Share

Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali
Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali
Penulis: Fryda

Bab 1

Penulis: Fryda
Setelah terlahir kembali, Susana Septino mendapati dirinya kembali ke tahun 1989.

Di tahun itu, dia berusia 30 tahun, dan suaminya, Brian Cohadi, berusia 35 tahun. Suaminya baru saja menjadi akademisi termuda di Akademi Ilmu Pengetahuan Kutosia dan merupakan talenta kunci negara dengan masa depan tak terbatas.

Mereka memiliki anak kembar berusia sepuluh tahun.

Semua orang bilang dia beruntung, pintar memiih suami, dan memiliki anak yang lucu-lucu.

Namun, hal pertama yang dia lakukan setelah terlahir kembali adalah berkonsultasi dengan pengacara dan menyusun dua perjanjian perceraian.

Dia menelepon ke kantor suaminya dan kebetulan asistennya yang menjawab. Mengetahui dirinya yang menelepon, asisten langsung menjawab, "Kakak Ipar, Pak Brian sedang sibuk dan nggak punya waktu."

Dia pergi ke lembaga penelitian untuk mencarinya, tetapi sekuriti menghentikannya di depan gerbang. "Maaf, Pak Brian nggak menerima tamu."

Tiga hari kemudian, dia membawa perjanjian cerai itu kepada cinta pertama suaminya.

Dia mendorong perjanjian cerai di depan Emily Juwanda. "Suruh Brian menandatangani perjanjian cerai ini. Mulai sekarang, dia dan kedua anak itu akan menjadi milikmu," katanya dengan nada datar.

Emily menatapnya dengan kaget. Dia tidak percaya bahwa orang yang telah mencintai Brian selama tujuh belas tahun akan mundur secara sukarela.

Dia mengerutkan kening. "Susana, taktik apa yang sedang kamu mainkan?"

Susana tersenyum tipis. Tidak ada riak apa pun yang tampak di matanya. "Aku hanya nggak ingin hidup seperti ini lagi. Karena mereka semua lebih menyukaimu, aku juga nggak menginginkan mereka lagi. Aku mundur untuk mengabulkan keinginan kalian."

Emily masih tidak percaya. Dia menatap Susana dengan tajam. "Kamu rela melepaskan semuanya? Tahu nggak berapa banyak orang yang iri dengan gelarmu sebagai istri seorang akademisi?"

"Aku tahu." Susana menatap langsung ke matanya. "Emily, aku nggak menginginkannya lagi. Kuberikan padamu saja."

Emily menggenggam gelas air dengan erat. Wajahnya yang biasanya lembut berubah gelap. "Susana, siapa yang menyuruhnya mengalah?"

Setelah hening selama dua detik, Emily tiba-tiba terkekeh dan mengambil perjanjian cerai dari meja. "Karena kamu mengundurkan diri secara sukarela, aku juga nggak perlu bersusah payah."

"Susana, kamu cukup bijaksana. Aku peringatkan, begitu semua itu menjadi milikku, jangan harap kamu bisa mendapatkannya kembali."

"Jangan khawatir." Susana tersenyum. "Baik itu suamiku ataupun putraku, aku nggak menginginkan mereka lagi."

Dia sungguh tidak menginginkan mereka lagi.

Karena di kehidupan sebelumnya, dia menjalani hidup yang kesepian dan meninggal dengan tragis meskipun mempertahankan mereka di sisinya.

Kali ini, dia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.

Emily mengenakan kacamata hitam, rambut ikalnya yang elegan serta gaunnya, menarik banyak perhatian.

Susana mengamati taksi yang ditumpanginya pergi. Entah apa yang merasukinya, dia tiba-tiba memanggil taksi lain dan mengikutinya.

Di pintu masuk lembaga penelitian, dia memperhatikan Emily disambut dan dipersilakan duduk oleh penjaga pintu. Setelah beberapa saat, Brian bergegas keluar dengan cemas dan membawanya masuk.

Dia menurunkan kelopak matanya dan tertawa mengejek dirinya sendiri.

Menggelikan sekali! Tempat yang belum pernah dimasukinya itu justru bisa dimasuki Emily dengan mudah.

Susana kembali ke kediaman Septino. Butuh waktu lama baginya untuk membahas masalah perceraian dengan keluarganya.

Saat pulang, rumah tampak terang benderang dan aroma makanan menyeruak keluar.

Suara Nathan Cohadi yang lantang terdengar. "Tante Emily, ayo makan! Ayah sudah buat banyak makanan enak!"

"Tante Emily, ini pertama kalinya kami melihat Ayah masak! Ayo makan!" Nolan Cohara ikut menimpali.

Dia terkejut dan berhenti di tempat.

Di kehidupan sebelumnya, dia sama sekali tidak pernah mencicipi masakan yang dibuat Brian bahkan sampai ajal menjemputnya.

Bahkan, ketika dia sedang menjalani masa nifas dan ada beberapa hari tidak ada yang memasak di rumah, dia akan pergi ke kantin untuk membeli makanan.

Suara lembut Emily yang disertai senyuman terdengar. "Brian, kamu masih ingat kalau aku suka makan ikan."

Suara Brian terdengar lembut, tidak lagi sedingin sebelumnya. "Aku selalu ingat. Makan yang ini. Aku sudah membuang duri ikannya untukmu."

Susana berdiri mematung di sana, kuku-kukunya tanpa sadar menancap ke telapak tangannya.

Seingatnya, Brian sangat membenci ikan.

Ketika mereka baru menikah, Susana membuat ikan kukus favoritnya. Wajah Brian langsung muram. Pria itu langsung meninggalkan meja makan.

Dia terkejut. Butuh waktu lama baginya untuk membujuk Brian sebelum menyadari bahwa pria itu sangat membenci ikan sampai-sampai dia tidak tahan melihatnya.

Hari itu, dia terpaksa membuang ikan ke tempat sampah untuk membujuk pria itu kembali ke meja makan.

Selama sepuluh tahun berikutnya, ikan tidak pernah lagi muncul di meja makan Keluarga Cohadi.

Jadi, Brian tidak suka melihat ikan karena ada kaitannya dengan kepergian Emily ....

"Ayah, aku suka sekali sama Tante Emily. Aku ingin Tante Emily jadi ibu kami!"

"Ya, Ayah. Aku nggak mau tinggal bersama Ibu lagi. Aku ingin tinggal bersama Tante Emily."

Susana tidak tahan mendengarnya lagi. Dia mundur selangkah, berbalik, dan pergi.

Hujan deras pun turun. Kenangan bagaikan tetesan air hujan, membanjiri dirinya.

Di kehidupan sebelumnya, dia tidak pernah bahagia selama 60 tahun pernikahannya dengan Brian, bahkan sampai ajal menjemputnya.

Karena pria itu selalu menyimpan cinta pertamanya, Emily, di dalam hatinya.

Dia dan Brian sama-sama tumbuh di kawasan industri militer dan saling mengenal sejak lahir.

Saat menginjak usia 13 tahun, dia tergila-gila kepada Brian, kakak laki-laki paling tampan dan luar biasa di kompleks perumahan mereka itu.

Namun pada saat itu, Brian sudah memiliki Emily, cinta pertamanya.

Keduanya berpacaran selama beberapa tahun, tetapi ketika mereka lulus kuliah, Emily tiba-tiba memutuskan untuk belajar di luar negeri.

Brian menunggu selama beberapa tahun sebelum menerima surat putus dari Emily. Saat itu, Brian berusia 25 tahun, dan dengan hati yang hancur, dia setuju untuk menikahi wanita lain.

Karena selalu memperhatikan Keluarga Cohadi, dia segera pergi untuk mengutarakan perasaannya kepada Brian dan menawarkan dirinya kepadanya.

Dia akan selalu mengingat ekspresi Brian yang tenang, tetapi juga dingin kala itu. "Aku punya seseorang di hatiku. Apa kamu sudah mempertimbangkannya dengan baik?"

Susana mengangguk dengan antusias. Dia yakin dia bisa meluluhkan hati pria itu dengan cinta.

Namun, tidak peduli apa pun yang dia lakukan setelah mereka menikah, yang dia dapatkan sebagai balasan hanyalah ketidakpedulian dan keterasingan pria itu.

Setelah Emily kembali, dia baru menyadari perbedaan jelas antara mencintai dengan tidak mencintai.

Di kehidupan sebelumnya, Brian tidak pernah mengungkit perceraian padanya. Pria itu memberikan gelar istri padaya, tetapi memberikan seluruh cintanya kepada Emily.

Sama halnya dengan kedua putranya. Mereka persis seperti Brian, makin lama makin dingin padanya.

Dia terus menunggu, berharap mereka akan berubah, dan menghabiskan seluruh hidupnya seperti itu.

Dia menghabiskan tahun-tahun terakhirnya di panti jompo. Dia kesulitan bergerak dan tidak ada anggota keluarga yang mengunjunginya. Para perawat di panti jompo menyiksanya setiap hari.

Dia menelepon Brian dan kedua anaknya berkali-kali, tetapi mereka selalu sibuk dan tidak pernah punya waktu untuk menjenguknya.

Kemudian, mereka tidak lagi menjawab teleponnya.

Ketika ajal menjemput, dia meminjam ponsel tetangganya untuk menelepon Brian.

Brian mengucapkan 'halo' dua kali, tetapi mungkin karena lupa menutup telepon, jadi panggilan itu tetap terhubung.

Di ujung telepon sana, dia mendengar Brian beserta putranya, cucunya, dan cicitnya merayakan ulang tahun Emily bersama-sama.

Suasananya sangat meriah ....

Air mata masih terus mengalir dari matanya yang sudah berkabut dan kering.

Di saat-saat terakhirnya, Susana merenung, jika Langit memberinya kesempatan lain, dia akan sangat mencintai dirinya sendiri dan tidak akan menyia-nyiakan hidupnya untuk Brian lagi.

Susana duduk di bangku pinggir jalan untuk waktu lama. Ketika dia pulang, tidak ada seorang pun di sana, dan meja makan berantakan.

Dia hanya melirik sekilas, lalu melewatinya begitu saja.

Di atas meja rias tergeletak perjanjian cerai yang telah ditandatangani. Melihat tanda tangan elegan milik Brian tercetak di sana, Susana langsung merasa lega.

Dia akhirnya akan terbebas dari belenggu yang telah mengikatnya selama 60 tahun.

Dia baru saja menyimpan perjanjian cerai itu ketika pintu dibuka secara kasar.

"Ibu, kenapa kamu malas sekali! Meja makannya begitu berantakan, kenapa Ibu nggak membersihkannya!"

Si kakak, Nathan, memelotot ke arahnya, sementara si adik, Nolan, mengerutkan kening dan menuduhnya. "Kamu terlalu berpikiran sempit! Kamu melihat kami makan dengan Tante Emily, jadi kamu langsung berbalik dan pergi. Sekarang kamu sengaja nggak mau membersihkannya!"

Tatapan Brian tetap acuh tak acuh seperti biasanya. "Bukankah hanya makan bersama saja? Apanya yang harus diributkan? Jangan lupa dengan tanggung jawabmu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 22

    Brian dan kedua putranya tidak lagi pergi mengganggu Susana.Namun selama masa liburan ini, mereka akan pergi ke Jalan Thamrin setiap hari. Hanya untuk melihat sekilas Susana dari kejauhan, dan itu sudah cukup bagi mereka.Hari-hari Susana tetap sibuk dan penuh makna. Semua toko cabangnya di Kota Porus telah dibuka dan beroperasi dengan lancar.Saat liburan sekolah hampir berakhir, Susana bersiap untuk membawa Rio kembali ke Kota Goron. Sebelum berangkat, dia mengajak Brian dan kedua putranya bertemu.Sebuah amplop disodorkan di depan Brian. "Ini uang tunjangan untuk Nathan dan Nolan," ucap Susana perlahan.Kilatan di mata Brian dan kedua putranya telah sirna sepenuhnya.Brian membukanya, dan di dalamnya terdapat sebuah kartu bank.Nathan menatap kartu itu, lalu tiba-tiba berdiri, suaranya penuh amarah. "Aku nggak butuh uangmu. Karena kamu sudah nggak menginginkan kami lagi, mengapa kamu masih berpura-pura baik dengan menawarkan uang!"Nolan mengerutkan bibir, dadanya naik turun, matan

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 21

    Hubungan Susana dan Petra telah resmi dikonfirmasi. Selagi mereka ada di Kota Porus, Susana langsung membawa Petra kembali ke kediaman Septino untuk bertemu orang tuanya.Petra adalah mitra bisnis Susana. Orang tua Susana sangat puas dengannya.Namun, memikirkan situasi putrinya, mereka kembali khawatir dan kemudian menanyakan pendapat keluarganya Petra.Petra memahami kekhawatiran orang tua Susana, lalu berkata sambil tersenyum, "Om, Tante, orang tuaku telah meninggal dunia ketika aku masih kecil. Aku satu-satunya yang tersisa di keluarga sekarang. Aku bertanggung jawab atas pernikahanku sendiri. Jangan khawatir Susana akan menerima perlakuan buruk saat bersama denganku."Susana tersenyum dan menjawab, "Ayah, Ibu, jangan khawatir. Aku nggak akan membiarkan diriku diperlakukan secara buruk lagi. Apa pun yang terjadi, aku pasti punya keberanian untuk memulai kembali!"Rio mencondongkan tubuh dan memeluknya. "Apa pun yang terjadi, aku akan selalu menemani Ibu!"Semua orang tertawa. Melih

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 20

    Brian dan kedua anaknya menghilang selama beberapa hari. Susana akhirnya membuka toko keduanya di Kota Porus.Ketiganya datang membawa keranjang bunga. Melihat Susana sibuk bekerja, Rio, si bocah cilik itu, dengan terampil menghibur para tamu.Ketiganya memasuki toko dan ingin menawarkan bantuan, tetapi Susana mengusir mereka.Di saat mereka frustasi, seorang pria tinggi dan gagah dengan aura dingin dan acuh tak acuh melewati mereka, lalu memasuki toko.Brian tanpa sadar mengerutkan kening dan menoleh."Susana."Pria itu berbicara, suaranya yang tenang mengandung kelembutan.Susana refleks mendongak. Senyum muncul di matanya. "Kamu sudah datang."Petra Giovano dengan santai berjalan ke sisinya dan mengambil alih pekerjaannya menyortir barang. Keduanya saling bertatapan, lalu tersenyum. Susana kemudian berbalik untuk menyambut para tamu.Ketika Rio melihat Petra, dia dengan gembira berlari menghampirinya dan memeluk kakinya dengan penuh kasih sayang. "Om Petra, aku sangat merindukanmu!"

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 19

    Toko pakaian Susana merupakan jaringan toko. Sebelumnya, tokonya lebih mengutamakan perluasan wilayah ke bagian selatan. Toko di Jalan Thamrin ini adalah toko pertamanya di Kota Porus.Dia akan tinggal di Kota Porus selama masa liburan ini. Selain memantau bisnis toko di Thamrin, dia juga telah mencari beberapa lokasi dan toko yang bagus. Saat ini, dia sedang melakukan negosiasi dan mendekorasi tempat-tempat tersebut.Susana sangat sibuk dan tidak berada di toko setiap hari.Namun setiap kali dia berada di toko, dia akan melihat Nathan dan Nolan berjaga di pintu.Manajer toko mengerutkan kening dan melaporkan, "Bos, dua anak ini selalu berjaga di depan pintu. Meski sudah kami usir, mereka masih nggak mau pergi. Mereka bilang mereka datang mencari Anda."Susana mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.Saat waktu makan siang tiba, keduanya masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi dan bahkan tidak makan siang, melainkan menatapnya dengan iba melalui jendela toko. Susana akhirnya men

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 18

    Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun bergegas masuk, mendorong Nathan ke samping, dan merentangkan tangannya untuk melindungi Susana di belakangnya.Dia menatap ketiga pria di depannya, menelan ludahnya, dan tak lupa mengingatkan Susana. "Ibu, jangan takut. Kalau kami berkelahi nanti, Ibu langsung saja lari ke kantor polisi! Nggak usah khawatir, aku jago berkelahi kok!"Susana menatap Rio Septino yang berdiri di depannya. Hatinya luluh sepenuhnya.Dia menggenggam tangan Rio dan menghiburnya sambil tersenyum. "Nggak apa-apa, Rio. Ibu kenal mereka ...."Nathan dan Nolan menatap Rio dengan tajam. Tatapan mereka nyaris menyemburkan api. Keduanya menggertakkan gigi sambil berteriak, "Siapa kamu? Kami baru putra kandung Ibu!"Brian juga menggertakkan giginya dan menatap tajam Rio. Dia menarik Nathan dan Nolan yang marah ke belakangnya. Suaranya yang dalam dipenuhi amarah. "Susana, Nathan dan Nolan baru putra kandungmu. Anak siapa ini?""Kamu sudah menikah?"Rio refleks meliri

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 17

    Nathan dan Nolan, yang mengantre di depannya, berbalik dan melihat Brian bergegas menuju toko pakaian di sebelah.Tanpa ragu sedikit pun, keduanya langsung berlari dan mengikutinya.Bel di pintu kaca berdering nyaring. Susana mendongak sambil tersenyum."Selamat da ....""Susana!""Ibu!"Brian beserta Nathan dan Nolan berdiri di depannya, menatapnya lekat-lekat.Senyum Susana langsung membeku dan perlahan memudar.Mata Brian dan kedua anak itu tampak berkaca-kaca. Brian kemudian mengulurkan tangan dan menariknya keluar, suaranya sedikit serak. "Susana, betapa kejamnya dirimu.""Ibu, kami sangat merindukanmu ...."Tatapan Susana dengan cepat melewati Brian, terpaku sejenak pada Nathan dan Nolan, lalu teralihkan dengan sendirinya.Ekspresinya tetap tidak berubah. Suaranya sopan, tetapi dingin. "Tempat ini menjual pakaian wanita. Silakan pergi."Nathan dan Nolan terkejut. Mereka menatap Susana dengan tidak percaya.Brian mengerutkan bibir. Matanya dipenuhi emosi yang kompleks. "Susana, ka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status