แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Fryda
Mata Susana memerah, buku-buku jarinya memutih saat dia mencengkeram kusen pintu, dan kukunya menancap kuat ke kusen tersebut.

Tenggorokannya sangat serak karena dehidrasi, tetapi suaranya tetap tajam. "Kalian sadar apa yang kalian katakan? Sebaiknya kalian mengatakan yang sebenarnya!"

Nathan dan Nolan ketakutan melihat tingkah lakunya yang agak histeris. Keduanya segera bersembunyi di belakang Emily.

"Cukup!" Brian tiba-tiba berdiri, meraih pergelangan tangannya dan menyeretnya masuk. Tenaga kuat itu seolah ingin menghancurkan tulangnya.

Matanya yang tajam dipenuhi rasa jijik. "Susana, beginikah caramu bertindak sebagai seorang ibu? Kamu menyakiti anak-anakmu sendiri hanya karena iri, dan sekarang kamu mengancam mereka untuk berbohong?"

"Aku nggak melakukannya!" Susana meraung, seluruh tubuhnya gemetar, matanya merah, dan air mata perlahan mengalir di pipinya.

Brian tersedak, seolah-olah tersengat dan tiba-tiba melonggarkan cengkeramannya.

Emily tiba-tiba angkat bicara. "Brian, kamu sudah menakuti Nona Susana."

Brian tersadar dari lamunannya, menatap Susana, lalu berkata dengan suara dingin, "Kamu masih menyangkal. Susana, mereka baru 10 tahun. Apa mereka akan berbohong dan menjebakmu?"

"Susana, kamu sama sekali nggak pantas menjadi seorang ibu."

Tidak pantas menjadi seorang ibu.

Tubuh Susana bergetar hebat. Dia tertawa mengejek dirinya sendiri, perlahan memejamkan matanya, dan air mata mengalir ke pipinya.

"Ayah ...." Nathan dan Nolan tiba-tiba menangis tersedu-sedu. "Gudang itu sangat gelap. Kami takut sekali ...."

Brian segera berbalik untuk menghibur mereka. Wajahnya memancarkan raut sakit hati. "Jangan takut, Ayah akan melindungi kalian ...."

"Ayah, kami nggak mau tinggal bersama Ibu lagi. Aku nggak mau melihatnya lagi. Aku takut!"

"Ayah, Ibu sudah melakukan kesalahan, jadi dia harus dihukum. Kita juga harus menguncinya di gudang!"

Susana menatap kedua wajah di depannya. Rasa dingin seketika menjalari punggungnya.

Dia menatap Brian. Tatapan pria yang dingin dan menusuk itu membuatnya merinding.

"Baiklah, Ayah akan menghukumnya!"

Brian meraih pergelangan tangan Susana, menyeretnya keluar, dan dengan kasar mendorongnya masuk ke dalam mobil.

Mobil itu melaju kencang. Aura dingin yang keluar dari tubuh pria itu begitu menakutkan, membuat udara di dalam mobil seolah berhenti bergerak.

Pria itu mendorongnya masuk ke dalam gudang di pinggiran barat kota.

"Susana, renungkan perbuatanmu. Kuharap ini yang terakhir kalinya."

Pintu itu terkunci. Susana kembali terperosok ke dalam kegelapan pekat.

Dia tidak merasa dendam ataupun takut. Rasa sakit dan amarah yang luar biasa mereda begitu semuanya kembali tenang, menyisakan keheningan yang mencekam.

Dia terkekeh pelan, lalu pingsan.

Susana bermimpi sepanjang malam.

Dalam mimpinya, dia muntah-muntah dan merasa tidak enak badan sejak hamil.

Selama trimester kedua kehamilannya, dia harus dirawat di rumah sakit untuk mencegah keguguran karena leher rahimnya terlalu pendek. Dia tinggal di rumah sakit sendirian selama tiga bulan, menerima suntikan untuk menekan kontraksi rahim 24 jam sehari, sampai kedua tangannya dipenuhi bekas suntikan.

Dia mengalami reaksi alergi akibat terlalu banyak suntikan. Seluruh tubuhnya dipenuhi ruam. Namun, dia tidak bisa minum obat karena sedang hamil. Rasa gatalnya tak tertahankan sehingga dia tidak bisa tidur sepanjang malam.

Selama persalinan, tekanan darahnya melonjak empat puluh kali lipat, sehingga dia memerlukan operasi caesar darurat. Dia menghabiskan sepuluh hari berbaring di ICU.

Nathan dan Nolan lahir dengan berat masing-masing kurang dari 2 kilogram. Keduanya lemah dan sakit-sakitan sejak kecil.

Hari dan malam yang tak terhitung jumlahnya dia hadapi sendirian, hingga akhirnya tubuhnya sendiri juga tumbang.

Meski dirinya demam, dia masih tetap harus merawat dua anak yang demam.

Anak yang dia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawanya, anak yang dia besarkan dengan darah dan keringatnya, anak yang tak sanggup dia tinggalkan selama puluhan tahun ....

Susana merasakan sakit yang luar biasa. Hatinya telah dicabik-cabik oleh kedua anak itu, dilempar ke udara, lalu diinjak-injak ....

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 22

    Brian dan kedua putranya tidak lagi pergi mengganggu Susana.Namun selama masa liburan ini, mereka akan pergi ke Jalan Thamrin setiap hari. Hanya untuk melihat sekilas Susana dari kejauhan, dan itu sudah cukup bagi mereka.Hari-hari Susana tetap sibuk dan penuh makna. Semua toko cabangnya di Kota Porus telah dibuka dan beroperasi dengan lancar.Saat liburan sekolah hampir berakhir, Susana bersiap untuk membawa Rio kembali ke Kota Goron. Sebelum berangkat, dia mengajak Brian dan kedua putranya bertemu.Sebuah amplop disodorkan di depan Brian. "Ini uang tunjangan untuk Nathan dan Nolan," ucap Susana perlahan.Kilatan di mata Brian dan kedua putranya telah sirna sepenuhnya.Brian membukanya, dan di dalamnya terdapat sebuah kartu bank.Nathan menatap kartu itu, lalu tiba-tiba berdiri, suaranya penuh amarah. "Aku nggak butuh uangmu. Karena kamu sudah nggak menginginkan kami lagi, mengapa kamu masih berpura-pura baik dengan menawarkan uang!"Nolan mengerutkan bibir, dadanya naik turun, matan

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 21

    Hubungan Susana dan Petra telah resmi dikonfirmasi. Selagi mereka ada di Kota Porus, Susana langsung membawa Petra kembali ke kediaman Septino untuk bertemu orang tuanya.Petra adalah mitra bisnis Susana. Orang tua Susana sangat puas dengannya.Namun, memikirkan situasi putrinya, mereka kembali khawatir dan kemudian menanyakan pendapat keluarganya Petra.Petra memahami kekhawatiran orang tua Susana, lalu berkata sambil tersenyum, "Om, Tante, orang tuaku telah meninggal dunia ketika aku masih kecil. Aku satu-satunya yang tersisa di keluarga sekarang. Aku bertanggung jawab atas pernikahanku sendiri. Jangan khawatir Susana akan menerima perlakuan buruk saat bersama denganku."Susana tersenyum dan menjawab, "Ayah, Ibu, jangan khawatir. Aku nggak akan membiarkan diriku diperlakukan secara buruk lagi. Apa pun yang terjadi, aku pasti punya keberanian untuk memulai kembali!"Rio mencondongkan tubuh dan memeluknya. "Apa pun yang terjadi, aku akan selalu menemani Ibu!"Semua orang tertawa. Melih

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 20

    Brian dan kedua anaknya menghilang selama beberapa hari. Susana akhirnya membuka toko keduanya di Kota Porus.Ketiganya datang membawa keranjang bunga. Melihat Susana sibuk bekerja, Rio, si bocah cilik itu, dengan terampil menghibur para tamu.Ketiganya memasuki toko dan ingin menawarkan bantuan, tetapi Susana mengusir mereka.Di saat mereka frustasi, seorang pria tinggi dan gagah dengan aura dingin dan acuh tak acuh melewati mereka, lalu memasuki toko.Brian tanpa sadar mengerutkan kening dan menoleh."Susana."Pria itu berbicara, suaranya yang tenang mengandung kelembutan.Susana refleks mendongak. Senyum muncul di matanya. "Kamu sudah datang."Petra Giovano dengan santai berjalan ke sisinya dan mengambil alih pekerjaannya menyortir barang. Keduanya saling bertatapan, lalu tersenyum. Susana kemudian berbalik untuk menyambut para tamu.Ketika Rio melihat Petra, dia dengan gembira berlari menghampirinya dan memeluk kakinya dengan penuh kasih sayang. "Om Petra, aku sangat merindukanmu!"

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 19

    Toko pakaian Susana merupakan jaringan toko. Sebelumnya, tokonya lebih mengutamakan perluasan wilayah ke bagian selatan. Toko di Jalan Thamrin ini adalah toko pertamanya di Kota Porus.Dia akan tinggal di Kota Porus selama masa liburan ini. Selain memantau bisnis toko di Thamrin, dia juga telah mencari beberapa lokasi dan toko yang bagus. Saat ini, dia sedang melakukan negosiasi dan mendekorasi tempat-tempat tersebut.Susana sangat sibuk dan tidak berada di toko setiap hari.Namun setiap kali dia berada di toko, dia akan melihat Nathan dan Nolan berjaga di pintu.Manajer toko mengerutkan kening dan melaporkan, "Bos, dua anak ini selalu berjaga di depan pintu. Meski sudah kami usir, mereka masih nggak mau pergi. Mereka bilang mereka datang mencari Anda."Susana mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.Saat waktu makan siang tiba, keduanya masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi dan bahkan tidak makan siang, melainkan menatapnya dengan iba melalui jendela toko. Susana akhirnya men

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 18

    Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun bergegas masuk, mendorong Nathan ke samping, dan merentangkan tangannya untuk melindungi Susana di belakangnya.Dia menatap ketiga pria di depannya, menelan ludahnya, dan tak lupa mengingatkan Susana. "Ibu, jangan takut. Kalau kami berkelahi nanti, Ibu langsung saja lari ke kantor polisi! Nggak usah khawatir, aku jago berkelahi kok!"Susana menatap Rio Septino yang berdiri di depannya. Hatinya luluh sepenuhnya.Dia menggenggam tangan Rio dan menghiburnya sambil tersenyum. "Nggak apa-apa, Rio. Ibu kenal mereka ...."Nathan dan Nolan menatap Rio dengan tajam. Tatapan mereka nyaris menyemburkan api. Keduanya menggertakkan gigi sambil berteriak, "Siapa kamu? Kami baru putra kandung Ibu!"Brian juga menggertakkan giginya dan menatap tajam Rio. Dia menarik Nathan dan Nolan yang marah ke belakangnya. Suaranya yang dalam dipenuhi amarah. "Susana, Nathan dan Nolan baru putra kandungmu. Anak siapa ini?""Kamu sudah menikah?"Rio refleks meliri

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 17

    Nathan dan Nolan, yang mengantre di depannya, berbalik dan melihat Brian bergegas menuju toko pakaian di sebelah.Tanpa ragu sedikit pun, keduanya langsung berlari dan mengikutinya.Bel di pintu kaca berdering nyaring. Susana mendongak sambil tersenyum."Selamat da ....""Susana!""Ibu!"Brian beserta Nathan dan Nolan berdiri di depannya, menatapnya lekat-lekat.Senyum Susana langsung membeku dan perlahan memudar.Mata Brian dan kedua anak itu tampak berkaca-kaca. Brian kemudian mengulurkan tangan dan menariknya keluar, suaranya sedikit serak. "Susana, betapa kejamnya dirimu.""Ibu, kami sangat merindukanmu ...."Tatapan Susana dengan cepat melewati Brian, terpaku sejenak pada Nathan dan Nolan, lalu teralihkan dengan sendirinya.Ekspresinya tetap tidak berubah. Suaranya sopan, tetapi dingin. "Tempat ini menjual pakaian wanita. Silakan pergi."Nathan dan Nolan terkejut. Mereka menatap Susana dengan tidak percaya.Brian mengerutkan bibir. Matanya dipenuhi emosi yang kompleks. "Susana, ka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status