Share

Bab 8

Author: Caitlyn
Renee malam itu berencana lembur, tetapi Michela tiba-tiba menariknya bangkit.

"Ayo, aku ajak kamu jalan-jalan."

"Jalan-jalan ke mana?" Renee tak terlalu berminat.

"Katanya malam ini di tepi sungai ada pertunjukan kembang api. Aku temani kamu nonton."

"Ngaku saja deh, kamu sendiri yang ingin nonton, 'kan?"

"Sama saja! Ayo, jangan banyak alasan."

Renee membereskan barang-barangnya dan menggeleng pasrah. "Aku akhirnya paham kenapa setelah tiga tahun, studio ini masih belum berjaya."

"Eh, jangan begitu dong! Kerja itu cuma buat hiburan, hidup yang penting dinikmatin. Lagian, manusia hidup cuma beberapa puluh tahun, ya harus dijalanin dengan senang dong."

"Ya, ya, kamu benar banget." Renee mengangguk mengiakan.

Sebenarnya dia cukup iri pada Michela. Meskipun kondisi keluarganya biasa saja, dia punya orang tua dan kakak yang sayang padanya, tidak pernah dipaksa melakukan hal yang dia tidak mau. Jika sedang semangat, dia akan kerja. Jika sedang malas, dia tinggal bersantai di rumah. Yang penting uangnya cukup untuk hidup. Selama tidak menikah, kualitas hidupnya tidak akan berubah.

Bagi Renee, hidup yang sesederhana dan sebahagia itu adalah sesuatu yang hanya bisa diimpikan.

Dalam hidupnya hanya ada ayah yang sakit-sakitan, ibu dan adik yang egois serta licik, juga suami dan anak yang tidak mencintainya.

Karena hati penuh tekanan, bahkan kembang api pun terasa hambar di matanya. Michela terus menjelaskan kalau pertunjukan malam ini spektakuler, gabungan kembang api dan drone yang menciptakan formasi megah di langit. Sorak-sorai di sekeliling pun menggema tak henti. Namun, Renee tetap merasa kembang api hanya sekejap. Seindah apa pun, tetap akan hilang.

Hanya saja, demi tidak merusak suasana hati Michela, dia berusaha menampilkan ekspresi kagum dan ikut bersorak.

Ketika pertunjukan mencapai puncak, tiba-tiba terdengar suara kecil dan lembut di belakangnya. "Kembang api ... cantik .... Mama Nissa cantik!"

Suara itu tenggelam di antara teriakan orang banyak, tetapi Renee langsung mengenalinya. Itu suara Renji, anaknya.

Tanpa sadar, dia menoleh. Benar saja, Arvin sedang menggendong Renji, berdiri di antara kerumunan bersama Nissa. Tiga sosok itu tampak seperti keluarga kecil yang sempurna, begitu bahagia, seindah kembang api di langit.

Nissa menggenggam tangan kecil Renji sambil tersenyum lembut. "Ternyata Renji suka sekali kembang api ya? Kamu harus berterima kasih pada Papa, karena Papa yang bawa kita nonton kembang api malam ini."

"Terima kasih, Papa!" Renji mencium pipi Arvin dengan semangat. Arvin tertawa ringan.

Sudah seminggu tidak bertemu, anak kecil itu tampak semakin gemuk. Kelihatannya Nissa memang merawatnya dengan baik.

Renee berdiri empat atau lima baris orang di belakang mereka, cukup jauh sampai mereka tidak menyadari kehadirannya.

Awalnya dia berniat pura-pura tidak melihat, tetapi saat hendak menoleh, tanpa sengaja dia beradu pandang dengan Arvin.

Kembang api di langit meledak terang, menerangi seluruh tepi sungai. Di bawah cahaya itu, tatapan mereka saling bertaut dan semua emosi di mata masing-masing tak bisa lagi disembunyikan.

Arvin dingin seperti biasanya, sementara Renee tampak begitu rapuh dan kacau. Waktu seakan-akan berhenti.

Kembang api terus bermekaran di langit. Renji tertawa bahagia, Nissa juga tersenyum lebar, seolah-olah dunia hanya milik mereka bertiga.

Renee baru tersadar ketika Michela menarik lengannya keras-keras. "Tunggu aku di sini! Aku mau ke sana buat motong tangan perempuan itu!"

Renee mengikuti arah pandangnya, melihat Nissa menggandeng tangan Renji dengan lembut. Mereka begitu akrab layaknya ibu dan anak.

"Jangan gila," kata Renee segera sambil menahan Michela. "Bukannya kamu sendiri yang suruh aku lepasin si berengsek itu dan fokus kerja? Nah, sekarang aku sudah lepas, malah kamu yang nggak bisa lepas?"

Michela terdiam, tak bisa membalas.

"Sudahlah, nonton kembang api saja." Renee membalikkan tubuh temannya, memaksanya tetap di tempat.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rolin Lasibey
karakter Renee sangat bagus
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 388

    Arvin terdiam sejenak, lalu mengangkat mata menatap Juwita."Ibu pasti sedang merencanakan sesuatu lagi, kan? Lebih baik bicara terus terang saja.""Apa rencana buruk yang bisa kulakukan?""Bagaimanapun, terakhir kali Ibu sendiri yang bilang, pewaris Keluarga Suryana bukan hanya aku."Juwita mengangkat cangkir air dan meneguknya perlahan. "Kamu kubesarkan dengan tanganku sendiri. Kamu adalah jerih payahku selama puluhan tahun. Aku nggak mungkin membuangmu begitu saja.""Lagi pula, kalau bukan karena Renee, kamu juga nggak akan jadi seperti sekarang.""Tapi ke depannya akan selalu ada Renee."Kilatan kesal melintas di mata Arvin, tetapi wajahnya tetap tenang."Aku percaya, suatu hari nanti kamu akan menyerah padanya dengan sendirinya.""Aku nggak akan.""Jangan bicara terlalu penuh keyakinan, nanti malah menampar diri sendiri." Juwita berdiri dari kursinya. "Bekerjalah yang baik, aku pergi dulu."Setelah Juwita pergi, Arvin bangkit dan berjalan ke depan jendela kaca besar, memandangi la

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 387

    Arvin suka melihatnya tersenyum. Saking sukanya, dia tak tahan untuk tidak menciumnya.Renee mengangkat tangan menghentikannya, lalu menyodorkan susu ke tangannya. "Hari ini kamu pasti capek, 'kan? Cepat minum susunya. Habis itu mandi dan tidur."Pagi tadi masih di ibu kota, malamnya sudah kembali ke rumah lama. Memang semua orang sudah lelah seharian. Arvin pun terpaksa melepaskannya.....Setelah tinggal dua bulan di ibu kota, hari kedua kembali ke Kota Haidar, Renee pergi menjenguk Lia, lalu pergi ke studio kerja.Sejak dia memenangkan penghargaan, bisnis toko utama semakin ramai. Pesanan mereka bahkan sudah penuh sampai dua bulan ke depan.Michela sampai panik. Begitu melihat Renee akhirnya masuk kerja, dia langsung memeluknya sambil berseru, "Nyonya Besar, akhirnya kamu kembali! Kalau nggak balik-balik, aku bisa gila."Sambil berbicara, dia menyerahkan setumpuk formulir pesanan. "Lihat ini. Dulu stres karena nggak dapat pesanan, sekarang pesanan kebanyakan juga bikin stres."Renee

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 386

    Renee memandikan Renji, lalu membawanya ke tempat tidur dan membacakan dongeng. Akhirnya, dia berhasil menenangkannya hingga tertidur.Dia mengatur suhu ruangan, merapikan selimut, lalu berjongkok di samping tempat tidur menatap wajah mungil itu yang tertidur dengan tenang.Saat terjaga, Renji terlihat tampan. Saat tertidur, dia malah semakin menggemaskan. Setiap waktu, Renee ingin menciumnya.Renee mengulurkan jari dan mengusap pipi Renji dengan lembut. Hatinya melunak seperti es yang mencair. Putranya benar-benar semakin pengertian dan menggemaskan.Setelah puas memandangi putra kesayangannya, dia turun ke lantai satu untuk membuat segelas susu, lalu berjalan menuju ruang kerja di lantai dua. Dia mengetuk pintu dan baru mendorongnya masuk setelah mendapat izin.Arvin ternyata tidak sedang bekerja. Dia terlihat sedang duduk di kursi sambil melamun. Sungguh pemandangan yang langka."Pak Arvin, sudah selesai kerja?" Renee masuk sambil membawa susu. "Aku lihat kamu nggak makan banyak tad

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 385

    "Kenapa kamu menatapku begitu?" Renee merasa sedikit tidak nyaman karena ditatap oleh sorot mata Arvin yang panas, sampai gerakan tangannya juga jadi tidak terlalu stabil."Aku cuma ingin melihat," kata Arvin. Dia ingin melihat lebih jelas, kenapa dirinya bisa begitu terpesona oleh Renee.Renee tersenyum, lalu memutar wajahnya ke arah lain. "Jangan lihat. Kalau nggak, aku nggak bisa mengobati lukanya."Arvin pun memalingkan pandangannya dengan patuh. Setelah itu, barulah obatnya selesai dioleskan."Pak Arvin, sekarang kita pulang?" tanya Renee."Karena Kakek sudah tidur, kita pulang saja.""Kalau begitu aku pergi cari Renji dulu."Renee lebih dulu berjalan turun ke bawah.Di lantai satu ada ruang bermain yang sangat besar, khusus dibuat untuk Renji. Anak kecil itu sedang bermain bola di dalamnya dan terlihat sangat senang.Renee melambaikan tangan kepadanya dan berkata, "Renji, kita pulang.""Pulang."Renji mengembalikan bola ke tempatnya dengan patuh, lalu berlari kecil menuju Renee.

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 384

    Sudah lama Arvin mempersiapkan diri untuk menghadapi Juwita.Setelah duduk di kursi di seberangnya, dia berkata dengan tenang, "Ibu, aku akan melepaskan posisi sebagai presdir sementara. Ibu bisa mengatur siapa saja yang akan datang untuk mengambil alih kapan pun."Jari Juwita yang memegang cangkir langsung menegang, lalu dia melemparkan cangkir itu ke arah Arvin dengan keras. Cangkir itu melesat melewati pelipis Arvin dan meninggalkan bekas goresan berdarah, lalu jatuh di sudut ruangan dan pecah berkeping-keping."Arvin, kamu mau menyerahkan seluruh Grup Suryana demi si tuli itu? Kamu sudah gila?"Juwita tidak menyangka putra yang dia besarkan sendiri dan selalu fokus pada pekerjaan selama ini, malah rela meninggalkan masa depan yang begitu cerah demi seorang wanita. Baginya, ini seperti menusuk hatinya sendiri.Namun, ekspresi Arvin tetap tenang."Ibu, kalau Ibu memaksaku memilih salah satu antara karier dan keluarga, aku memilih keluarga. Karier masih bisa dibangun lagi, tapi ibu da

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 383

    Jerico mengangguk pelan, lalu kembali menatap Arvin dengan tatapan penuh curiga. "Kalian berdua pulang sama-sama?""Iya, Kakek. Kami baru saja kembali dari ibu kota," jawab Arvin.Jerico kembali bertanya, "Tapi, aku dengar dari ibumu, kamu sudah tanda tangan perjan ....""Kakek, Kakek salah dengar." Arvin tersenyum tipis sambil memotong ucapannya. Walaupun Jerico sudah tua, dia belum sampai pikun. Dia langsung memahami maksud Arvin. Dia pun menghela napas dalam hati, 'Dasar anak muda, setiap hari ada saja permainan baru. Apa nggak capek, ya?'Padahal beberapa hari lalu Juwita baru saja menunjukkan surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani Arvin kepadanya, bahkan memintanya bersiap mengatur pembagian harta.Saat itu, dia cukup sedih.Baru beberapa hari saja ... sudah berubah lagi?Namun, karena mereka sekarang tidak jadi bercerai dan bahkan masuk sambil bergandengan tangan, tentu saja Jerico merasa senang. Dia tersenyum lalu menepuk punggung tangan Renee. "Renee, akhir-akhir ini

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status