登入Fajar baru saja menyingsing ketika Damian terbangun dengan napas terengah. Mimpi yang sama—serpihan memori tentang dirinya melukis, tangan Eliza menuntun tangannya. Kepalanya masih berdenyut, efek samping dari kilasan ingatan semalam.
Ia menyibakkan selimut dan berjalan ke jendela. Dari kamarnya di lantai dua, ia bisa melihat guest house di kejauhan. Lampu di sana sudah menyala, menandakan Eliza sudah bangun. Pandangannya beralih ke bangunan kecil dengan dinding kaca di ujung taman—studio lukis yang kemarin menarik perhatiannya. Ia melihat sosok Eliza berjalan dari guest house menuju studio, membawa sesuatu yang tampak seperti termos.
Sejak bangun, pikiran Damian terus kembali pada kilasan ingatan semalam. Ia tak pernah melukis. Namun kenapa ia bisa mengingat sensasi kuas di tangannya dengan begitu jelas? Tekstur cat, aroma turpentin, tawa lembut Eliza di telinganya... Sensasi-sensasi itu terasa nyata, meski ia yakin tak pernah mengalaminya.
"Aku perlu mencari tahu," gumamnya, mengambil keputusan.
Damian turun untuk sarapan, mansion masih sunyi, hanya Kirana yang sudah aktif di dapur.
"Selamat pagi, Tuan," sapa Kirana, menyiapkan secangkir kopi. "Menu sarapan favorit Tuan sudah saya siapkan."
Damian terdiam melihat hidangan di hadapannya—avocado toast dengan telur poached dan sedikit chili flakes. Kombinasi yang tidak pernah ia coba dalam ingatannya.
"Ini... favoritku sekarang?" tanyanya.
Kirana tersenyum lembut. "Sudah hampir dua tahun, Tuan. Nona Eliza yang pertama kali membuatkannya, dan Tuan menyukainya. Tuan bilang sempurna untuk memulai hari dengan energi."
Damian mencicipi, dan anehnya, rasanya familiar di lidahnya meski tidak dalam ingatannya. Seolah tubuhnya mengingat apa yang pikirannya lupa.
"Apakah Nona Eliza sudah bangun?" tanya Damian, berusaha terdengar kasual.
"Sudah, Tuan. Beliau datang dari guest house sekitar setengah jam lalu, langsung menuju studio." Kirana menuangkan jus jeruk. "Beliau selalu melukis pagi-pagi. Kebiasaan yang tidak berubah bahkan setelah pindah ke guest house."
Setelah menghabiskan sarapan, Damian melangkah keluar menuju taman belakang. Dulu, taman belakang mansionnya hanya rumput dan beberapa tanaman hias standar. Sekarang ada berbagai tanaman tropis, pohon-pohon kecil, bahkan area kecil dengan tanaman herbal dan sayuran.
Saat mendekati studio, Damian bisa mendengar alunan musik klasik samar-samar—Debussy, Claire de Lune, salah satu favoritnya. Ia merasa seperti penyusup, hendak mengintip kehidupan yang bukan miliknya, meski faktanya ini semua adalah propertinya.
Ia mengetuk pintu kaca. Eliza menoleh, terkejut melihatnya.
"Damian," ucapnya lembut. "Aku tidak menyangka kau akan datang kemari."
"Aku... ingin melihat," jawab Damian kaku. "Boleh aku masuk?"
"Tentu saja," Eliza mundur memberi jalan. "Ini juga rumahmu."
Damian melangkah masuk, dan seketika dikelilingi aroma cat minyak, turpentin, dan kayu. Aroma yang anehnya, membangkitkan perasaan nyaman yang tidak bisa ia jelaskan.
Studio itu tidak besar, tapi sangat fungsional. Satu dinding penuh dengan rak berisi kanvas kosong, cat, dan berbagai bahan seni. Dinding lainnya dipenuhi sketsa, foto referensi, dan beberapa kanvas setengah jadi. Damian mengamati lukisan-lukisan yang terpajang—kebanyakan pemandangan alam, potret abstrak, dan beberapa lukisan bunga dengan warna-warna cerah.
Pandangannya tertumbuk pada satu area di sudut studio—sebuah meja kecil dengan peralatan melukis yang tampak berbeda dari milik Eliza. Lebih maskulin, lebih teratur.
"Itu milikku?" tanya Damian pelan, menunjuk area tersebut. Suaranya terdengar ragu, seolah takut mendengar jawabannya.
Eliza mengangguk, sedikit tersenyum. "Kau mulai melukis sekitar setahun lalu. Awalnya hanya iseng ketika menemaniku di studio, tapi kemudian kau menikmatinya." Ia berhenti sejenak. "Kau bilang melukis membantumu melihat dunia dengan cara berbeda. Cara yang tidak bisa kau dapatkan dari spreadsheet dan laporan keuangan."
Damian melangkah mendekat, mengamati kuas-kuas yang tersusun rapi berdasarkan ukuran dan beberapa sketsa yang ditempel di dinding.
Matanya tertarik pada satu lukisan setengah jadi yang terpasang di easel kecil—dua siluet di pantai, menyaksikan matahari terbenam. Lukisan sederhana, tapi entah mengapa membuat hatinya berdesir.
"Itu... terakhir yang kau kerjakan sebelum kecelakaan," jelas Eliza, melihat arah pandangan Damian. "Kau berencana menyelesaikannya sepulang dari Singapura."
"Ini... kita?" tanyanya pelan, suaranya hampir berbisik.
"Ya. Saat kita di Pantai Anyer, tempat kau menyatakan cinta untuk pertama kalinya." Mata Eliza melembut mengingat memori itu. "Kau bilang itu momen paling berani dalam hidupmu."
Damian merasakan dorongan aneh untuk mengambil kuas dan melanjutkan lukisan itu. Tapi bagaimana mungkin? Ia bahkan tidak tahu caranya melukis—atau setidaknya, tidak dalam ingatannya.
Pandangan Damian beralih ke lukisan yang sedang dikerjakan Eliza. Berbeda dari yang lain, lukisan ini lebih abstrak—warna-warna gelap dengan sedikit cahaya yang berusaha menembus, seperti fajar yang berjuang muncul dari kegelapan.
"Apa judulnya?" tanya Damian.
"'Memori yang Hilang,'" jawab Eliza lirih. "Aku mulai mengerjakannya setelah kecelakaanmu."
Sesuatu dalam lukisan itu—kegelapannya, perjuangan cahayanya—membuat Damian merasa tersinggung. Seolah-olah ia adalah kegelapan itu, dan Eliza cahaya yang berusaha menembusnya.
"Kau melukisku sebagai kegelapan?" tanyanya dengan nada dingin.
Eliza terkejut. "Apa? Tidak, bukan itu maksudku—"
"Lalu apa?" potong Damian, emosinya tiba-tiba meluap. "Memori yang hilang? Kegelapan dan cahaya? Cukup jelas metafornya, Eliza."
"Damian, lukisan ini tentang perjalanan kita, tentang harapan—"
"Tentang bagaimana kau adalah korban disini? Tentang bagaimana kau berjuang menghadapi amnesiaku?" Damian tidak mengerti kenapa ia begitu marah, tapi ia tidak bisa menghentikan kata-kata yang keluar. "Amnesia ini terjadi padaku, Eliza. Padaku! Bukan padamu!"
"Aku tahu," Eliza mundur sedikit, terkejut dengan ledakan emosinya. "Aku tidak bermaksud—"
"Kau tidak tahu rasanya bangun dan mendapati tiga tahun hidupmu hilang," suara Damian meninggi. "Kau tidak tahu rasanya menjadi orang asing di rumahmu sendiri. Melihat bukti-bukti kehidupan yang tidak kau ingat pernah jalani."
Mata Eliza berkaca-kaca, tapi ia berusaha tenang. "Kau benar, aku tidak tahu. Tapi aku tahu rasanya melihat orang yang paling kau cintai menatapmu seperti orang asing. Aku tahu rasanya kehilangan seseorang yang masih berdiri di hadapanmu."
Kata-katanya membuat Damian terdiam sejenak. Namun alih-alih mereda, amarahnya justru semakin menjadi. Tanpa berpikir, ia melangkah ke lukisan "Memori yang Hilang" dan mengambilnya dari easel.
"Damian, apa yang kau lakukan?" tanya Eliza, suaranya mulai panik.
"Menghapus metafor menyedihkan ini," jawab Damian dingin.
"Tolong, kembalikan lukisanku. Itu penting bagiku."
"Seperti ingatanku penting bagiku?" balas Damian tajam.
Dengan gerakan tiba-tiba Damian merobek kanvas itu, menciptakan garis panjang yang membelah lukisan dari atas ke bawah.
Eliza tersentak, wajahnya pucat. "Damian!"
Tapi Damian tidak berhenti. Sesuatu telah pecah dalam dirinya—semua frustrasi, kebingungan, dan kemarahan selama beberapa hari terakhir meledak. Ia merobek kanvas itu sekali lagi, kemudian melemparkannya ke lantai.
Matanya kemudian tertumbuk pada kanvas-kanvas lain—lukisan yang katanya ia buat sendiri.
"Dan ini," ia mengambil salah satu kanvas berisi lukisan gunung, "bukan aku. Aku tidak pernah melukis. Ini bukan aku!"
"Damian, kumohon berhenti!" Eliza berusaha menghentikannya, tapi Damian sudah merobek kanvas kedua, lalu yang ketiga.
Saat tangan Damian terulur ke kanvas yang menggambarkan siluet dua orang di pantai, Eliza berteriak, "CUKUP!"
Suaranya yang pecah menggema di studio kecil, menghentikan gerakan Damian. Air mata mengalir di pipi Eliza.
"Silakan robek semua lukisanku jika itu membuatmu lebih baik," isaknya. "Tapi jangan lukisan itu. Itu terakhir kalinya kau melukis. Itu... itu adalah kenanganku tentangmu."
Kata-kata Eliza bagaikan air dingin yang menyiram amarah Damian. Ia melihat sekelilingnya—lukisan yang telah ia rusak, cat yang tumpah, dan wajah terluka Eliza. Apa yang baru saja ia lakukan?
Tanpa kata, Damian meletakkan kanvas yang belum sempat ia rusak dan berjalan keluar studio, meninggalkan Eliza di antara serpihan karya seninya yang hancur.
Di tengah kebun, langkahnya terhenti. Kepalanya berdenyut hebat, dan kilasan memori lain menyerangnya—kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Ia melihat dirinya dan Eliza di studio ini, tertawa, bermain-main dengan cat, mencium Eliza yang berlumuran cat biru di pipinya. Kenangan itu terasa begitu nyata hingga ia bisa merasakan tekstur cat di jari-jarinya.
Damian jatuh berlutut di rumput, mencengkeram kepalanya yang terasa seperti akan meledak.
Di studio, Eliza duduk di lantai, mengumpulkan serpihan lukisannya dengan tangan gemetar. Salah satu fragmen lukisan "Memori yang Hilang" menunjukkan titik cahaya kecil yang ia lukis dengan hati-hati—seperti harapan yang berjuang di tengah kegelapan. Harapan yang kini terasa semakin jauh.
Di luar pagar properti, sebuah mobil sedan hitam terparkir dengan jendela sedikit terbuka. Vianna Darmawan menurunkan kamera digital berteleskop yang baru ia gunakan untuk mengambil gambar kejadian di studio. Sistem keamanan mansion Lesmana memang ketat, tapi dari tempat strategis ini, dengan lensa yang tepat, ia bisa mengamati tanpa terdeteksi.
"Fase perpecahan berjalan sempurna," gumamnya sambil memeriksa hasil jepretannya—Damian merobek lukisan, Eliza menangis, dan Damian berlutut di taman dengan ekspresi kesakitan.
Ia mengirim foto-foto tersebut melalui ponselnya. "Mereka bertengkar hebat. Sepertinya Eliza akan segera menyerah."
Klinik pribadi Adrian menempati satu lantai tersembunyi di sebuah gedung medis di Menteng—tempat yang sengaja dipilih karena tak ada satu pun nama Lesmana, GlobalPharm, atau DS Tech yang tahu keberadaannya. Dindingnya putih bersih, peralatannya berdenyut tenang, dan di tengah ruangan berdiri sebuah kursi pemulihan yang dikelilingi monitor.Damian melepas jasnya dan duduk. Adrian memasang sensor di pelipis dan dadanya, jari-jarinya cekatan tapi matanya serius.“Aku akan jujur sekali lagi,” kata Adrian, menyiapkan infus. “Nolembra bekerja dengan menghalangi konsolidasi ingatan—ia tidak menghapus apa pun, hanya mengunci pintunya. Selama tiga tahun, tubuhmu terus diberi dosis agar pintu itu tetap tertutup. Begitu kita keluarkan sisa senyawanya dan kuberi katalis ini, pintunya akan terbuka. Tapi tiga tahun ingatan yang tertahan akan kembali tidak berurutan, dan tidak lembut. Sebagian mungkin indah. Sebagian mungkin hal yang sengaja kau—at
Damian tidak tidur malam itu. Foto dari Vianna tergeletak di meja kerja, dan satu kalimat berputar tanpa henti di kepalanya: Ada hal-hal tentang hari itu yang bahkan Eliza tidak berani kau ingat.Saat ia menanyakannya, Eliza hanya berkata pelan, “Rumah kaca itu tempat kita memulai segalanya. Aku akan menceritakannya—tapi biar kau yang melihatnya sendiri dulu. Aku tidak mau memberimu ingatan versiku. Aku ingin kau menemukan versimu sendiri.” Lalu ia pergi tidur dengan bahu yang terlalu tegang untuk orang yang mengaku tidak menyembunyikan apa pun.Maka pagi itu, alih-alih ke ruang CEO, Damian turun ke lantai sebelas—lantai yang sudah tiga tahun nyaris tak pernah ia sentuh. Lantai Inovasi. Lantai tempat HomeSense lahir.Pintu kaca terbuka, dan sekelompok insinyur muda mendongak terkejut. Mereka mengenal Damian sebagai CEO yang dingin dan jauh, bukan sebagai orang yang pernah duduk di lantai ini sambil menggambar di
Berita itu menyebar lebih cepat daripada yang Damian duga.Pukul tujuh pagi, layar ponselnya sudah penuh tajuk yang saling berebut: “Komisaris Senior LTI Diskors di Tengah Dugaan Konspirasi”, “Damian Lesmana Kembali Pegang Kendali Penuh”, “Drama Ruang Rapat Lantai Empat Puluh”. Foto-foto Gunawan keluar dari gedung dengan wajah tertunduk telah menjadi viral sebelum matahari benar-benar tinggi. Tiga tahun ia menanam racun perlahan; satu pagi cukup untuk merobohkannya.Namun di penthouse yang sunyi itu, Damian tidak merasa seperti pemenang.Rafi datang membawa laporan pagi seperti biasa, tetapi kali ini suaranya lebih hati-hati. “Dewan sudah mengeluarkan pernyataan resmi. Mosi dinyatakan batal demi hukum, dan mereka—” Rafi berhenti sejenak, hampir tersenyum, “—secara aklamasi menegaskan kembali posisimu sebagai CEO. Beberapa dari mereka bahkan mengantre minta maaf secara pr
Rafi menekan satu tombol di panel konferensi, dan suara seorang lelaki memenuhi pengeras suara ruangan—suara yang dikenali separuh isi meja.“Selamat pagi, Dewan. Ini Dani Sasongko.”Gumaman terkejut menyebar. Vianna kehilangan satu detak ketenangannya—sesuatu yang nyaris tak pernah terjadi padanya.“Aku tidak akan basa-basi,” suara Dani melanjutkan, tenang dan lelah. “Surat penunjukan wali yang baru saja dilempar Vianna ke meja kalian—akulah yang menyusun draf aslinya. Tiga tahun lalu. Atas perintahnya. Periksa metadata berkas digitalnya; properti dokumen, tanggal pembuatan, dan log revisinya tidak bisa dipalsukan semudah tinta di atas kertas. Nama Eliza ditulis di sana sebelum Damian bahkan sadar dari koma—jauh sebelum ada ‘tim Damian’ yang dituduhkan.”Damian meletakkan cetakan metadata itu di samping dokumen Vianna. Tanggal pembuatan file berkedip seperti tuduhan: tiga tahun lalu, dua hari sebelum Damian membuka mata di rumah sakit.
Selembar hasil laboratorium itu terbaring di tengah meja seperti pisau yang baru dicabut.“Silakan dibaca,” kata Damian. “Dr. Hendrik, kau ahli farmakologi. Mungkin kau bisa membantu dewan memahaminya.”Hendrik tidak menyentuh kertas itu. Wajahnya, yang tadi penuh wibawa medis, kini sepucat jasnya.“Dan dewan layak tahu satu hal lagi,” tambah Damian, suaranya dingin, “tentang ‘konsultan independen’ yang kalian percaya untuk menilai kewarasanku. Dr. Hendrik Santoso adalah Direktur Riset GlobalPharm—perusahaan yang menciptakan senyawa yang baru saja kalian dengar namanya. Independen dari apa, tepatnya?”Damian sendiri yang membacanya, suaranya jernih memenuhi ruangan. “Analisis toksikologi atas sampel darahku—diambil dan disimpan oleh Dr. Adrian Wijaya sejak hari pertama aku sadar dari koma, tiga tahun lalu. Hasilnya menunjukkan residu sebuah senyawa penekan konsolidasi memori berkode Nolembra. Produk riset rahasia GlobalPharm. Tidak ada di
Pukul sembilan kurang lima, lift eksekutif membuka pintunya ke lantai empat puluh, dan Damian melangkah masuk ke ruang yang dirancang untuk menjatuhkannya.Ia tidak tidur dua malam terakhir. Bukan karena takut—rasa takut itu sudah lama ia bakar habis—melainkan karena ia menghabiskan setiap jam memutar ulang skenario ini di kepalanya bersama Rafi, Eliza, dan Adrian, mencari satu celah yang mungkin terlewat. Mereka menyebutnya “rapat eksekusi”; seluruh isi gedung yakin hari ini adalah hari Damian dijatuhkan secara terhormat. Hanya Damian yang tahu bahwa ia datang bukan sebagai terdakwa, melainkan sebagai algojo yang menyamar jadi terdakwa.“Apa pun yang mereka lempar,” bisik Eliza tadi pagi sambil merapikan dasinya di lobi, jemarinya bergetar tipis, “jangan terpancing lebih awal. Biarkan mereka membangun tiang gantungan mereka sendiri.” Damian mencium keningnya. “Tiang gantungan terbaik,” jawabnya, “adalah yang dibangun musuh untuk lehernya sendiri.”Ruang rapat u
Laboratorium rumah sakit hampir kosong pada pukul 11 malam ini. Hanya Dr. Adrian Wijaya yang masih membungkuk di atas mikroskop, jemarinya dengan teliti menggeser slide berisi sampel darah Damian. Kantong mata menghiasi wajahnya yang lelah, tapi tatapannya penuh konsentrasi. Ini adalah hari ketiga
Album foto itu terbuka di pangkuan Damian, halaman pertamanya menampilkan foto yang membuat dadanya terasa sesak. Dirinya dan Eliza di Kafe Enigma, tempat yang selama ini jadi favoritnya untuk menikmati espresso sebelum meeting pagi. Dalam foto itu, mereka duduk di sudut jendela, Damian tertawa lep
"Amnesia retrograde total akibat trauma kepala yang parah."Dr. Adrian Wijaya meletakkan hasil scan otak Damian di meja, memastikan cahaya dari negatoskop menerangi area yang ia tunjuk. Ruangan konsultasi itu sunyi, hanya terdengar deru halus dari pendingin udara. Damian duduk di kursi roda—sesuatu
"Aku minta kau keluar dari ruangan ini sekarang juga."Suara Damian memecah keheningan, dingin dan tajam seperti pisau es. Dr. Adrian baru saja meninggalkan ruangan untuk mengambil hasil tes tambahan, meninggalkan Damian dan Eliza dalam ketegangan yang menyesakkan.Eliza berdiri di samping tempat t







