author-banner
Jagad
Jagad
Author

Novel-novel oleh Jagad

Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa

Burung Ajaib: Bukan Perjaka Tua Biasa

Dirga, pria miskin yang dikenal sebagai perjaka tua, memiliki masalah kesehatan kulit dan bau badan tersandung hutang sejak lama, hidupnya sengsara karena semua orang menghina dan para perempuan menjauhi. Hidupnya berubah ketika bertemu seekor burung pipit ajaib yang memberinya kekuatan pemikat tingkat dewa.
Baca
Chapter: Awas, Nanti Menggeliat!
Entah berapa perempuan telah ia jamah sejak bertemu dengan Nirmala dulu, sebab dengan kekuatan yang diberikan Nirmala ia menjadi jauh lebih muda. Rambutnya yang kusut dan beruban telah berubah menjadi hitam kelam, kulitnya yang kendur dan panuan sudah kencang seperti pria berusia 25 tahun, begitu juga dengan bau badannya yang tak enak lenyap seketika. "Dirga, kenapa bengong?" tanya Mira. "E---enggak apa-apa," ujar Dirga saat tersadar dari lamunannya. Penampilannya yang kembali muda mempengaruhi hormon di tubuhnya, gairah itu nyata terlebih perempuan cantik di depannya sangat menggoda dan tak bisa dilewatkan begitu saja. Mira mengusap dada Dirga, wajahnya mendongak dengan bagian dadanya menempel pada perut Dirga. "Apa ini enggak akan jadi masalah?" Dirga terlihat ragu. "Masalah kenapa?" Mira balik bertanya. "Bagaimana kalau kamu hamil, aku takut---""Kalau begitu kamu bisa pakai pengaman dulu, atau cabut pas mau keluar," bisik Mira dengan suara genit menggoda. Dirga terdiam, ia
Terakhir Diperbarui: 2026-09-27
Chapter: Aaah .... sentuh di sini!
Tubuhnya gemetar, langkahnya terhuyung. Mira masih memegang gagang vas berujung runcing yang meneteskan darah, para security terpaku tanpa berani masuk lebih dalam. Beberapa pria tergeletak dengan suara kesakitan. "Ma--maaf, kami lalai!" seorang satpam membungkuk sebanyak dua kali karena merasa malu atas lolosnya orang-orang asing ke kamar tersebut. "Kalian takut sama mereka? Lihat, kalian sangat ceroboh!" umpat Mira kesal. "Kami janji tak akan terjadi lagi," kata kepala keamanan. Para penyelinap langsung masuk menggotong mereka, sementara di luar sana ada polisi yang datang untuk penanganan tambahan. "Permisi, saya brigadir Lita, saya sudah menerima laporan tentang peristiwa yang terjadi di sini dan untuk sekarang kami mendalami rekaman cctv," perempuan berjaket kulit dan berambut pendek memperkenalkan diri. "Bu polisi, silakan interogasi mereka. Kami di sini cuma tamu," Mira merasa kesal. "Kami hanya ingin tahu, apakah kalian terlibat dengan jaringan kejahatan yang menjadi mus
Terakhir Diperbarui: 2026-09-26
Chapter: Di Kamar Hotel
Mereka tidak saling kenal, hanya berada di tempat dan waktu yang sama untuk dua kepentingan yang berbeda. Setelah Mira berganti baju, dia duduk di sofa di samping Dirga. Sebuah majalah keluaran tahun 90-an dia ambil dan baca sekilas, sementara Dirga berbaring setengah bersandar. "Aku sudah mengantuk, mau sampai kapan kamu membaca majalah itu?"'tanya Dirga. "Kalau mau tidur ya tidur saja, nggak ada hubungannya antara apa yang aku baca dengan kamu yang mau tidur," balas Mira. "Lampunya membuatku silau, nggak bisa tidur kalau begini," keluh Dirga, sampai di situ baru Mira paham. Dia meletakkan majalah itu kembali ke meja, lalu matikan lampu. "Malam ini kita tidur di kamar yang sama, Bagaimana aku bisa yakin jika kamu tidak berbuat macam-macam benar?" Mira memicingkan mata. "Tenang saja, kita berada di jarak yang aman. Aku bisa tidur di sana," Dirga menunjuk ke arah sofa. "Bukannya aku mau curiga sama kamu, tapi entahlah. Baru kali ini aku tidur dengan seorang pria, maksudku satu kamar
Terakhir Diperbarui: 2026-09-25
Chapter: rejeki
Malam hari bukan waktu yang tepat untuk bepergian, namun di saat seperti ini tidak ada jalan keluar selain pergi dari desa itu sebelum para preman kampung datang mengepung. Tindakan Antoni mungkin telah diketahui oleh pihak keamanan, meski tidak sepenuhnya ada tindakan untuk mencarinya. Mereka berjalan menuju ke arah jalan raya yang berjarak sekitar dua kilometer, Dirga membawa dua tas besar berisi pakaian sedangkan di belakangnya ada Antoni dan adik sepupunya. "Sebenarnya kita ini mau ke mana, Bang? Kenapa tidak menunggu esok?" tanya Mira."Kalau besok pagi mungkin agak terlambat karena jemputan baru datang malam ini. Sudahlah, kita harus pergi dari Desa secepat mungkin," ujar Antoni. Begitu tiba di jalan raya, mereka tahu tidak ada bus yang lewat pada jam seperti itu namun Antoni yakin ada anak buahnya yang akan menjemput. Mereka harus menunggu di sana selama kurang lebih dua jam, Mira terlihat bosan sampai sorot mobil terlihat dari kejauhan. Bukan sebuah bus, melainkan mobil pri
Terakhir Diperbarui: 2026-09-24
Chapter: Dendam Antoni
Kecantikan Mira emang diakui banyak orang, semua orang tua menginginkan dia jadi menantunya dan semua pria normal ingin Mira jadi istrinya, tak heran jika para preman kampung itu mengganggu. Mendengar adik sepupunya hampir dilecehkan, Antoni merasa geram. Namun dia masih bersikap dingin tanpa menunjukkan amarah yang berlebih-lebihan di hadapan Dirga. "Biar nanti aku yang urus," kata Antoni, ia lalu masuk ke dalam kamar. Semula Dirga tak menganggap serius ucapan Antoni, namun sekitar jam delapan malam Antoni tampak menyiapkan sesuatu di kamarnya. Dia mengisi pistol dengan beberapa butir peluru, mengenakan topeng dari kain dan keluar rumah secara diam-diam, Dirga tau jika Antoni tak ada di kamar sehingga ia mengikuti Antoni dari kejauhan. Di warung tempat biasanya para preman kampung itu nongkrong, suara musik dangdut terdengar mengalun merdu. Beberapa pemuda berjoget, menuang tuak ke dalam gelas dan berkelakar. "Mira itu sangat cantik, jika waktunya tiba aku akan menidurinya. Kala
Terakhir Diperbarui: 2026-09-22
Chapter: Ganguan Preman
Dirga tau arah pembicaraan Antoni, namun dia hanya pura-pura. "Apakah yang kamu tawarkan sepadan dengan apa yang aku dapat nanti? Aku cuma orang desa, kebetulan memiliki ilmu diri yang jarang dipelajari orang-orang di kota. Sedangkan di desaku hal semacam ini sudah biasa," jawab Dirga dengan tetap rendah hati. "Hahaha! Sudah kelihatan kalau kamu itu dari desa, tapi kemampuanmu itu sangat jarang dimiliki orang kota seperti kami. Aku memiliki usaha yang berkaitan dengan distribusi barang, terkadang harus berurusan dengan preman, mafia dan oknum penegak hukum. Jadi aku tidak membutuhkan seseorang yang mampu bergerak cepat, berpikir taktis dan bisa melindungiku kapan saja. Aku menawarkan gaji sepuluh juta sebulan," lanjut Antoni percaya diri, dia yakin uang itu akan membuat Dirga bersedia bekerja padanya. Siang hari, Antoni pergi ke bidan desa untuk melihat perkembangan lukanya. Dia tetap berbohong pada orang-orang jika ada luka itu disebabkan oleh peluru. Di rumah, Dirga menghabiska
Terakhir Diperbarui: 2026-09-20
Gagal Menikah Akibat Guna-guna

Gagal Menikah Akibat Guna-guna

Bagaimana jika kecantikan yang diidamkan banyak perempuan justru menjadi petaka? Itulah yang dialami Safitri, kembang desa yang hidupnya menderita bahkan dijauhi banyak pria. Bukan karena ia tak lagi cantik, tapi karena dia mengalami gangguan kejiwaan sejak bekerja pada seorang juragan kaya. Bisa karena ia dijadikan tumbal atau karena guna-guna.
Baca
Chapter: Bab 28
Mbok Yem menatap kepergian Safitri dengan mata berkaca-kaca, dia membayangkan perasaan Handoko ketika nanti tahu apa yang akan terjadi pada hubungan mereka (Safitri dan Handoko) yang kandas karena Safitri lebih memilih Tejo daripada Handoko."Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa gagal sebagai orang tua, Handoko pasti akan sangat hancur hatinya," ucap Mbok Yem lirih, perempuan paruh baya itu membalikkan badannya menuju ke dalam dengan langkah gemetar."Mbok Yem," sapa seseorang dari luar, Mbok Yem sangat hafal dengan suara tersebut. Dia duduk terlebih dahulu dan menatap pria tampan yang mengikutinya masuk sampai ke ruang tamu."Aku bawakan bubur, beras dan telur, Mbok. Persiapan untuk sahur nanti, kan sepuluh hari lagi sudah mulai puasa," Handoko menaruh barang-barang ke meja sementara Mbok Yem masih terdiam dengan hati yang porak-poranda."Tadi ada mobil ke sini, mobil siapa, Mbok? Pasti mobil Mbak Erna Wulandari (majikan Safitri) ya?" susul Handoko.Tak ada jawaban, Handoko merasa
Terakhir Diperbarui: 2026-07-08
Chapter: Bab 27
Niat untuk mengembalikan uang warung yang dipinjam dari Cahyani pun dia urungkan, Safitri bingung mau ke mana dan akhirnya menggunakan uang tersebut untuk perpanjang sewa kamar penginapan langganannya."Aku akan menunggu dia tiga hari di sini, jika tidak aku akan bertindak lebih berani lagi," cetus Safitri saat membuka pintu kamar penginapan."Tapi ... aku kehabisan pakaian bersih. Sebaiknya aku pulang ke rumah Mbak Erna Wulandari saja sebentar lalu ke sini lagi," Safitri yang baru masuk dan duduk di tempat tidur kembali berdiri. Dia ambil tasnya lalu berjalan menuju tangga lke lantai satu untuk mengambil sepeda motor yang dia parkir di bawah."Fit, ngapain kamu di sini?" sapa seseorang yang keluar dari sebuah kamar, Safitri grogi dia kaget tak menyangka bertemu seseorang yang dia kenal di sini."Mas Kus, a--aku ... aku baru jenguk teman kerjaku di jakarta dulu. Dia menginap di kamar atas," ujar Safitri."Benarkah? Aku sama istriku, kebetulan sedang bulan madu. Maklum pengantin baru,"
Terakhir Diperbarui: 2026-07-08
Chapter: Bab 26
"Maaf, Bu ... saya ke sini untuk mencari Mas Tejo, ada yang ingin saya sampaikan," ucap Safitri setelah dipersilahkan duduk."Hmmm, heran aku anak jaman sekarang. Dulu pria mencari dan berkunjung ke rumah wanita, sekarang sudah berbalik ... wanita yang datang ke rumah pria. Hampir setiap beberapa hari sekali banyak perempuan mencari anakku, entah mau apa. Ya sudah kamu pulang dulu, nanti ibu sampaikan kalau dia pulang," ucap ibunya Tejo dengan sambil geleng-geleng kepala."Bu, mohon maaf jika lancang. Saya dan Tejo punya hubungan dekat, dan ...," Safitri sebenarnya hendak menyampaikan bahwa dirinya hamil, tapi melihat situasi yang tak memungkinkan dan belum cukup bukti kedekatan dirinya dan Tejo untuk ditunjukkan pada ibunya maka Safitri mengurungkan niatnya dan akhirnya pergi dari sana dengan tangan hampa.Pikiran Safitri tertuju pada uang satu juta yang dia pinjam dari Cahyani, uang itu telah berkurang beberapa ratus ribu. Kini langkahnya gontai menuju warung, entah alasan apa yang
Terakhir Diperbarui: 2026-06-20
Chapter: Bab 25
Safitri tersinggung, niatnya untuk membeli alat tes kehamilan pun dia urungkan. Buru-buru dia kembali ke warung tempat dia bekerja, seperti biasanya Safitri datang terlambat di saat pembeli ramai dan dua temannya kerepotan. Bukannya membantu dia justru masuk ke kamar, mengunci pintu dan berbaring. Badannya terasa amat letih, dia tak bersemangat untuk bekerja.Dak dak dak!Pintu digedor kuat dari luar, Safitri yang baru saja terpejam langsung bangkit siap menumpahkan kemarahannya."Yani, kamu tau aku capek!" ujarnya sambil menarik tuas pintu, namun yang berdiri di sana bukan Cahyani ataupun Mas Parjo melainkan Mbak Erna Wulandari."Apa yang kamu lakukan di dalam sini? Kamu enak-enakan sementara yang lain sedang kerja, hah?! Kalau sudah tak mau bekerja di sini, sebaiknya berhenti saja," ujar juragan warung kelontong memasang muka marah. Seketika emosi di hati Safitri meredup, dia tak mungkin akan melawan Erna tanya sebab posisinya yang salah."Mbak, Safitri sedang sakit," bela Mas Parjo
Terakhir Diperbarui: 2026-06-12
Chapter: Bab. 24
"Hoeeek!" Safitri merasa mual, keringat dingin mengucur deras di kening dan lehernya. Gadis itu lekas mengunci pintu kamar kuatir ibunya masuk ke dalam.Perlahan dia lepaskan semua pakaian, berdiri di cermin kusam lemari usang memandang tubuhnya dari atas sampai bawah. "Aku kok tambah gemuk dan tubuhku tak indah lagi," keluhnya sambil meraba pa-yu dara yang mulai turun mengendur, perutnya juga terlihat berbeda meski jika itu sebuah kehamilan baru berjalan lima bulan. Dia lupa kapan terakhir membeli pembalut saat menstimulasi, rasanya sudah cukup lama sekali."Nduk Fitri, kamu kenapa?" tanya Mbok Yem yang berdiri di balik pintu, dia mencoba mendorong tapi pintu itu terkunci, di dalam sana Safitri terdiam. Dia takut bukan main dan lekas memakai bajunya kembali."Safitri, buka ... biar Mbok kerokin kamu," desak sang ibu."Aku enggak apa-apa, sudah aku mau balik kerja dulu," setelah membuka pintu Safitri langsung pergi, dia tak hiraukan sang ibu yang coba menahannya.Gadis itu bergegas m
Terakhir Diperbarui: 2026-06-07
Chapter: Bab. 23
Cahyani masih mengalami peristiwa buruk di tempat Erna Wulandari, dia tidak sekedar mimpi buruk tapi mahluk pesugihan itu sudah sering menampakkan diri dan berisi mencelakakan dirinya. Cahyani takut dan cemas akan nasibnya. Pagi itu dia sudah berkemas, siap meninggalkan tempat tersebut untuk berhenti bekerja namun baru hendak menutup pintu Safitri datang dari arah berbeda turun dari mobil yang dikemudikan Tejo. Mobil itu langsung pergi setelah menurunkan Safitri di sana."Eeeh, kamu mau ke mana? Kok berkemas begitu," tegur Safitri."Dia beberapa hari sakit, sudah tak tahan bekerja di sini. Hari ini dia mau pamitan ke rumah Mbak Erna Wulandari," kata Mas Parjo membantu menaruh ransel besar untuk ditaruh di bagian depan sepeda motornya."Kamu itu masih muda, jangan mudah mengeluh dan menyerah. Apalagi cuma berasal dari keluarga pas-pasan, sebaiknya bertahan di sini paling tidak satu tahun biar punya pengalaman," imbuh Safitri berkata nyinyir pada Retno Cahyani."Mbak, sepertinya rumah i
Terakhir Diperbarui: 2026-06-06
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status