MasukSetelah berhasil menegosiasikan proyek senilai 200 miliar untuk perusahaan, aku bersiap menerima bonus 600 juta untuk mengganti mobil baru. Namun, suamiku yang seorang presdir, Xavian, malah datang membawa semangkuk bubur hangat dan slip gaji dengan angka nol di depanku. "Maaf ya, Sayang. Kerugian perusahaan benar-benar terlalu besar. Anggap saja bubur yang kubuat ini hadiah karena kamu berhasil dapatin proyek itu. Kalau kondisi keuangan perusahaan membaik, aku pasti beliin kamu mobil baru." Tak lama kemudian, aku melihat unggahan di media sosial adik kelasnya, Astrid. Suamiku yang biasanya sangat pelit ternyata bukan hanya memberikan bonus khusus 600 juta kepadanya, tetapi juga menghadiahinya sebuah BMW baru senilai 400 juta. [ Performa kerja jelek juga nggak apa-apa. Kakak kelasku pasti tetap manjain aku habis-habisan. ] Jadi ternyata, tidak punya uang hanyalah kebohongan suamiku karena dia tidak rela mengeluarkan uang untukku. Aku tidak marah ataupun membuat keributan. Aku hanya diam-diam memberi like dan komentar pada unggahan itu. [ Semoga langgeng. ] Tak lama kemudian, telepon dari Xavian masuk. Nadanya panik saat menjelaskan, "Jangan salah paham. Ibunya Astrid kena kanker, jadi aku kasih bonus khusus itu demi hubungan lama kami." "Mobil itu juga kubelikan supaya dia lebih mudah bolak-balik rumah sakit dan mengurangi waktu perjalanan, jadi dia bisa bekerja lebih baik. Semua ini kulakukan demi kepentingan perusahaan." "Gara-gara komentar sembaranganmu, semua orang jadi salah paham dan ngira Astrid pelakor. Cepat hapus komentarnya dan jelaskan semuanya. Soal bulan madu yang selama ini kamu minta, aku bakal bawa kamu pergi kok." Aku merobek slip gaji bertuliskan angka nol besar itu sampai hancur berkeping-keping. "Nggak jadi pergi. Lebih baik langsung urus perceraian di pengadilan negeri."
Lihat lebih banyakXavian terus mengoceh tanpa henti. Dia bahkan menarik tangan Maggie, lalu memukulkannya ke wajah sendiri.Perbuatannya itu membuat orang-orang di sekitar mulai memperhatikan mereka. Wajah Maggie semakin suram. Dia menarik kembali tangannya, lalu mendengus dengan jijik."Aku sudah bilang, semuanya sudah selesai. Jangan datang ganggu aku lagi."Dulu saat dia mencintai pria itu begitu dalam, Xavian justru menginjak-injak ketulusannya sampai hancur tak bersisa.Sekarang, dia sudah tidak mencintainya lagi. Lalu, atas dasar apa Xavian berpikir permintaan maaf dan usahanya untuk balikan harus diterima Maggie?Mendengar kata-kata Maggie yang begitu dingin, hati Xavian terasa seperti ditusuk pisau. Dia tahu kalau kali ini dia tidak menjelaskan semuanya, setelah ini dia tidak akan pernah punya kesempatan lagi.Xavian menggertakkan giginya, lalu mengungkapkan kebenaran yang dulu diam-diam dia dengar. "Maggie, waktu dulu aku bersamamu, memang awalnya aku mendekatimu karena keuntungan. Tapi setelah
Baru saat itu Xavian teringat betapa keterlaluan dirinya di masa lalu. Tidak heran Maggie pergi dengan hati yang hancur."Maggie, aku tahu apa pun yang kukatakan sekarang nggak akan bisa menebus luka yang pernah kamu alami. Tapi tolong percaya padaku, aku benar-benar sadar kalau aku salah.""Sekarang aku sudah tahu seluruh kebenarannya. Orang yang menyelamatkanku dulu adalah kamu. Semua kebaikanku pada Astrid cuma karena dia merebut jasamu.""Aku mengira dia penyelamatku, jadi aku selalu memihaknya. Kalau sejak awal aku tahu penyelamatku adalah kamu, aku pasti akan memperlakukanmu seperti aku memperlakukannya.""Nggak ... aku bahkan akan memperlakukanmu jauh lebih baik."Maggie hanya tertawa kecil sambil menggeleng. "Hubungan kita sebenarnya sudah bermasalah sejak awal.""Kemunculan Astrid hanya menjadi sumbu yang menyalakan semuanya. Bahkan tanpa gangguannya pun, cepat atau lambat aku tetap akan pergi."Dulu Maggie memang pernah membenci Astrid dan merasa wanita itu menghancurkan ruma
Langkah Xavian langsung membeku. Pada detik itu, dia merasa seluruh darah di tubuhnya seolah-olah berhenti mengalir.Tatapannya tertuju lekat-lekat pada anak kecil itu. Usianya tampak masih kecil, kira-kira dua tahun.Ayah anak itu menatap mereka dengan lembut. Saat melihat Xavian terus memandang, dia bahkan mengangguk dengan sopan untuk menyapanya.Maggie tidak mengatakan apa pun. Dia hanya menggendong anak itu, lalu pergi sambil mengobrol dan tertawa bersama pria tersebut.Sampai mereka berjalan cukup jauh, pria itu menoleh ke arah Xavian yang masih berdiri di tempat dengan wajah penuh kekecewaan. Dia lalu tersenyum dan bertanya kepada Maggie, "Siapa pria itu?"Tatapan Maggie sama sekali tidak mengandung emosi apa pun. "Mantan suamiku."Dalam tiga tahun ini, dia sudah melupakan semua masa lalunya. Tahun-tahun saat dia diam-diam mencintai Xavian itu .... Anggap saja dulu dia buta dan mencintai orang yang salah.Pria itu langsung menutup mulut dengan kaget. "Dia mantan suamimu? Kalau b
"Kenal.""Nggak kenal."Keduanya hampir menjawab secara bersamaan. Yang mengatakan kenal adalah Xavian, sedangkan yang berusaha mati-matian menjaga jarak adalah Maggie.Saat dua kata dingin "nggak kenal" keluar dari mulut Maggie, Xavian merasa hatinya seperti dibor hingga rasa sakitnya sulit ditahan.Menghadapi tatapan penasaran semua orang, dia membuka mulut, ingin menceritakan kisah cinta mereka yang dulu dan juga hubungan penuh luka itu.Namun pada akhirnya, ketika bertemu dengan tatapan dingin Maggie, dia menelan kembali semua kata-katanya."Ya, nggak kenal. Aku salah ingat." Dia tersenyum sambil ikut mengiakan.Namun, saat menunduk, dia akhirnya tidak lagi mampu menahan emosi yang selama ini ditekan. Air matanya langsung mengalir deras."Xavian, kenapa kamu nangis? Apa terjadi sesuatu?"Xavian mengangkat tangan menyentuh air mata di wajahnya. Namun, air mata itu terus mengalir tanpa henti seperti air sungai.Dia menerima tisu yang diberikan temannya, lalu terisak pelan. "Nggak apa
Rasa sedih hampir menelanku sepenuhnya. Ibu sudah susah payah membesarkanku seorang diri sejak kecil, tetapi aku malah membuatnya menderita seperti ini."Aku akan bawa Ibu pergi. Kita nggak akan pernah kembali lagi ke sini."Aku menghubungi kakak kelas itu, lalu menandatangani kontrak kerja. Dia jug
"Kamu tidur begitu lama dan belum makan apa pun. Aku sudah masak bubur untuk kamu. Cepat makan selagi hangat."Dia membuka kotak termos makanan. Di dalamnya ada bubur putih polos, butiran nasinya terlihat jelas, bersih tanpa sedikit pun minyak.Dia menyendok sesendok bubur, meniupnya perlahan, lalu
"Ah! Hidungku!" Astrid langsung menjerit sambil menutupi hidungnya yang bengkok karena pukulan.Melihat itu, Xavian langsung panik. Dia mendorongku dengan keras, lalu berteriak, "Ibu sendiri yang bersikeras berlutut membersihkan lantai, lalu setelah selesai malah minta upah dari kami.""Astrid cuma
Telingaku berdenging. Sambil merasakan rasa sakit yang menjalar dari pipiku, aku menatap ke arah Xavian dengan tatapan kosong.Kami sudah menikah selama tujuh tahun. Aku sudah membantunya berkali-kali dan melewati begitu banyak badai bersama. Namun, dia tidak memercayaiku.Sebaliknya, hanya karena s












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan