แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Ochos
Senyum Nicholas pun membeku. Melihat ekspresi dingin Fiona, dia akhirnya menyadari bahwa gadis itu mungkin sedang marah.

Nicholas melangkah mendekat, lalu meraih tangan Fiona dan menunjukkan kalung itu, seolah-olah sedang melakukan sulap. "Maaf. Kemarin, aku pergi ambil hadiah ulang tahunmu, makanya aku tinggalkan kamu di vila. Bisa nggak kamu maafkan aku sekali ini saja?"

Apa Nicholas benar-benar mengira bahwa Fiona akan memaafkannya setelah mengarang kebohongan yang begitu lemah dan penuh celah?

Fiona menatap pria itu lekat-lekat, tanpa menyahut ataupun bergerak untuk mengambil kalung itu.

Saat tidak mendapat tanggapan setelah sekian lama, Nicholas menghela napas dan menggoyangkan kalung itu di hadapan Fiona. "Belakangan ini, kamu sepertinya sering melamun. Apa kamu lagi ada beban pikiran?"

Pada saat ini, Fiona baru mengalihkan pandangannya. Dia menoleh ke arah jendela, lalu berujar dengan tenang, "Iya. Seorang temanku baru saja tahu bahwa pacar yang sudah lama bersamanya ternyata membohonginya selama ini. Setelah tahu kebenarannya, dia curhat padaku dan bertanya apakah dia seharusnya maafkan pria itu."

Ternyata beban pikiran Fiona hanyalah masalah sepele seperti itu. Nicholas pun terkekeh pelan dan memberikan jawaban yang sangat rasional. "Apa yang perlu dipusingkan? Segala bentuk kebohongan nggak layak dimaafkan. Sebaiknya kamu suruh dia putus saja."

"Segala bentuk kebohongan nggak layak dimaafkan."

Fiona mengulangi kata-kata itu dengan menirukan nada bicara Nicholas.

Nicholas mengangguk, lalu tersenyum dan mengusap kepala Fiona. "Benar. Kelak, jangan sampai pacarku ini tertipu."

Melihat gerakan Nicholas, Fiona akhirnya menyunggingkan senyum tipis. "Mari kita sama-sama ingat kata-kata itu."

Nicholas mengernyit, lalu hendak bertanya apa maksud Fiona. Namun, ponsel di sakunya tiba-tiba berdering. Tanpa melihat layar, dia menjawab panggilan itu dengan santai. "Siapa ini?"

"Ini aku, Nico. Ayo kita bicara."

Jarak mereka cukup dekat sehingga Fiona bisa mendengar suara dari ujung telepon. Itu adalah suara Brenda. Dia mendongak dan melihat ekspresi Nicholas membeku selama beberapa detik sebelum kembali normal.

Nicholas mengiakan dengan suara rendah, lalu segera menutup telepon dan mencari alasan untuk pergi.

Sambil melirik kalung yang tergeletak di meja, Fiona bangkit dan berjalan ke ruangan lain. Setelah bekerja selama dua jam, dia memutuskan untuk beristirahat dan membuka akun media sosialnya.

Saat menggulir layar ke bawah, Fiona melihat postingan Brenda dari setengah jam yang lalu. Mereka baru saling mengikuti akun media sosial satu sama lain kemarin.

[ Delapan tahun telah berlalu, tapi kamu masih adalah pria yang hatinya melunak begitu aku menghiburmu. Baguslah. ]

Foto yang menyertainya memperlihatkan sepiring udang dan sebuah tangan yang sedang mengupas udang. Menatap jari-jari ramping dan jam tangan yang familier di pergelangan tangan itu, Fiona tersenyum tipis lalu menyimpan ponselnya.

Selama beberapa hari berikutnya, Nicholas tidak kembali. Dia hanya sesekali mengirim pesan singkat yang mengatakan dirinya sibuk.

Namun, melalui postingan media sosial Brenda, Fiona tahu persis ke mana saja pria itu pergi. Mereka menikmati matahari terbit di tepi laut, menonton kembang api di taman hiburan, berkemah di pinggir kota ....

Fiona tahu Brenda sengaja memosting foto-foto itu agar dia melihatnya. Namun, alih-alih mengonfrontasi atau marah seperti yang diharapkan Brenda, dia hanya sepenuhnya fokus mengemasi barang-barangnya.

Selama bertahun-tahun tinggal di Kota Jabura, barang yang Fiona beli sangat banyak. Menyortir dan membuangnya secara bertahap juga memakan waktu berhari-hari. Dia menyumbangkan semua barang berharganya. Setelah staf dari yayasan amal mengangkut semuanya pergi, dia pun hendak beristirahat. Tak disangka, Nicholas menelepon.

Fiona menjawab panggilan itu, tetapi suara di ujung telepon bukanlah suara Nicholas, melainkan suara temannya, Kenny.

"Fio, Nico terlibat konflik dengan seseorang dan mau balap mobil dengan nyawa sebagai taruhannya. Cepat datang kemari dan bujuk dia!"

Mendengar kata-kata itu, kelopak mata kanan Fiona berkedut hebat. Setelah ragu sejenak, dia mengambil kunci, lalu memanggil taksi dan bergegas menuju klub balap mobil.

Saat Fiona tiba, Kenny sudah menunggu di depan pintu masuk. Begitu melihatnya, Kenny berlari menghampirinya dan membawanya masuk sambil menjelaskan situasinya.

"Beberapa hari yang lalu, ada sebuah kalung di acara lelang yang disukai Brenda. Kebetulan, Nico lagi ke toilet dan orang lain sudah membelinya. Berhubung Brenda begitu suka sama kalung itu, Nico bersikeras mau membelinya dari orang itu."

"Orang itu juga seorang pembalap. Dia kaya dan nggak peduli sama uang. Jadi, dia mengusulkan taruhan besar. Mereka akan lomba balap, lalu pemenangnya bisa dapatkan kalung itu."

"Kalau itu balapan di lintasan biasa, aku juga nggak akan merepotkanmu. Tapi, orangnya malah pilih 'Jalan Kematian'. Itu rute yang sangat berbahaya. Meski pembalapnya adalah tokoh legendaris F1, mereka juga belum tentu bisa melewatinya tanpa cedera. Fio, kamu itu pacar Nico. Carilah cara untuk membujuknya!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 24

    Fiona hanya menjawab singkat, “Aku juga.” Jika Fiona sudah yakin bahwa sesuatu tidak lagi bisa diperbaiki, dia tidak akan pernah menoleh kembali. Sebaliknya, begitu dia sudah memutuskan untuk menghabiskan seumur hidup bersama seseorang, dia pasti akan memberikan orang itu sebuah kesempatan. Sementara itu, hubungan Fiona dan Nicholas sejak awal memang merupakan sebuah kesalahan. Fiona butuh waktu delapan tahun untuk menyadari bahwa selama ini dia berjalan di jalan yang salah. Jadi, mana mungkin dia mengulangi kesalahannya lagi?Jadi, Fiona mengangkat kepala dan menatap Nicholas dengan tegas, lalu berkata dengan jelas, “Nicholas, yang kamu sukai selama ini bukan aku, melainkan bayangan Brenda yang kamu lihat dalam diriku.”“Aku bisa mengajukan putus sama kamu bukan karena lagi merajuk, juga bukan menunggu dibujuk olehmu, melainkan karena aku sudah nggak mencintaimu lagi.”"‘Segala bentuk kebohongan nggak layak dimaafkan’, apa kamu masih ingat dengan kalimat yang pernah kamu katakan sebe

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 23

    Setelah resepsi pernikahan selesai, Fiona mengganti pakaian yang lebih santai, menggandeng Maverick untuk pulang ke rumah baru.Ini pertama kalinya mereka berdua bergandengan tangan dengan jari saling bertaut sebagai pasangan suami istri.Saat merasakan kehangatan dari telapak tangan Maverick, Fiona merasa kulitnya yang sempat terasa dingin karena embusan AC itu, perlahan kembali hangat.Pasangan pengantin baru itu menghindari keramaian di pintu depan dan memilih keluar melalui pintu belakang.Baru saja Fiona membuka pintu, pandangannya langsung tertuju pada Nicholas yang berdiri beberapa meter di depan.Bukan karena Fiona sedang mengenang masa lalu, melainkan karena wajah Nicholas yang bengkak dan lebam akibat dihajar itu memang sangat menarik perhatian. Saat melihat penampilannya seperti ini, akhirnya Fiona mengerti kenapa kakaknya berkelahi hingga kemejanya robek.Betul juga, Fiona adalah adik kandung Francis yang tumbuh bersamanya sejak kecil. Mana mungkin Francis tidak turun tanga

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 22

    Keributan kecil itu tidak menarik terlalu banyak perhatian. Setelah para sekuriti menjalankan instruksi untuk membawa orang yang mengganggu jalannya acara keluar dari lokasi, pernikahan tetap berlangsung dengan tertib.Orang-orang yang ekspresinya benar-benar berubah saat itu hanyalah keempat sahabat dekat yang dulu tinggal di asrama yang sama.Francis yang berada di belakang panggung dapat melihat seluruh kejadian itu dengan sangat jelas.Saat Nicholas berlari naik ke panggung, Francis seolah-olah menyadari sesuatu. Raut wajahnya menjadi muram dalam seketika.Ketika mendengar pembawa acara mengatakan bahwa masih ada sepuluh menit sebelum giliran pengiring pria memberikan pidato, Francis melepas jasnya, menggerakkan pergelangan tangannya, lalu berjalan keluar.Baru saja sampai di pintu, Francis langsung berpapasan dengan Nicholas yang sudah kehilangan kendali serta Mason yang masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Francis mengayunkan tangannya, kemudian langsung mencengk

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 21

    Belum sempat Nicholas merespons, alunan musik pernikahan mulai berkumandang tepat pada waktunya.Saat mendengar suara, Nicholas langsung mengangkat kepalanya. Dia melihat pintu di panggung yang berjarak sekitar 20 meter darinya terbuka. Seorang pria mengenakan jas hitam berjalan perlahan memasuki ruangan, lalu berdiri di tengah panggung.Nicholas memiliki sedikit rabun jauh, sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di kejauhan. Dia pun menyenggol lengan Mason. “Apa sekarang giliran Francis masuk ruangan?”Mendengar pertanyaan itu, kedua teman di sampingnya langsung menoleh bersamaan, menatapnya dengan ekspresi penuh keterkejutan.“Buat apa dia naik ke panggung? Hari ini bukan dia yang menikah.”Bukan Francis yang menikah?Jadi, kenapa Nicholas disuruh datang kemari?Raut wajah Nicholas menjadi muram. Dia bertanya dengan nada menguji, “Dia bukan pengantin pria?”“Tentu saja bukan. Pengantin pria adalah putra kedua dari Keluarga Saputra, Maverick Saputra.”Nicholas

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 20

    Pada hari Kamis malam, Nicholas masih tidak menerima balasan telepon dari Fiona. Hatinya sungguh terasa gelisah. Dia terus meneguk alkohol. Tatapannya terus-menerus melirik layar ponsel. Kenny mengetahui masalah hati Nicholas. Dia pun memikirkan cara untuk menghibur Nicholas. “Pasti dia sedang merajuk dan menunggu kamu membujuknya. Semua orang bisa melihat kalau Fio sangat menyukaimu, mana mungkin dia benar-benar ingin putus?”“Menurutku, kemungkinan besar dia meminta kakaknya membujukmu untuk datang ke pesta pernikahan itu. Dia hanya ingin memberimu jalan keluar agar kamu nggak merasa malu.”Ketika mendengar ucapan itu, akhirnya hati Nicholas merasa lebih nyaman. Dia melihat jam. Pada pukul sembilan nanti, dia akan segera berangkat ke bandara.Kenny mengendarai mobil untuk mengantarnya. Saat berhenti pada lampu merah, dia melirik beberapa kotak hadiah yang dibungkus dengan indah di baris belakang. Terdengar rasa iri di dalam nada bicaranya. “Bukannya hanya pernikahan teman satu asram

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 19

    Hanya Brenda saja yang masih tenggelam dalam mimpi indah dilamar. Dia masih seperti biasanya, menunjukkan ekspresi manja dan merajuk.“Kalau kamu seperti ini, aku nggak akan setuju!”Nicholas mengangguk dengan raut wajah tidak peduli. Dia melontarkan kalimat yang membuat semua orang di tempat terbelalak. “Setuju atau nggak juga nggak penting, karena sebenarnya orang yang ingin aku lamar bukan kamu.”Brenda menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Sekujur tubuhnya tanpa sadar mulai gemetar. “Apa maksud … ucapanmu?”“Apa maksudku?” Nicholas membuang bunga ke atas lantai, kemudian menutup kotak cincin di telapak tangannya. “Maksudku, orang yang ingin aku lamar, bukan Brenda.”Setelah selesai berbicara, seluruh ruangan menjadi hening, hanya tersisa suara napas ringan saja.Nicholas juga tidak menghiraukan ekspresi Brenda saat ini. Dia berbalik, lalu membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada para hadirin. Nada bicaranya menyimpan sedikit senyuman.“Maaf, semuanya. Sebenarnya acara

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status