang, dia pasti akan memberikan orang itu sebuah kesempatan. Sementara itu, hubungan Fiona dan Nicholas sejak awal memang merupakan sebuah kesalahan. Fiona butuh waktu delapan tahun untuk menyadari bahwa selama ini dia berjalan di jalan yang salah. Jadi, mana mungkin dia mengulangi kesalahannya lagi?Jadi, Fiona mengangkat kepala dan menatap Nicholas dengan tegas, lalu berkata dengan jelas, “Nicholas, yang kamu sukai selama ini bukan aku, melainkan bayangan Brenda yang kamu lihat dalam diriku.”“Aku bisa mengajukan putus sama kamu bukan karena lagi merajuk, juga bukan menunggu dibujuk olehmu, melainkan karena aku sudah nggak mencintaimu lagi.”"‘Segala bentuk kebohongan nggak layak dimaafkan’, apa kamu masih ingat dengan kalimat yang pernah kamu katakan sebe

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 23

    Setelah resepsi pernikahan selesai, Fiona mengganti pakaian yang lebih santai, menggandeng Maverick untuk pulang ke rumah baru.Ini pertama kalinya mereka berdua bergandengan tangan dengan jari saling bertaut sebagai pasangan suami istri.Saat merasakan kehangatan dari telapak tangan Maverick, Fiona merasa kulitnya yang sempat terasa dingin karena embusan AC itu, perlahan kembali hangat.Pasangan pengantin baru itu menghindari keramaian di pintu depan dan memilih keluar melalui pintu belakang.Baru saja Fiona membuka pintu, pandangannya langsung tertuju pada Nicholas yang berdiri beberapa meter di depan.Bukan karena Fiona sedang mengenang masa lalu, melainkan karena wajah Nicholas yang bengkak dan lebam akibat dihajar itu memang sangat menarik perhatian. Saat melihat penampilannya seperti ini, akhirnya Fiona mengerti kenapa kakaknya berkelahi hingga kemejanya robek.Betul juga, Fiona adalah adik kandung Francis yang tumbuh bersamanya sejak kecil. Mana mungkin Francis tidak turun tanga

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 22

    Keributan kecil itu tidak menarik terlalu banyak perhatian. Setelah para sekuriti menjalankan instruksi untuk membawa orang yang mengganggu jalannya acara keluar dari lokasi, pernikahan tetap berlangsung dengan tertib.Orang-orang yang ekspresinya benar-benar berubah saat itu hanyalah keempat sahabat dekat yang dulu tinggal di asrama yang sama.Francis yang berada di belakang panggung dapat melihat seluruh kejadian itu dengan sangat jelas.Saat Nicholas berlari naik ke panggung, Francis seolah-olah menyadari sesuatu. Raut wajahnya menjadi muram dalam seketika.Ketika mendengar pembawa acara mengatakan bahwa masih ada sepuluh menit sebelum giliran pengiring pria memberikan pidato, Francis melepas jasnya, menggerakkan pergelangan tangannya, lalu berjalan keluar.Baru saja sampai di pintu, Francis langsung berpapasan dengan Nicholas yang sudah kehilangan kendali serta Mason yang masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Francis mengayunkan tangannya, kemudian langsung mencengk

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 21

    Belum sempat Nicholas merespons, alunan musik pernikahan mulai berkumandang tepat pada waktunya.Saat mendengar suara, Nicholas langsung mengangkat kepalanya. Dia melihat pintu di panggung yang berjarak sekitar 20 meter darinya terbuka. Seorang pria mengenakan jas hitam berjalan perlahan memasuki ruangan, lalu berdiri di tengah panggung.Nicholas memiliki sedikit rabun jauh, sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di kejauhan. Dia pun menyenggol lengan Mason. “Apa sekarang giliran Francis masuk ruangan?”Mendengar pertanyaan itu, kedua teman di sampingnya langsung menoleh bersamaan, menatapnya dengan ekspresi penuh keterkejutan.“Buat apa dia naik ke panggung? Hari ini bukan dia yang menikah.”Bukan Francis yang menikah?Jadi, kenapa Nicholas disuruh datang kemari?Raut wajah Nicholas menjadi muram. Dia bertanya dengan nada menguji, “Dia bukan pengantin pria?”“Tentu saja bukan. Pengantin pria adalah putra kedua dari Keluarga Saputra, Maverick Saputra.”Nicholas

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 20

    Pada hari Kamis malam, Nicholas masih tidak menerima balasan telepon dari Fiona. Hatinya sungguh terasa gelisah. Dia terus meneguk alkohol. Tatapannya terus-menerus melirik layar ponsel. Kenny mengetahui masalah hati Nicholas. Dia pun memikirkan cara untuk menghibur Nicholas. “Pasti dia sedang merajuk dan menunggu kamu membujuknya. Semua orang bisa melihat kalau Fio sangat menyukaimu, mana mungkin dia benar-benar ingin putus?”“Menurutku, kemungkinan besar dia meminta kakaknya membujukmu untuk datang ke pesta pernikahan itu. Dia hanya ingin memberimu jalan keluar agar kamu nggak merasa malu.”Ketika mendengar ucapan itu, akhirnya hati Nicholas merasa lebih nyaman. Dia melihat jam. Pada pukul sembilan nanti, dia akan segera berangkat ke bandara.Kenny mengendarai mobil untuk mengantarnya. Saat berhenti pada lampu merah, dia melirik beberapa kotak hadiah yang dibungkus dengan indah di baris belakang. Terdengar rasa iri di dalam nada bicaranya. “Bukannya hanya pernikahan teman satu asram

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 19

    Hanya Brenda saja yang masih tenggelam dalam mimpi indah dilamar. Dia masih seperti biasanya, menunjukkan ekspresi manja dan merajuk.“Kalau kamu seperti ini, aku nggak akan setuju!”Nicholas mengangguk dengan raut wajah tidak peduli. Dia melontarkan kalimat yang membuat semua orang di tempat terbelalak. “Setuju atau nggak juga nggak penting, karena sebenarnya orang yang ingin aku lamar bukan kamu.”Brenda menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Sekujur tubuhnya tanpa sadar mulai gemetar. “Apa maksud … ucapanmu?”“Apa maksudku?” Nicholas membuang bunga ke atas lantai, kemudian menutup kotak cincin di telapak tangannya. “Maksudku, orang yang ingin aku lamar, bukan Brenda.”Setelah selesai berbicara, seluruh ruangan menjadi hening, hanya tersisa suara napas ringan saja.Nicholas juga tidak menghiraukan ekspresi Brenda saat ini. Dia berbalik, lalu membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada para hadirin. Nada bicaranya menyimpan sedikit senyuman.“Maaf, semuanya. Sebenarnya acara

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status