LOGIN"Paman, aku gatal sekali. Ayah sedang keluar, tolong garukkan pakai sumpit." Di meja makan itu, putri temanku tampaknya terlalu banyak menyantap tiram. Akibat gejolak hormon yang tidak stabil, gairahnya melonjak drastis. Dia mengenakan rok mini, kedua tungkai kakinya yang mulus terbuka ke arahku, memamerkan celana dalam putih yang menggoda. Sudah bertahun-tahun aku hidup tanpa wanita. Begitu melihat area sensitif gadis muda itu yang sedikit mencekung, darahku langsung berdesir hebat. Aku membuka resleting celana, mengeluarkan milikku, lalu menggoyangkannya di hadapannya. "Apa enaknya pakai sumpit? Pakai punyaku saja untuk menggaruknya."
View MoreKata-kata itu membuat Norman tidak berdaya. Wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar, dan bibirnya kelu tidak bisa mengucapkan satu kata pun. Angin dingin berembus di antara kami. Aku merapatkan kerah baju dan berbalik pergi.Saat hendak memesan taksi untuk pulang, Nova tiba-tiba muncul dari kegelapan. Dia berlari ke hadapanku dan berkata sambil terisak, "Paman, maafkan aku. Sebenarnya aku telah membohongimu."Melihatnya menangis tersedu-sedu, aku tahu dia hanya dimanfaatkan oleh Norman, tentu saja aku tidak menyalahkannya. Lagi pula, aku sudah melihat tubuhnya, dan bayangan itu masih melekat kuat di ingatanku."Nggak apa-apa, ini bukan salahmu. Di masa depan jangan lakukan hal seperti ini lagi."Namun, Nova tiba-tiba berkata lagi, "Bukan itu ... aku membohongimu karena namaku bukan Nova, dan aku sama sekali bukan putri Norman!"Apa? Dia bukan putri Norman?Aku terpaku di tempat, pikiranku kacau balau. Itu artinya, Norman sengaja menjebakku dengan menyewa seorang wanita cantik untuk m
Namun, yang tidak kusangka adalah dia tega mengorbankan putri kandungnya sendiri, benar-benar binatang! Tapi dia tidak tahu bahwa aku tetap bisa menjaga batasan dan tidak melangkah lebih jauh!Aku melipat tangan di depan dada, menarik napas dalam, dan menatap langsung ke mata Norman. "Kalau begitu coba katakan, apa yang sudah kulakukan pada putrimu?"Norman tertawa kecil. "Jangan pura-pura suci! Kamu pikir aku nggak tahu apa yang kamu katakan dan lakukan padanya di ruangan tadi?""Kuberi tahu ya, hari ini, kamu mau nggak mau harus memberiku uang!"Aku tetap menatapnya dengan tenang tapi tegas. "Aku juga beri tahu kamu, hari ini aku nggak akan memberimu sepeser pun!""Kalau begitu, lihat saja nanti!""Silakan!"Aku berbalik meninggalkan ruangan privat itu dengan langkah mantap. Begitu keluar dari pintu gedung, angin dingin menerpa wajahku. Aku menyulut sebatang rokok. Menatap asap yang naik perlahan, aku menghela napas. Ah, benar-benar dunia yang kejam. Teman baikku dulu, sekaran
Aku tidak habis pikir, kenapa teman lamaku ini malah membawa putrinya saat kami bertemu? Apa dia tidak merasa terbebani? Terlebih lagi, aku dan Nova baru saja hampir kelepasan. Jika kami pergi ke tempat karaoke dengan suasana yang lebih intim, aku sangat menantikan apa yang akan terjadi."Ya sudah kalau begitu, kita hanya menyanyi saja, nggak perlu melakukan hal lain."Mulutku berkata "tidak melakukan yang lain", tapi hatiku sudah mulai bergejolak. Setelah bersiap, Norman pergi membayar tagihan, lalu kami memesan taksi menuju tempat karaoke.Tempat ini adalah jenis tempat yang "menjual sesuatu dengan kedok lain". Lampu koridornya remang-remang, cahaya neon menyebarkan aroma yang menggoda. Begitu kami duduk di sofa, manajer membawa barisan wanita cantik dengan riasan tebal.Manajer itu tersenyum lebar. "Silakan pilih, Tuan-tuan. Dijamin malam ini akan sangat memuaskan!"Norman melambaikan tangan. "Nggak perlu. Aku membawa putriku, kami hanya ingin menyanyi dengan tenang."Manajer itu
Menghadapi gadis cantik sesempurna Nova, jantungku berdegup kencang. Namun bagaimanapun juga, dia adalah putri temanku. Ayahnya hanya sedang keluar sebentar, bagaimana jika tiba-tiba dia kembali?Memikirkan hal itu, gerakanku tertahan di udara, aku tidak berani melangkah lebih jauh.Nova menatapku dengan bingung. "Paman, kenapa berhenti? Cepat puaskan aku!"Aku menarik napas panjang. Biarpun aku sangat menginginkannya, aku tidak bisa melakukannya sekarang. Setidaknya aku harus menunggu sampai kami berada di tempat yang aman. Aku menurunkan kedua kakinya, lalu menarik celanaku ke atas.Wajah Nova tampak tidak puas. Melihatku tidak melanjutkan, dia langsung menjulurkan tangan dan menarik celanaku."Paman, kenapa malah pakai celana? Ayahku ‘kan nggak ada di sini sekarang, bantu aku sekali ini saja, ya?"Mendengar permohonannya yang bertubi-tubi, aku mengertakkan gigi dan menolak. "Nggak bisa, ayahmu akan segera kembali. Bagaimana kalau dia memergoki kita?"Namun, tangan Nova justru se
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.