แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Fryda
"Siapa yang makan, dialah yang membersihkan," kata Susana dengan nada tenang. "Aku nggak akan melayani kalian lagi. Uruslah diri kalian masing-masing."

Brian mengerutkan kening, matanya penuh dengan celaan. "Kamu nggak kerja, tugasmu di rumah adalah mengurus rumah tangga."

"Ya sudah, kami bersihkan sendiri! Sudah nggak kerja, malas pula. Ayah sudah nggak menginginkanmu lagi dan akan segera bersama dengan Tante Emily!" teriak Nathan dengan kesal.

Nolan ikut menimpali, "Betul, Tante Emily cantik, lembut, dan bisa menari. Begitu dia menjadi ibu baruku, nggak akan ada yang menginginkanmu lagi. Saat kamu tua nanti, kami juga nggak akan mengunjungimu atau merawatmu!"

Setelah mengucapkan kata-kata kasar, keduanya bergegas turun. Tak lama kemudian, suara piring pecah dan teriakan bergema dari bawah.

Susana bahkan tidak mengangkat alisnya sedikit pun. Ekspresinya tetap sedingin es.

Brian meliriknya dengan acuh tak acuh. Matanya memandangnya seolah-olah dia adalah orang asing yang bersikap tidak masuk akal.

"Susana, kamu itu seorang ibu dan juga seorang istri, bukan anak berusia tiga tahun."

Setelah mengatakan itu, dia mengambil pakaian ganti, berbalik, dan pergi. "Lagi banyak proyek. Aku nggak akan pulang selama beberapa hari ke depan."

Susana memperhatikan sosoknya yang pergi. Mendengar suara gaduh di lantai bawah, matanya tetap saja memerah.

Buku-buku jarinya memutih saat mencengkeram kusen pintu. Terakhir, dia membanting kusen pintu hingga tertutup dengan sekuat tenaga.

Persetan dengan tanggung jawabnya.

Persetan dengan status seorang ibu dan istri. Mulai sekarang, dia hanya akan menjadi dirinya sendiri!

Keesokan paginya, Susana pergi ke Kantor Catatan Sipil untuk mengajukan permohonan cerai.

"Semua dokumen sudah lengkap. Silakan kembali lagi dalam seminggu untuk mengambil akta cerai."

Susana berterima kasih pada petugas itu sambil tersenyum, lalu pergi ke bandara untuk membeli tiket keberangkatan.

Sejak hari itu, Susana berhenti membantu suami dan dua putrnya mengurus pekerjaan rumah tangga.

Dia tidak lagi bangun jam lima pagi untuk membuat sarapan.

Nathan dan Nolan, kakak beradik ini sangat gembira dan dengan antusias keluar rumah membawa uang saku mereka.

"Siapa yang mau makan masakanmu? Kami sudah bosan!"

Dia tidak lagi mendesak kedua kakak beradik itu untuk mengerjakan PR mereka, tidak lagi mencuci pakaian mereka, dan tidak lagi merapikan mainan mereka.

Rumah dengan cepat berubah menjadi berantakan, dengan tumpukan pakaian kotor dan mainan berserakan di lantai. Guru sekolah terus meneleponnya untuk mengeluhkan masalah studi anaknya.

Dia mencabut kabel telepon.

Tiga hari kemudian, karena pihak sekolah tidak bisa menghubungi Susana, mereka pun menghubungi Brian.

Brian membawa Nathan dan Nolan pulang ke rumah. Ketika melihat Susana duduk di kursi goyang sambil membaca buku, wajahnya tampak tidak senang.

"Nathan dan Nolan terkena infeksi lambung karena makan makanan yang nggak bersih. Ibu macam apa kamu ini?"

"Kamu nggak mencuci pakaian, nggak memasak, bahkan nggak bisa menjamin kondisi hidup paling mendasar. Susana, apa yang sedang kamu ributkan?"

Susana dengan tenang menutup bukunya. "Aku nggak membuat keributan. Sudah kubilang sebelumnya, urus saja diri kalian masing-masing."

"Mereka baru 10 tahun!" Brian mengerutkan kening padanya, matanya dipenuhi tuduhan dingin.

"Mereka 10 tahun, bukan 3 tahun. Mereka sudah bisa mengurus diri sendiri."

Susana mengenang kehidupan lampaunya. Sebelum masuk panti jompo, dia selalu bangun sebelum subuh setiap hari.

Tiga pria Keluarga Cohadi memiliki kebutuhan sarapan yang berbeda-beda. Hanya menyiapkan sarapan mereka saja membutuhkan waktu setidaknya satu jam.

Dia selalu mengurus semua pekerjaan rumah tangga. Rumah selalu bersih, rapi, dan tertata dengan baik.

Namun, apa yang dia terima sebagai balasannya?

Yang dia terima hanyalah pengabaian dan penghinaan. Dia ditinggalkan di panti jompo setelah kecelakaan mobil yang menyebabkan kakinya patah dan pada akhirnya mati kesepian.

Nathan berteriak dengan mata merah padam, "Ibu, kamu keterlaluan! Kamu nggak pantas menjadi seorang ibu!"

"Betul" Nolan menarik lengan Brian. "Ayah, aku ingin Tante Emily menjadi ibuku! Dia pasti ibu terbaik di dunia!"

Brian tidak menjawab. Tatapannya tetap tertuju pada Susana, seolah menunggu wanita itu mengalah.

Susana hanya tersenyum dan berkata, "Kalau begitu, biarlah dia menjadi ibu kalian. Aku nggak keberatan."

Udara tiba-tiba terasa membeku.

Wajah Brian berubah gelap. "Susana, kamu tahu apa yang kamu bicarakan?"

"Aku tahu." Dia menarik napas dalam-dalam, bersiap untuk mengungkit masalah perceraian ketika terdengar suara ketukan pintu.

Suara Emily bergetar karena terisak. "Brian, apa kamu ada di rumah ...."

Ekspresi ketiga pria itu berubah serentak. Mereka buru-buru berbalik dan membuka pintu.

Begitu Emily masuk, dia langsung memeluk Brian dan menangis tersedu-sedu. "Brian, aku nggak menemukan gelang peninggalan ibuku sebelum dia meninggal. Aku sudah mencari di mana-mana selama beberapa hari terakhir ini, kecuali di kamar Nona Susana."

Alis Susana bertaut. "Kamarku?"

Emily mengangguk. "Kemarin aku masuk ke kamar mandi dan melepas gelangku di sana. Bolehkah aku pergi melihatnya ...."

"Ayo pergi lihat!" Nathan dan Nolan dengan antusias menariknya masuk. "Tante Emily, jangan menangis. Kami akan membantumu mencari. Pasti akan ketemu!"

Keduanya bergegas masuk ke kamar dan mulai mengacak-acak. Tak butuh waktu lama, kamar telah menjadi berantakan total.

Brian hanya mengamati, tanpa menunjukkan niat untuk menghentikan mereka.

"Hentikan!" Susana akhirnya tak kuasa menahan diri dan maju untuk menyela ketika Emily menghancurkan bingkai foto ketiganya.

Emily berbalik sambil memasang ekspresi segan. "Maaf, Nona Susana. Aku nggak sengaja. Aku terlalu panik, aku ...."

Nathan berdiri di depan Emily seperti seekor hewan kecil yang melindungi harta berharga. "Nggak boleh menindas Tante Emily!"

Susana tiba-tiba teringat sebuah adegan.

Nathan dan Nolan yang berusia tiga tahun dengan antusias naik ke pangkuannya, berpelukan erat di lengannya, dan berteriak, "Saat aku besar nanti, aku akan melindungi Ibu selamanya!"

Nolan juga berdiri di depan Emily. "Ibu, apa kamu merasa bersalah? Makanya kamu nggak mengizinkan Tante Emily mencarinya!"

Tenggorokan Susana terasa seperti tercekat.

Dia mengepalkan tangannya, suaranya terdengar tegang. "Kalian kira aku yang mencurinya?"

"Ketemu!"

Emily mengeluarkan gelang berwarna hijau giok dari laci sambil menangis bahagia. "Ini dia!"

Susana tersandung karena Nathan dan Nolan mendorongnya dengan keras.

"Ibu, kamu pencuri!"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 22

    Brian dan kedua putranya tidak lagi pergi mengganggu Susana.Namun selama masa liburan ini, mereka akan pergi ke Jalan Thamrin setiap hari. Hanya untuk melihat sekilas Susana dari kejauhan, dan itu sudah cukup bagi mereka.Hari-hari Susana tetap sibuk dan penuh makna. Semua toko cabangnya di Kota Porus telah dibuka dan beroperasi dengan lancar.Saat liburan sekolah hampir berakhir, Susana bersiap untuk membawa Rio kembali ke Kota Goron. Sebelum berangkat, dia mengajak Brian dan kedua putranya bertemu.Sebuah amplop disodorkan di depan Brian. "Ini uang tunjangan untuk Nathan dan Nolan," ucap Susana perlahan.Kilatan di mata Brian dan kedua putranya telah sirna sepenuhnya.Brian membukanya, dan di dalamnya terdapat sebuah kartu bank.Nathan menatap kartu itu, lalu tiba-tiba berdiri, suaranya penuh amarah. "Aku nggak butuh uangmu. Karena kamu sudah nggak menginginkan kami lagi, mengapa kamu masih berpura-pura baik dengan menawarkan uang!"Nolan mengerutkan bibir, dadanya naik turun, matan

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 21

    Hubungan Susana dan Petra telah resmi dikonfirmasi. Selagi mereka ada di Kota Porus, Susana langsung membawa Petra kembali ke kediaman Septino untuk bertemu orang tuanya.Petra adalah mitra bisnis Susana. Orang tua Susana sangat puas dengannya.Namun, memikirkan situasi putrinya, mereka kembali khawatir dan kemudian menanyakan pendapat keluarganya Petra.Petra memahami kekhawatiran orang tua Susana, lalu berkata sambil tersenyum, "Om, Tante, orang tuaku telah meninggal dunia ketika aku masih kecil. Aku satu-satunya yang tersisa di keluarga sekarang. Aku bertanggung jawab atas pernikahanku sendiri. Jangan khawatir Susana akan menerima perlakuan buruk saat bersama denganku."Susana tersenyum dan menjawab, "Ayah, Ibu, jangan khawatir. Aku nggak akan membiarkan diriku diperlakukan secara buruk lagi. Apa pun yang terjadi, aku pasti punya keberanian untuk memulai kembali!"Rio mencondongkan tubuh dan memeluknya. "Apa pun yang terjadi, aku akan selalu menemani Ibu!"Semua orang tertawa. Melih

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 20

    Brian dan kedua anaknya menghilang selama beberapa hari. Susana akhirnya membuka toko keduanya di Kota Porus.Ketiganya datang membawa keranjang bunga. Melihat Susana sibuk bekerja, Rio, si bocah cilik itu, dengan terampil menghibur para tamu.Ketiganya memasuki toko dan ingin menawarkan bantuan, tetapi Susana mengusir mereka.Di saat mereka frustasi, seorang pria tinggi dan gagah dengan aura dingin dan acuh tak acuh melewati mereka, lalu memasuki toko.Brian tanpa sadar mengerutkan kening dan menoleh."Susana."Pria itu berbicara, suaranya yang tenang mengandung kelembutan.Susana refleks mendongak. Senyum muncul di matanya. "Kamu sudah datang."Petra Giovano dengan santai berjalan ke sisinya dan mengambil alih pekerjaannya menyortir barang. Keduanya saling bertatapan, lalu tersenyum. Susana kemudian berbalik untuk menyambut para tamu.Ketika Rio melihat Petra, dia dengan gembira berlari menghampirinya dan memeluk kakinya dengan penuh kasih sayang. "Om Petra, aku sangat merindukanmu!"

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 19

    Toko pakaian Susana merupakan jaringan toko. Sebelumnya, tokonya lebih mengutamakan perluasan wilayah ke bagian selatan. Toko di Jalan Thamrin ini adalah toko pertamanya di Kota Porus.Dia akan tinggal di Kota Porus selama masa liburan ini. Selain memantau bisnis toko di Thamrin, dia juga telah mencari beberapa lokasi dan toko yang bagus. Saat ini, dia sedang melakukan negosiasi dan mendekorasi tempat-tempat tersebut.Susana sangat sibuk dan tidak berada di toko setiap hari.Namun setiap kali dia berada di toko, dia akan melihat Nathan dan Nolan berjaga di pintu.Manajer toko mengerutkan kening dan melaporkan, "Bos, dua anak ini selalu berjaga di depan pintu. Meski sudah kami usir, mereka masih nggak mau pergi. Mereka bilang mereka datang mencari Anda."Susana mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.Saat waktu makan siang tiba, keduanya masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi dan bahkan tidak makan siang, melainkan menatapnya dengan iba melalui jendela toko. Susana akhirnya men

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 18

    Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun bergegas masuk, mendorong Nathan ke samping, dan merentangkan tangannya untuk melindungi Susana di belakangnya.Dia menatap ketiga pria di depannya, menelan ludahnya, dan tak lupa mengingatkan Susana. "Ibu, jangan takut. Kalau kami berkelahi nanti, Ibu langsung saja lari ke kantor polisi! Nggak usah khawatir, aku jago berkelahi kok!"Susana menatap Rio Septino yang berdiri di depannya. Hatinya luluh sepenuhnya.Dia menggenggam tangan Rio dan menghiburnya sambil tersenyum. "Nggak apa-apa, Rio. Ibu kenal mereka ...."Nathan dan Nolan menatap Rio dengan tajam. Tatapan mereka nyaris menyemburkan api. Keduanya menggertakkan gigi sambil berteriak, "Siapa kamu? Kami baru putra kandung Ibu!"Brian juga menggertakkan giginya dan menatap tajam Rio. Dia menarik Nathan dan Nolan yang marah ke belakangnya. Suaranya yang dalam dipenuhi amarah. "Susana, Nathan dan Nolan baru putra kandungmu. Anak siapa ini?""Kamu sudah menikah?"Rio refleks meliri

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 17

    Nathan dan Nolan, yang mengantre di depannya, berbalik dan melihat Brian bergegas menuju toko pakaian di sebelah.Tanpa ragu sedikit pun, keduanya langsung berlari dan mengikutinya.Bel di pintu kaca berdering nyaring. Susana mendongak sambil tersenyum."Selamat da ....""Susana!""Ibu!"Brian beserta Nathan dan Nolan berdiri di depannya, menatapnya lekat-lekat.Senyum Susana langsung membeku dan perlahan memudar.Mata Brian dan kedua anak itu tampak berkaca-kaca. Brian kemudian mengulurkan tangan dan menariknya keluar, suaranya sedikit serak. "Susana, betapa kejamnya dirimu.""Ibu, kami sangat merindukanmu ...."Tatapan Susana dengan cepat melewati Brian, terpaku sejenak pada Nathan dan Nolan, lalu teralihkan dengan sendirinya.Ekspresinya tetap tidak berubah. Suaranya sopan, tetapi dingin. "Tempat ini menjual pakaian wanita. Silakan pergi."Nathan dan Nolan terkejut. Mereka menatap Susana dengan tidak percaya.Brian mengerutkan bibir. Matanya dipenuhi emosi yang kompleks. "Susana, ka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status