Short
Badai Topan yang Membukakan Mataku

Badai Topan yang Membukakan Mataku

By:  TujuhCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
81views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Laporan berita menunjukkan bahwa topan super akan mendarat di bagian selatan kota pada pukul enam sore nanti. Pukul empat sore, rekan-rekan sudah mulai berkemas untuk pulang. Kereta bawah tanah dan layanan bus sudah ditutup. Rekan-rekan kerja yang memiliki mobil menawarkan tumpangan kepada mereka yang tidak membawa kendaraan. Ketika ditanya apakah aku membutuhkan tumpangan, aku dengan sopan menolak sambil tersenyum. "Terima kasih, tapi tidak perlu. Pacarku akan datang menjemput." Mereka bercanda dan menggoda bahwa memiliki pasangan itu sangat menyenangkan. Pukul lima sore, angin di luar semakin kencang. Aku menelepon Darwin, tetapi panggilan tidak terhubung. Riwayat pesan terakhir kami masih dari satu jam yang lalu, dia berkata: [Aku akan segera sampai.] Aku pikir lalu lintas di luar saat ini sedang macet parah sehingga wajar jika butuh waktu yang lebih lama dari biasanya. Pukul setengah enam sore, hujan deras pun mulai turun. Aku sendirian di kantor. Lampu di atas kepalaku berkedip-kedip, dan tiba-tiba padam. Dalam kegelapan total, aku kembali menekan nomor Darwin. Kali ini panggilan terhubung, tetapi suara wanita yang terdengar familiar menjawab. "Kak Jessi?" Aku tertegun, merasa terkejut. "Di mana Darwin?" "Kak Darwin sedang mengemudi, jadi tidak bisa menjawab telepon."

View More

Chapter 1

Bab 1

"Di mana kalian?"

"Dalam perjalanan ke rumahku. Kak Darwin bilang terlalu berbahaya kalau aku pulang sendirian."

"Oh iya, dia bilang sudah mengirim pesan setengah jam yang lalu agar kamu pulang duluan naik taksi. Kak Jessi, apakah kamu sudah sampai rumah?" Suara angin menderu terdengar di luar jendela.

Hatiku terasa semakin dingin.

Selama tiga tahun ini, Darwin telah memberikan semua perhatiannya kepada rekan kerja perempuannya itu.

Dan, aku pun telah menghabiskan sisa perasaan terakhir di hatiku.

"Iya, aku sudah di rumah."

Sebuah rumah yang tidak akan pernah memiliki sosoknya lagi.

...

Suara wanita di telepon terdengar menghela napas lega.

"Syukurlah kalau kau sudah di rumah, kami juga sudah hampir sampai."

"Tapi topannya akan segera menerjang. Kak Darwin memintaku untuk memberitahumu bahwa dia mungkin akan menginap di rumahku malam ini."

Aku hanya bergumam singkat dengan datar.

Aku bahkan bisa mendengar suara seorang pria bicara dengan lembut dari ujung telepon.

"Apa kamu kedinginan? Mau aku naikkan suhunya?"

Yolanda tertawa, "Ini musim panas, Kak!"

Benar, sekarang memang sedang musim panas.

Tetapi, aku justru merasakan hawa dingin menjalari tubuhku, dan membuat tubuhku terus gemetar.

Panggilan pun berakhir.

Aku menatap layar obrolan kami, tidak ada pesan yang menyuruhku pulang naik taksi.

Dia mungkin memang sudah mengirimnya, tetapi karena sinyal yang buruk sehingga pesannya gagal terkirim.

Namun, hal itu berarti bahwa dia tidak pernah memeriksa layar obrolan kami lagi setelah mengirim pesan itu.

Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya.

Saat kami pertama kali berpacaran, dia hampir tak pernah lepas dari ponselnya kecuali saat tidur atau sedang di kelas.

Pesan-pesan yang dia kirimkan kepadaku sangat sepele, bahkan dia sampai menceritakan tentang seekor anjing yang menggonggong padanya di jalan.

Dia membalas pesan-pesanku dengan cepat.

Dia bilang tidak ingin melewatkan satu pun pesanku, dan takut tidak bisa langsung tahu jika aku dalam bahaya.

Tetapi sekarang, dia justru mengkhawatirkan orang lain.

Perasaan pahit menyebar dari lubuk hatiku yang terdalam.

Angin kencang di luar terasa seperti tangan gaib yang meremas hatiku berulang kali.

Pukul enam, topan itu pun akhirnya menerjang.

Dan aku terjebak sendirian di dalam kantor.

Aku pergi ke ruang istirahat dan menutup pintu rapat-rapat.

Lalu, menelepon orang tuaku yang tinggal di kota lain untuk memberi tahu mereka bahwa aku selamat.

Mereka bertanya, "Apakah kamu bersama Darwin?"

Aku berpikir sejenak dan menjawab, "Iya."

Layar kembali menjadi gelap dan ruangan itu kembali sunyi.

Sangat sunyi hingga hanya suara angin dan hujan di luar yang terdengar.

Kemudian, layar ponselku menyala sebentar dan membuat jantungku berdebar kencang.

Aku pun langsung meraih dan membukanya.

Namun detik berikutnya, aku merasa kecewa.

Itu adalah pesan pengingat dari pemerintah.

Kalimat terakhir berbunyi: [Harap tetap tinggal dengan aman di rumah bersama keluarga. Sehebat apa pun badainya, kita jaga bersama.]

Di media sosial, semua orang sedang sibuk mengagumi dahsyatnya kekuatan badai topan kali ini sambil memposting foto makan malam mereka.

Perutku keroncongan.

Aku menyadari bahwa aku belum makan apa pun.

Aku mengambil sekantong biskuit di ruang istirahat dan memakannya sambil melihat foto-foto makanan di media sosial.

Saat terus menggulir layar, jariku refleks berhenti ketika melihat foto profil yang tampak familiar.

[Masakan rekan kerjaku terlalu enak, apa yang harus kulakukan? Selera makanku jadi termanjakan!]

Gambar itu menunjukkan tiga hidangan dan sup yang sudah biasa kulihat, masakan andalan Darwin.

Dalam foto itu, hanya tangannya yang terlihat membentuk tanda "V".

Dia pernah berkata bahwa selain orang tuanya, satu-satunya orang yang akan dia masakkan seumur hidupnya adalah aku.

Ternyata, seumur hidupnya begitu singkat.

Aku menyukai unggahan itu dan berkomentar di bawahnya.

[Kalau begitu, aku sarankan untuk dijadikan pacar saja.]

Sesaat kemudian, pesan Darwin masuk.

[Jessi, apa maksudmu bicara seperti itu?]

Apa maksudku?

Bukankah hal-hal yang mereka lakukan sudah lebih jelas daripada ucapanku itu?

Dia membuka kolom obrolan kami, tetapi tidak menyadari pesannya yang belum terkirim.

Dia bahkan tidak bertanya di mana aku berada.

Jari-jariku mencengkeram ponsel dengan erat.

Aku hendak memberitahunya bahwa aku sama sekali belum pulang dan masih terjebak sendirian di kantor.

Namun, kemudian aku mendengar suara ledakan keras dari luar!

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status