Chapter: Chindo Yang Hyper"Sombong sekali kau? Kami datang ke sini untuk mengucapkan terima kasih sebenarnya sudah cukup membuatmu merasa beruntung!" bentak Darto. "Kalian tidak perlu berterima kasih, aku melakukan ini karena permintaan dari Bu Shanti," jawab Dirga singkat. Ucapan itu seperti membuat Darto dan Herman tersinggung, namun mereka berdua tidak bisa berlama-lama di tempat itu karena beberapa warga sempat mendekat saat mengetahui keributan hampir terjadi. Dirga berniat pergi ke kota untuk kembali bekerja seperti biasa, namun dia menyempatkan diri terlebih dahulu untuk menemui Nirmala, burung ajaib yang telah memberinya kekuatan dan keperkasaan di ranjang sehingga Dirga bisa menaklukkan banyak perempuan dengan pesonanya tanpa memperdulikan status jika ia seorang perjaka tua.Menggunakan sepeda motor jenis bebek, Dirga berhenti. Untuk menaiki bukit motor itu tidak bisa digunakan karena jalannya yang terjadi dan mendaki sehingga dia menyembunyikan motornya dibalik semak belukar lalu melanjutkan dengan
Last Updated: 2026-08-19
Chapter: Bantuan cuma-cuma"Mas, apalagi yang akan menolong? Kalau kamu mengusirnya keadaan bisa jadi tambah gawat. Dua orang ini benar-benar kritis, tolong turunkan emosimu," Shanti merentangkan tangannya menghalangi karya untuk bertindak lebih jauh.Karyo menoleh pada perempuan itu dan Herman, dia panik jika sampai Herman yang terkena gigitan ular justru meninggal dunia di rumahnya. "Baik aku beri Dia kesempatan tapi jika dia gagal maka dia harus mengaku di depan polisi bahwa dia yang melakukan penembakan itu!" ujar Karyo. "Aku tahu kamu punya uang banyak dan kekuasaan, tapi dalam posisi ini kondisimu lebih mendesak ketimbang aku. Sebaiknya aku pergi saja," Dirga yang merasa disepelekan segera membalikkan badan untuk pergi meninggalkan tempat itu namun belum sempat dia melangkah sandi kembali menahan tangannya. "Jangan dengarkan dia, Dirga. Jika salah satu dari mereka atau keduanya tidak tertolong aku juga yang akan repot," rengek Shanti. "Mbak Shanti, kamu menikah dengan orang yang salah. Hidupmu tidak pe
Last Updated: 2026-08-18
Chapter: Keadaan GentingPerempuan muda itu berteriak sekuat tenaga, ia ketakutan bukan main saat ular itu hampir menyemburkan bisanya. Den Mas Karyo yang tadinya tidur pulas ikutan terbangun, ia langsung mengambil sepucuk pistol dan menembak beberapa kali ke udara. Dooor dooor dooor!"Mas, ular kobra itu! Lihat!" pekik si perempuan yang berdiri di sudut tenda. Karyo gemetaran, baru kali ini ia lihat ular kobra dengan ukuran besar dan bergerak agresif. Ia hendak menembak ular tersebut namun posisi perempuan teman tidurnya berada tepat di belakang ular sepanjang 3 meter tersebut. "Kamu minggir, jangan di sana!" ujar Den Mas Karyo, namun ular tadi sesekali hendak mematuk ke arah Karyo, hingga akhirnya menyemburkan bisa dari mulutnya. Dooor!"Aaaawh!"Karena panik Karyo tetap melepaskan tembakan, namun justru terkena paha perempuan muda itu. "Haduh! Ka--kamu kenapa? Beneran kena tembak kah?" Karyo semakin panik, apalagi dia melihat darah mengucur dari paha teman perempuannya. Berselang sekitar sepuluh menit
Last Updated: 2026-08-17
Chapter: Kenikmatan Yang MenggodaShanti menggeliat seperti cacing kepanasan, kakinya bergerak liar menahan geli yang nikmat saat tangan Dirga berselancar di area pribadinya, ada denyutan yang menganggu semakin lama semakin tak tertahankan. Tangan Dirga mengusap secara konsisten, terkadang ia percepat gerakannya. "Dirga, uuuuh aku hampir ke lu aaaar!" Istri Den Mas Karyo itu melenguh, punggungnya melengkung dengan dada yang berdebar. Dirga menarik tangan sebelum Shanti mencapai puncak pelepasan, hal itu membuat tubuh Shanti merinding. Ada sentuhan yang ia inginkan, namun Dirga seperti sengaja membuatnya tambah penasaran. "Dirga, aku hampir saja selesai, malah kamu lepas jarimu. Uuuhm, sekarang harus mulai dari awal dong," gerutu Shanti, namun Dirga malah duduk bersandar. Shanti melihat milik Dirga yang ada di dalam celana menyembul, ia penasaran dan segera meremas. "Dirga, buka dong, aku mau lihat," pinta Shanti, ia menggapai benda itu dengan menurunkan celana si tukang pijat. "Mbak, aku malu," ujar Dirga, tapi Sh
Last Updated: 2026-08-16
Chapter: "Pijat di sini, Dirga ... tekan dan usap!"Dirga terdiam beberapa detik, perempuan yang ada di depannya kini bukan perempuan biasa mainkan istri dari priyayi (orang terpandang). Bagi Shanti, Dirga merupakan sosok yang tepat untuk menguji apakah dirinya benar-benar mandul atau memang hanya karena belum memiliki momongan saja. "Bagaimana? Aku tahu, kamu pasti mengira jika aku cuma main-main. Ini serius, Dirga. Aku membutuhkan jawaban dari keraguan yang selama ini aku rasakan, harus ada kepastian ketika ilmu kedokteran tidak mampu berikan jawaban tentang apa yang aku rasakan," lanjut Sari, wajah perempuan itu tampak merona. Dia sedang mempertaruhkan harga dirinya di depan Dirga, penolakan dari Dirga mungkin akan membuatnya merasa tidak percaya diri lagi di kemudian hari. "Kalau pijat saja, aku bersedia kok. Tapi jika Mbak Shanti menginginkan hal itu, tentu aku harus berpikir lebih lanjut. Kita baru kenal dan bertemu beberapa kali, aku rasa Mbak Shanti belum terlalu mengenal saya," jawab Dirga penuh keraguan. Pria normal mana
Last Updated: 2026-08-15
Chapter: "Hamili aku, Dirga,"Jam setengah dua belas malam Dirga tiba di rumahnya, sepi dan jauh dari rumah warga lainnya. Dirga memandang ke sekeliling, rasanya semuanya telah berubah. Beberapa bulan lalu ia hanya pemudi miskin yang sering dicemooh oleh tetangga, dihindari para perempuan dan selalu bermimpi buruk akibat hutang yang menjerat. Capek rasanya jika gali lubang tutup lubang, hampir ia tak punya tenaga buat berpikir normal. Terutama hutang pada Pak Wira yang merupakan warisan dari sang ibu, kini di tempat yang sama ia merasa keadaan berbalik berpihak padanya tanpa perlu memikirkan bagaimana dia akan membayar angsuran. Pagi-pagi sekali ia sudah terbangun, dulu jika ia membuka mata melihat aneka burung berterbangan di sekitar rumah namun kali ini suasana jauh berbeda. Jam lima subuh ia mendengar suara mesin gergaji dari arah hutan yang disusul suara pohon roboh, pengikisan hutan terus terjadi sejak Den Mas Karyo memiliki ambisi gila menjadikan desa itu sebagai sarana wisata berburu. "Tak ada kemajuan, w
Last Updated: 2026-08-13
Chapter: Bab 28Mbok Yem menatap kepergian Safitri dengan mata berkaca-kaca, dia membayangkan perasaan Handoko ketika nanti tahu apa yang akan terjadi pada hubungan mereka (Safitri dan Handoko) yang kandas karena Safitri lebih memilih Tejo daripada Handoko."Apa yang harus aku lakukan? Aku merasa gagal sebagai orang tua, Handoko pasti akan sangat hancur hatinya," ucap Mbok Yem lirih, perempuan paruh baya itu membalikkan badannya menuju ke dalam dengan langkah gemetar."Mbok Yem," sapa seseorang dari luar, Mbok Yem sangat hafal dengan suara tersebut. Dia duduk terlebih dahulu dan menatap pria tampan yang mengikutinya masuk sampai ke ruang tamu."Aku bawakan bubur, beras dan telur, Mbok. Persiapan untuk sahur nanti, kan sepuluh hari lagi sudah mulai puasa," Handoko menaruh barang-barang ke meja sementara Mbok Yem masih terdiam dengan hati yang porak-poranda."Tadi ada mobil ke sini, mobil siapa, Mbok? Pasti mobil Mbak Erna Wulandari (majikan Safitri) ya?" susul Handoko.Tak ada jawaban, Handoko merasa
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Bab 27Niat untuk mengembalikan uang warung yang dipinjam dari Cahyani pun dia urungkan, Safitri bingung mau ke mana dan akhirnya menggunakan uang tersebut untuk perpanjang sewa kamar penginapan langganannya."Aku akan menunggu dia tiga hari di sini, jika tidak aku akan bertindak lebih berani lagi," cetus Safitri saat membuka pintu kamar penginapan."Tapi ... aku kehabisan pakaian bersih. Sebaiknya aku pulang ke rumah Mbak Erna Wulandari saja sebentar lalu ke sini lagi," Safitri yang baru masuk dan duduk di tempat tidur kembali berdiri. Dia ambil tasnya lalu berjalan menuju tangga lke lantai satu untuk mengambil sepeda motor yang dia parkir di bawah."Fit, ngapain kamu di sini?" sapa seseorang yang keluar dari sebuah kamar, Safitri grogi dia kaget tak menyangka bertemu seseorang yang dia kenal di sini."Mas Kus, a--aku ... aku baru jenguk teman kerjaku di jakarta dulu. Dia menginap di kamar atas," ujar Safitri."Benarkah? Aku sama istriku, kebetulan sedang bulan madu. Maklum pengantin baru,"
Last Updated: 2026-07-08
Chapter: Bab 26"Maaf, Bu ... saya ke sini untuk mencari Mas Tejo, ada yang ingin saya sampaikan," ucap Safitri setelah dipersilahkan duduk."Hmmm, heran aku anak jaman sekarang. Dulu pria mencari dan berkunjung ke rumah wanita, sekarang sudah berbalik ... wanita yang datang ke rumah pria. Hampir setiap beberapa hari sekali banyak perempuan mencari anakku, entah mau apa. Ya sudah kamu pulang dulu, nanti ibu sampaikan kalau dia pulang," ucap ibunya Tejo dengan sambil geleng-geleng kepala."Bu, mohon maaf jika lancang. Saya dan Tejo punya hubungan dekat, dan ...," Safitri sebenarnya hendak menyampaikan bahwa dirinya hamil, tapi melihat situasi yang tak memungkinkan dan belum cukup bukti kedekatan dirinya dan Tejo untuk ditunjukkan pada ibunya maka Safitri mengurungkan niatnya dan akhirnya pergi dari sana dengan tangan hampa.Pikiran Safitri tertuju pada uang satu juta yang dia pinjam dari Cahyani, uang itu telah berkurang beberapa ratus ribu. Kini langkahnya gontai menuju warung, entah alasan apa yang
Last Updated: 2026-06-20
Chapter: Bab 25Safitri tersinggung, niatnya untuk membeli alat tes kehamilan pun dia urungkan. Buru-buru dia kembali ke warung tempat dia bekerja, seperti biasanya Safitri datang terlambat di saat pembeli ramai dan dua temannya kerepotan. Bukannya membantu dia justru masuk ke kamar, mengunci pintu dan berbaring. Badannya terasa amat letih, dia tak bersemangat untuk bekerja.Dak dak dak!Pintu digedor kuat dari luar, Safitri yang baru saja terpejam langsung bangkit siap menumpahkan kemarahannya."Yani, kamu tau aku capek!" ujarnya sambil menarik tuas pintu, namun yang berdiri di sana bukan Cahyani ataupun Mas Parjo melainkan Mbak Erna Wulandari."Apa yang kamu lakukan di dalam sini? Kamu enak-enakan sementara yang lain sedang kerja, hah?! Kalau sudah tak mau bekerja di sini, sebaiknya berhenti saja," ujar juragan warung kelontong memasang muka marah. Seketika emosi di hati Safitri meredup, dia tak mungkin akan melawan Erna tanya sebab posisinya yang salah."Mbak, Safitri sedang sakit," bela Mas Parjo
Last Updated: 2026-06-12
Chapter: Bab. 24"Hoeeek!" Safitri merasa mual, keringat dingin mengucur deras di kening dan lehernya. Gadis itu lekas mengunci pintu kamar kuatir ibunya masuk ke dalam.Perlahan dia lepaskan semua pakaian, berdiri di cermin kusam lemari usang memandang tubuhnya dari atas sampai bawah. "Aku kok tambah gemuk dan tubuhku tak indah lagi," keluhnya sambil meraba pa-yu dara yang mulai turun mengendur, perutnya juga terlihat berbeda meski jika itu sebuah kehamilan baru berjalan lima bulan. Dia lupa kapan terakhir membeli pembalut saat menstimulasi, rasanya sudah cukup lama sekali."Nduk Fitri, kamu kenapa?" tanya Mbok Yem yang berdiri di balik pintu, dia mencoba mendorong tapi pintu itu terkunci, di dalam sana Safitri terdiam. Dia takut bukan main dan lekas memakai bajunya kembali."Safitri, buka ... biar Mbok kerokin kamu," desak sang ibu."Aku enggak apa-apa, sudah aku mau balik kerja dulu," setelah membuka pintu Safitri langsung pergi, dia tak hiraukan sang ibu yang coba menahannya.Gadis itu bergegas m
Last Updated: 2026-06-07
Chapter: Bab. 23Cahyani masih mengalami peristiwa buruk di tempat Erna Wulandari, dia tidak sekedar mimpi buruk tapi mahluk pesugihan itu sudah sering menampakkan diri dan berisi mencelakakan dirinya. Cahyani takut dan cemas akan nasibnya. Pagi itu dia sudah berkemas, siap meninggalkan tempat tersebut untuk berhenti bekerja namun baru hendak menutup pintu Safitri datang dari arah berbeda turun dari mobil yang dikemudikan Tejo. Mobil itu langsung pergi setelah menurunkan Safitri di sana."Eeeh, kamu mau ke mana? Kok berkemas begitu," tegur Safitri."Dia beberapa hari sakit, sudah tak tahan bekerja di sini. Hari ini dia mau pamitan ke rumah Mbak Erna Wulandari," kata Mas Parjo membantu menaruh ransel besar untuk ditaruh di bagian depan sepeda motornya."Kamu itu masih muda, jangan mudah mengeluh dan menyerah. Apalagi cuma berasal dari keluarga pas-pasan, sebaiknya bertahan di sini paling tidak satu tahun biar punya pengalaman," imbuh Safitri berkata nyinyir pada Retno Cahyani."Mbak, sepertinya rumah i
Last Updated: 2026-06-06