Share

14. MENARIK BATAS

Penulis: Mystique
last update Tanggal publikasi: 2026-08-02 21:00:47

Keheningan yang mencekam langsung mengurung koridor begitu kalimat tajam Paris menggantung di udara.

Junior yang berdiri di antara kedua seniornya itu, memandang bergantian ke arah kepalan tangan River yang mengeras dan binar mata Paris yang berkaca-kaca penuh amarah. Suasana mendadak begitu pekat oleh ketegangan.

Menyadari posisinya yang serba salah. Ia perlahan mundur satu langkah. Junior itu menundukkan kepala dengan gestur kaku, lalu berbisik pelan.

"Emm... Kak
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    35. MAKAN SIANG YANG MANIS

    Langkah kaki Paris melambat begitu ia mendorong pintu kaca restoran milik Adrian. Bunyi denting lonceng kecil di atas pintu menyambutnya, seketika memotong kebisingan jalanan kota di siang hari yang padat. Harum aroma mentega yang dipanggang, seduhan kopi, dan samar-samar wangi kayu manis langsung menyergap indra penciumannya. Suasana hangat di dalam ruangan ini seketika menyelimuti Paris, mengusir sisa-sisa rasa sesak yang sempat mengimpit dadanya beberapa puluh menit lalu di taman kampus."Paris."Sebuah suara rendah dan familier memanggil namanya. Paris menoleh, mendapati Adrian yang baru saja keluar dari area bar. Pria berusia 24 tahun itu tidak lagi mengenakan celemek cokelatnya. Ia memakai kemeja katun hitam longgar dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana kasual gelap. Penampilannya yang sederhana namun matang itu selalu berhasil memancarkan karisma tersendiri.Adrian berjalan menghampiri Paris dengan senyuman tipis yang tulus. "Kamu datang juga. S

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    34. LAGI DAN LAGI

    Pagi ini, langit menyisakan rona abu-abu yang tenang setelah hujan semalam. Paris berdiri di depan cermin kamarnya, mematut diri dengan sweter rajut berwarna cokelat susu dan celana jins yang pas di tubuhnya. Rambutnya ia biarkan tergerai bebas. Ia sengaja memoleskan pemerah bibir dengan warna yang sedikit lebih segar dari biasanya.Hari ini, Paris memutuskan untuk mengambil kembali kendali atas dirinya sendiri. Tidak ada lagi mata sembap, tidak ada lagi jemari yang gemetar karena menunggu kabar yang tak kunjung datang. Paris menarik napas dalam-dalam, menghembuskan perlahan, lalu menyandang tas bahunya dengan semangat. Langkahnya pagi ini terasa jauh lebih ringan.Di sudut lain kota ini, River baru saja menyelesaikan urusannya. Setelah memastikan keadaan Aruna cukup tenang sejak semalam, fokusnya langsung bergeser kembali pada Paris. Ia mengambil ponsel yang sempat ia abaikan, lalu mengetikkan sebuah pesan dengan rasa percaya diri yang biasa ia miliki.River: Pagi, Paris. Gue ke kamp

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    33. PELARIAN YANG MANIS

    Gerimis sore ini menemani langkah Paris menuju restoran milik Adrian. Sepanjang perjalanan dari kampus, bayang-bayang tentang pelukan River dan Aruna di lantai satu terus menghantui.Paris butuh tempat untuk melarikan diri dari bayang-bayang itu. Ia butuh oksigen untuk bernafas. Dan restoran milik Adrian adalah tempat yang paling tempat untuk menjadi pengalih perhatiannya.Paris mendorong pintu kaca restoran, memicu denting lonceng kecil yang manis di atasnya. Suasana di dalam belum terlalu ramai karena jam makan malam masih satu atau dua jam lagi. Beberapa pelayan yang sedang merapikan meja menoleh dan menyapanya dengan ramah."Sore, Kak. Sudah reservasi atau mau langsung cari tempat?" tanya seorang pelayan perempuan dengan celemek linen cokelat."Sore. Saya ada janji bertemu dengan Adrian. Tadi sempat berkirim pesan," jawab Paris, mencoba tersenyum se-normal mungkin.Pelayan itu langsung melebarkan senyum. "Oh, Kak Paris, ya? Mas Adrian sudah berpesan tadi. Mari, Kak, saya antar ke

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    32. DIA MASIH SAMA

    Paris tidak menoleh lagi. Dadanya bergemuruh hebat, antara puas telah menjatuhkan bom mental pada Aruna, dan rasa perih yang perlahan merayap naik ke tenggorokan setelah mengetahui bahwa bagi River ia memang tidak spesial. Hanya mainan, sama seperti para gadis yang selalu terjebak pada pesonanya.Paris melangkah naik menuju lantai dua, tempat kelasnya berada. Begitu sampai di beranda lantai dua, ia melihat River berjalan menemui Aruna. Paris bisa melihat dengan jelas kebersamaan antara dua orang itu. Meski tidak bisa mendengar apa yang mereka berdua bicarakan."Lo ngapain ke sini?" Suara River sinis dan dingin begitu ia sampai di hadapan Aruna. Matanya menatap Aruna dengan sorot menuntut penjelasan. "Gue udah bilang berkali-kali, Aruna. Jangan pernah datang ke kampus gue."Aruna menatap River dengan mata berkaca-kaca. Ia memilin ujung sweater, menampilkan gestur rapuh yang  membuat siapa pun tidak tega untuk membentaknya."Karena lo nggak pernah a

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    31. PERTEMUAN PARIS & ARUNA

    "Mau lanjut lihat apa? Kita ke sana," River menunjuk pusat game center tak jauh dari tempatnya. Paris tersenyum, mengangguk patuh seraya membiarkan jemarinya kembali tenggelam dalam genggaman hangat River. Sisa malam itu dihabiskan dengan penuh tawa. Aruna kembali berusaha menelfon River namun panggilannya gagal karena River mematikan ponselnya. Sampai di rumah setelah kencan manis sore itu. Mereka seperti tidak ingin berpisah. Di rumah masing-masing mereka saling berkirim pesan. River : Gue udah sampai rumah. Langsung mau mandi. Paris : Gue justru udah mandi. Makasih yaa buat hari ini. River : Anytime. Nanti kita main lagi kayak tadi. Gue traktir pizza. Paris : Okeee banget 🥰🥰 River : Yaudah, gue mandi dulu. Selesai mandi gue chat lagi. Mereka saling berkirim pesan hingga tengah malam. Berkali-kali Aruna masih mencoba menelfon River. Namun pemuda itu sengaja men

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    30. HARI-HARI MANIS BERSAMANYA

    "Besok gue jemput kuliah. Jangan hindarin gue lagi, ya."Permintaan River yang posesif itu, menyempurnakan kencan manis mereka malam ini, River benar-benar membuktikan bahwa ia peduli pada Paris.Seolah ingin menebus dosa-dosanya di masa lalu, perilaku River berubah drastis. Tidak ada lagi sosok River yang sulit dijangkau, penuh rahasia, atau tiba-tiba menghilang karena panggilan misterius. Yang ada hanyalah River yang selalu hadir untuk Paris.Perubahan itu paling terasa di kampus. Siang itu, Paris baru saja keluar dari ruang seminar ketika ia melihat sosok tinggi tegap sedang bersandar di pilar gedung fakultas, mengabaikan tatapan kagum beberapa mahasiswi junior yang lewat di depannya."Udah selesai kelasnya?" tanya River begitu Paris mendekat. Senyumannya tipis namun pandangan matanya begitu mengunci. Tanpa ragu, di depan banyak pasang mata, River mengacak rambut Paris pelan.Paris sempat tersentak, masih belum terbiasa dengan pamer ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status