Compartir

Bab 6

Autor: Fryda
Sore berikutnya, Susana mengemasi barang-barangnya, bersiap untuk kembali ke kediaman Septino untuk bermalam sebelum pergi mengurus akta cerai.

Brian tiba-tiba masuk bersama Emily. Wajah pria itu menunjukkan kecemasan yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.

"Guru bilang kamu membawa Nathan dan Nolan pulang tadi siang?"

"Apa?" Susana terdiam sejenak. "Nggak ada."

Brian meraih pergelangan tangannya. Matanya menajam. "Guru bilang kamu menelepon sekolah siang ini dan menyuruh mereka berdua pulang, tapi mereka masih belum kembali ke sekolah sampai sekarang!"

Emily bergegas menghampiri dengan air mata berlinang di wajahnya. "Nona Susana, aku tahu kamu kesal pagi ini ketika mendengar aku akan menghadiri pertemuan orang tua dan guru bersama Brian. Apa kamu menyembunyikan mereka?"

"Susana!" Brian meremas pergelangan tangan Susana dengan kuat, membuatnya meringis. "Kedua anak itu memang menyukai Emily, tapi kedekatan mereka nggak akan memengaruhi statusmu. Mengapa kamu harus menggunakan taktik seperti ini!"

"Di mana kamu menyembunyikan mereka?"

"Aku nggak menyembunyikan mereka." Susana mengerutkan kening, jantungnya berdebar kencang, dan suaranya menjadi mendesak. "Aku nggak menelepon sekolah. Aku juga nggak pergi menjemput anak-anak. Apa sesuatu telah terjadi pada mereka?"

Brian menatapnya lekat-lekat. Melihat dia benar-benar cemas, pria itu baru melepaskannya.

"Cepat temukan mereka! Aku akan pergi lapor polisi."

Pria itu meraih tangan Emily dan bergegas turun. Mobilnya terparkir di depan pintu. Keduanya masuk dan melaju pergi.

Susana juga bergegas keluar dengan cemas. Jantungnya berdebar kencang, tubuhnya terasa lemas, dan nyaris tidak bisa berdiri.

Dia menggigit bibirnya, memaksakan dirinya untuk tenang, dan mengerahkan tetangga di sekitarnya untuk membantu menemukan anak-anaknya. Kemudian, dia mengendarai sepeda menyusuri tempat-tempat yang biasanya dilewati kakak beradik itu, mencari satu per satu, dan terus-menerus memanggil nama mereka.

Dunianya tiba-tiba kehilangan warna dan menjadi sunyi. Pikirannya hanya dipenuhi dengan bayangan kedua anaknya.

Rupa mereka sewaktu baru lahir, rupa mereka sewaktu mengoceh, rupa mereka sewaktu mengambil langkah pertama mereka, rupa mereka sewaktu mengatakan akan melindunginya.

Sekalipun mereka tidak menyukainya, tidak berbakti kepadanya, sekalipun dia telah memutuskan untuk tidak lagi menyayangi mereka.

Namun, dia juga seorang ibu. Meski ingin memutuskan hubungan dengan anak-anaknya, dia juga berharap mereka akan memiliki kehidupan yang damai.

Susana menangis, seluruh tubuhnya gemetar. Dia terus mengayuh sepedanya untuk mencari.

Setelah mencari di sekeliling, dia pun pergi ke hutan di pinggiran kota dan menyusuri di sepanjang sungai untuk waktu yang sangat lama.

Dia tidak berhenti sampai hari gelap sepenuhnya. Tubuhnya dipenuhi keringat, dan juga kelelahan, sebelum akhirnya dia berhenti dan memulai perjalanan pulang.

Dia ingin pulang dan memeriksa situasi.

Saat sepeda diparkir di depan pintu, rumah itu terang benderang. Tawa Nathan dan Nolan terdengar dari dalam.

Jantung Susana tiba-tiba berdebar kencang. Dia menghela napas lega, menggerakkan tangan dan kakinya yang dingin serta mati rasa, lalu mendorong pintu hingga terbuka untuk masuk ke dalam.

Suasana menegang.

Sebuah cangkir keramik pecah di samping kakinya.

"Susana! Kamu masih berani pulang!"

Nathan dan Nolan bersembunyi di belakang Emily. "Tante Emily, lindungi kami. Ibu sengaja mengurung kami dan bilang dia nggak akan membiarkan kami bertemu denganmu lagi!"

"Apa?"

Kata-kata itu menghantam Susana bagai petir di siang bolong. Kepalanya berdenyut. Yang bisa didengarnya hanyalah suara ledakan yang menusuk telinga.

Susana menatap Nathan dan Nolan dengan tatapan kosong. "Apa yang kalian bicarakan?"

"Kamulah pelakunya!" Nathan menunjuk ke arahnya. "Kamulah yang menjemput kami siang tadi dan mengunci kami di gudang terbengkalai di pinggiran barat kota. Kamu bilang kamu nggak akan membiarkan kami keluar sampai kami mengakui kesalahan kami!"

"Kamu juga bilang kami nggak boleh bersama Tante Emily lagi, dan Ayah hanya boleh menjadi milikmu!" kata Nolan sambil berkacak pinggang.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 22

    Brian dan kedua putranya tidak lagi pergi mengganggu Susana.Namun selama masa liburan ini, mereka akan pergi ke Jalan Thamrin setiap hari. Hanya untuk melihat sekilas Susana dari kejauhan, dan itu sudah cukup bagi mereka.Hari-hari Susana tetap sibuk dan penuh makna. Semua toko cabangnya di Kota Porus telah dibuka dan beroperasi dengan lancar.Saat liburan sekolah hampir berakhir, Susana bersiap untuk membawa Rio kembali ke Kota Goron. Sebelum berangkat, dia mengajak Brian dan kedua putranya bertemu.Sebuah amplop disodorkan di depan Brian. "Ini uang tunjangan untuk Nathan dan Nolan," ucap Susana perlahan.Kilatan di mata Brian dan kedua putranya telah sirna sepenuhnya.Brian membukanya, dan di dalamnya terdapat sebuah kartu bank.Nathan menatap kartu itu, lalu tiba-tiba berdiri, suaranya penuh amarah. "Aku nggak butuh uangmu. Karena kamu sudah nggak menginginkan kami lagi, mengapa kamu masih berpura-pura baik dengan menawarkan uang!"Nolan mengerutkan bibir, dadanya naik turun, matan

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 21

    Hubungan Susana dan Petra telah resmi dikonfirmasi. Selagi mereka ada di Kota Porus, Susana langsung membawa Petra kembali ke kediaman Septino untuk bertemu orang tuanya.Petra adalah mitra bisnis Susana. Orang tua Susana sangat puas dengannya.Namun, memikirkan situasi putrinya, mereka kembali khawatir dan kemudian menanyakan pendapat keluarganya Petra.Petra memahami kekhawatiran orang tua Susana, lalu berkata sambil tersenyum, "Om, Tante, orang tuaku telah meninggal dunia ketika aku masih kecil. Aku satu-satunya yang tersisa di keluarga sekarang. Aku bertanggung jawab atas pernikahanku sendiri. Jangan khawatir Susana akan menerima perlakuan buruk saat bersama denganku."Susana tersenyum dan menjawab, "Ayah, Ibu, jangan khawatir. Aku nggak akan membiarkan diriku diperlakukan secara buruk lagi. Apa pun yang terjadi, aku pasti punya keberanian untuk memulai kembali!"Rio mencondongkan tubuh dan memeluknya. "Apa pun yang terjadi, aku akan selalu menemani Ibu!"Semua orang tertawa. Melih

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 20

    Brian dan kedua anaknya menghilang selama beberapa hari. Susana akhirnya membuka toko keduanya di Kota Porus.Ketiganya datang membawa keranjang bunga. Melihat Susana sibuk bekerja, Rio, si bocah cilik itu, dengan terampil menghibur para tamu.Ketiganya memasuki toko dan ingin menawarkan bantuan, tetapi Susana mengusir mereka.Di saat mereka frustasi, seorang pria tinggi dan gagah dengan aura dingin dan acuh tak acuh melewati mereka, lalu memasuki toko.Brian tanpa sadar mengerutkan kening dan menoleh."Susana."Pria itu berbicara, suaranya yang tenang mengandung kelembutan.Susana refleks mendongak. Senyum muncul di matanya. "Kamu sudah datang."Petra Giovano dengan santai berjalan ke sisinya dan mengambil alih pekerjaannya menyortir barang. Keduanya saling bertatapan, lalu tersenyum. Susana kemudian berbalik untuk menyambut para tamu.Ketika Rio melihat Petra, dia dengan gembira berlari menghampirinya dan memeluk kakinya dengan penuh kasih sayang. "Om Petra, aku sangat merindukanmu!"

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 19

    Toko pakaian Susana merupakan jaringan toko. Sebelumnya, tokonya lebih mengutamakan perluasan wilayah ke bagian selatan. Toko di Jalan Thamrin ini adalah toko pertamanya di Kota Porus.Dia akan tinggal di Kota Porus selama masa liburan ini. Selain memantau bisnis toko di Thamrin, dia juga telah mencari beberapa lokasi dan toko yang bagus. Saat ini, dia sedang melakukan negosiasi dan mendekorasi tempat-tempat tersebut.Susana sangat sibuk dan tidak berada di toko setiap hari.Namun setiap kali dia berada di toko, dia akan melihat Nathan dan Nolan berjaga di pintu.Manajer toko mengerutkan kening dan melaporkan, "Bos, dua anak ini selalu berjaga di depan pintu. Meski sudah kami usir, mereka masih nggak mau pergi. Mereka bilang mereka datang mencari Anda."Susana mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.Saat waktu makan siang tiba, keduanya masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi dan bahkan tidak makan siang, melainkan menatapnya dengan iba melalui jendela toko. Susana akhirnya men

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 18

    Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun bergegas masuk, mendorong Nathan ke samping, dan merentangkan tangannya untuk melindungi Susana di belakangnya.Dia menatap ketiga pria di depannya, menelan ludahnya, dan tak lupa mengingatkan Susana. "Ibu, jangan takut. Kalau kami berkelahi nanti, Ibu langsung saja lari ke kantor polisi! Nggak usah khawatir, aku jago berkelahi kok!"Susana menatap Rio Septino yang berdiri di depannya. Hatinya luluh sepenuhnya.Dia menggenggam tangan Rio dan menghiburnya sambil tersenyum. "Nggak apa-apa, Rio. Ibu kenal mereka ...."Nathan dan Nolan menatap Rio dengan tajam. Tatapan mereka nyaris menyemburkan api. Keduanya menggertakkan gigi sambil berteriak, "Siapa kamu? Kami baru putra kandung Ibu!"Brian juga menggertakkan giginya dan menatap tajam Rio. Dia menarik Nathan dan Nolan yang marah ke belakangnya. Suaranya yang dalam dipenuhi amarah. "Susana, Nathan dan Nolan baru putra kandungmu. Anak siapa ini?""Kamu sudah menikah?"Rio refleks meliri

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 17

    Nathan dan Nolan, yang mengantre di depannya, berbalik dan melihat Brian bergegas menuju toko pakaian di sebelah.Tanpa ragu sedikit pun, keduanya langsung berlari dan mengikutinya.Bel di pintu kaca berdering nyaring. Susana mendongak sambil tersenyum."Selamat da ....""Susana!""Ibu!"Brian beserta Nathan dan Nolan berdiri di depannya, menatapnya lekat-lekat.Senyum Susana langsung membeku dan perlahan memudar.Mata Brian dan kedua anak itu tampak berkaca-kaca. Brian kemudian mengulurkan tangan dan menariknya keluar, suaranya sedikit serak. "Susana, betapa kejamnya dirimu.""Ibu, kami sangat merindukanmu ...."Tatapan Susana dengan cepat melewati Brian, terpaku sejenak pada Nathan dan Nolan, lalu teralihkan dengan sendirinya.Ekspresinya tetap tidak berubah. Suaranya sopan, tetapi dingin. "Tempat ini menjual pakaian wanita. Silakan pergi."Nathan dan Nolan terkejut. Mereka menatap Susana dengan tidak percaya.Brian mengerutkan bibir. Matanya dipenuhi emosi yang kompleks. "Susana, ka

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status