Home / Romansa / CANDU CINTA CEO AROGAN 2 / 7. Sumpah di Pemakaman

Share

7. Sumpah di Pemakaman

last update publish date: 2026-10-12 01:25:16

Langit sore di San Diego Hills tampak kelabu. Gerimis turun pelan, seperti ikut berduka bersama keluarga Levin. Udara lembab membawa aroma tanah basah, bunga krisan putih bertebaran di sekitar nisan bertuliskan,

“Robi Levin

Suami, Ayah, Opa, dan Opa Buyut yang terhormat.”

Asher Levin berdiri di depan pusara itu, tubuhnya kaku seperti patung batu. Jas hitamnya basah oleh hujan, tapi dia tak peduli. Mata hitam gelapnya menatap nisan itu tanpa berkedip.

Tangan kirinya mengepal, sementara tangan kanan memegang setangkai mawar putih, bunga kesukaan sang opa buyut.

Seluruh keluarga besar Levin sedang berziarah di makam Opa Robi saat ini. Kecuali Elrod yang harus kembali ke luar negeri untuk sebuah pekerjaan bisnis yang tidak bisa dielakkan.

Oma Rini berdiri di samping cucu buyutnya dengan mata bengkak karena menangis, sementara Tuan Erlan berusaha menahan gejolak emosi. Di belakang mereka, Ayin, Oma Anisa, dan Opa Fred berdiri diam dalam duka yang pekat.

Suara burung gagak dari kejauhan terdengar samar, seolah menambah kesyahduan suasana.

Air mata Asher menetes perlahan, jatuh di atas batu nisan yang dingin.

“Asher,” Suara lembut Nyonya Mitha memecah keheningan. “Sudahlah, Nak. Opa Buyut sudah tenang di sisi Tuhan. Jangan terus menyalahkan diri sendiri.”

Asher menatap ibunya dengan mata merah. “Aku nggak menyalahkan diri sendiri, Mom. Tapi aku nggak akan biarkan kematiannya berlalu begitu saja. Seseorang harus bertanggung jawab atas ini.”

Tuan Erlan menepuk bahu putranya pelan. “Asher, kamu tahu dokter itu sudah melakukan yang terbaik. Kadang Tuhan punya kehendak lain.”

“Tidak, Daddy!” Asher memotong cepat, nadanya tinggi dan bergetar. “Kalau memang dokter tersebut telah melakukan yang terbaik, kenapa Opa harus mati di meja operasi? Kenapa lampu operasi bisa padam? Kenapa mereka nggak siap?”

Suara Asher menggema di antara makam yang sepi. Beberapa pelayat menunduk, tak berani bicara.

Nyonya Mitha menunduk, menahan isak. “Asher, tolong jangan bicara seperti itu di sini.”

Asher menatap nisan itu dalam-dalam, suaranya lirih namun penuh amarah,

“Kalau tim dokter nggak sanggup menyelamatkan satu nyawa, mereka nggak pantas disebut dokter. Aku janji, Mom, Dad, aku akan buat dokter Paul membayar semua ini!”

Di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, dua minggu kemudian.

Ruang sidang penuh sesak oleh wartawan dan pengunjung. Kamera berderet di belakang ruangan, lampu kilat menyilaukan.

Di depan, dokter Paul Subroto duduk di kursi terdakwa, mengenakan baju tahanan oranye. Wajahnya pucat, matanya cekung karena kurang tidur. Di sebelahnya, pengacaranya berbisik pelan, memberi arahan.

Di barisan depan, Keluarga Levin duduk dengan wajah tegang. Tuan Erlan memandang ke depan dengan dingin, sementara Asher duduk di sampingnya, rahangnya mengeras

Tampak gelisah, matanya sesekali berpindah ke arah dokter Paul. Dendamnya sudah berubah menjadi bara.

Hakim mengetuk palu tiga kali. “Sidang lanjutan kasus kelalaian medis atas nama terdakwa dokter Paul Subroto, dibuka.”

Saksi-saksi bergantian maju, perawat, teknisi ruang operasi, dan kepala rumah sakit.

Namun semua kesaksian seolah menambah keyakinan hakim bahwa dokter Paul memang bersalah.

“Lampu cadangan gagal menyala karena ada kesalahan teknis.”

“Terdakwa tetap melanjutkan operasi meski kondisi tidak stabil.”

“Pasien kehilangan denyut jantung selama dua menit sebelum alat kembali menyala.”

Suara-suara itu menembus dada Paul seperti pisau.

Dia ingin menjelaskan bahwa dirinya hanya berjuang menyelamatkan pasien, bukan karena ceroboh. Tapi setiap kali membuka mulut, pengacaranya menepuk lengannya, memberi isyarat untuk tenang.

Asher menatapnya tajam dari bangku penonton.

Hatinya berteriak, “Orang ini! Dialah penyebab semuanya! Dokter Paul, Anda tidak akan lolos dari hukuman atas tindakan ceroboh Anda terhadap Opa Robi!”

Akhirnya hakim mengangkat palu, dan suara beratnya menggema di seluruh ruangan.

“Dengan mempertimbangkan bukti dan kesaksian yang ada, pengadilan menyatakan terdakwa dokter Paul Subroto bersalah karena kelalaian yang menyebabkan kematian pasien.

Terdakwa dijatuhi hukuman penjara selama lima belas tahun.”

Suara itu seperti petir menyambar.

Wartawan langsung menulis cepat, kamera berkedip tanpa henti.

Di sudut ruangan, Sarah yang datang diam-diam menutup mulutnya dengan tangan, menahan tangis yang meledak. Ibunya, Nyonya Lusi, langsung pingsan di pangkuan seorang suster.

Dokter Paul hanya menunduk. Bibirnya bergetar, bukan karena marah, tapi karena tak percaya.

Dia menatap ke arah belakang, dan sesaat matanya bertemu dengan tatapan Asher.

Dua dunia yang berbeda saling berhadapan, satu penuh luka, satu penuh dendam.

Asher berdiri, lalu keluar dari ruang sidang tanpa berkata sepatah pun.

Malam itu di Rumah Keluarga dokter Paul.

Hujan deras mengguyur Jakarta. Petir sesekali menyambar, menerangi jendela rumah itu.

Sarah duduk di lantai ruang tamu, memeluk lututnya. Air matanya mengalir tanpa suara.

Di meja, surat keputusan pengadilan terbuka lebar, tintanya basah oleh air mata.

Ibunya terbaring di kamar, masih lemah setelah pingsan di pengadilan. Rumah itu sunyi, hanya suara hujan yang terdengar seperti ratapan.

Sarah memandangi foto keluarganya di dinding.

Ayahnya tersenyum di sana, mengenakan jas putih dokter, tangannya di bahu Sarah.

Foto itu tampak jauh, seolah berasal dari kehidupan lain.

“Mommy,” Sarah memanggil pelan sambil membuka pintu kamar.

Nyonya Lusi terbangun, menatap anaknya dengan mata sembab. “Daddy-mu di mana dia sekarang?”

Sarah menahan tangis. “Sudah dibawa ke Lapas, Mommy. Besok aku mau ke sana, bawa baju dan makanan untuk Daddy.”

Nyonya Lusi menutup wajahnya. “Tuhan, kenapa orang baik seperti suamiku harus menderita seperti ini?”

Sarah memeluk ibunya. “Mommy jangan ngomong gitu. Daddy nggak bersalah. Semua orang boleh menuduhnya, tapi aku tahu siapa Daddy sebenarnya.”

Nyonya Lusi mengelus rambut anak perempuannya. “Sarah, kamu harus kuat. Dunia ini kejam. Tapi janji sama Mommy, jangan sampai kebencian tumbuh di hatimu.”

Sarah mengangguk pelan, suaranya serak. “Aku janji, Mom. Tapi aku juga nggak akan diam. Aku akan temukan cara untuk bantu Daddy keluar dari penjara.”

Beberapa hari kemudian, di penjara.

Sarah berdiri di depan jeruji besi, menggenggam tangan ayahnya.

Dokter Paul tersenyum lemah di balik kaca pembatas. Wajahnya tampak lebih tua dari sebelumnya, tapi matanya masih hangat.

“Sarah, kamu kelihatan capek,” ucap sang ayah.

Sarah menggeleng. “Aku nggak capek kok, Dad. Aku cuma kangen Daddy.”

Dokter Paul menatap putrinya penuh kasih. “Maaf, Sayang. Harusnya Daddy yang jaga kamu, bukan malah kamu yang harus jaga Mommy dan semuanya.”

“Jangan ngomong gitu. Daddy nggak salah. Mereka semua salah paham.”

Dokter Paul menatap dalam-dalam ke mata putrinya. “Dunia nggak selalu berpihak pada orang benar. Tapi jangan biarkan itu membuatmu menjadi menyimpan dendam pahit.”

Air mata Sarah jatuh. “Aku nggak akan menyimpan kepahitan, Daddy. Aku cuma, sedih. Semua orang membenci kita sekarang.”

Dokter Paul mengangkat tangannya, menyentuh kaca. “Biarkan mereka benci pada kita. Kamu hanya perlu jadi dirimu sendiri, Sarah. Tetap lembut dan berani.”

Mereka berdiam lama dalam hening, hanya saling menatap.

Sebelum pergi, Sarah berbisik, “Aku janji, Dad. Aku akan bantu Daddy keluar dari sini. Aku akan buktikan kalau Daddy nggak bersalah.”

Dokter Paul tersenyum. “Aku percaya kamu bisa, Sayang. Kamu anak Daddy.”

Pemakaman San Diego Hills.

Sementara itu, Asher kembali ke makam Opa Robi.

Sudah beberapa minggu sejak pemakaman, tapi lukanya masih belum sembuh. Kali ini dia datang sendirian, mengenakan jaket hitam dan payung di tangan.

Hujan rintik-rintik turun lagi, seperti dulu.

Asher menatap nisan itu dengan mata kosong, lalu berlutut.

“Sekarang orang itu sudah dihukum, Opa,” bisiknya pelan.

“Orang yang bikin Opa meninggal sudah di penjara. Tapi kenapa hatiku masih saja nggak tenang?”

Asher menatap langit. “Apa Opa bahagia lihat aku kayak gini? Dendam, penuh marah, dan merasa kosong.”

Suara angin menjawabnya, tapi tak ada kehangatan.

Asher mengepalkan tangan, menancapkan mawar putih di depan nisan. “Aku janji, Opa. Aku nggak akan berhenti sampai keluarga dokter itu ngerasain sakit yang sama seperti aku merasakan kehilangan Opa.”

Hujan makin deras, membasahi wajahnya. Tapi Asher tetap di sana, menatap nisan itu dalam diam.

Di kejauhan, petir menyambar, seolah mengukir sumpahnya di langit malam.

Sumpah seorang cucu yang kehilangan arah, dan akan menyeret satu keluarga ke dalam badai dendam yang panjang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   13. Asher Yang Suka Memaksa

    Pagi Setelahnya.Matahari pagi menyelinap pelan dari balik tirai.Burung-burung berkicau lembut di taman, tapi di dalam kamar itu, udara masih berat, seolah waktu enggan bergerak.Sarah membuka mata perlahan. Kepalanya berat, tubuhnya terasa kaku. Dia memandang sekeliling kamar besar itu sunyi.Asher sudah tertidur di sisi ranjang, wajahnya tenang, seperti seseorang yang tak pernah melakukan dosa.Sarah menatapnya lama, lalu pelan-pelan duduk.Matanya kosong, tapi di balik itu ada sesuatu yang tumbuh bukan lagi hanya ketakutan, melainkan luka yang mulai berubah menjadi kekuatan kecil.Sarah berbisik lirih, hampir tak terdengar,“Asher, suatu hari nanti kamu akan tahu rasa sakit yang sama seperti yang kamu tanamkan padaku.”Air mata jatuh di pipinya. Sarah menyentuh cincin di jari manisnya, cincin yang kini terasa seperti rantai yang mengikatnya.Sang gadis berdiri, berjalan pelan menuju cermin besar di kamar itu.Wajah yang menatap balik dari sana bukan lagi Sarah yang polos dan lembu

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   12. Malam Pertama Dalam Ketakutan

    Malam turun perlahan di atas mansion Asher Levin.Hujan rintik-rintik mulai membasahi kaca jendela, memantulkan cahaya lampu taman yang kekuningan. Di lantai dua, di dalam sebuah kamar Sarah merasakan hawa dingin seperti di dalam ruang hampa. Hanya suara jam berdetak dan napas pelan yang terdengar di antara bayangan.Sarah duduk di tepi ranjang, masih mengenakan gaun putih sederhana namun elegan yang kini mulai kusut. Tangannya gemetar, memeluk dirinya sendiri. Dia tak tahu harus ke mana. Mansion ini terasa seperti labirin tanpa jalan keluar.Pintu kamar diketuk tiga kali.Sarah tersentak. Jantungnya berdetak keras.“Masuk …” Suaranya lirih, hampir tak terdengar.Pintu terbuka, dan masuklah maid Sri membawa baki berisi air hangat, handuk, dan setelan pakaian tidur mini berwarna merah. Wajahnya tampak tegang, tapi tetap lembut seperti biasanya.“Selamat malam, Nona Sarah,” katanya pelan, menunduk.Sarah mencoba tersenyum, tapi hanya bibirnya yang bergerak, tanpa cahaya di matanya.“Ada

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   11. Pernikahan Paksa

    Fajar baru menyapa, namun sinar matahari enggan menembus tirai tebal kamar besar itu. Sarah duduk di kursi dekat jendela, matanya sembab. Semalaman dia tidak bisa tidur. Setiap detik hanya diisi ketakutan, doa, dan bayangan wajah ibunya di rumah sakit.Ketika pintu kamar terbuka, suara langkah sepatu terdengar teratur. Asher masuk dengan setelan jas abu muda, wajahnya dingin seperti biasa. Di tangannya ada map cokelat dan pena hitam.Sarah menatap map itu dengan hati berdebar.“Apa lagi yang kamu mau?” tanyanya pelan, suaranya lemah.Asher meletakkan map itu di meja. “Ini surat perjanjian pernikahan.”Sarah menatapnya tak percaya. “Pernikahan?”Gadis itu berdiri refleks, kursinya bergeser menimbulkan bunyi berderit. “Maksudmu apa? Kamu pasti sedang bercanda.”Asher menatapnya tanpa emosi. “Aku tidak pernah bercanda, Sarah.”Asher membuka map itu perlahan, memperlihatkan selembar dokumen resmi bertuliskan,Perjanjian Pernikahan atas Kesepakatan Kedua Pihak.Nama mereka tercetak di atas

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   10. Asher Menculik Sarah

    Malam itu hujan turun deras. Jakarta seperti tenggelam dalam gemuruh petir dan genangan air yang berkilat di bawah lampu jalan.Sarah melangkah cepat di trotoar sempit, tas kain ada di pelukannya. Dia baru saja selesai shift malam di kafe, tubuhnya lelah, mata berat, tapi pikirannya hanya tertuju pada ibunya di rumah sakit.Bus terakhir sudah lewat. Sarah pun memutuskan berjalan kaki menuju halte berikutnya. Jalanan sepi, hanya ada suara hujan yang seolah-olah sedang menampar aspal dan mobil-mobil yang melintas jauh di kejauhan.Tiba-tiba, suara mesin mobil mendekat perlahan dari belakang.Sarah menoleh. Ada sebuah mobil hitam tanpa plat depan berhenti tepat di sampingnya.“Maaf, Mbak ini arah ke Cempaka Putih, ya?” Suara pria dari dalam mobil.Sarah berbalik setengah, mencoba melihat wajahnya, tapi kaca mobil terlalu gelap. “Iya, lurus ke depan, belok kiri di lampu merah,” jawabnya sopan.Namun belum sempat Sarah melangkah lagi, suara pintu mobil terbuka, dan dalam hitungan detik dua

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   9. Sarah Terpaksa Mencari Pekerjaan Lain

    Pagi itu, langit Jakarta masih berkabut setelah hujan semalaman. Jalanan padat dengan motor dan mobil yang saling bersaing adu klakson. Di trotoar sempit kawasan Tebet, Sarah Noela berjalan cepat sambil membawa map berisi surat lamaran kerja. Napasnya sedikit memburu, tapi matanya menyala penuh semangat.Sarah baru saja keluar dari klinik tempatnya bekerja paruh waktu.Bayaran dari klinik itu tak cukup untuk menutupi biaya rumah sakit ibunya. Setiap malam dia memikirkan tagihan yang menumpuk di laci kecil dekat meja makan.“Kalau bukan aku yang cari tambahan, siapa lagi?”Begitu kalimat yang Sarah ulang setiap kali merasa lelah.Sebuah kafe kecil yang terletak di sudut jalan, dengan cat dinding krem dan aroma kopi yang lembut menyambut setiap pengunjung. Sarah berhenti di depan pintunya, membaca tulisan kecil di jendela.“Dicari : Pelayan paruh waktu, Shift Sore-Malam.”Sarah menatap iklan itu lama, lalu menatap ke dalam.Ada tiga meja kecil, seorang barista di balik mesin espresso, d

  • CANDU CINTA CEO AROGAN 2   8. Asher Mengawasi dari Jauh

    Jakarta, sore hari.Langit menggantung kelabu, hujan baru saja berhenti. Jalanan masih basah, memantulkan cahaya lampu mobil yang berjejer di ruas Senopati. Di sebuah sedan hitam yang terparkir di seberang jalan, Asher Levin duduk diam, memandangi arah sebuah klinik kecil.Di pangkuannya, secangkir kopi sudah dingin. Asher menatap ke luar jendela dengan pandangan tajam, seperti sedang membaca sesuatu yang tak terlihat.Dari balik kaca, tampak seorang gadis muda berseragam putih keluar dari klinik sambil menenteng tas kain. Rambutnya diikat rapi, langkahnya cepat tapi lembut. Dia berhenti sejenak di depan pintu klinik, membantu seorang nenek menyeberang jalan.Asher memperhatikan gerakan gadis itu lama.Ada sesuatu pada gadis itu, bukan hanya kecantikannya yang polos, tapi ketenangan yang terpancar dari wajahnya.Namun di benak Asher, wajah itu segera dikaitkan dengan satu nama yang telah dia hafal di luar kepala.Sarah Noela.Putri tunggal dari dokter Paul Subroto, pria yang telah mer

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status