แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Fryda
Susana terkejut dan menatap keduanya dengan tidak percaya.

Mereka menatapnya dengan tajam. Mata mereka dipenuhi rasa jijik yang tak tersembunyikan. "Bagaimana kami bisa punya ibu sepertimu? Memalukan sekali!"

"Ayah, aku nggak ingin dia menjadi ibuku. Memalukan sekali punya ibu seperti itu!"

Brian tetap memperlihatkan ekspresi tenang. Dia berdiri di samping Emily, matanya dingin dan suaranya berat. "Apa masih ada yang ingin kamu katakan?"

Tatapan mata mereka seolah menyakini bahwa dialah pelakunya.

Susana mengepalkan tangannya erat-erat. Amarahnya benar-benar meluap. Dia ingin melawan dan membuktikan dirinya, tetapi pada akhirnya, dia hanya bisa mengucapkan dua kata melalui gigi yang terkatup rapat.

"Bukan aku."

Emily tiba-tiba meraih lengan baju Brian. "Brian, lupakan saja. Yang penting gelang ini sudah ketemu. Nona Susana mungkin nggak sengaja ...."

Makin dia memohon, kemarahan di mata Brian makin memuncak.

Dadanya naik turun beberapa kali, lalu dia tiba-tiba meninggikan suara. "Susana, kamu sudah melakukan kesalahan dan masih mau berdalih? Bagaimana kamu bisa menjadi contoh yang baik bagi anak-anak! Aku harus membuatmu menyadari kesalahanmu hari ini!"

Nathan dan Nolan telah mengambil penggaris dan menyerahkannya kepada Brian. Mata mereka berbinar-binar kegirangan. "Ayah! Cepat hukum Ibu!"

Brian mengambil penggaris dan mendekat selangkah demi selangkah.

Susana refleks mundur selangkah. Dia ingin berbalik dan pergi, tetapi Nathan dan Nolan mendekatinya dan menangkapnya dari kedua sisi. Dia tiba-tiba kehilangan kekuatannya.

Itu adalah perasaan ketidakberdayaan yang luar biasa.

Dia dengan patuh membuka telapak tangannya, membiarkan penggaris yang telah diayunkan secara kasar itu mendarat di telapak tangannya.

Sensasi terbakar seketika menyelimutinya.

Dia melihat senyum provokatif dan angkuh milik Emily, serta tatapan dingin dan kejam milik Brian.

Dia tiba-tiba teringat bahwa di kehidupan sebelumnya, ibunya meninggalkannya sebuah cincin berlian merah muda setelah dia meninggal dunia. Pernah sekali, saat Emily datang ke rumahnya, dia mendapati cincinnya hilang.

Ibunya baru saja meninggal waktu itu dan dia sangat membenci Emily. Jadi, dia membuat keributan, mengabaikan tiga pria dalam keluarganya yang mencoba menghentikannya, lalu menggeledah tas Emily.

Cincin itu ditemukan di dalam tas Emily, tetapi dialah yang tetap dihukum.

Karena mereka semua mengatakan bahwa dia sengaja memasukkannya ke dalam tas Emily untuk menjebaknya. Mereka tidak ingin dia memanfaatkan kematian ibunya untuk melakukan apa pun yang dia inginkan.

Mata Susana memerah.

Dia sudah lama menyerah pada kehidupan, tetapi hatinya masih saja terasa sakit.

"Ayah, aku juga ingin memukulnya!" teriak kedua anak itu serempak. "Ibu melakukan kesalahan, jadi kami ingin dia mengakui kesalahannya!"

Brian terdiam sejenak, lalu menyerahkan penggaris kepada Nathan. "Baiklah, kalian juga harus mengingat hari ini. Jadikan ini sebagai peringatan. Jangan pernah menjadi orang yang bejat secara moral dan melanggar hukum!"

Kata-kata itu bagaikan tamparan di wajah Susana. Dia langsung mengerahkan kekuatannya dan menepis penggaris dari tangan Nathan.

Seluruh tubuhnya gemetar. Dia menatap Brian dengan tatapan penuh penghinaan, menekankan setiap katanya dengan suara dingin.

"Akan kukatakan untuk terakhir kalinya, bukan aku yang melakukannya! Orang yang benar-benar bejat secara moral itu Emily dan juga kamu, Brian!"

"Omong kosong apa yang kamu bicarakan?"

Tatapan Brian sedingin es. "Karena kamu nggak mengakui kesalahanmu, pergilah ke ruang bawah tanah dan renungkanlah kesalahanmu!"

Pergelangan tangan Susana dicengkeram erat dan dia diseret secara paksa ke pintu masuk ruang bawah tanah.

Nathan dan Nolan mengapit Susana dari belakang, masing-masing di setiap sisi.

"Tante Emily, bagaimana kalau kamu tinggal di rumah kami saja?"

"Tante Emily, jadilah ibu kami! Aku yakin Tante pasti akan menjadi ibu terbaik sedunia!"

Emily merasakan sekujur tubuhnya bergetar. Napasnya terengah-engah ketika Brian mendorongnya ke ruang bawah tanah.

Begitu pintu tertutup, suaranya yang lembut nan serak terdengar. "Emily, bisakah kamu menjaga kedua anak ini untuk sementara?"

Kegelapan pekat menyelimuti Susana.

Dia meringkuk di sudut, memeluk dirinya sendiri erat-erat sambil gemetar, dan air mata akhirnya mengalir di wajahnya.

Ruang bawah tanah itu adalah mimpi buruknya.

Di tahun pernikahannya dengan Brian, dia pernha dipukul dari belakang hingga pingsan saat sedang berada di luar. Ketika sadar, dia mendapati dirinya terkunci di ruang bawah tanah.

Kegelapan, bau busuk dan jamur, tawa cabul mengerikan seorang pria dan tangannya yang kapalan.

Itu adalah momen paling menakutkan dalam hidupnya. Di saat kritis itu, Brian mendobrak pintu ruang bawah tanah dan bergegas masuk.

Tangan Brian yang biasanya hanya digunakan untuk memegang pena, mengambil sebongkah batu dan membantingnya dengan keras ke kepala pria itu.

Namun, jeritan yang mengerikan dan bau darah justru memberinya rasa tenang.

Pada hari itu, Brian memeluknya dengan lembut dan menghiburnya, sebuah kenangan yang bertahan selama 60 tahun dan menemani akhir hayatnya.

Kini, Brian, orang yang membawanya keluar dari ruang bawah tanah dulu, telah sirna.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 22

    Brian dan kedua putranya tidak lagi pergi mengganggu Susana.Namun selama masa liburan ini, mereka akan pergi ke Jalan Thamrin setiap hari. Hanya untuk melihat sekilas Susana dari kejauhan, dan itu sudah cukup bagi mereka.Hari-hari Susana tetap sibuk dan penuh makna. Semua toko cabangnya di Kota Porus telah dibuka dan beroperasi dengan lancar.Saat liburan sekolah hampir berakhir, Susana bersiap untuk membawa Rio kembali ke Kota Goron. Sebelum berangkat, dia mengajak Brian dan kedua putranya bertemu.Sebuah amplop disodorkan di depan Brian. "Ini uang tunjangan untuk Nathan dan Nolan," ucap Susana perlahan.Kilatan di mata Brian dan kedua putranya telah sirna sepenuhnya.Brian membukanya, dan di dalamnya terdapat sebuah kartu bank.Nathan menatap kartu itu, lalu tiba-tiba berdiri, suaranya penuh amarah. "Aku nggak butuh uangmu. Karena kamu sudah nggak menginginkan kami lagi, mengapa kamu masih berpura-pura baik dengan menawarkan uang!"Nolan mengerutkan bibir, dadanya naik turun, matan

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 21

    Hubungan Susana dan Petra telah resmi dikonfirmasi. Selagi mereka ada di Kota Porus, Susana langsung membawa Petra kembali ke kediaman Septino untuk bertemu orang tuanya.Petra adalah mitra bisnis Susana. Orang tua Susana sangat puas dengannya.Namun, memikirkan situasi putrinya, mereka kembali khawatir dan kemudian menanyakan pendapat keluarganya Petra.Petra memahami kekhawatiran orang tua Susana, lalu berkata sambil tersenyum, "Om, Tante, orang tuaku telah meninggal dunia ketika aku masih kecil. Aku satu-satunya yang tersisa di keluarga sekarang. Aku bertanggung jawab atas pernikahanku sendiri. Jangan khawatir Susana akan menerima perlakuan buruk saat bersama denganku."Susana tersenyum dan menjawab, "Ayah, Ibu, jangan khawatir. Aku nggak akan membiarkan diriku diperlakukan secara buruk lagi. Apa pun yang terjadi, aku pasti punya keberanian untuk memulai kembali!"Rio mencondongkan tubuh dan memeluknya. "Apa pun yang terjadi, aku akan selalu menemani Ibu!"Semua orang tertawa. Melih

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 20

    Brian dan kedua anaknya menghilang selama beberapa hari. Susana akhirnya membuka toko keduanya di Kota Porus.Ketiganya datang membawa keranjang bunga. Melihat Susana sibuk bekerja, Rio, si bocah cilik itu, dengan terampil menghibur para tamu.Ketiganya memasuki toko dan ingin menawarkan bantuan, tetapi Susana mengusir mereka.Di saat mereka frustasi, seorang pria tinggi dan gagah dengan aura dingin dan acuh tak acuh melewati mereka, lalu memasuki toko.Brian tanpa sadar mengerutkan kening dan menoleh."Susana."Pria itu berbicara, suaranya yang tenang mengandung kelembutan.Susana refleks mendongak. Senyum muncul di matanya. "Kamu sudah datang."Petra Giovano dengan santai berjalan ke sisinya dan mengambil alih pekerjaannya menyortir barang. Keduanya saling bertatapan, lalu tersenyum. Susana kemudian berbalik untuk menyambut para tamu.Ketika Rio melihat Petra, dia dengan gembira berlari menghampirinya dan memeluk kakinya dengan penuh kasih sayang. "Om Petra, aku sangat merindukanmu!"

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 19

    Toko pakaian Susana merupakan jaringan toko. Sebelumnya, tokonya lebih mengutamakan perluasan wilayah ke bagian selatan. Toko di Jalan Thamrin ini adalah toko pertamanya di Kota Porus.Dia akan tinggal di Kota Porus selama masa liburan ini. Selain memantau bisnis toko di Thamrin, dia juga telah mencari beberapa lokasi dan toko yang bagus. Saat ini, dia sedang melakukan negosiasi dan mendekorasi tempat-tempat tersebut.Susana sangat sibuk dan tidak berada di toko setiap hari.Namun setiap kali dia berada di toko, dia akan melihat Nathan dan Nolan berjaga di pintu.Manajer toko mengerutkan kening dan melaporkan, "Bos, dua anak ini selalu berjaga di depan pintu. Meski sudah kami usir, mereka masih nggak mau pergi. Mereka bilang mereka datang mencari Anda."Susana mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.Saat waktu makan siang tiba, keduanya masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi dan bahkan tidak makan siang, melainkan menatapnya dengan iba melalui jendela toko. Susana akhirnya men

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 18

    Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun bergegas masuk, mendorong Nathan ke samping, dan merentangkan tangannya untuk melindungi Susana di belakangnya.Dia menatap ketiga pria di depannya, menelan ludahnya, dan tak lupa mengingatkan Susana. "Ibu, jangan takut. Kalau kami berkelahi nanti, Ibu langsung saja lari ke kantor polisi! Nggak usah khawatir, aku jago berkelahi kok!"Susana menatap Rio Septino yang berdiri di depannya. Hatinya luluh sepenuhnya.Dia menggenggam tangan Rio dan menghiburnya sambil tersenyum. "Nggak apa-apa, Rio. Ibu kenal mereka ...."Nathan dan Nolan menatap Rio dengan tajam. Tatapan mereka nyaris menyemburkan api. Keduanya menggertakkan gigi sambil berteriak, "Siapa kamu? Kami baru putra kandung Ibu!"Brian juga menggertakkan giginya dan menatap tajam Rio. Dia menarik Nathan dan Nolan yang marah ke belakangnya. Suaranya yang dalam dipenuhi amarah. "Susana, Nathan dan Nolan baru putra kandungmu. Anak siapa ini?""Kamu sudah menikah?"Rio refleks meliri

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 17

    Nathan dan Nolan, yang mengantre di depannya, berbalik dan melihat Brian bergegas menuju toko pakaian di sebelah.Tanpa ragu sedikit pun, keduanya langsung berlari dan mengikutinya.Bel di pintu kaca berdering nyaring. Susana mendongak sambil tersenyum."Selamat da ....""Susana!""Ibu!"Brian beserta Nathan dan Nolan berdiri di depannya, menatapnya lekat-lekat.Senyum Susana langsung membeku dan perlahan memudar.Mata Brian dan kedua anak itu tampak berkaca-kaca. Brian kemudian mengulurkan tangan dan menariknya keluar, suaranya sedikit serak. "Susana, betapa kejamnya dirimu.""Ibu, kami sangat merindukanmu ...."Tatapan Susana dengan cepat melewati Brian, terpaku sejenak pada Nathan dan Nolan, lalu teralihkan dengan sendirinya.Ekspresinya tetap tidak berubah. Suaranya sopan, tetapi dingin. "Tempat ini menjual pakaian wanita. Silakan pergi."Nathan dan Nolan terkejut. Mereka menatap Susana dengan tidak percaya.Brian mengerutkan bibir. Matanya dipenuhi emosi yang kompleks. "Susana, ka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status