แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Fryda
Susana secara bertahap beradaptasi dengan kegelapan dan mengatasi rasa takutnya.

Detik demi detik dihitungnya sambil mendengarkan suara-suara di luar.

Brian beserta Nathan dan Nolan memindahkan barang-barang Emily.

Mereka bertiga memasak bersama dan membeli kue untuk menyambut kedatangan Emily.

Dia mendengar suara Brian yang lembut disertai senyuman. "Emily, aku sudah mengambil cuti dua hari. Aku akan menghabiskan dua hari ini untuk membantumu beradaptasi."

Menggelikan sekali.

Saat dia melahirkan dan ingin Brian mengambil cuti untuk menemaninya, tetapi suaminya justru berkata dengan wajah tegas, "Pekerjaanku istimewa. Aku nggak bisa sembarangan mengambil cuti. Karena kamu memilih untuk menikah denganku, seharusnya kamu sudah memprediksikan situasi seperti ini. Susana, kamu harus lebih mandiri."

Dia mendengar kedua anak itu berdebat soal membersihkan meja. "Tante Emily, tanganmu sangat cantik, nggak cocok untuk pekerjaan kasar. Kami sudah besar sekarang. Kami bisa membersihkan sendiri."

Dia mendengar mereka mendorong Emily, yang hendak mencuci pakaian, ke sofa. "Tante Emily, jangan mendekat. Jangan sampai pakaian bau itu mengganggumu."

Sambil mencuci, mereka juga tak lupa mengeluh. "Ibu sangat pemalas dan keterlaluan sekali. Dia bahkan nggak bisa dibandingkan dengan Tante Emily!"

"Emily, kedua anak sudah besar. Sudah waktunya melatih keterampilan hidup mereka. Kelak, kamu nggak perlu lagi melakukan pekerjaan rumah tangga," kata Brian sambil tersenyum.

Sungguh menggelikan.

Menggelikan sekali.

Ternyata, orang bisa punya standar ganda seperti itu.

Ternyata, semua kerja kerasnya untuk keluarga ini selama sepuluh tahun tidak bisa dibandingkan dengan kehadiran sesaat Emily.

Susana menggigit bibir bawahnya dengan keras, mendengarkan suara-suara dari luar seolah sedang menyiksa diri sendiri.

Dia akhirnya tak kuasa menahan tawanya lagi. Tawa itu perlahan berubah menjadi isak tangis, diikuti oleh tetesan air mata.

Dua hari kemudian, Susana, yang pusing karena kelaparan, akhirnya dibebaskan.

Brian dan kedua anaknya mengenakan pakaian kasual dengan warna yang senada dengan gaun Emily. Mereka tampak seperti satu keluarga yang harmonis.

Namun, pria itu tetap melayangkan tatapan dingin padanya. "Mari kita lupakan masalah ini. Mulai sekarang, lakukan pekerjaanmu dengan baik dan jangan membuat masalah lagi."

Kedua anak itu memegang tangan Emily dan melompat-lompat kegirangan. "Ibu, lihat! Baju yang dibeli Tante Emily bagus sekali! Bahkan jauh lebih bagus daripada buatan Ibu!"

"Ayah, Tante Emily, ayo pergi! Aku ingin pergi ke taman hiburan yang baru dibuka itu!"

Keempatnya berbalik dan pergi, tawa mereka bergema sangat jauh.

Susana baru menarik pandangannya ketika bayangan mereka tidak terlihat lagi.

Hanya dalam dua hari, ruang tamu telah berubah total.

Sofa yang menjadi bagian dari maharnya, telah diganti dengan sofa kulit asli yang trendi.

Bantal dan ornamen buatan tangannya telah disingkirkan sepenuhnya dan diganti dengan gaya elegan yang disukai Emily.

Rumah yang dia dekorasi dengan susah payah itu kini dipenuhi dengan jejak Emily.

Satu-satunya yang masih tersisa adalah foto pernikahannya dengan Brian di lemari TV.

Dalam foto itu, dia tersenyum cerah, sementara mata Brian dipenuhi raut sedih.

Susana hanya meliriknya sekilas sebelum membuka bingkai, mengeluarkan foto, dan merobeknya hingga hancur berkeping-keping.

Dia menyiapkan makanan sederhana untuk dirinya sendiri, merapikan diri, lalu mulai mengemasi barang-barangnya.

Dia membereskan setiap sudut rumah, mengeluarkan dan membuang satu per satu barang yang dulunya dia persiapkan dengan cermat itu.

Yang terakhir dia bereskan adalah pakaian Brian dan dua putranya.

Dalam sepuluh tahun pernikahan mereka, hampir semua pakaian mereka merupakan hasil buatannya sendiri.

Karena tidak sebaik yang dibeli Emily, maka tidak perlu disimpan lagi.

Dia membereskan pakaian yang dibuatnya sendiri, memindahkan tungku bakar ke halaman, dan melemparkan satu per satu pakaian ke dalamnya.

Baik itu kemeja pertama yang dia buat untuk Brian setelah pernikahan mereka, pakaian dalam pertama yang dia buat sambil tersipu malu, semuanya hangus terbakar.

Pakaian Nathan dan Nolan bahkan lebih banyak lagi. Di dalamnya juga ada pakaian bayi, selimut bayi, dan sepatu berkepala harimau yang telah dia siapkan sejak hamil, semuanya hangus terbakar.

Dia membakar ratusan pakaian yang telah dibuatnya selama lebih dari sepuluh tahun itu.

Asap memenuhi langit.

Gerbang halaman tiba-tiba didobrak dengan keras. Tatapan Brian menunjukkan sedikit kecemasan, yang kemudian langsung membeku.

Pupil matanya menyempit saat menatap pakaian yang masih terbakar.

"Apa yang kamu lakukan?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 22

    Brian dan kedua putranya tidak lagi pergi mengganggu Susana.Namun selama masa liburan ini, mereka akan pergi ke Jalan Thamrin setiap hari. Hanya untuk melihat sekilas Susana dari kejauhan, dan itu sudah cukup bagi mereka.Hari-hari Susana tetap sibuk dan penuh makna. Semua toko cabangnya di Kota Porus telah dibuka dan beroperasi dengan lancar.Saat liburan sekolah hampir berakhir, Susana bersiap untuk membawa Rio kembali ke Kota Goron. Sebelum berangkat, dia mengajak Brian dan kedua putranya bertemu.Sebuah amplop disodorkan di depan Brian. "Ini uang tunjangan untuk Nathan dan Nolan," ucap Susana perlahan.Kilatan di mata Brian dan kedua putranya telah sirna sepenuhnya.Brian membukanya, dan di dalamnya terdapat sebuah kartu bank.Nathan menatap kartu itu, lalu tiba-tiba berdiri, suaranya penuh amarah. "Aku nggak butuh uangmu. Karena kamu sudah nggak menginginkan kami lagi, mengapa kamu masih berpura-pura baik dengan menawarkan uang!"Nolan mengerutkan bibir, dadanya naik turun, matan

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 21

    Hubungan Susana dan Petra telah resmi dikonfirmasi. Selagi mereka ada di Kota Porus, Susana langsung membawa Petra kembali ke kediaman Septino untuk bertemu orang tuanya.Petra adalah mitra bisnis Susana. Orang tua Susana sangat puas dengannya.Namun, memikirkan situasi putrinya, mereka kembali khawatir dan kemudian menanyakan pendapat keluarganya Petra.Petra memahami kekhawatiran orang tua Susana, lalu berkata sambil tersenyum, "Om, Tante, orang tuaku telah meninggal dunia ketika aku masih kecil. Aku satu-satunya yang tersisa di keluarga sekarang. Aku bertanggung jawab atas pernikahanku sendiri. Jangan khawatir Susana akan menerima perlakuan buruk saat bersama denganku."Susana tersenyum dan menjawab, "Ayah, Ibu, jangan khawatir. Aku nggak akan membiarkan diriku diperlakukan secara buruk lagi. Apa pun yang terjadi, aku pasti punya keberanian untuk memulai kembali!"Rio mencondongkan tubuh dan memeluknya. "Apa pun yang terjadi, aku akan selalu menemani Ibu!"Semua orang tertawa. Melih

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 20

    Brian dan kedua anaknya menghilang selama beberapa hari. Susana akhirnya membuka toko keduanya di Kota Porus.Ketiganya datang membawa keranjang bunga. Melihat Susana sibuk bekerja, Rio, si bocah cilik itu, dengan terampil menghibur para tamu.Ketiganya memasuki toko dan ingin menawarkan bantuan, tetapi Susana mengusir mereka.Di saat mereka frustasi, seorang pria tinggi dan gagah dengan aura dingin dan acuh tak acuh melewati mereka, lalu memasuki toko.Brian tanpa sadar mengerutkan kening dan menoleh."Susana."Pria itu berbicara, suaranya yang tenang mengandung kelembutan.Susana refleks mendongak. Senyum muncul di matanya. "Kamu sudah datang."Petra Giovano dengan santai berjalan ke sisinya dan mengambil alih pekerjaannya menyortir barang. Keduanya saling bertatapan, lalu tersenyum. Susana kemudian berbalik untuk menyambut para tamu.Ketika Rio melihat Petra, dia dengan gembira berlari menghampirinya dan memeluk kakinya dengan penuh kasih sayang. "Om Petra, aku sangat merindukanmu!"

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 19

    Toko pakaian Susana merupakan jaringan toko. Sebelumnya, tokonya lebih mengutamakan perluasan wilayah ke bagian selatan. Toko di Jalan Thamrin ini adalah toko pertamanya di Kota Porus.Dia akan tinggal di Kota Porus selama masa liburan ini. Selain memantau bisnis toko di Thamrin, dia juga telah mencari beberapa lokasi dan toko yang bagus. Saat ini, dia sedang melakukan negosiasi dan mendekorasi tempat-tempat tersebut.Susana sangat sibuk dan tidak berada di toko setiap hari.Namun setiap kali dia berada di toko, dia akan melihat Nathan dan Nolan berjaga di pintu.Manajer toko mengerutkan kening dan melaporkan, "Bos, dua anak ini selalu berjaga di depan pintu. Meski sudah kami usir, mereka masih nggak mau pergi. Mereka bilang mereka datang mencari Anda."Susana mengangguk dan melanjutkan pekerjaannya.Saat waktu makan siang tiba, keduanya masih tidak menunjukkan tanda-tanda akan pergi dan bahkan tidak makan siang, melainkan menatapnya dengan iba melalui jendela toko. Susana akhirnya men

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 18

    Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun bergegas masuk, mendorong Nathan ke samping, dan merentangkan tangannya untuk melindungi Susana di belakangnya.Dia menatap ketiga pria di depannya, menelan ludahnya, dan tak lupa mengingatkan Susana. "Ibu, jangan takut. Kalau kami berkelahi nanti, Ibu langsung saja lari ke kantor polisi! Nggak usah khawatir, aku jago berkelahi kok!"Susana menatap Rio Septino yang berdiri di depannya. Hatinya luluh sepenuhnya.Dia menggenggam tangan Rio dan menghiburnya sambil tersenyum. "Nggak apa-apa, Rio. Ibu kenal mereka ...."Nathan dan Nolan menatap Rio dengan tajam. Tatapan mereka nyaris menyemburkan api. Keduanya menggertakkan gigi sambil berteriak, "Siapa kamu? Kami baru putra kandung Ibu!"Brian juga menggertakkan giginya dan menatap tajam Rio. Dia menarik Nathan dan Nolan yang marah ke belakangnya. Suaranya yang dalam dipenuhi amarah. "Susana, Nathan dan Nolan baru putra kandungmu. Anak siapa ini?""Kamu sudah menikah?"Rio refleks meliri

  • Bunga yang Telah Mekar Enam Puluh Kali   Bab 17

    Nathan dan Nolan, yang mengantre di depannya, berbalik dan melihat Brian bergegas menuju toko pakaian di sebelah.Tanpa ragu sedikit pun, keduanya langsung berlari dan mengikutinya.Bel di pintu kaca berdering nyaring. Susana mendongak sambil tersenyum."Selamat da ....""Susana!""Ibu!"Brian beserta Nathan dan Nolan berdiri di depannya, menatapnya lekat-lekat.Senyum Susana langsung membeku dan perlahan memudar.Mata Brian dan kedua anak itu tampak berkaca-kaca. Brian kemudian mengulurkan tangan dan menariknya keluar, suaranya sedikit serak. "Susana, betapa kejamnya dirimu.""Ibu, kami sangat merindukanmu ...."Tatapan Susana dengan cepat melewati Brian, terpaku sejenak pada Nathan dan Nolan, lalu teralihkan dengan sendirinya.Ekspresinya tetap tidak berubah. Suaranya sopan, tetapi dingin. "Tempat ini menjual pakaian wanita. Silakan pergi."Nathan dan Nolan terkejut. Mereka menatap Susana dengan tidak percaya.Brian mengerutkan bibir. Matanya dipenuhi emosi yang kompleks. "Susana, ka

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status