LOGINPagi Setelahnya.Matahari pagi menyelinap pelan dari balik tirai.Burung-burung berkicau lembut di taman, tapi di dalam kamar itu, udara masih berat, seolah waktu enggan bergerak.Sarah membuka mata perlahan. Kepalanya berat, tubuhnya terasa kaku. Dia memandang sekeliling kamar besar itu sunyi.Asher sudah tertidur di sisi ranjang, wajahnya tenang, seperti seseorang yang tak pernah melakukan dosa.Sarah menatapnya lama, lalu pelan-pelan duduk.Matanya kosong, tapi di balik itu ada sesuatu yang tumbuh bukan lagi hanya ketakutan, melainkan luka yang mulai berubah menjadi kekuatan kecil.Sarah berbisik lirih, hampir tak terdengar,“Asher, suatu hari nanti kamu akan tahu rasa sakit yang sama seperti yang kamu tanamkan padaku.”Air mata jatuh di pipinya. Sarah menyentuh cincin di jari manisnya, cincin yang kini terasa seperti rantai yang mengikatnya.Sang gadis berdiri, berjalan pelan menuju cermin besar di kamar itu.Wajah yang menatap balik dari sana bukan lagi Sarah yang polos dan lembu
Malam turun perlahan di atas mansion Asher Levin.Hujan rintik-rintik mulai membasahi kaca jendela, memantulkan cahaya lampu taman yang kekuningan. Di lantai dua, di dalam sebuah kamar Sarah merasakan hawa dingin seperti di dalam ruang hampa. Hanya suara jam berdetak dan napas pelan yang terdengar di antara bayangan.Sarah duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun putih sederhana namun elegan yang kini mulai kusut. Tangannya gemetar, memeluk dirinya sendiri. Dia tak tahu harus ke mana. Mansion ini terasa seperti labirin tanpa jalan keluar.Pintu kamar diketuk tiga kali.Sarah tersentak. Jantungnya berdetak keras.“Masuk …” Suaranya lirih, hampir tak terdengar.Pintu terbuka, dan masuklah maid Sri membawa baki berisi air hangat, handuk, dan setelan pakaian tidur mini berwarna merah. Wajahnya tampak tegang, tapi tetap lembut seperti biasanya.“Selamat malam, Nona Sarah,” katanya pelan, menunduk.Sarah mencoba tersenyum, tapi hanya bibirnya yang bergerak, tanpa cahaya di matanya.“Ada
Fajar baru menyapa, namun sinar matahari enggan menembus tirai tebal kamar besar itu. Sarah duduk di kursi dekat jendela, matanya sembab. Semalaman dia tidak bisa tidur. Setiap detik hanya diisi ketakutan, doa, dan bayangan wajah ibunya di rumah sakit.Ketika pintu kamar terbuka, suara langkah sepatu terdengar teratur. Asher masuk dengan setelan jas abu muda, wajahnya dingin seperti biasa. Di tangannya ada map cokelat dan pena hitam.Sarah menatap map itu dengan hati berdebar.“Apa lagi yang kamu mau?” tanyanya pelan, suaranya lemah.Asher meletakkan map itu di meja. “Ini surat perjanjian pernikahan.”Sarah menatapnya tak percaya. “Pernikahan?”Gadis itu berdiri refleks, kursinya bergeser menimbulkan bunyi berderit. “Maksudmu apa? Kamu pasti sedang bercanda.”Asher menatapnya tanpa emosi. “Aku tidak pernah bercanda, Sarah.”Asher membuka map itu perlahan, memperlihatkan selembar dokumen resmi bertuliskan,Perjanjian Pernikahan atas Kesepakatan Kedua Pihak.Nama mereka tercetak di atas
Malam itu hujan turun deras. Jakarta seperti tenggelam dalam gemuruh petir dan genangan air yang berkilat di bawah lampu jalan.Sarah melangkah cepat di trotoar sempit, tas kain ada di pelukannya. Dia baru saja selesai shift malam di kafe, tubuhnya lelah, mata berat, tapi pikirannya hanya tertuju pada ibunya di rumah sakit.Bus terakhir sudah lewat. Sarah pun memutuskan berjalan kaki menuju halte berikutnya. Jalanan sepi, hanya ada suara hujan yang seolah-olah sedang menampar aspal dan mobil-mobil yang melintas jauh di kejauhan.Tiba-tiba, suara mesin mobil mendekat perlahan dari belakang.Sarah menoleh. Ada sebuah mobil hitam tanpa plat depan berhenti tepat di sampingnya.“Maaf, Mbak ini arah ke Cempaka Putih, ya?” Suara pria dari dalam mobil.Sarah berbalik setengah, mencoba melihat wajahnya, tapi kaca mobil terlalu gelap. “Iya, lurus ke depan, belok kiri di lampu merah,” jawabnya sopan.Namun belum sempat Sarah melangkah lagi, suara pintu mobil terbuka, dan dalam hitungan detik dua
Pagi itu, langit Jakarta masih berkabut setelah hujan semalaman. Jalanan padat dengan motor dan mobil yang saling bersaing adu klakson. Di trotoar sempit kawasan Tebet, Sarah Noela berjalan cepat sambil membawa map berisi surat lamaran kerja. Napasnya sedikit memburu, tapi matanya menyala penuh semangat.Sarah baru saja keluar dari klinik tempatnya bekerja paruh waktu.Bayaran dari klinik itu tak cukup untuk menutupi biaya rumah sakit ibunya. Setiap malam dia memikirkan tagihan yang menumpuk di laci kecil dekat meja makan.“Kalau bukan aku yang cari tambahan, siapa lagi?”Begitu kalimat yang Sarah ulang setiap kali merasa lelah.Sebuah kafe kecil yang terletak di sudut jalan, dengan cat dinding krem dan aroma kopi yang lembut menyambut setiap pengunjung. Sarah berhenti di depan pintunya, membaca tulisan kecil di jendela.“Dicari : Pelayan paruh waktu, Shift Sore-Malam.”Sarah menatap iklan itu lama, lalu menatap ke dalam.Ada tiga meja kecil, seorang barista di balik mesin espresso, d
Jakarta, sore hari.Langit menggantung kelabu, hujan baru saja berhenti. Jalanan masih basah, memantulkan cahaya lampu mobil yang berjejer di ruas Senopati. Di sebuah sedan hitam yang terparkir di seberang jalan, Asher Levin duduk diam, memandangi arah sebuah klinik kecil.Di pangkuannya, secangkir kopi sudah dingin. Asher menatap ke luar jendela dengan pandangan tajam, seperti sedang membaca sesuatu yang tak terlihat.Dari balik kaca, tampak seorang gadis muda berseragam putih keluar dari klinik sambil menenteng tas kain. Rambutnya diikat rapi, langkahnya cepat tapi lembut. Dia berhenti sejenak di depan pintu klinik, membantu seorang nenek menyeberang jalan.Asher memperhatikan gerakan gadis itu lama.Ada sesuatu pada gadis itu, bukan hanya kecantikannya yang polos, tapi ketenangan yang terpancar dari wajahnya.Namun di benak Asher, wajah itu segera dikaitkan dengan satu nama yang telah dia hafal di luar kepala.Sarah Noela.Putri tunggal dari dokter Paul Subroto, pria yang telah mer







