Short
Hampir Dijebak Teman

Hampir Dijebak Teman

By:  RichyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
7Chapters
5.9Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Paman, aku gatal sekali. Ayah sedang keluar, tolong garukkan pakai sumpit." Di meja makan itu, putri temanku tampaknya terlalu banyak menyantap tiram. Akibat gejolak hormon yang tidak stabil, gairahnya melonjak drastis. Dia mengenakan rok mini, kedua tungkai kakinya yang mulus terbuka ke arahku, memamerkan celana dalam putih yang menggoda. Sudah bertahun-tahun aku hidup tanpa wanita. Begitu melihat area sensitif gadis muda itu yang sedikit mencekung, darahku langsung berdesir hebat. Aku membuka resleting celana, mengeluarkan milikku, lalu menggoyangkannya di hadapannya. "Apa enaknya pakai sumpit? Pakai punyaku saja untuk menggaruknya."

View More

Chapter 1

Bab 1

Namaku Daren Feidi, seorang pengusaha yang sudah bercerai.

Selama bertahun-tahun ini aku menghasilkan banyak uang, tetapi aku kekurangan pendampingan wanita. Hidupku selalu terasa sepi.

Hasrat biologis yang menumpuk, membuatku merasa sangat tersiksa.

Hari ini, Norman Saga, teman SMA yang sudah lama tidak bersua, tiba-tiba menghubungi dan mengajakku makan malam.

Kami sudah tidak bertemu selama dua puluh tahun. Aku tidak tahu ada angin apa dia tiba-tiba mencariku.

Tempat makan yang dipilih adalah sebuah ruang privat yang tertutup.

Begitu sampai, aku baru menyadari bahwa di samping Norman duduk seorang gadis muda yang cantik jelita.

Sial, setelah sekian tahun tidak bertemu, tidak disangka Norman menikahi istri secantik ini. Wajahnya tampak seperti gadis berumur delapan belas tahun, dengan kulit yang begitu lembut seolah bisa mengeluarkan air jika disentuh.

Aku sendiri sampai sekarang bahkan tidak punya istri. Apa Norman sengaja ingin pamer?

"Norman, kita sudah dua puluh tahun nggak bertemu. Nggak kusangka istrimu secantik ini," pujiku.

Mendengar ucapan itu, Norman dan gadis itu malah tertawa.

"Apa maksudmu? Ini putriku, namanya Nova. Ayo, tuangkan minuman untuk pamanmu!" ujar Norman sambil tertawa kecil dan menyuruh putrinya menuangkan segelas minuman untukku.

Nova berdiri, mengangkat gelasnya, dan berkata sambil tersenyum, "Aku nggak menyangka Paman Daren ternyata humoris. Karena ini pertemuan pertama kita, izinkan aku bersulang untukmu."

Saat dia berdiri, aku baru menyadari betapa ranum pertumbuhannya.

Sepasang dadanya bak gunung kembar yang besar dan bulat, hampir saja merobek pakaiannya.

Aku memang sedang mengalami represi seksual. Aku pun merasakan gairahku langsung bereaksi tepat setelah segelas minuman itu tandas.

Tapi ini putri teman lamaku. Aku berusaha sekuat tenaga menahan rasa bergejolak di perut bawah dan mencoba mengendalikan diri.

"Norman, kenapa tiba-tiba mencariku? Kita ‘kan nggak pernah kontak lagi sejak lulus SMA."

Sambil bicara, aku menyantap hidangan di meja, tetapi tiba-tiba merasa perut bawahku memanas.

Aku pun baru sadar kalau meja ini penuh dengan hidangan pemicu gairah seperti tiram, daging kambing, dan kucai.

Norman menambahkan lauk ke piringku sambil tersenyum.

"Belakangan ini aku berencana membuka bisnis, tapi masih kurang modal sekitar 2 miliar. Waktu SMA, kita ‘kan paling akrab, kamu harus membantuku."

Aku membatin, rupanya dia mengingatku hanya saat butuh uang.

Tepat saat itu, Nova kembali mengangkat gelasnya dan berdiri.

"Paman Daren, Ayah sering menceritakan tentang Paman, katanya Paman adalah teman baiknya. Mari bersulang sekali lagi untukmu."

Nova menenggak habis segelas minuman keras itu dalam sekali teguk. Kadar alkoholnya tidak rendah.

Wajahnya langsung memerah padam, dan dia memegangi kepalanya.

"Ah, kepalaku sepertinya agak pusing ...."

Begitu kata-kata itu terlontar, tubuh mungilnya yang lembut jatuh lunglai ke pelukanku.

Tanpa meleset sedikit pun, dadanya yang montok mendarat tepat di atas pusakaku yang mulai menegang. Gumpalan kenyal itu tertekan hingga berubah bentuk.

Sentuhan yang lembut dan membal itu terasa seperti aliran listrik yang menyengat seluruh tubuh.

Aku baru saja bereaksi. Jika sampai ketahuan oleh Nova, mau ditaruh di mana muka tuaku ini?

Yang lebih parah lagi, saat mencoba bangun, telapak tangannya justru menekan tepat di area sensitifku sebagai tumpuan untuk berdiri.

Tekanan dari telapak tangannya seketika membuat darahku mendidih. Aku mau tak mau mengerang pelan.

Melihat hal itu, Norman bergegas bertanya, "Kamu nggak apa-apa, Daren? Apa putriku menubrukmu terlalu keras?"

Aku menggeleng cepat. "Nggak apa-apa. Lain kali jangan biarkan dia minum terlalu banyak."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status