แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Fryda
"Apa yang Ibu lakukan?"

Nathan dan Nolan bergegas masuk. Melihat pakaian mereka dilemparkan ke dalam tungku bakar, mereka mendorong Susana dengan kasar, lalu merebut pakaian itu dari tangannya.

"Keterlaluan sekali!" teriak Nathan. "Hanya karena kami memuji pakaian yang dibeli Tante Emily bagus, kamu langsung membakar semua pakaian kami?"

"Kami nggak punya ibu berpikiran sempit sepertimu! Baju yang Tante Emily beli memang lebih bagus! Ribuan lipat lebih bagus daripada baju yang kamu buat!" teriak Nolan.

Emily melangkah maju dan menghentikan kedua anak itu. Air mata tampak menggenang di matanya. "Maafkan aku, Nona Susana. Nggak seharusnya aku membelikan mereka pakaian ...."

Rahang Brian mengeras. Matanya memancarkan ekspresi sakit hati. Dia mengulurkan tangan dan menyeka air mata di wajah wanita itu. "Emily, kamu nggak melakukan kesalahan apa pun. Kamu nggak perlu minta maaf."

"Susana, minta maaf!"

Matahari terbenam dan cahaya api menyinari wajah Susana dengan warna merah tua, tetapi mata wanita itu hanya memancarkan hawa dingin yang tak tergoyahkan.

Dia menatap keempat orang itu selama beberapa detik, lalu tertawa mengejek.

Dia membungkuk, melemparkan semua pakaian yang tersisa ke dalam tungku bakar, lalu berbalik dan kembali ke kamarnya, membanting pintu hingga tertutup.

Tak lama kemudian, teriakan Nathan dan Nolan terdengar dari luar.

"Di mana bantal hias di atas tempat tidurku?"

"Boneka yang kumainkan dari kecil hilang!"

"Kuda goyang kami! Karung pasir! Gasing! Capung bambu!"

Tangisan kedua anak itu sangat menyayat hati. "Mainan dan pakaian kami semuanya hilang! Ayah, kami nggak mau ibu jahat ini lagi ...."

Cahaya di dalam ruangan perlahan meredup, menyisakan kilauan samar.

Susana duduk di lantai dengan lutut ditekuk ke dada. Ekspresinya tampak hampa.

Jantungnya seolah dicengkeram erat oleh dua tangan besar. Rasa sakit itu begitu mencekik.

"Susana, buka pintu!"

Brian mengetuk pintu beberapa kali, suaranya dipenuhi amarah yang mendalam.

Dia memutar kenop pintu dengan kuat. "Keluar! Kita perlu bicara!"

"Kalau memang ada masalah, kita harus selesaikan. Jangan merengek seperti anak berusia tiga tahun!"

"Susana, Nathan dan Nolan itu anak-anakmu. Apa kamu pantas menjadi seorang ibu setelah melakukan hal-hal ini?"

Pintu tiba-tiba terbuka. Susana tampak sangat lelah.

Matanya seperti kolam yang tenang dan suaranya terdengar tenang. "Aku nggak pantas. Emily yang lebih pantas."

Napas Brian tercekat, jari-jarinya tanpa sadar mengepal. "Apa maksudmu?"

"Makna harfiah. "Susana menatap mata Brian yang biasanya acuh tak acuh. "Brian, akulah yang berangan-angan selama bertahun-tahun ini. Karena kalian begitu menyukai Emily, aku akan mengalah dan mengabulkan keinginan kalian."

"Susana!" Mata Brian menajam. "Nathan dan Nolan itu putramu!"

Brian mengambil napas dalam-dalam. "Aku sudah jelaskan beberapa hal kepadamu sebelum kita menikah. Aku sudah memberimu pernikahan, anak-anak, dan status. Apa lagi yang kamu inginkan?"

Susana memejamkan matanya erat-erat. Pernikahan, anak-anak, dan status. Di kehidupan sebelumnya, dia telah menyia-nyiakan hidupnya karena hal-hal ini, karena dendam yang tak bisa dia telan.

Air mata menggenang di matanya. "Brian, aku nggak menginginkan semua itu lagi. Kita ...."

"Baguslah kalau begitu!" Nathan dan Nolan bergegas menghampiri, mengepalkan tangan dan meneriakinya. "Kamu nggak bisa cari uang, nggak tahu apa-apa selain mengurus pekerjaan rumah tangga, kamu mengatur kami mengerjakan PR, nggak mengizinkan kami menonton TV, dan nggak mengizinkan kami bermain. Kamu sama sekali nggak pantas menjadi ibu kami!"

"Yang kami inginkan adalah seorang ibu yang cantik, lembut, dan bisa menari seperti Tante Emily!"

"Baiklah." Susana menatap mereka berdua, suaranya terdengar serak. "Nathan, Nolan, keinginan kalian akan segera terkabulkan."

Brian mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu ...."

"Brak!"

Pintu dibanting hingga tertutup.

Susana bersandar di pintu. Air mata mengalir di wajahnya.

Dia menurunkan kelopak matanya, tubuhnya perlahan merosot menuruni pintu, suaranya begitu pelan hingga hampir tak terdengar.

"Brian, kali ini, aku nggak menginginkan apa pun lagi."

"Aku juga nggak menginginkanmu lagi."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 22

    Brian dan kedua putranya tidak lagi pergi mengganggu Susana.Namun selama masa liburan ini, mereka akan pergi ke Jalan Thamrin setiap hari. Hanya untuk melihat sekilas Susana dari kejauhan, dan itu sudah cukup bagi mereka.Hari-hari Susana tetap sibuk dan penuh makna. Semua toko cabangnya di Kota Porus telah dibuka dan beroperasi dengan lancar.Saat liburan sekolah hampir berakhir, Susana bersiap untuk membawa Rio kembali ke Kota Goron. Sebelum berangkat, dia mengajak Brian dan kedua putranya bertemu.Sebuah amplop disodorkan di depan Brian. "Ini uang tunjangan untuk Nathan dan Nolan," ucap Susana perlahan.Kilatan di mata Brian dan kedua putranya telah sirna sepenuhnya.Brian membukanya, dan di dalamnya terdapat sebuah kartu bank.Nathan menatap kartu itu, lalu tiba-tiba berdiri, suaranya penuh amarah. "Aku nggak butuh uangmu. Karena kamu sudah nggak menginginkan kami lagi, mengapa kamu masih berpura-pura baik dengan menawarkan uang!"Nolan mengerutkan bibir, dadanya naik turun, matan

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 21

    Hubungan Susana dan Petra telah resmi dikonfirmasi. Selagi mereka ada di Kota Porus, Susana langsung membawa Petra kembali ke kediaman Septino untuk bertemu orang tuanya.Petra adalah mitra bisnis Susana. Orang tua Susana sangat puas dengannya.Namun, memikirkan situasi putrinya, mereka kembali khawatir dan kemudian menanyakan pendapat keluarganya Petra.Petra memahami kekhawatiran orang tua Susana, lalu berkata sambil tersenyum, "Om, Tante, orang tuaku telah meninggal dunia ketika aku masih kecil. Aku satu-satunya yang tersisa di keluarga sekarang. Aku bertanggung jawab atas pernikahanku sendiri. Jangan khawatir Susana akan menerima perlakuan buruk saat bersama denganku."Susana tersenyum dan menjawab, "Ayah, Ibu, jangan khawatir. Aku nggak akan membiarkan diriku diperlakukan secara buruk lagi. Apa pun yang terjadi, aku pasti punya keberanian untuk memulai kembali!"Rio mencondongkan tubuh dan memeluknya. "Apa pun yang terjadi, aku akan selalu menemani Ibu!"Semua orang tertawa. Melih

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 20

    Brian dan kedua anaknya menghilang selama beberapa hari. Susana akhirnya membuka toko keduanya di Kota Porus.Ketiganya datang membawa keranjang bunga. Melihat Susana sibuk bekerja, Rio, si bocah cilik itu, dengan terampil menghibur para tamu.Ketiganya memasuki toko dan ingin menawarkan bantuan, tetapi Susana mengusir mereka.Di saat mereka frustasi, seorang pria tinggi dan gagah dengan aura dingin dan acuh tak acuh melewati mereka, lalu memasuki toko.Brian tanpa sadar mengerutkan kening dan menoleh."Susana."Pria itu berbicara, suaranya yang tenang mengandung kelembutan.Susana refleks mendongak. Senyum muncul di matanya. "Kamu sudah datang."Petra Giovano dengan santai berjalan ke sisinya dan mengambil alih pekerjaannya menyortir barang. Keduanya saling bertatapan, lalu tersenyum. Susana kemudian berbalik untuk menyambut para tamu.Ketika Rio melihat Petra, dia dengan gembira berlari menghampirinya dan memeluk kakinya dengan penuh kasih sayang. "Om Petra, aku sangat merindukanmu!"

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 19

    Toko pakaian Susana merupakan jaringan toko. Sebelumnya, tokonya lebih mengutamakan perluasan wilayah ke bagian selatan. Toko di Jalan Thamrin ini adalah toko pertamanya di Kota Porus.Dia akan tinggal di Kota Porus selama masa liburan ini. Selain memantau bisnis toko di Thamrin, dia juga telah mencari beberapa lokasi dan toko yang bagus. Saat ini, dia sedang melakukan negosiasi dan mendekorasi tempat-tempat tersebut.Susana sangat sibuk dan tidak berada di toko setiap hari.Namun setiap kali dia berada di toko, dia akan melihat Nathan dan Nolan berjaga di pintu.Manajer toko mengerutkan kening dan melaporkan, "Bos, dua anak ini selalu berjaga di depan pintu. Meski sudah kami usir, mereka masih nggak mau pergi. Mereka bilang mereka datang mencari Anda."Susana mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.Saat waktu makan siang tiba, keduanya masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi dan bahkan tidak makan siang, melainkan menatapnya dengan iba melalui jendela toko. Susana akhirnya men

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 18

    Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun bergegas masuk, mendorong Nathan ke samping, dan merentangkan tangannya untuk melindungi Susana di belakangnya.Dia menatap ketiga pria di depannya, menelan ludahnya, dan tak lupa mengingatkan Susana. "Ibu, jangan takut. Kalau kami berkelahi nanti, Ibu langsung saja lari ke kantor polisi! Nggak usah khawatir, aku jago berkelahi kok!"Susana menatap Rio Septino yang berdiri di depannya. Hatinya luluh sepenuhnya.Dia menggenggam tangan Rio dan menghiburnya sambil tersenyum. "Nggak apa-apa, Rio. Ibu kenal mereka ...."Nathan dan Nolan menatap Rio dengan tajam. Tatapan mereka nyaris menyemburkan api. Keduanya menggertakkan gigi sambil berteriak, "Siapa kamu? Kami baru putra kandung Ibu!"Brian juga menggertakkan giginya dan menatap tajam Rio. Dia menarik Nathan dan Nolan yang marah ke belakangnya. Suaranya yang dalam dipenuhi amarah. "Susana, Nathan dan Nolan baru putra kandungmu. Anak siapa ini?""Kamu sudah menikah?"Rio refleks meliri

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 17

    Nathan dan Nolan, yang mengantre di depannya, berbalik dan melihat Brian bergegas menuju toko pakaian di sebelah.Tanpa ragu sedikit pun, keduanya langsung berlari dan mengikutinya.Bel di pintu kaca berdering nyaring. Susana mendongak sambil tersenyum."Selamat da ....""Susana!""Ibu!"Brian beserta Nathan dan Nolan berdiri di depannya, menatapnya lekat-lekat.Senyum Susana langsung membeku dan perlahan memudar.Mata Brian dan kedua anak itu tampak berkaca-kaca. Brian kemudian mengulurkan tangan dan menariknya keluar, suaranya sedikit serak. "Susana, betapa kejamnya dirimu.""Ibu, kami sangat merindukanmu ...."Tatapan Susana dengan cepat melewati Brian, terpaku sejenak pada Nathan dan Nolan, lalu teralihkan dengan sendirinya.Ekspresinya tetap tidak berubah. Suaranya sopan, tetapi dingin. "Tempat ini menjual pakaian wanita. Silakan pergi."Nathan dan Nolan terkejut. Mereka menatap Susana dengan tidak percaya.Brian mengerutkan bibir. Matanya dipenuhi emosi yang kompleks. "Susana, ka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status