แชร์

Bab 8

ผู้เขียน: Fryda
Saat sinar matahari pertama menyinari tanah di pagi hari, Brian membuka pintu dan masuk.

Pria itu menatapnya dari atas. Tatapannya sedingin es. "Sudah tahu di mana kesalahanmu?"

Suara Susana sangat lembut. "Aku sudah tahu kesalahanku."

Dia memang sudah mengetahui kesalahannya.

Sejak dia jatuh cinta pada Brian, sejak dia bersikeras untuk menikah dengannya, sejak itu dia sudah melakukan kesalahan.

Ekspresi Brian sedikit melunak. Dia berjalan duluan. "Ayo, aku antar kamu pulang."

Keduanya menghabiskan perjalanan dalam diam. Brian mengantarnya sampai ke depan pintu rumah.

Saat turun dari mobil, Brian tiba-tiba berkata, "Jangan lakukan hal nggak berguna seperti itu lagi. Susana, janjiku padamu nggak akan pernah berubah. Jadilah istri dan ibu yang baik. Dengan begitu, nggak akan ada yang bisa memengaruhi posisimu."

"Aku mengerti."

Nada bicara Susana sangat datar. Dia langsung masuk ke dalam.

Saat melewati kamar Nathan dan Nolan, dia mendengar suara-suara dari dalam.

"Tante Emily, apa rencana kita berhasil? Apa Ibu benar-benar akan pindah dan nggak akan mengatur kami lagi?"

"Tante Emily, kalau Ibu sudah pergi, aku nggak mau mengerjakan PR lagi. Aku mau makan banyak camilan dan menonton TV berlama-lama ...."

Susana berhenti sejenak, lalu tersenyum sinis, dan kembali ke kamarnya.

Dia mengambil kopernya, kembali ke kediaman Septino, lalu menjelaskan semuanya kepada orang tuanya, dan berpamitan sebelum pergi.

Dia akan pergi ke Kantor Catatan Sipil untuk mengambil akta cerai, lalu langsung menuju bandara.

Matahari bersinar terang saat dia berjalan perlahan di sepanjang jalan setapak hijau.

Mobil Brian berhenti tepat di sebelah dengan jendela terbuka. Emily duduk di kursi depan penumpang, memegang bunga dan menatapnya dengan tatapan provokasi.

"Naik ke mobil," perintah Brian.

Susana bergeming.

Brian turun dari mobil, berjalan ke sisinya, dan mengerutkan kening sambil mengambil koper dari tangannya.

"Kamu bawa koper mau ke mana?"

Melihat pria itu telah memasukkan kopernya ke dalam mobil, Susana terpaksa duduk di kursi belakang.

"Aku mau pulang ke rumahku selama beberapa hari."

Brian terdiam beberapa detik sebelum menyalakan mobil. "Baiklah, pulanglah dan renungkan baik-baik, sekaligus tenangkan dirimu."

Ironisnya, dia tidak menyadari bahwa Susana sedang menuju ke arah yang berlawanan dari kediaman Septino.

Susana tetap diam. Dia bersiap mencari alasan untuk membuat pria itu menurunkannya.

Mereka belum berkendara jauh ketika sebuah taksi yang datang dari arah berlawanan tiba-tiba kehilangan kendali dan melaju kencang ke arah mereka.

"Tit, tit, tit ...."

Klakson berbunyi tanpa henti. Brian membanting setir. Mobil mereka ditabrak oleh taksi dan terlempar ke udara.

Suara pecahan kaca terdengar. Susana merasakan sakit yang tajam di bagian lengan dan dahinya. Darah yang hangat menyembur keluar.

Dalam keadaan linglung, dia melihat Brian buru-buru turun dari mobil, bergegas ke kursi penumpang di sebelahnya, dan membawa Emily keluar.

Suaranya bergetar karena takut. "Emily, kamu nggak apa-apa, 'kan?"

"Nggak apa-apa." Emily menghiburnya sambil tersenyum. "Hanya luka lecet karena pecahan kaca."

Dengan mata merah, dia melihat Brian, yang menarik Emily ke dalam pelukannya, seolah ingin menyatukan diri mereka. "Syukurlah kamu baik-baik saja .... Emily, aku nggak boleh kehilangan dirimu lagi ...."

"Aku antar kamu ke rumah sakit. Biar aku suruh orang mengurus mobilnya."

Bibir Brian mendarat pelan di dahi Emily, lalu pria itu memeluknya, dan membantunya pergi.

Pria itu tidak pernah menoleh ke belakang sekalipun.

Mungkin pria itu sudah melupakannya.

...

Saat Susana terbangun lagi, dia sudah berada di rumah sakit.

Dahi dan lengannya dibalut perban. Kopernya diletakkan di sampingnya.

Dia menghela napas lega dan mengetahui dari perawat bahwa sopir yang menyebabkan kecelakaan itulah yang membawanya ke rumah sakit.

Sembari mendorong kopernya, Susana menjalani prosedur keluar rumah sakit meskipun bertentangan dengan anjuran staf medis.

Setelah bergegas ke sana kemari, akhirnya dia mendapatkan akta cerai sebelum Kantor Catatan Sipil tutup.

Dia mengambil akta cerai miliknya sendiri dan meninggalkan milik Brian, beserta nomor telepon kantornya kepada petugas. "Bisakah Anda meluangkan waktu sejenak untuk memberitahunya agar datang mengambilnya?"

Saat berjalan keluar dari Kantor Catatan Sipil, matahari terbenam menggantung di tepi kota, memancarkan bayangan panjang para pejalan kaki di jalan.

Dia berdiri di ambang pintu sejenak dan memperhatikan sepasang pasangan muda, yang baru saja selesai bekerja, berjalan pulang bersama dua anak mereka yang membawa tas sekolah. Tawa mereka terdengar hingga ke kejauhan.

Dia tiba-tiba berjongkok di tanah dan menangis tersedu-sedu.

...

Di pagi buta, sebuah pesawat yang menuju ke selatan perlahan lepas landas.

Susana yang suduk di dekat jendela, memandang kota yang gelap di malam hari dan menghela napas lega.

Belenggu yang telah mengikatnya selama 60 tahun akhirnya terlepas pada saat ini, lenyap menjadi debu.

Di kehidupan ini, dia akan hidup untuk dirinya sendiri.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 22

    Brian dan kedua putranya tidak lagi pergi mengganggu Susana.Namun selama masa liburan ini, mereka akan pergi ke Jalan Thamrin setiap hari. Hanya untuk melihat sekilas Susana dari kejauhan, dan itu sudah cukup bagi mereka.Hari-hari Susana tetap sibuk dan penuh makna. Semua toko cabangnya di Kota Porus telah dibuka dan beroperasi dengan lancar.Saat liburan sekolah hampir berakhir, Susana bersiap untuk membawa Rio kembali ke Kota Goron. Sebelum berangkat, dia mengajak Brian dan kedua putranya bertemu.Sebuah amplop disodorkan di depan Brian. "Ini uang tunjangan untuk Nathan dan Nolan," ucap Susana perlahan.Kilatan di mata Brian dan kedua putranya telah sirna sepenuhnya.Brian membukanya, dan di dalamnya terdapat sebuah kartu bank.Nathan menatap kartu itu, lalu tiba-tiba berdiri, suaranya penuh amarah. "Aku nggak butuh uangmu. Karena kamu sudah nggak menginginkan kami lagi, mengapa kamu masih berpura-pura baik dengan menawarkan uang!"Nolan mengerutkan bibir, dadanya naik turun, matan

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 21

    Hubungan Susana dan Petra telah resmi dikonfirmasi. Selagi mereka ada di Kota Porus, Susana langsung membawa Petra kembali ke kediaman Septino untuk bertemu orang tuanya.Petra adalah mitra bisnis Susana. Orang tua Susana sangat puas dengannya.Namun, memikirkan situasi putrinya, mereka kembali khawatir dan kemudian menanyakan pendapat keluarganya Petra.Petra memahami kekhawatiran orang tua Susana, lalu berkata sambil tersenyum, "Om, Tante, orang tuaku telah meninggal dunia ketika aku masih kecil. Aku satu-satunya yang tersisa di keluarga sekarang. Aku bertanggung jawab atas pernikahanku sendiri. Jangan khawatir Susana akan menerima perlakuan buruk saat bersama denganku."Susana tersenyum dan menjawab, "Ayah, Ibu, jangan khawatir. Aku nggak akan membiarkan diriku diperlakukan secara buruk lagi. Apa pun yang terjadi, aku pasti punya keberanian untuk memulai kembali!"Rio mencondongkan tubuh dan memeluknya. "Apa pun yang terjadi, aku akan selalu menemani Ibu!"Semua orang tertawa. Melih

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 20

    Brian dan kedua anaknya menghilang selama beberapa hari. Susana akhirnya membuka toko keduanya di Kota Porus.Ketiganya datang membawa keranjang bunga. Melihat Susana sibuk bekerja, Rio, si bocah cilik itu, dengan terampil menghibur para tamu.Ketiganya memasuki toko dan ingin menawarkan bantuan, tetapi Susana mengusir mereka.Di saat mereka frustasi, seorang pria tinggi dan gagah dengan aura dingin dan acuh tak acuh melewati mereka, lalu memasuki toko.Brian tanpa sadar mengerutkan kening dan menoleh."Susana."Pria itu berbicara, suaranya yang tenang mengandung kelembutan.Susana refleks mendongak. Senyum muncul di matanya. "Kamu sudah datang."Petra Giovano dengan santai berjalan ke sisinya dan mengambil alih pekerjaannya menyortir barang. Keduanya saling bertatapan, lalu tersenyum. Susana kemudian berbalik untuk menyambut para tamu.Ketika Rio melihat Petra, dia dengan gembira berlari menghampirinya dan memeluk kakinya dengan penuh kasih sayang. "Om Petra, aku sangat merindukanmu!"

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 19

    Toko pakaian Susana merupakan jaringan toko. Sebelumnya, tokonya lebih mengutamakan perluasan wilayah ke bagian selatan. Toko di Jalan Thamrin ini adalah toko pertamanya di Kota Porus.Dia akan tinggal di Kota Porus selama masa liburan ini. Selain memantau bisnis toko di Thamrin, dia juga telah mencari beberapa lokasi dan toko yang bagus. Saat ini, dia sedang melakukan negosiasi dan mendekorasi tempat-tempat tersebut.Susana sangat sibuk dan tidak berada di toko setiap hari.Namun setiap kali dia berada di toko, dia akan melihat Nathan dan Nolan berjaga di pintu.Manajer toko mengerutkan kening dan melaporkan, "Bos, dua anak ini selalu berjaga di depan pintu. Meski sudah kami usir, mereka masih nggak mau pergi. Mereka bilang mereka datang mencari Anda."Susana mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.Saat waktu makan siang tiba, keduanya masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi dan bahkan tidak makan siang, melainkan menatapnya dengan iba melalui jendela toko. Susana akhirnya men

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 18

    Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun bergegas masuk, mendorong Nathan ke samping, dan merentangkan tangannya untuk melindungi Susana di belakangnya.Dia menatap ketiga pria di depannya, menelan ludahnya, dan tak lupa mengingatkan Susana. "Ibu, jangan takut. Kalau kami berkelahi nanti, Ibu langsung saja lari ke kantor polisi! Nggak usah khawatir, aku jago berkelahi kok!"Susana menatap Rio Septino yang berdiri di depannya. Hatinya luluh sepenuhnya.Dia menggenggam tangan Rio dan menghiburnya sambil tersenyum. "Nggak apa-apa, Rio. Ibu kenal mereka ...."Nathan dan Nolan menatap Rio dengan tajam. Tatapan mereka nyaris menyemburkan api. Keduanya menggertakkan gigi sambil berteriak, "Siapa kamu? Kami baru putra kandung Ibu!"Brian juga menggertakkan giginya dan menatap tajam Rio. Dia menarik Nathan dan Nolan yang marah ke belakangnya. Suaranya yang dalam dipenuhi amarah. "Susana, Nathan dan Nolan baru putra kandungmu. Anak siapa ini?""Kamu sudah menikah?"Rio refleks meliri

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 17

    Nathan dan Nolan, yang mengantre di depannya, berbalik dan melihat Brian bergegas menuju toko pakaian di sebelah.Tanpa ragu sedikit pun, keduanya langsung berlari dan mengikutinya.Bel di pintu kaca berdering nyaring. Susana mendongak sambil tersenyum."Selamat da ....""Susana!""Ibu!"Brian beserta Nathan dan Nolan berdiri di depannya, menatapnya lekat-lekat.Senyum Susana langsung membeku dan perlahan memudar.Mata Brian dan kedua anak itu tampak berkaca-kaca. Brian kemudian mengulurkan tangan dan menariknya keluar, suaranya sedikit serak. "Susana, betapa kejamnya dirimu.""Ibu, kami sangat merindukanmu ...."Tatapan Susana dengan cepat melewati Brian, terpaku sejenak pada Nathan dan Nolan, lalu teralihkan dengan sendirinya.Ekspresinya tetap tidak berubah. Suaranya sopan, tetapi dingin. "Tempat ini menjual pakaian wanita. Silakan pergi."Nathan dan Nolan terkejut. Mereka menatap Susana dengan tidak percaya.Brian mengerutkan bibir. Matanya dipenuhi emosi yang kompleks. "Susana, ka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status