Share

6. Sarah Noela

last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-12 01:24:42

Matahari pagi menerobos masuk melalui jendela di sebuah rumah di kawasan Cempaka Putih. Tirai putih berayun lembut tertiup angin, memantulkan cahaya ke dinding yang dipenuhi foto keluarga, potret sederhana, namun penuh makna. Di salah satu foto, tampak Sarah Noela Subroto, mengenakan toga biru muda, tersenyum cerah diapit kedua orang tuanya, dokter Paul Subroto dan Nyonya Lusi.

Kini senyum itu terasa jauh.

Sudah dua bulan sejak sidang gugatan Keluarga Levin dimulai, dan dunia keluarga kecil itu berubah total.

Sarah menutup laptopnya pelan, menarik napas panjang. Di layar, surat lamaran kerja paruh waktunya baru saja selesai diketik.

“Posisinya sebagai dokter umum di sebuah klinik swasta.”

“Alasannya untuk membantu kebutuhan keluarga.”

Sarah menatap kembali foto wisudanya di meja. “Dulu aku pikir hidupku akan dimulai dengan kerja di rumah sakit ternama,” gumamnya lirih.

“Tapi ternyata, hidup bisa berbalik secepat itu.”

Dari balik pintu kamar terdengar suara batuk pelan.

Sarah segera berlari keluar, masuk ke kamar utama. Di sana, Nyonya Lusi, ibunya, terbaring lemah. Wajahnya pucat, pipinya menipis, rambutnya yang dulu rapi kini kusut menempel di bantal. Botol obat bertebaran di meja kecil di samping tempat tidur.

“Mommy, sudah minum obatnya?” tanya Sarah lembut, mendekat sambil menaruh segelas air.

Nyonya Lusi tersenyum samar. “Belum, Sayang. Mommy mau tunggu Daddy pulang dulu.”

“Daddy masih di luar rumah, Mom. Ada rapat dengan pengacara. Mommy harus minum obat dulu ya, biar badan nggak makin drop.”

Sarah pun membantu ibunya duduk, lalu menyuapkan obat pelan-pelan.

Nyonya Lusi menatap wajah anaknya. “Kamu sudah makan, Sayang?”

Sarah tersenyum tipis. “Belum, nanti sekalian beli bubur buat Mommy juga.”

“Sarah,” Suara Nyonya Lusi lirih.

“Kamu nggak perlu kerja paruh waktu, Nak. Fokus aja cari rumah sakit yang mau terima kamu bekerja sepenuhnya. Mommy tahu kamu lulusan terbaik, kamu pasti bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.”

Sarah menggeleng cepat. “Nggak, Mom. Sekarang yang penting Mommy sembuh dulu. Soal kerjaan yang tepat nanti saja menyusul akan aku cari.”

Nyonya Lusi menarik tangan putrinya, menggenggam erat. “Maaf, ya. Harusnya Mommy yang bantu kamu memulai karier, bukan malah kamu yang harus mikirin biaya rumah dan obat untuk Mommy.”

Sarah menatap mata ibunya yang berkaca-kaca, lalu memeluknya. “Udah, Mom. Jangan ngomong begitu. Aku nggak apa-apa. Aku malah senang bisa jagain Mommy.”

Siang itu, setelah memastikan ibunya tertidur, Sarah keluar rumah. Dia berjalan menelusuri jalan dengan ransel di punggung, menuju halte TransJakarta. Di dalam bus, Sarah memandangi layar ponselnya, notifikasi berita masih membanjiri.

“Kasus Levin vs Rumah Sakit spesial jantung Masih Bergulir.”

“Publik Mendesak Izin Praktik dokter Paul Dicabut.”

Komentar netizen bertebaran.

“Kalau dokter itu nggak salah, kenapa pasiennya mati?”

“Uang bukan segalanya, tapi nyawa juga nggak bisa dibeli!”

Sarah menutup layar ponselnya, menatap keluar jendela. Langit Jakarta tampak cerah, kontras dengan isi hatinya.

Beberapa jam kemudian, Sarah tiba di sebuah klinik swasta kecil di daerah Menteng.

Resepsionis menatapnya dengan ramah. “Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”

Sarah menunduk sopan. “Saya mau melamar untuk posisi dokter umum, Bu.”

“Silakan duduk dulu ya, Mbak Sarah. Nanti akan dipanggil ke ruang kepala klinik.”

Sarah duduk di kursi tunggu, menggenggam map lamaran di tangannya.

Tangannya sedikit gemetar, bukan karena gugup tapi karena ketakutan akan pertanyaan yang selalu menghantuinya.

“Apakah Anda anak dari dokter Paul Subroto yang sedang terkena kasus malapraktik itu?”

Dan benar saja, saat wawancara dimulai, pertanyaan itu datang.

Kepala klinik, pria paruh baya bernama dokter Hadi, membaca CV-nya. “Nilai kamu bagus sekali, Sarah. IPK 3.9, lulusan Universitas Indonesia. Tapi maaf sebelumnya, kamu ini anaknya dokter Paul Subroto, ya?”

Sarah terdiam sesaat. Lalu menatap langsung, tegas tapi lembut. “Iya, Pak. Saya anak Beliau.”

Dokter Hadi menatapnya beberapa detik sebelum menghela napas. “Kamu tahu kan, kasus beliau sedang ramai. Banyak pasien saya yang sensitif soal isu medis sekarang. Kalau kamu kerja di sini, bisa jadi tekanan buat kamu sendiri.”

Sarah tersenyum, walau hatinya tercekat. “Saya siap menghadapi tekanan itu, Pak. Saya cuma ingin bekerja dengan jujur. Saya nggak mau berlindung di balik nama siapa pun.”

Dokter Hadi menatapnya lama, lalu mengangguk. “Kamu mirip ayahmu. Tegas dan sopan. Baiklah, kamu saya terima, mulai Senin depan.”

Mata Sarah berbinar. “Terima kasih, Pak! Saya janji nggak akan mengecewakan.”

“Yang penting kamu kuat, ya. Dunia ini nggak selalu adil bagi orang yang benar.”

Malamnya, Sarah pulang membawa dua bungkus nasi kotak dan senyum lelah.

Dokter Paul sudah duduk di ruang tamu dengan wajah suram, memegang surat dari rumah sakit.

“Sarah, kamu sudah pulang.”

“Iya, Daddy. Aku dapat kerja paruh waktu di klinik Menteng. Mulai Senin depan.”

Dokter Paul menatap putrinya lama. “Kamu nggak perlu kerja dulu, Sayang. Daddy masih punya tabungan sedikit.”

Sarah tersenyum lembut. “Daddy, kita semua tahu uang tabungan itu tinggal buat bayar pengacara sama obat Mommy. Aku cuma bantu sedikit kok. Lagian aku pengin belajar untuk bertanggung jawab.”

Dokter Paul menunduk, matanya berkaca-kaca. “Kamu anak yang luar biasa, Sarah.”

Sang dokter pun memeluk putrinya, memejamkan mata, seolah meminjam sedikit kekuatan dari pelukan itu.

“Sabar ya, Sayang. Daddy janji setelah semua ini selesai. Daddy akan senantiasa membuatmu dan Mommy merasakan kebahagiaan kembali,” ucap sang ayah sambil menangis tersedu-sedu.

Keesokan paginya, suara batuk Nyonya Lusi terdengar lagi.

Sarah sudah menyiapkan air hangat dan roti, lalu duduk di samping tempat tidur.

“Mommy mimpi tentang Daddy kamu semalam,” ucap Nyonya Lusi tiba-tiba.

“Daddy bilang, Jangan takut, Lusi. Kebenaran nggak bisa dibungkam selamanya.”

Sarah tersenyum, membetulkan selimut. “Mommy harus percaya itu mimpi baik. Mungkin itu tanda dari Tuhan kalau semuanya akan baik-baik saja.”

Nyonya Lusi memandangi wajah putrinya. “Kamu selalu kelihatan kuat, Sarah. Tapi Mommy tahu kamu capek.”

Sarah tertawa pelan, menatap jendela. “Capek, iya. Tapi kalau aku berhenti berjuang, siapa yang jaga Mommy?”

Nyonya Lusi menepuk tangan anaknya. “Kamu terlalu baik. Jangan sampai dunia yang keras ini mengubah kamu, ya.”

Sarah menatap ibunya, tersenyum lembut. “Aku nggak akan berubah, Mommy. Karena aku punya alasan kuat untuk tetap baik yaitu kalian, kedua orang tuaku.”

Sore itu, saat matahari hampir tenggelam, Sarah duduk di balkon kecil rumah mereka.

Dia membuka buku hariannya yang sudah lama tak disentuh, lalu menulis,

Hari ini aku diterima kerja. Bukan karena aku istimewa, tapi karena aku harus bertahan. Hidup bukan soal siapa yang salah atau benar, tapi siapa yang tetap berdiri saat semuanya runtuh.

Di halaman terakhir, Sarah menulis satu kalimat kecil.

“Untuk Daddy, yang tetap percaya pada kebenaran. Untuk Mommy, yang berjuang di setiap napasnya. Dan Untuk diriku sendiri, agar tidak pernah menyerah.”

Tetes air mata jatuh di atas tulisan itu. Sarah tersenyum pahit.

Beberapa hari kemudian, di klinik barunya, Sarah bekerja dengan rajin. Dia mencatat data pasien, membantu dokter lain, dan melayani setiap orang dengan sopan. Tapi kadang, ada pandangan sinis dari pasien yang mengenal nama ayahnya.

“Eh, itu anaknya dokter yang viral itu, kan?” bisik seorang pasien.

“Kasihan juga sih, tapi tetap aja, gimana bisa dia kerja di klinik setelah kasus kayak gitu?”

Sarah pura-pura tak dengar. Dia menunduk, dan tetap menulis.

Setiap kata hinaan dia ubah jadi semangat. Setiap tatapan merendahkan gadis itu jawab dengan senyum.

Suatu malam, sepulang kerja, Sarah menemukan ayahnya di ruang tamu, duduk di depan televisi yang menyiarkan berita tentang dirinya lagi.

Dokter Paul tampak letih.

“Daddy,” Sarah duduk di sebelahnya.

“Biarin aja berita itu tersebar. Nanti juga lama-lama orang akan lupa.”

Dokter Paul menatap layar kosong. “Masalahnya bukan orang lupa atau nggak, Sayang. Tapi Daddy sangat takut kamu nggak bisa hidup normal karena semua ini.”

Sarah menggenggam tangan ayahnya. “Aku hidup normal kalau kita nggak nyerah, Dad. Dunia boleh nggak percaya jika Daddy tak bersalah, tapi aku tahu siapa Daddy sebenarnya.”

Dokter Paul menatap putrinya lama, lalu tersenyum tipis. “Kamu cahaya kecil dalam hidup Daddy, Sarah. Jangan pernah padam, ya.”

Sarah mengangguk, menahan air mata. “Selama Daddy masih percaya pada kebenaran, aku nggak akan padam.”

Malam makin larut. Lampu rumah kecil itu tetap menyala.

Di dalamnya, seorang gadis muda yang lembut tapi kuat sedang menulis harapan-harapan kecil di buku hariannya,

sementara ibunya terbaring sakit dan ayahnya berjuang membersihkan nama.

Dan di luar sana, di dunia yang keras penuh opini, nama Sarah Noela mulai perlahan muncul, bukan sebagai anak dari dokter Paul, tapi sebagai sosok baru yang kelak akan memegang kunci kebenaran antara dendam Keluarga Levin dan kehancuran ayahnya sendiri.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   13. Asher Yang Suka Memaksa

    Pagi Setelahnya.Matahari pagi menyelinap pelan dari balik tirai.Burung-burung berkicau lembut di taman, tapi di dalam kamar itu, udara masih berat, seolah waktu enggan bergerak.Sarah membuka mata perlahan. Kepalanya berat, tubuhnya terasa kaku. Dia memandang sekeliling kamar besar itu sunyi.Asher sudah tertidur di sisi ranjang, wajahnya tenang, seperti seseorang yang tak pernah melakukan dosa.Sarah menatapnya lama, lalu pelan-pelan duduk.Matanya kosong, tapi di balik itu ada sesuatu yang tumbuh bukan lagi hanya ketakutan, melainkan luka yang mulai berubah menjadi kekuatan kecil.Sarah berbisik lirih, hampir tak terdengar,“Asher, suatu hari nanti kamu akan tahu rasa sakit yang sama seperti yang kamu tanamkan padaku.”Air mata jatuh di pipinya. Sarah menyentuh cincin di jari manisnya, cincin yang kini terasa seperti rantai yang mengikatnya.Sang gadis berdiri, berjalan pelan menuju cermin besar di kamar itu.Wajah yang menatap balik dari sana bukan lagi Sarah yang polos dan lembu

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   12. Malam Pertama Dalam Ketakutan

    Malam turun perlahan di atas mansion Asher Levin.Hujan rintik-rintik mulai membasahi kaca jendela, memantulkan cahaya lampu taman yang kekuningan. Di lantai dua, di dalam sebuah kamar Sarah merasakan hawa dingin seperti di dalam ruang hampa. Hanya suara jam berdetak dan napas pelan yang terdengar di antara bayangan.Sarah duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun putih sederhana namun elegan yang kini mulai kusut. Tangannya gemetar, memeluk dirinya sendiri. Dia tak tahu harus ke mana. Mansion ini terasa seperti labirin tanpa jalan keluar.Pintu kamar diketuk tiga kali.Sarah tersentak. Jantungnya berdetak keras.“Masuk …” Suaranya lirih, hampir tak terdengar.Pintu terbuka, dan masuklah maid Sri membawa baki berisi air hangat, handuk, dan setelan pakaian tidur mini berwarna merah. Wajahnya tampak tegang, tapi tetap lembut seperti biasanya.“Selamat malam, Nona Sarah,” katanya pelan, menunduk.Sarah mencoba tersenyum, tapi hanya bibirnya yang bergerak, tanpa cahaya di matanya.“Ada

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   11. Pernikahan Paksa

    Fajar baru menyapa, namun sinar matahari enggan menembus tirai tebal kamar besar itu. Sarah duduk di kursi dekat jendela, matanya sembab. Semalaman dia tidak bisa tidur. Setiap detik hanya diisi ketakutan, doa, dan bayangan wajah ibunya di rumah sakit.Ketika pintu kamar terbuka, suara langkah sepatu terdengar teratur. Asher masuk dengan setelan jas abu muda, wajahnya dingin seperti biasa. Di tangannya ada map cokelat dan pena hitam.Sarah menatap map itu dengan hati berdebar.“Apa lagi yang kamu mau?” tanyanya pelan, suaranya lemah.Asher meletakkan map itu di meja. “Ini surat perjanjian pernikahan.”Sarah menatapnya tak percaya. “Pernikahan?”Gadis itu berdiri refleks, kursinya bergeser menimbulkan bunyi berderit. “Maksudmu apa? Kamu pasti sedang bercanda.”Asher menatapnya tanpa emosi. “Aku tidak pernah bercanda, Sarah.”Asher membuka map itu perlahan, memperlihatkan selembar dokumen resmi bertuliskan,Perjanjian Pernikahan atas Kesepakatan Kedua Pihak.Nama mereka tercetak di atas

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   10. Asher Menculik Sarah

    Malam itu hujan turun deras. Jakarta seperti tenggelam dalam gemuruh petir dan genangan air yang berkilat di bawah lampu jalan.Sarah melangkah cepat di trotoar sempit, tas kain ada di pelukannya. Dia baru saja selesai shift malam di kafe, tubuhnya lelah, mata berat, tapi pikirannya hanya tertuju pada ibunya di rumah sakit.Bus terakhir sudah lewat. Sarah pun memutuskan berjalan kaki menuju halte berikutnya. Jalanan sepi, hanya ada suara hujan yang seolah-olah sedang menampar aspal dan mobil-mobil yang melintas jauh di kejauhan.Tiba-tiba, suara mesin mobil mendekat perlahan dari belakang.Sarah menoleh. Ada sebuah mobil hitam tanpa plat depan berhenti tepat di sampingnya.“Maaf, Mbak ini arah ke Cempaka Putih, ya?” Suara pria dari dalam mobil.Sarah berbalik setengah, mencoba melihat wajahnya, tapi kaca mobil terlalu gelap. “Iya, lurus ke depan, belok kiri di lampu merah,” jawabnya sopan.Namun belum sempat Sarah melangkah lagi, suara pintu mobil terbuka, dan dalam hitungan detik dua

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   9. Sarah Terpaksa Mencari Pekerjaan Lain

    Pagi itu, langit Jakarta masih berkabut setelah hujan semalaman. Jalanan padat dengan motor dan mobil yang saling bersaing adu klakson. Di trotoar sempit kawasan Tebet, Sarah Noela berjalan cepat sambil membawa map berisi surat lamaran kerja. Napasnya sedikit memburu, tapi matanya menyala penuh semangat.Sarah baru saja keluar dari klinik tempatnya bekerja paruh waktu.Bayaran dari klinik itu tak cukup untuk menutupi biaya rumah sakit ibunya. Setiap malam dia memikirkan tagihan yang menumpuk di laci kecil dekat meja makan.“Kalau bukan aku yang cari tambahan, siapa lagi?”Begitu kalimat yang Sarah ulang setiap kali merasa lelah.Sebuah kafe kecil yang terletak di sudut jalan, dengan cat dinding krem dan aroma kopi yang lembut menyambut setiap pengunjung. Sarah berhenti di depan pintunya, membaca tulisan kecil di jendela.“Dicari : Pelayan paruh waktu, Shift Sore-Malam.”Sarah menatap iklan itu lama, lalu menatap ke dalam.Ada tiga meja kecil, seorang barista di balik mesin espresso, d

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   8. Asher Mengawasi dari Jauh

    Jakarta, sore hari.Langit menggantung kelabu, hujan baru saja berhenti. Jalanan masih basah, memantulkan cahaya lampu mobil yang berjejer di ruas Senopati. Di sebuah sedan hitam yang terparkir di seberang jalan, Asher Levin duduk diam, memandangi arah sebuah klinik kecil.Di pangkuannya, secangkir kopi sudah dingin. Asher menatap ke luar jendela dengan pandangan tajam, seperti sedang membaca sesuatu yang tak terlihat.Dari balik kaca, tampak seorang gadis muda berseragam putih keluar dari klinik sambil menenteng tas kain. Rambutnya diikat rapi, langkahnya cepat tapi lembut. Dia berhenti sejenak di depan pintu klinik, membantu seorang nenek menyeberang jalan.Asher memperhatikan gerakan gadis itu lama.Ada sesuatu pada gadis itu, bukan hanya kecantikannya yang polos, tapi ketenangan yang terpancar dari wajahnya.Namun di benak Asher, wajah itu segera dikaitkan dengan satu nama yang telah dia hafal di luar kepala.Sarah Noela.Putri tunggal dari dokter Paul Subroto, pria yang telah mer

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status