Home / Romansa / CANDU CINTA CEO AROGAN 2 / 11. Pernikahan Paksa

Share

11. Pernikahan Paksa

last update publish date: 2026-10-30 23:03:15

Fajar baru menyapa, namun sinar matahari enggan menembus tirai tebal kamar besar itu. Sarah duduk di kursi dekat jendela, matanya sembab. Semalaman dia tidak bisa tidur. Setiap detik hanya diisi ketakutan, doa, dan bayangan wajah ibunya di rumah sakit.

Ketika pintu kamar terbuka, suara langkah sepatu terdengar teratur. Asher masuk dengan setelan jas abu muda, wajahnya dingin seperti biasa. Di tangannya ada map cokelat dan pena hitam.

Sarah menatap map itu dengan hati berdebar.

“Apa lagi yang ka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   15. Hari Yang Melelahkan

    Hari yang sibuk di Kantor Levin Group.Pagi ini Jakarta terasa sibuk seperti biasa. Jalanan macet, klakson bersahutan, dan gedung-gedung tinggi memantulkan cahaya matahari yang baru saja naik.Namun di dalam mobil hitam Levin Group yang meluncur pelan menuju pusat kota, suasana justru membeku.Sopir pribadi Asher melajukan mobil perlahan.Sarah duduk di kursi penumpang, mengenakan blazer hitam dan rok pensil, pakaian yang dipilih langsung oleh Asher pagi itu. Matanya kosong menatap keluar jendela, menyaksikan dunia yang terasa begitu jauh darinya.“Asher …” Suaranya lirih, nyaris tenggelam di antara deru mesin mobil. “Aku tidak pantas bekerja di perusahaanmu. Aku bukan sekretaris sungguhan. Aku tidak tahu apa-apa tentang bisnis. Kamu tahu sendiri background pendidikanku di bidang kesehatan.”Asher, yang duduk di sebelahnya, tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap ponselnya, membaca beberapa pesan dari tim direksi.Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Asher menutup

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   14. Seragam Pelayan

    Kamar utama di mansion Asher Levin tampak sepi namun sarat ketegangan. Tirai jendela masih setengah terbuka, menyisakan sinar matahari yang masuk malu-malu ke dalam ruangan.Sarah keluar dari kamar mandi, mengenakan jubah tipis yang sudah disiapkan oleh Maid Sri. Rambutnya masih basah, wajahnya pucat.Setiap langkah terasa berat. Tubuhnya menggigil, bukan karena dingin, tapi karena kelelahan. Lelah fisik dan batin.Di dalam kamar, Asher sudah duduk di kursi kebesarannya di dekat jendela utama. Dia mengenakan kemeja putih, dengan beberapa kancing terbuka di dada, wajahnya dingin tanpa emosi. Suara ketukan jam antik di dinding terdengar seperti menghitung waktu menuju badai berikutnya.Sarah menunduk pelan, hendak berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya.“Kenapa kamu lama sekali?”Suara Asher memotong keheningan itu, tajam seperti pisau.Sarah berhenti melangkah. “Maaf, aku hanya …”“Kamu berjalan seperti siput! Sangat lambat!” potong Asher lagi, berdiri dari kursinya. Langk

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   13. Asher Yang Suka Memaksa

    Pagi Setelahnya.Matahari pagi menyelinap pelan dari balik tirai.Burung-burung berkicau lembut di taman, tapi di dalam kamar itu, udara masih berat, seolah waktu enggan bergerak.Sarah membuka mata perlahan. Kepalanya berat, tubuhnya terasa kaku. Dia memandang sekeliling kamar besar itu sunyi.Asher sudah tertidur di sisi ranjang, wajahnya tenang, seperti seseorang yang tak pernah melakukan dosa.Sarah menatapnya lama, lalu pelan-pelan duduk.Matanya kosong, tapi di balik itu ada sesuatu yang tumbuh bukan lagi hanya ketakutan, melainkan luka yang mulai berubah menjadi kekuatan kecil.Sarah berbisik lirih, hampir tak terdengar,“Asher, suatu hari nanti kamu akan tahu rasa sakit yang sama seperti yang kamu tanamkan padaku.”Air mata jatuh di pipinya. Sarah menyentuh cincin di jari manisnya, cincin yang kini terasa seperti rantai yang mengikatnya.Sang gadis berdiri, berjalan pelan menuju cermin besar di kamar itu.Wajah yang menatap balik dari sana bukan lagi Sarah yang polos dan lembu

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   12. Malam Pertama Dalam Ketakutan

    Malam turun perlahan di atas mansion Asher Levin.Hujan rintik-rintik mulai membasahi kaca jendela, memantulkan cahaya lampu taman yang kekuningan. Di lantai dua, di dalam sebuah kamar Sarah merasakan hawa dingin seperti di dalam ruang hampa. Hanya suara jam berdetak dan napas pelan yang terdengar di antara bayangan.Sarah duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun putih sederhana namun elegan yang kini mulai kusut. Tangannya gemetar, memeluk dirinya sendiri. Dia tak tahu harus ke mana. Mansion ini terasa seperti labirin tanpa jalan keluar.Pintu kamar diketuk tiga kali.Sarah tersentak. Jantungnya berdetak keras.“Masuk …” Suaranya lirih, hampir tak terdengar.Pintu terbuka, dan masuklah maid Sri membawa baki berisi air hangat, handuk, dan setelan pakaian tidur mini berwarna merah. Wajahnya tampak tegang, tapi tetap lembut seperti biasanya.“Selamat malam, Nona Sarah,” katanya pelan, menunduk.Sarah mencoba tersenyum, tapi hanya bibirnya yang bergerak, tanpa cahaya di matanya.“Ada

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   11. Pernikahan Paksa

    Fajar baru menyapa, namun sinar matahari enggan menembus tirai tebal kamar besar itu. Sarah duduk di kursi dekat jendela, matanya sembab. Semalaman dia tidak bisa tidur. Setiap detik hanya diisi ketakutan, doa, dan bayangan wajah ibunya di rumah sakit.Ketika pintu kamar terbuka, suara langkah sepatu terdengar teratur. Asher masuk dengan setelan jas abu muda, wajahnya dingin seperti biasa. Di tangannya ada map cokelat dan pena hitam.Sarah menatap map itu dengan hati berdebar.“Apa lagi yang kamu mau?” tanyanya pelan, suaranya lemah.Asher meletakkan map itu di meja. “Ini surat perjanjian pernikahan.”Sarah menatapnya tak percaya. “Pernikahan?”Gadis itu berdiri refleks, kursinya bergeser menimbulkan bunyi berderit. “Maksudmu apa? Kamu pasti sedang bercanda.”Asher menatapnya tanpa emosi. “Aku tidak pernah bercanda, Sarah.”Asher membuka map itu perlahan, memperlihatkan selembar dokumen resmi bertuliskan,Perjanjian Pernikahan atas Kesepakatan Kedua Pihak.Nama mereka tercetak di atas

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   10. Asher Menculik Sarah

    Malam itu hujan turun deras. Jakarta seperti tenggelam dalam gemuruh petir dan genangan air yang berkilat di bawah lampu jalan.Sarah melangkah cepat di trotoar sempit, tas kain ada di pelukannya. Dia baru saja selesai shift malam di kafe, tubuhnya lelah, mata berat, tapi pikirannya hanya tertuju pada ibunya di rumah sakit.Bus terakhir sudah lewat. Sarah pun memutuskan berjalan kaki menuju halte berikutnya. Jalanan sepi, hanya ada suara hujan yang seolah-olah sedang menampar aspal dan mobil-mobil yang melintas jauh di kejauhan.Tiba-tiba, suara mesin mobil mendekat perlahan dari belakang.Sarah menoleh. Ada sebuah mobil hitam tanpa plat depan berhenti tepat di sampingnya.“Maaf, Mbak ini arah ke Cempaka Putih, ya?” Suara pria dari dalam mobil.Sarah berbalik setengah, mencoba melihat wajahnya, tapi kaca mobil terlalu gelap. “Iya, lurus ke depan, belok kiri di lampu merah,” jawabnya sopan.Namun belum sempat Sarah melangkah lagi, suara pintu mobil terbuka, dan dalam hitungan detik dua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status