แชร์

Bab 9

ผู้เขียน: Ochos
Nicholas ingin Fiona meminta maaf kepada Brenda? Meminta korban untuk meminta maaf kepada pelaku?

Hati Fiona terasa hancur. Dia menggeleng dengan tegas. "Aku nggak salah. Gimanapun, aku nggak akan minta maaf!"

Fiona menolak untuk meminta maaf, sedangkan Nicholas bersikeras menuntut pertanggungjawaban. Tak satu pun dari mereka yang mau mengalah.

Khawatir tipu muslihatnya akan terbongkar jika situasi berlarut, Brenda mengangkat wajahnya yang dibasahi air mata, lalu hendak membawa Nicholas pergi. "Nico, anggap saja itu salahku. Jangan bertengkar lagi dengan pacarmu. Kamu tenang dulu, ya?"

Nicholas sama sekali tidak mendengar. Berhubung tidak melihat pilihan lain, Brenda akhirnya membulatkan tekad dan sengaja memelintir pergelangan kaki kirinya.

Melihat Brenda terluka, ekspresi Nicholas seketika berubah dari marah menjadi panik. Dia mengabaikan Fiona, lalu menggendong Brenda, dan bergegas turun.

Sambil menatap sosok mereka yang menjauh, adrenalin yang sebelumnya memuncak dalam diri Fiona perlahan surut, digantikan oleh rasa sakit hati dan kesedihan yang mendalam. Air mata yang dari tadi dia tahan akhirnya tumpah. Dia segera menyekanya, lalu kembali ke aula untuk mengambil tasnya dan meninggalkan hotel.

Tepat saat Fiona melangkah keluar dari pintu masuk hotel, sebuah sepeda listrik melaju kencang ke arahnya. Sebelum sempat menghindar, dia tertabrak dan terlempar hingga membentur pembatas taman. Darah mulai mengucur dari lukanya.

Rasa sakit yang luar biasa membuat Fiona berkeringat dingin. Saat dilarikan ke rumah sakit, kesadarannya sudah mulai memudar.

Melihat parahnya luka Fiona, perawat menggunakan sidik jari Fiona untuk membuka kunci ponselnya. Dia menemukan kontak yang disematkan di paling atas WhatsApp, lalu melakukan panggilan suara.

Setelah belasan detik, suara berat Nicholas yang masih menyiratkan sisa-sisa kemarahan terdengar dari ujung telepon. "Aku nggak perpanjang masalah ini karena Brenda terluka, tapi itu nggak berarti kamu nggak salah. Kamu harus datang dan minta maaf padanya!"

Perawat itu sempat tertegun sejenak sebelum menjelaskan kondisi Fiona yang sebenarnya. Nicholas yang masih diliputi amarah menolak percaya bahwa kebetulan seperti itu bisa terjadi. "Sekalipun dia benar-benar mengalami kecelakaan, dia tetap harus minta maaf. Kalau nggak, aku nggak akan tandatangani dokumen apa pun!"

Seusai berbicara, Nicholas menutup telepon tanpa menunggu tanggapan. Berhubung tidak punya pilihan lain, perawat terpaksa membangunkan Fiona dan bertanya apakah ada kerabat lain yang bisa datang.

Fiona tidak ingin membuat keluarganya khawatir, tetapi juga tidak terpikirkan siapa lagi yang bisa dimintai bantuan. Dia menahan rasa sakit yang luar biasa, lalu dengan tangan gemetar yang masih meneteskan darah, dia memaksakan diri untuk menandatangani formulir persetujuan operasi.

Operasi itu berjalan sukses. Hanya saja, Fiona harus tetap dirawat di rumah sakit untuk observasi selama beberapa hari. Tak ada yang merawatnya. Meskipun sedang sakit dan terluka, dia harus mengurus segalanya seorang diri.

Saat ini, beberapa perawat sedang bergosip tentang bagaimana putra Keluarga Winata telah memesan satu lantai penuh untuk pacarnya yang sedang terluka. Dia merawat pacarnya secara pribadi, dengan penuh kesabaran dan kelembutan. Jelas sekali pria itu sedang dimabuk cinta.

Sambil berbaring di ranjang rumah sakit, Fiona mendengarkan dalam diam. Dia mengeluarkan ponselnya, lalu menghapus semua postingan yang berkaitan dengan hubungan masa lalu mereka, juga menghapus seluruh informasi kontak Nicholas.

Pada hari kepulangannya, Fiona pergi mengurus administrasi sendirian. Kebetulan, dia berpapasan dengan Nicholas yang sedang menggendong Brenda kembali ke kamar di dekat lift. Dia melirik Nicholas dengan tatapan dingin dan acuh tak acuh, lalu memalingkan wajah dan berjalan menuju tangga darurat.

Nicholas sempat menangkap sosok Fiona dari sudut matanya. Namun, saat menyadari apa yang baru saja dilihatnya dan berbalik, tidak ada siapa-siapa lagi di sana. Dia pun mengira dirinya hanya berhalusinasi.

Bagaimanapun juga, Fiona sangat takut pada rasa sakit. Semasa kuliah dulu, saat lutut Fiona terluka karena terhantam bola, dia harus memeluk dan menenangkan gadis itu begitu lama. Jika benar-benar mengalami kecelakaan, bagaimana mungkin Fiona sanggup menahan rasa sakit tanpa memberitahunya?

Setelah tiba di rumah, Fiona menyewa jasa kebersihan untuk membuang semua barang yang sebelumnya telah dia pilah. Kemudian, dia masuk ke ruang kerja dan menyobek buku harian yang mencatat perjalanan hidupnya selama delapan tahun, halaman demi halaman.

Perasaan cinta pada pandangan pertama yang muncul saat Fiona berusia 15 tahun, keberanian untuk pindah ke kota asing seorang diri demi Nicholas di usia 17 tahun, kebahagiaan saat keinginannya akhirnya terkabul di usia 18 tahun ....

Pada hari ini, seluruh perasaan yang telah membelenggu hatinya selama delapan tahun lenyap tanpa bekas.

Fiona meletakkan surat perpisahan di tempat yang pasti dilihat Nicholas begitu pria itu pulang. Kemudian, dia membawa sisa barang bawaannya keluar dan memanggil taksi di lantai bawah. Melihat lukanya, sang sopir bergegas membantu memasukkan kopernya ke bagasi.

Fiona berbalik karena ingin memandang kota tempat dia tinggal selama enam tahun untuk yang terakhir kalinya. Namun, tatapannya justru bertemu dengan sepasang mata yang familier.

Nicholas baru saja keluar dari mobilnya. Saat melihat Fiona, ekspresinya terlihat melunak. "Mau pergi?"

Fiona menatapnya dengan tenang. Cinta yang dulu terpancar di matanya kini telah sirna sepenuhnya. "Ada perlu apa?"

Nicholas tidak menyadari perubahan itu. Dia mengira Fiona masih tidak bersedia mengalah. Secercah ketidakberdayaan melintasi matanya. "Aku kembali untuk ambil sesuatu, sekalian mau bicara denganmu."

"Nggak ...."

Sebelum Fiona sempat melontarkan penolakannya, ponsel Nicholas berbunyi. Setelah menjawab panggilan itu, keningnya pun berkerut. Begitu menutup telepon, dia berbalik dan membuka pintu mobil. Dia hanya melontarkan kalimat singkat sebelum masuk ke mobil.

"Karena emosimu belum reda, kita bicara lain kali saja. Hati-hati di luar sana. Ingat untuk pulang lebih cepat."

Pulang? Fiona tidak akan pernah kembali lagi.

Setelah mobil itu menghilang dari pandangan, Fiona akhirnya naik ke taksi atas desakan sopir. Dia menutup pintu, lalu menatap ke arah awan hitam yang mulai berkumpul di luar jendela. Matanya tetap tenang dan tanpa emosi.

"Mau ke mana, Dik?"

"Bandara."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 24

    Fiona hanya menjawab singkat, “Aku juga.” Jika Fiona sudah yakin bahwa sesuatu tidak lagi bisa diperbaiki, dia tidak akan pernah menoleh kembali. Sebaliknya, begitu dia sudah memutuskan untuk menghabiskan seumur hidup bersama seseorang, dia pasti akan memberikan orang itu sebuah kesempatan. Sementara itu, hubungan Fiona dan Nicholas sejak awal memang merupakan sebuah kesalahan. Fiona butuh waktu delapan tahun untuk menyadari bahwa selama ini dia berjalan di jalan yang salah. Jadi, mana mungkin dia mengulangi kesalahannya lagi?Jadi, Fiona mengangkat kepala dan menatap Nicholas dengan tegas, lalu berkata dengan jelas, “Nicholas, yang kamu sukai selama ini bukan aku, melainkan bayangan Brenda yang kamu lihat dalam diriku.”“Aku bisa mengajukan putus sama kamu bukan karena lagi merajuk, juga bukan menunggu dibujuk olehmu, melainkan karena aku sudah nggak mencintaimu lagi.”"‘Segala bentuk kebohongan nggak layak dimaafkan’, apa kamu masih ingat dengan kalimat yang pernah kamu katakan sebe

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 23

    Setelah resepsi pernikahan selesai, Fiona mengganti pakaian yang lebih santai, menggandeng Maverick untuk pulang ke rumah baru.Ini pertama kalinya mereka berdua bergandengan tangan dengan jari saling bertaut sebagai pasangan suami istri.Saat merasakan kehangatan dari telapak tangan Maverick, Fiona merasa kulitnya yang sempat terasa dingin karena embusan AC itu, perlahan kembali hangat.Pasangan pengantin baru itu menghindari keramaian di pintu depan dan memilih keluar melalui pintu belakang.Baru saja Fiona membuka pintu, pandangannya langsung tertuju pada Nicholas yang berdiri beberapa meter di depan.Bukan karena Fiona sedang mengenang masa lalu, melainkan karena wajah Nicholas yang bengkak dan lebam akibat dihajar itu memang sangat menarik perhatian. Saat melihat penampilannya seperti ini, akhirnya Fiona mengerti kenapa kakaknya berkelahi hingga kemejanya robek.Betul juga, Fiona adalah adik kandung Francis yang tumbuh bersamanya sejak kecil. Mana mungkin Francis tidak turun tanga

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 22

    Keributan kecil itu tidak menarik terlalu banyak perhatian. Setelah para sekuriti menjalankan instruksi untuk membawa orang yang mengganggu jalannya acara keluar dari lokasi, pernikahan tetap berlangsung dengan tertib.Orang-orang yang ekspresinya benar-benar berubah saat itu hanyalah keempat sahabat dekat yang dulu tinggal di asrama yang sama.Francis yang berada di belakang panggung dapat melihat seluruh kejadian itu dengan sangat jelas.Saat Nicholas berlari naik ke panggung, Francis seolah-olah menyadari sesuatu. Raut wajahnya menjadi muram dalam seketika.Ketika mendengar pembawa acara mengatakan bahwa masih ada sepuluh menit sebelum giliran pengiring pria memberikan pidato, Francis melepas jasnya, menggerakkan pergelangan tangannya, lalu berjalan keluar.Baru saja sampai di pintu, Francis langsung berpapasan dengan Nicholas yang sudah kehilangan kendali serta Mason yang masih tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Francis mengayunkan tangannya, kemudian langsung mencengk

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 21

    Belum sempat Nicholas merespons, alunan musik pernikahan mulai berkumandang tepat pada waktunya.Saat mendengar suara, Nicholas langsung mengangkat kepalanya. Dia melihat pintu di panggung yang berjarak sekitar 20 meter darinya terbuka. Seorang pria mengenakan jas hitam berjalan perlahan memasuki ruangan, lalu berdiri di tengah panggung.Nicholas memiliki sedikit rabun jauh, sehingga dia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di kejauhan. Dia pun menyenggol lengan Mason. “Apa sekarang giliran Francis masuk ruangan?”Mendengar pertanyaan itu, kedua teman di sampingnya langsung menoleh bersamaan, menatapnya dengan ekspresi penuh keterkejutan.“Buat apa dia naik ke panggung? Hari ini bukan dia yang menikah.”Bukan Francis yang menikah?Jadi, kenapa Nicholas disuruh datang kemari?Raut wajah Nicholas menjadi muram. Dia bertanya dengan nada menguji, “Dia bukan pengantin pria?”“Tentu saja bukan. Pengantin pria adalah putra kedua dari Keluarga Saputra, Maverick Saputra.”Nicholas

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 20

    Pada hari Kamis malam, Nicholas masih tidak menerima balasan telepon dari Fiona. Hatinya sungguh terasa gelisah. Dia terus meneguk alkohol. Tatapannya terus-menerus melirik layar ponsel. Kenny mengetahui masalah hati Nicholas. Dia pun memikirkan cara untuk menghibur Nicholas. “Pasti dia sedang merajuk dan menunggu kamu membujuknya. Semua orang bisa melihat kalau Fio sangat menyukaimu, mana mungkin dia benar-benar ingin putus?”“Menurutku, kemungkinan besar dia meminta kakaknya membujukmu untuk datang ke pesta pernikahan itu. Dia hanya ingin memberimu jalan keluar agar kamu nggak merasa malu.”Ketika mendengar ucapan itu, akhirnya hati Nicholas merasa lebih nyaman. Dia melihat jam. Pada pukul sembilan nanti, dia akan segera berangkat ke bandara.Kenny mengendarai mobil untuk mengantarnya. Saat berhenti pada lampu merah, dia melirik beberapa kotak hadiah yang dibungkus dengan indah di baris belakang. Terdengar rasa iri di dalam nada bicaranya. “Bukannya hanya pernikahan teman satu asram

  • Bunga yang Bersemi Dalam Mimpi   Bab 19

    Hanya Brenda saja yang masih tenggelam dalam mimpi indah dilamar. Dia masih seperti biasanya, menunjukkan ekspresi manja dan merajuk.“Kalau kamu seperti ini, aku nggak akan setuju!”Nicholas mengangguk dengan raut wajah tidak peduli. Dia melontarkan kalimat yang membuat semua orang di tempat terbelalak. “Setuju atau nggak juga nggak penting, karena sebenarnya orang yang ingin aku lamar bukan kamu.”Brenda menatapnya dengan tatapan tidak percaya. Sekujur tubuhnya tanpa sadar mulai gemetar. “Apa maksud … ucapanmu?”“Apa maksudku?” Nicholas membuang bunga ke atas lantai, kemudian menutup kotak cincin di telapak tangannya. “Maksudku, orang yang ingin aku lamar, bukan Brenda.”Setelah selesai berbicara, seluruh ruangan menjadi hening, hanya tersisa suara napas ringan saja.Nicholas juga tidak menghiraukan ekspresi Brenda saat ini. Dia berbalik, lalu membungkukkan tubuhnya untuk memberi hormat kepada para hadirin. Nada bicaranya menyimpan sedikit senyuman.“Maaf, semuanya. Sebenarnya acara

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status