แชร์

Dianggap Pengemis

ผู้เขียน: Jagad
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-20 16:21:04

Perutnya terasa perih dan nyeri, bukan cuma karena kurang makan tapi juga akibat pukulan pemuda kampung tadi. Orang-orang melihat peristiwa pemukulan itu hanya dianggap candaan, sedangkan Dirga harus berdiri sendiri menuju ke dalam rumah sambil berjalan pincang. Air mata menetes pelan di sudut mata, bibirnya tersenyum getir merasakan semua penderitaan tersebut.

"Bu, anakmu ini memang tak berguna," ucap Dirga lirih, dia duduk di meja lapuk tempat biasanya sang ibu meletakkan lauk dan nasi. Dipandangi wajah ibunya dalam foto kecil berwarna hitam putih yang buram, sambil menangis sesenggukan.

Sejak ibunya meninggal, tak ada lagi yang menyediakan makanan untuknya. Dia harus berusaha sendiri dengan cara menyual telur ayam atau bebek ke rumah-rumah warga dengan bayaran seikhlasnya.

"Setidaknya uang dari Den Mas Karyo bisa aku gunakan untuk beli pakan ternak dan makan selama beberapa hari ke depan." Dirga membatin.

Tiba-tiba dari arah jendela tampak burung kecil terbang rendah lalu hinggap, mahluk bersayap mungil itu mematuk biji-bijian yang disediakan Dirga kemarin. Dirga hanya menatap sayu, ada rasa kesal di hatinya sebab gara-gara burung itu dia kena pukul dan dicemooh habis-habisan.

"Burung sialan, sudah ditolong malah membawa masalah," Dirga mengambil sapu siap untuk dipukulkan ke arah burung tersebut.

"Hiaaakh!"

"Aaakh! Tanganku!" belum sempat gagang sapu melayang, lengan Dirga nyeri luar biasa.

"Maafkan aku, Tuan. Gara-gara aku kamu jadi begitu." Suara seorang perempuan terdengar lagi meski tanpa wujud, Dirga hendak berlari karena takut namun kakinya sakit.

"Siapa?! Siapa yang ngomong barusan?!" kata Dirga yang suaranya gemetar, burung kecil itu melompat ke arah Dirga dan berdiri tepat di depannya.

"Aku akan membalas semua kebaikan kamu, Tuanku. Tak akan aku biarkan orang menghina kamu," lanjut burung kecil yang berbicara dengan bahasa manusia.

"Bu--burung ini bicara? Ya Tuhan, aku benar-benar kehilangan kewarasan!" teriak Dirga sambil meremas rambutnya.

Dak dak dak!

Pintu digedor seseorang dari luar, burung pipit terbang dan bersembunyi di balik keranjang sayur.

"Kita ketemu juga, aku capek nunggu kamu dari pagi." Kemudian muncul anak buah Pak Wira yang berjalan dengan langkah tenang menghampiri Dirga. Salah satu dari mereka bernama Joko, tukang tagih hutang yang memliki bekas bacokan pada bagian wajah. Joko ini terkenal kejam, tak segan menagih dengan cara kekerasan.

"Aku dengar kamu dapat uang dari Den Mas Karyo? Kami ke sini untuk ambil uang itu, anggap aja untuk nyicil bunga pinjaman waktu itu," ujar Joko.

"Cuma sedikit, itu juga mau buat beli pakan bebek dan beras, Kang," timpal Dirga.

"Geledah dia!" Joko memerintahkan beberapa orang lainnya menggeledah saku baju dan celana Dirga, ditemukan sebuah amplop dan selembar uang seratus ribu pemberian dari Den Mas Karyo.

"Urusan pakan ternak dan makan itu urusanmu sendiri, tugasku menagih. Paham?! Dan di akhir Minggu ini harus ada tiga ratus ribu lagi." Joko melebarkan uang tersebut digunakan sebagai kipas.

"Jangan ambil uang itu, tolong! Aku janji akan genapi bunganya!" Dirga coba merebut kembali dari tangan Joko, malah dua orang lainnya mencengkram Dirga dari belakang.

Buuuugh!

"Jangan mendekati aku dengan badanmu yang bau itu!" ujar Joko setelah melayangkan tinju ke arah ulu hati Dirga, pria miskin panuan itu jatuh sekali lagi tapi dia tak menyerah dengan masih berpegang pada kaki Joko.

"Aku mohon, aku sudah tak punya cara untuk kasih makan ternak dan beli beras!"

"Hajar dia!" perintah Joko sekali lagi, dua orang bergerak maju dan siap mendendang. Tak puas cukup sampai di situ, Joko membuka resleting dan mulai mengencingi Dirga.

"Hahahah! Ayo kalian semua buang pipis ke dia!" perintah Joko yang tertawa penuh kepuasan. Teman-teman Joko langsung melakukan hal yang sama, Dirga hanya bisa melindungi wajahnya dengan tangan sementara air seni anak buah Wira terus membasahi badannya dari atas hingga ke bawah. Dirga menangis tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Braaak!

Namun tiba-tiba terdengar suara suara benda terhempas, mereka menatap ke arah pintu yang bergerak cepat.

"Whuihihihhi!" setelah pintu terhempas berulang kali, muncul suara kuntilanak yang membuat mereka terkejut sekaligus takut.

"Kabuuur! Ada setan!"

Joko beserta teman-temannya kabur saat itu juga tanpa memperdulikan Dirga yang masih bersimpuh di lantai. Harusnya dia ikutan lari karena suara tadi benar-benar menakutkan. Tapi jangankan berdiri, untuk bergerak saja ia kesulitan.

Burung kecil melompat dan berjalan di depan Dirga, kepalanya mendongak memperhatikan wajah Dirga.

"Aku telah menyelamatkan kamu dari amarah mereka, apakah sekarang kamu percaya aku bisa membantu kamu?" tanya perempuan dalam wujud seekor burung pipit.

"Aku tak perduli kamu itu setan atau apa, pergilah! Jangan ganggu aku lagi," usir Dirga sambil menyeka badan yang bau pesing.

"Baik, aku akan pergi. Jika kamu percaya denganku, carilah aku di hutan tua yang ada di balik bukit. Mulai sekarang, keberuntungan akan menyertai kamu, Tuanku," ucap burung itu lagi, mahluk bersayap mungil itu mulai mengepakkan sayapnya lalu terbang keluar dari rumah.

Dirga berjalan ke arah ranjang dengan perut yang perih akibat lapar dan badan yang nyeri karena perundungan, bajunya masih basah ia tak perduli. Perjaka tua itu berbaring, menangis pelan sampai tertidur dengan keadaan gelisah, hutang yang awalnya tak seberapa itu telah merenggut harga diri keluarganya.

Saat hari menjelang malam, lampu minyak rumah Dirga belum menyala. Dirga bangun dalam keadaan gelap gulita.

"Permisi," suara perempuan muncul dari arah pintu, lalu sosok perempuan yang berjalan menggunakan obor masuk.

"Mau apa lagi?!" bentak Dirga, ia masih menyangka burung pipit aneh misterius itu datang lagi.

"Mas Dirga, ini aku ... Wulan," ucap perempuan itu, setelah dekat baru diketahui jika perempuan itu si Wulan, anak Pakde Pur yang tinggal di ujung desa dekat makam.

"Wulan? Ngapain ke sini!?" tanya Dirga terheran, Wulan tidak menjawab. Dengan api obor yang ia pegang terlebih dahulu menyalakan beberapa lampu minyak di rumah itu.

"Aku disuruh bapak ke sini," Wulan membuka sebuah plastik berisi nasi dan lauk.

"Jangan dekat-dekat aku, bau," tepis Dirga yang menggeser duduknya.

"Enggak apa-apa. Toh aku juga merawat kambing bapak, jadi aku sudah terbiasa dengan aromanya. Hehe," Wulan tersenyum nyengir.

"Buat apa repot-repot bawain makanan kaya gitu, Wulan?"

"Dua ekor kambing bapak laku pagi tadi. Kata bapak, selama menggembalakan kambing kamu juga ikut membantu mengawasi. Terus empat kambing betina bapak juga hamil besar sejak didekatkan ke Bejo, kambing kamu itu. Nah ini bapak titip amplop, katanya sebagai ucapan terimakasih," Wulan menyodorkan amplop putih, tanpa ragu Dirga langsung membukanya.

"Satu juta? Banyak banget?"

"Hehe, itu enggak seberapa kok. Dulu Mas Dirga juga membantu mencarikan kambing bapak yang tersesat di hutan. Sudah ya, aku mau pulang dulu," Wulan hendak berpamitan.

Dirga duduk sambil menatap lembaran uang pemberian Wulan barusan, ia bahkan lupa kebaikan apa yang pernah dia lakukan pada Pakde Pur. Bagi Dirga, saling menolong itu sebuah hal biasa yang sering ia lakukan meski kerap dibalas penghinaan.

"Aku juga merawat kambing dan ternak, tapi aku rajin mandi lho. Mas Dirga juga bisa badannya wangi asal rajin mandi. Hehe," sindir Wulan. Dirga cuma senyum-senyum sendiri.

"Apa jangan-jangan burung pipit itu memang burung ajaib pembawa keberuntungan ya? Atau mungkin cuma kebetulan." Dirga membatin.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa   Awas, Nanti Menggeliat!

    Entah berapa perempuan telah ia jamah sejak bertemu dengan Nirmala dulu, sebab dengan kekuatan yang diberikan Nirmala ia menjadi jauh lebih muda. Rambutnya yang kusut dan beruban telah berubah menjadi hitam kelam, kulitnya yang kendur dan panuan sudah kencang seperti pria berusia 25 tahun, begitu juga dengan bau badannya yang tak enak lenyap seketika. "Dirga, kenapa bengong?" tanya Mira. "E---enggak apa-apa," ujar Dirga saat tersadar dari lamunannya. Penampilannya yang kembali muda mempengaruhi hormon di tubuhnya, gairah itu nyata terlebih perempuan cantik di depannya sangat menggoda dan tak bisa dilewatkan begitu saja. Mira mengusap dada Dirga, wajahnya mendongak dengan bagian dadanya menempel pada perut Dirga. "Apa ini enggak akan jadi masalah?" Dirga terlihat ragu. "Masalah kenapa?" Mira balik bertanya. "Bagaimana kalau kamu hamil, aku takut---""Kalau begitu kamu bisa pakai pengaman dulu, atau cabut pas mau keluar," bisik Mira dengan suara genit menggoda. Dirga terdiam, ia

  • Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa   Aaah .... sentuh di sini!

    Tubuhnya gemetar, langkahnya terhuyung. Mira masih memegang gagang vas berujung runcing yang meneteskan darah, para security terpaku tanpa berani masuk lebih dalam. Beberapa pria tergeletak dengan suara kesakitan. "Ma--maaf, kami lalai!" seorang satpam membungkuk sebanyak dua kali karena merasa malu atas lolosnya orang-orang asing ke kamar tersebut. "Kalian takut sama mereka? Lihat, kalian sangat ceroboh!" umpat Mira kesal. "Kami janji tak akan terjadi lagi," kata kepala keamanan. Para penyelinap langsung masuk menggotong mereka, sementara di luar sana ada polisi yang datang untuk penanganan tambahan. "Permisi, saya brigadir Lita, saya sudah menerima laporan tentang peristiwa yang terjadi di sini dan untuk sekarang kami mendalami rekaman cctv," perempuan berjaket kulit dan berambut pendek memperkenalkan diri. "Bu polisi, silakan interogasi mereka. Kami di sini cuma tamu," Mira merasa kesal. "Kami hanya ingin tahu, apakah kalian terlibat dengan jaringan kejahatan yang menjadi mus

  • Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa   Di Kamar Hotel

    Mereka tidak saling kenal, hanya berada di tempat dan waktu yang sama untuk dua kepentingan yang berbeda. Setelah Mira berganti baju, dia duduk di sofa di samping Dirga. Sebuah majalah keluaran tahun 90-an dia ambil dan baca sekilas, sementara Dirga berbaring setengah bersandar. "Aku sudah mengantuk, mau sampai kapan kamu membaca majalah itu?"'tanya Dirga. "Kalau mau tidur ya tidur saja, nggak ada hubungannya antara apa yang aku baca dengan kamu yang mau tidur," balas Mira. "Lampunya membuatku silau, nggak bisa tidur kalau begini," keluh Dirga, sampai di situ baru Mira paham. Dia meletakkan majalah itu kembali ke meja, lalu matikan lampu. "Malam ini kita tidur di kamar yang sama, Bagaimana aku bisa yakin jika kamu tidak berbuat macam-macam benar?" Mira memicingkan mata. "Tenang saja, kita berada di jarak yang aman. Aku bisa tidur di sana," Dirga menunjuk ke arah sofa. "Bukannya aku mau curiga sama kamu, tapi entahlah. Baru kali ini aku tidur dengan seorang pria, maksudku satu kamar

  • Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa   rejeki

    Malam hari bukan waktu yang tepat untuk bepergian, namun di saat seperti ini tidak ada jalan keluar selain pergi dari desa itu sebelum para preman kampung datang mengepung. Tindakan Antoni mungkin telah diketahui oleh pihak keamanan, meski tidak sepenuhnya ada tindakan untuk mencarinya. Mereka berjalan menuju ke arah jalan raya yang berjarak sekitar dua kilometer, Dirga membawa dua tas besar berisi pakaian sedangkan di belakangnya ada Antoni dan adik sepupunya. "Sebenarnya kita ini mau ke mana, Bang? Kenapa tidak menunggu esok?" tanya Mira."Kalau besok pagi mungkin agak terlambat karena jemputan baru datang malam ini. Sudahlah, kita harus pergi dari Desa secepat mungkin," ujar Antoni. Begitu tiba di jalan raya, mereka tahu tidak ada bus yang lewat pada jam seperti itu namun Antoni yakin ada anak buahnya yang akan menjemput. Mereka harus menunggu di sana selama kurang lebih dua jam, Mira terlihat bosan sampai sorot mobil terlihat dari kejauhan. Bukan sebuah bus, melainkan mobil pri

  • Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa   Dendam Antoni

    Kecantikan Mira emang diakui banyak orang, semua orang tua menginginkan dia jadi menantunya dan semua pria normal ingin Mira jadi istrinya, tak heran jika para preman kampung itu mengganggu. Mendengar adik sepupunya hampir dilecehkan, Antoni merasa geram. Namun dia masih bersikap dingin tanpa menunjukkan amarah yang berlebih-lebihan di hadapan Dirga. "Biar nanti aku yang urus," kata Antoni, ia lalu masuk ke dalam kamar. Semula Dirga tak menganggap serius ucapan Antoni, namun sekitar jam delapan malam Antoni tampak menyiapkan sesuatu di kamarnya. Dia mengisi pistol dengan beberapa butir peluru, mengenakan topeng dari kain dan keluar rumah secara diam-diam, Dirga tau jika Antoni tak ada di kamar sehingga ia mengikuti Antoni dari kejauhan. Di warung tempat biasanya para preman kampung itu nongkrong, suara musik dangdut terdengar mengalun merdu. Beberapa pemuda berjoget, menuang tuak ke dalam gelas dan berkelakar. "Mira itu sangat cantik, jika waktunya tiba aku akan menidurinya. Kala

  • Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa   Ganguan Preman

    Dirga tau arah pembicaraan Antoni, namun dia hanya pura-pura. "Apakah yang kamu tawarkan sepadan dengan apa yang aku dapat nanti? Aku cuma orang desa, kebetulan memiliki ilmu diri yang jarang dipelajari orang-orang di kota. Sedangkan di desaku hal semacam ini sudah biasa," jawab Dirga dengan tetap rendah hati. "Hahaha! Sudah kelihatan kalau kamu itu dari desa, tapi kemampuanmu itu sangat jarang dimiliki orang kota seperti kami. Aku memiliki usaha yang berkaitan dengan distribusi barang, terkadang harus berurusan dengan preman, mafia dan oknum penegak hukum. Jadi aku tidak membutuhkan seseorang yang mampu bergerak cepat, berpikir taktis dan bisa melindungiku kapan saja. Aku menawarkan gaji sepuluh juta sebulan," lanjut Antoni percaya diri, dia yakin uang itu akan membuat Dirga bersedia bekerja padanya. Siang hari, Antoni pergi ke bidan desa untuk melihat perkembangan lukanya. Dia tetap berbohong pada orang-orang jika ada luka itu disebabkan oleh peluru. Di rumah, Dirga menghabiska

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status