Se connecterSetelah beberapa saat, barulah Renee ragu-ragu membuka mulut. "Bu Juwita bilang ... nanti kamu akan jatuh cinta pada wanita lain. Dia mengatakannya dengan sangat yakin.""Jadi kamu percaya?" Arvin merasa sedikit geli."Kamu nggak percaya?""Tentu saja nggak." Arvin berhenti sejenak, lalu balik bertanya, "Aku tanya kamu, di masa depan kamu akan jatuh cinta pada orang lain nggak? Kamu juga pasti nggak bisa jawab, 'kan?""Aku pasti nggak akan.""Hm?""Pak Arvin, memangnya itu pertanyaan yang sulit dijawab?""Kamu ini ...." Arvin tersenyum. "Itu hanya imajinasimu, karena nggak ada yang tahu gimana seseorang akan berubah di masa depan. Sama seperti dulu, aku juga nggak pernah nyangka bisa menyukaimu."Renee terdiam. Perkataan Arvin sepertinya memang masuk akal. Juwita pasti sengaja membesar-besarkan hal itu untuk menakut-nakutinya. Memikirkan hal itu, suasana hatinya akhirnya tidak lagi terlalu murung."Gimana? Sekarang bisa temani aku makan siang?" tanya Arvin sambil tersenyum."Lain kali
Renee tidak mengerti apa maksudnya.Maksudnya Arvin di masa depan akan menemukan wanita yang benar-benar dia cintai? Mengapa Juwita begitu percaya diri?"Bu Juwita, aku ....""Aku ngantuk, kamu pergi saja." Juwita memotongnya dengan tidak sabar.Melihat dia sama sekali tidak bisa diajak bicara, Renee pun terpaksa menyerah. Sepertinya Arvin benar, dia seharusnya tidak datang, juga tidak seharusnya ikut campur. Karena sejak awal sampai akhir, Juwita memang tidak pernah menerima dirinya.Akhirnya, dia tetap meninggalkan rumah lama itu. Sepanjang jalan, dia terus memikirkan apa maksud dari perkataan Juwita tadi.Mengapa dia begitu yakin Arvin akan menyukai orang lain, begitu yakin bahwa dia tidak akan lama tinggal di Keluarga Suryana.Baru ketika mobil berhenti di bawah gedung studio, Renee menggeleng, mengingatkan dirinya untuk tidak memikirkannya lagi dan fokus bekerja saja. Dia masih punya banyak pekerjaan yang harus dilakukan.Michela sedang fokus bekerja. Ketika mendongak dan melihat
Arvin mengatakan tidak perlu dipedulikan. Namun, Renee merasa dirinya tetap perlu meminta maaf kepada Juwita.Bagaimanapun juga, sekarang dia ingin tetap tinggal di rumah Keluarga Suryana. Dia juga ingin berada di sisi Arvin dan menjalani hidup dengan baik bersamanya. Namun, hubungan antara Juwita dan Arvin menjadi setegang ini juga karena dirinya.Setelah sarapan, dia diam-diam pergi ke mal tanpa sepengetahuan Arvin dan memilih beberapa hadiah dengan teliti.Saat tiba di rumah lama Keluarga Suryana, Felicia kebetulan sedang bersiap keluar. Melihatnya, alisnya langsung berkerut. Sambil menilai-nilai kantong hadiah di tangan Renee, dia mencibir sinis. "Si tuli datang buat menyenangkan hati Kakek ya? Sayangnya harus kuberi tahu kamu, Kakek sudah tidur."Renee ingin keluarganya rukun agar segala urusan berjalan lancar. Jadi, dia tidak memedulikan bagaimana Felicia menyindirnya, bahkan sedikit menunduk padanya dengan sopan."Felicia, aku datang untuk menemui Bu Juwita.""Kamu datang menemu
"Kamu nggak bisa menyalahkanku juga. Bagaimanapun, pakaianmu dan Nathan memang pakaian pasangan, sementara aku ini orang yang posesif dan sangat pencemburu.""Intinya ... aku peduli padamu, hanya saja caraku salah. Jadi aku yang salah. Aku minta maaf." Arvin benar-benar pandai bicara.Renee langsung tidak marah lagi. Awalnya dia mengira urusan foto akta nikah itu hanya selingan kecil, tak disangka fotonya malah diambil orang dan sampai ke telinga Juwita.Pagi-pagi, Juwita sudah menelepon Arvin dan memarahinya habis-habisan, mengatakan bahwa dia sudah mendapat pengaruh buruk Renee sampai berubah, tidak lagi bersikap berkelas dan dingin.Arvin sejak dulu memang tidak pernah peduli Juwita memarahinya. Dia langsung meletakkan ponselnya ke samping, membiarkannya memarahi sepuasnya.Sampai Juwita menutup teleponnya, barulah dia mengambil ponsel itu lagi, mematikan layar, lalu melanjutkan sarapan.Renee meliriknya. Dengan hati-hati, dia bertanya, "Pak Arvin, bukannya sikapmu seperti ini agak
"Ini ... apa yang terjadi? Siapa yang memasangnya?" Renee secara refleks maju ingin melepas poster itu. Namun, dia tidak cukup tinggi, jadi dia menoleh meminta bantuan kepada Arvin."Pak Ar ...." Melihat Arvin berdiri dengan wajah tenang, dia tiba-tiba tertegun, lalu perlahan menyadari sesuatu.Kata-kata yang hampir terucap langsung dia ubah. "Suamiku, cepat lepaskan itu."Sudut bibir Arvin terangkat membentuk lengkungan menawan, tetapi dia tidak berniat maju membantu."Bukankah istriku khawatir reputasi rusak dan nggak bisa datang lagi ke sini makan mi lagi? Kalau begitu, biarkan saja tergantung di sana.""Kamu ini ...." Renee merasa sebenarnya mi ini juga bukan sesuatu yang harus dimakan.Beberapa pelayan itu akhirnya tersadar. Ternyata mereka benar-benar adalah pasangan suami istri yang memiliki bukti resmi.Pemilik warung bahkan merasa bersalah sekaligus canggung, terus-menerus meminta maaf kepada mereka berdua. "Maaf maaf, aku salah paham. Aku kira kalian benar-benar ...."Pemilik
Dengan penuh makna, pemilik warung itu menepuk tangan kecilnya. "Nak, tenang saja, aku akan merahasiakannya untukmu."Sebenarnya tidak perlu .... Renee masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi pemilik warung sudah pergi ke dapur.Karena Renee sering datang, pemilik warung sudah lama tahu seleranya. Tak lama kemudian, dia membawa keluar dua mangkuk mi sapi tanpa daun ketumbar.Saat meletakkan mi sapi di atas meja, pemilik warung bertanya dengan penuh perhatian, "Nak, selingkuhanmu makan daun ketumbar nggak? Aku nggak menambahkannya.""Dia nggak makan." Baru setelah mengatakannya, Renee sadar apa yang baru saja dikatakan pemilik warung. Dia buru-buru menjelaskan, "Bu, dia benar-benar bukan .... Kami benar-benar suami istri.""Aku ngerti. Di hatiku, kalian memang suami istri." Pemilik warung tersenyum, lalu berbalik dan pergi.Renee terdiam tanpa kata-kata. Sekarang, dia benar-benar merasakan apa yang disebut menyebarkan rumor hanya butuh satu mulut. Membantahnya sampai kaki patah pun tidak
Kondisi fisik Michela memang bagus. Hanya dirawat dua hari saja, tubuhnya sudah mulai pulih.Sementara itu, telinga Renee kadang membaik kadang kambuh lagi, tapi dia juga tidak mungkin terus-menerus tinggal di rumah sakit dan menghabiskan uang. Apalagi, akhir-akhir ini studio mereka sedang sangat si
Renee kembali menegakkan punggungnya, menatap Arvin dengan mata yang penuh tekad. "Arvin, apa yang kamu inginkan dariku sebenarnya?""Pulang." Hanya satu kata yang singkat."Aku sudah bilang, aku nggak mau hidup dalam pernikahan yang nggak ada kehangatan itu.""Kalau begitu, buatlah pernikahan itu j
Negara hukum?Renee tersenyum getir. Saat uang berbicara, kebenaran akan bungkam, dan hukum pun ikut diam.Apakah kakak sepupu itu tidak menyimpan dendam? Apakah ibu dan adiknya tidak menyimpan kebencian? Tapi, apa gunanya membenci? Di hadapan kekuasaan dan harta Keluarga Suryana, siapa yang berani
Selain itu, dia juga tidak mengerti bagian mana dari dirinya yang membutuhkan alasan untuk mundur seperti yang dikatakan Arvin. Yang mudah percaya kebohongan Nissa adalah Arvin, yang melukai orang-orang di sekelilingnya juga dia, yang menghancurkan proyek dan memutus seluruh jalannya juga pria ini.







