Share

Bab 3: Vonis Medis

Author: Anprar
last update publish date: 2025-03-05 22:24:53

"Amnesia retrograde total akibat trauma kepala yang parah."

Dr. Adrian Wijaya meletakkan hasil scan otak Damian di meja, memastikan cahaya dari negatoskop menerangi area yang ia tunjuk. Ruangan konsultasi itu sunyi, hanya terdengar deru halus dari pendingin udara. Damian duduk di kursi roda—sesuatu yang ia tolak keras namun dipaksa oleh protokol rumah sakit—sementara Rafi Pratama berdiri di belakangnya, wajahnya menunjukkan keprihatinan.

"Kerusakan terjadi di area hippocampus dan lobus temporal, bagian otak yang berperan kunci dalam pembentukan dan penyimpanan memori jangka panjang," lanjut Dr. Adrian. "Benturan yang kau alami saat kecelakaan pesawat cukup parah, Damian."

Damian menatap hasil scan dengan dahi berkerut. Baru kemarin ia terbangun dari koma dua minggu, dan sekarang ia harus menerima kenyataan bahwa tiga tahun terakhir dari hidupnya lenyap tanpa bekas.

"Bisakah kau jelaskan secara spesifik apa itu amnesia retrograde?" tanya Damian, ingin memahami kondisinya dengan jelas.

"Amnesia retrograde adalah ketidakmampuan untuk mengakses ingatan yang terbentuk sebelum kejadian traumatis," jawab Dr. Adrian. "Dalam kasusmu, trauma kepala telah menghapus tiga tahun terakhir dari ingatanmu. Kau masih mengingat siapa dirimu, keterampilan yang kau miliki, dan pengetahuan faktual, tapi ingatan episodik—pengalaman personal dan peristiwa yang kau alami selama tiga tahun terakhir—tidak bisa diakses."

Rafi Pratama, sahabat Damian sejak Harvard dan wakil direktur LTI, bergeser gelisah. Ia tiba satu jam yang lalu, segera setelah menerima panggilan dari perawat. Pertemuan mereka dipenuhi campuran kelegaan dan kebingungan. Damian masih mengenali Rafi, tapi ingatan terakhirnya tentang sahabatnya itu adalah dari 2020, saat mereka merencanakan ekspansi Lesmana Tech Innovations (LTI) ke Asia Tenggara.

"Dari sudut pandang medis, ini adalah kasus klasik," lanjut Dr. Adrian. "Tapi setiap pasien berbeda dalam hal pemulihan."

"Jadi, apa prognosisnya?" tanya Damian, suaranya tegang. "Apa ingatanku akan kembali?"

Dr. Adrian duduk di hadapan Damian, tatapannya langsung dan jujur. "Aku tidak bisa memberikan jaminan, Damian. Dalam kasus amnesia retrograde akibat trauma, sekitar 80-90% pasien mendapatkan kembali sebagian besar ingatan mereka dalam kurun waktu enam bulan hingga dua tahun."

"Sebagian besar? Jadi tidak semuanya?" Damian menekankan.

"Benar. Mungkin ada beberapa ingatan yang tidak akan kembali. Otak manusia sangat kompleks, dan proses penyembuhan tidak selalu sempurna."

Damian mengepalkan tangannya, mencoba mengontrol emosi yang berkecamuk. Dia sudah cukup terkejut mendengar dari Rafi tentang semua yang terjadi selama tiga tahun terakhir—ekspansi LTI ke Singapura dan Vietnam, peluncuran HomeSense yang sukses besar, dan tentu saja, pertunangannya dengan Eliza Valentina, seorang desainer grafis yang bahkan wajahnya tidak ia kenali.

"LTI adalah perusahaan teknologi yang kau dirikan setelah kematian orangtuamu," Rafi menjelaskan dengan lembut, menyadari kebingungan di wajah Damian. "Kita mengembangkannya dari perusahaan teknologi skala menengah menjadi konglomerat multinasional dalam lima tahun terakhir. HomeSense, sistem rumah pintar terintegrasi, adalah produk unggulan kita yang mendominasi pasar Asia Tenggara."

Damian mengangguk perlahan. Dia ingat mendirikan LTI dan visinya untuk teknologi rumah pintar, tapi semua perkembangan berikutnya terasa seperti cerita tentang orang lain.

"Yang membuatku bingung," kata Damian, "adalah bagaimana mungkin aku bisa lupa segalanya? Seluruh tiga tahun, tanpa sisa?"

"Benturan parah pada bagian kepala tertentu bisa menyebabkan hal ini," jelas Dr. Adrian. "Kejadian traumatis kadang menjadi semacam 'garis pemisah' dalam memori. Segala sesuatu sebelum tanggal kecelakaan pesawat masih bisa kau ingat, tapi tidak setelahnya."

"Dan wanita itu... Eliza," Damian mengucapkan namanya dengan ragu, "dia benar-benar tunanganku?"

Rafi menghela napas. "Ya, Dam. Kalian bertemu sekitar tiga tahun lalu di Kafe Enigma, saat dia tidak sengaja menumpahkan kopi ke kemejamu. Kau melamarnya enam bulan lalu di restoran Altitude. Aku ada di sana, menyaksikan semuanya."

Damian mengusap wajahnya, frustasi. "Bagaimana mungkin aku bertunangan dengan seseorang yang bahkan tidak kukenali sekarang?"

"Eliza mengubahmu, Dam," kata Rafi dengan senyum kecil. "Kau tetap CEO yang brilian, tapi bersamanya, kau lebih bahagia, lebih seimbang. Tidak lagi workaholic yang tidur di kantor lima malam seminggu."

Dr. Adrian berdeham, mengembalikan fokus pembicaraan. "Ada beberapa pendekatan terapi yang bisa kita coba untuk membantu pemulihan ingatanmu. Terapi kognitif, paparan bertahap pada lingkungan dan orang-orang dari periode yang hilang, dan stimulasi dengan objek-objek yang memiliki nilai emosional."

"Seperti foto dan barang kenangan?" tanya Damian.

"Tepat. Itulah mengapa kehadiran orang-orang terdekatmu sangat penting dalam proses ini," Dr. Adrian melirik ke arah Rafi. "Mereka bisa membantu menghubungkan kembali neuron-neuron yang terputus dengan menyediakan konteks dan petunjuk emosional."

Saat mereka berbicara, ponsel Rafi bergetar. Dia melihat layarnya dan mengernyit.

"Eliza ada di luar," kata Rafi pelan. "Dia membawa beberapa dokumen dan foto yang mungkin bisa membantu, seperti yang disarankan Dr. Adrian."

Damian terdiam, konflik terpancar di wajahnya. Kemarin ia mengusir wanita itu dari kamarnya, menuduhnya sebagai penipu. Sekarang, setelah konfirmasi dari Rafi dan diagnosis medis yang jelas, ia mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa Eliza memang berkata jujur.

"Aku belum siap," kata Damian akhirnya. "Aku masih perlu waktu untuk mencerna semua ini."

Dr. Adrian mengangguk memahami. "Tidak perlu terburu-buru, Damian. Pemulihan adalah proses, bukan balapan."

"Tapi, Dam," Rafi menimpali dengan lembut, "Eliza membawa bukti-bukti yang mungkin bisa membantumu memahami apa yang terjadi selama tiga tahun terakhir. Bukti objektif, bukan hanya kata-katanya."

Damian menatap pintu ruangan, kemudian kembali pada hasil scan otaknya. Tiga tahun hilang. Sebuah pertunangan yang tak ia ingat. Dan sekarang, di luar sana, seorang wanita yang mengklaim sebagai pusat dari kehidupan barunya menunggu untuk memberikan bukti.

"Baiklah," kata Damian akhirnya, suaranya terdengar lelah namun tegas. "Biarkan dia masuk. Tapi aku ingin kalian berdua tetap di sini."

Rafi mengangguk dan mengirim pesan singkat. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka perlahan, dan Eliza melangkah masuk. Berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini dia tampak lebih tenang dan terkontrol. Dia membawa tas berisi folder dan sebuah album tebal.

"Terima kasih sudah mengizinkanku masuk," kata Eliza dengan suara lembut namun tegas. "Aku tahu ini sulit, Damian. Tapi aku membawa sesuatu yang mungkin bisa membantumu memahami hubungan kita."

Eliza meletakkan album foto di meja, kemudian mengeluarkan beberapa dokumen dari tasnya. Di antaranya ada sertifikat pertunangan, foto-foto resmi acara lamaran, dan kontrak pembelian cincin berlian dari toko perhiasan ternama dengan tanda tangan Damian.

"Ini bukan untuk memaksamu mengingat," kata Eliza hati-hati, menyadari kecemasan di wajah Damian. "Tapi untuk memberimu bukti objektif bahwa apa yang kukatakan itu benar."

Damian meraih dokumen-dokumen itu dengan tangan sedikit gemetar. Itu memang tanda tangannya. Itu memang wajahnya di foto-foto tersebut, terlihat bahagia bersama wanita yang kini berdiri gugup di hadapannya.

Dr. Adrian dan Rafi bertukar pandang, menyadari bahwa ini adalah langkah pertama yang penting dalam perjalanan panjang pemulihan Damian.

Di luar ruangan konsultasi, seorang wanita dengan blazer rapi melintas di koridor, matanya sekilas menatap pintu ruangan sebelum berjalan menuju lift. Vianna Darmawan mengecek jam tangannya dan tersenyum tipis. Semuanya masih berjalan sesuai jadwal.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CEO Amnesia Mencari Cinta Yang Hilang   Bab 80: Pintu Menuju Tiga Tahun

    Klinik pribadi Adrian menempati satu lantai tersembunyi di sebuah gedung medis di Menteng—tempat yang sengaja dipilih karena tak ada satu pun nama Lesmana, GlobalPharm, atau DS Tech yang tahu keberadaannya. Dindingnya putih bersih, peralatannya berdenyut tenang, dan di tengah ruangan berdiri sebuah kursi pemulihan yang dikelilingi monitor.Damian melepas jasnya dan duduk. Adrian memasang sensor di pelipis dan dadanya, jari-jarinya cekatan tapi matanya serius.“Aku akan jujur sekali lagi,” kata Adrian, menyiapkan infus. “Nolembra bekerja dengan menghalangi konsolidasi ingatan—ia tidak menghapus apa pun, hanya mengunci pintunya. Selama tiga tahun, tubuhmu terus diberi dosis agar pintu itu tetap tertutup. Begitu kita keluarkan sisa senyawanya dan kuberi katalis ini, pintunya akan terbuka. Tapi tiga tahun ingatan yang tertahan akan kembali tidak berurutan, dan tidak lembut. Sebagian mungkin indah. Sebagian mungkin hal yang sengaja kau—at

  • CEO Amnesia Mencari Cinta Yang Hilang   Bab 79: Rumah Kaca yang Terlupakan

    Damian tidak tidur malam itu. Foto dari Vianna tergeletak di meja kerja, dan satu kalimat berputar tanpa henti di kepalanya: Ada hal-hal tentang hari itu yang bahkan Eliza tidak berani kau ingat.Saat ia menanyakannya, Eliza hanya berkata pelan, “Rumah kaca itu tempat kita memulai segalanya. Aku akan menceritakannya—tapi biar kau yang melihatnya sendiri dulu. Aku tidak mau memberimu ingatan versiku. Aku ingin kau menemukan versimu sendiri.” Lalu ia pergi tidur dengan bahu yang terlalu tegang untuk orang yang mengaku tidak menyembunyikan apa pun.Maka pagi itu, alih-alih ke ruang CEO, Damian turun ke lantai sebelas—lantai yang sudah tiga tahun nyaris tak pernah ia sentuh. Lantai Inovasi. Lantai tempat HomeSense lahir.Pintu kaca terbuka, dan sekelompok insinyur muda mendongak terkejut. Mereka mengenal Damian sebagai CEO yang dingin dan jauh, bukan sebagai orang yang pernah duduk di lantai ini sambil menggambar di

  • CEO Amnesia Mencari Cinta Yang Hilang   Bab 78: Reruntuhan Sebuah Kemenangan

    Berita itu menyebar lebih cepat daripada yang Damian duga.Pukul tujuh pagi, layar ponselnya sudah penuh tajuk yang saling berebut: “Komisaris Senior LTI Diskors di Tengah Dugaan Konspirasi”, “Damian Lesmana Kembali Pegang Kendali Penuh”, “Drama Ruang Rapat Lantai Empat Puluh”. Foto-foto Gunawan keluar dari gedung dengan wajah tertunduk telah menjadi viral sebelum matahari benar-benar tinggi. Tiga tahun ia menanam racun perlahan; satu pagi cukup untuk merobohkannya.Namun di penthouse yang sunyi itu, Damian tidak merasa seperti pemenang.Rafi datang membawa laporan pagi seperti biasa, tetapi kali ini suaranya lebih hati-hati. “Dewan sudah mengeluarkan pernyataan resmi. Mosi dinyatakan batal demi hukum, dan mereka—” Rafi berhenti sejenak, hampir tersenyum, “—secara aklamasi menegaskan kembali posisimu sebagai CEO. Beberapa dari mereka bahkan mengantre minta maaf secara pr

  • CEO Amnesia Mencari Cinta Yang Hilang   Bab 77: Palu yang Berbalik

    Rafi menekan satu tombol di panel konferensi, dan suara seorang lelaki memenuhi pengeras suara ruangan—suara yang dikenali separuh isi meja.“Selamat pagi, Dewan. Ini Dani Sasongko.”Gumaman terkejut menyebar. Vianna kehilangan satu detak ketenangannya—sesuatu yang nyaris tak pernah terjadi padanya.“Aku tidak akan basa-basi,” suara Dani melanjutkan, tenang dan lelah. “Surat penunjukan wali yang baru saja dilempar Vianna ke meja kalian—akulah yang menyusun draf aslinya. Tiga tahun lalu. Atas perintahnya. Periksa metadata berkas digitalnya; properti dokumen, tanggal pembuatan, dan log revisinya tidak bisa dipalsukan semudah tinta di atas kertas. Nama Eliza ditulis di sana sebelum Damian bahkan sadar dari koma—jauh sebelum ada ‘tim Damian’ yang dituduhkan.”Damian meletakkan cetakan metadata itu di samping dokumen Vianna. Tanggal pembuatan file berkedip seperti tuduhan: tiga tahun lalu, dua hari sebelum Damian membuka mata di rumah sakit.

  • CEO Amnesia Mencari Cinta Yang Hilang   Bab 76: Kebenaran yang Tak Bisa Ditutup

    Selembar hasil laboratorium itu terbaring di tengah meja seperti pisau yang baru dicabut.“Silakan dibaca,” kata Damian. “Dr. Hendrik, kau ahli farmakologi. Mungkin kau bisa membantu dewan memahaminya.”Hendrik tidak menyentuh kertas itu. Wajahnya, yang tadi penuh wibawa medis, kini sepucat jasnya.“Dan dewan layak tahu satu hal lagi,” tambah Damian, suaranya dingin, “tentang ‘konsultan independen’ yang kalian percaya untuk menilai kewarasanku. Dr. Hendrik Santoso adalah Direktur Riset GlobalPharm—perusahaan yang menciptakan senyawa yang baru saja kalian dengar namanya. Independen dari apa, tepatnya?”Damian sendiri yang membacanya, suaranya jernih memenuhi ruangan. “Analisis toksikologi atas sampel darahku—diambil dan disimpan oleh Dr. Adrian Wijaya sejak hari pertama aku sadar dari koma, tiga tahun lalu. Hasilnya menunjukkan residu sebuah senyawa penekan konsolidasi memori berkode Nolembra. Produk riset rahasia GlobalPharm. Tidak ada di

  • CEO Amnesia Mencari Cinta Yang Hilang   Bab 75: Sidang di Lantai Empat Puluh

    Pukul sembilan kurang lima, lift eksekutif membuka pintunya ke lantai empat puluh, dan Damian melangkah masuk ke ruang yang dirancang untuk menjatuhkannya.Ia tidak tidur dua malam terakhir. Bukan karena takut—rasa takut itu sudah lama ia bakar habis—melainkan karena ia menghabiskan setiap jam memutar ulang skenario ini di kepalanya bersama Rafi, Eliza, dan Adrian, mencari satu celah yang mungkin terlewat. Mereka menyebutnya “rapat eksekusi”; seluruh isi gedung yakin hari ini adalah hari Damian dijatuhkan secara terhormat. Hanya Damian yang tahu bahwa ia datang bukan sebagai terdakwa, melainkan sebagai algojo yang menyamar jadi terdakwa.“Apa pun yang mereka lempar,” bisik Eliza tadi pagi sambil merapikan dasinya di lobi, jemarinya bergetar tipis, “jangan terpancing lebih awal. Biarkan mereka membangun tiang gantungan mereka sendiri.” Damian mencium keningnya. “Tiang gantungan terbaik,” jawabnya, “adalah yang dibangun musuh untuk lehernya sendiri.”Ruang rapat u

  • CEO Amnesia Mencari Cinta Yang Hilang   Bab 1: Terbangun dalam Kebingungan

    Putih. Semua putih. Terlalu putih hingga menyakitkan.Damian Lesmana mengerjapkan mata, berusaha memfokuskan pandangannya yang kabur. Kepalanya berdenyut-denyut seperti dipukul palu tak kasat mata. Rasa sakit tajam menjalar dari pelipis kanan hingga ke belakang kepalanya, membuatnya hampir tidak bi

  • CEO Amnesia Mencari Cinta Yang Hilang   Bab 7: Studio yang Asing

    Fajar baru saja menyingsing ketika Damian terbangun dengan napas terengah. Mimpi yang sama—serpihan memori tentang dirinya melukis, tangan Eliza menuntun tangannya. Kepalanya masih berdenyut, efek samping dari kilasan ingatan semalam.Ia menyibakkan selimut dan berjalan ke je

  • CEO Amnesia Mencari Cinta Yang Hilang   Bab 6: Kembali ke Mansion

    Gerbang besar mansion Lesmana terbuka perlahan, menyambut kedatangan Range Rover hitam yang membawa Damian pulang. Di balik kaca gelap, Damian menatap bangunan bergaya modern minimalis yang sudah tiga tahun tidak ia ingat. Bentuk fisik mansionnya tetap sama seperti dalam ingatannya, tapi entah kena

  • CEO Amnesia Mencari Cinta Yang Hilang   Bab 5: Kecurigaan Awal

    Laboratorium rumah sakit hampir kosong pada pukul 11 malam ini. Hanya Dr. Adrian Wijaya yang masih membungkuk di atas mikroskop, jemarinya dengan teliti menggeser slide berisi sampel darah Damian. Kantong mata menghiasi wajahnya yang lelah, tapi tatapannya penuh konsentrasi. Ini adalah hari ketiga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status