LOGINElvira Giamatti is starting a year late at Wolford Academy, the most elite werewolf school in the world. She came here to disappear: from the hunters who nearly killed her, and from the girl she used to be before they did. She didn't expect a mate. The prophecy flame settles red on her wrist. Amores. Somewhere out there, the Moon Goddess has already chosen someone for her. She didn't expect Eliano Wolford either. Sharp-tongued, off-limits, marked Mosaic, the one flame that means he can never have a mate at all. He becomes her closest friend at Wolford. The one person she trusts completely. And the one person keeping a secret from her that could end that trust for good. She definitely didn't expect The Three. Xavier. Gideon. Rafael. The most dangerous, most watched boys in the academy, each carrying a double prophecy no one has ever seen before. All three have started looking at her like she's the answer to something they've been waiting a year to ask. One mate. That's what the prophecy promises everyone else. The Moon Goddess might have chosen all three of them for her instead. Now Elvira has to survive Wolford: the classes, the hunts, a bond she never asked for, and four boys who each have their own reasons to lie to her. Because somewhere behind her, closer than she thinks, the past she ran here to escape is still hunting her too.
View MoreSudah pukul lima sore. Dengan gaun tidur yang tipis, Bella menunggu suaminya yang sudah dua bulan ini menjabat sebagai seorang CEO. Suami yang selalu tepat waktu tiba di rumah setelah selesai bekerja walau sesibuk apapun.
Ini adalah tahun ke empat mereka menjadi suami istri. Sejak duduk di bangku SMA pada tahun ketiga mereka berdua menjadi dua sejoli yang tidak terpisahkan. Pasangan yang begitu sempurna.
Steve William pemuda tampan, yang memiliki raut wajah yang tegas dan berkulit putih. Tubuh tinggi dan atletis. Pemuda yang memiliki berprestasi dalam mata pelajaran dan olahraga.
Bella Sophia gadis cantik dan imut. Serta memiliki tubuh yang seksi dan proposional. Kulit putih dan bersih bagai susu. Yang menjadikan Bella primadona di sekolah.
Mereka memutuskan menikah setelah lulus kuliah. Di mana masa pacaran mereka yang tidak sehat. Sejak SMA kelas tiga mereka melakukan hubungan selayaknya suami istri. Dan Steve lah yang mengambil kesucian Bella.
Bella yang sangat mencintai Steve pun sangat yakin dengan Steve yang selalu menjaga cintanya.
Dan setiap pertemuan mereka, atau di mana pun mereka memiliki kesempatan. Steve dan Bella akan saling melepaskan rindu dan hasrat mereka berdua. Tanpa bosan mereka terus saling memberikan kenikmatan tanpa jeda.
Biip Biip
Ceklek
Pintu rumah di buka oleh Steve. Dengan wajah kelelahan namun tidak lupa memberikan senyuman kepada istrinya.
"Sayang..." sapa Steve melihat Bella yang berlari kecil ke arahnya.
"Sayang, kamu kelihatan begitu lelah hari ini..." ucap Bella lembut sambil mengambil tas kantor dari tangan Steve.
Mereka berdua pun masuk bersama ke dalam rumah, rumah baru mereka yang baru saja mereka tempati satu minggu yang lalu.
Steve melonggarkan dasi yang bertengger di lehernya dan merebahkan dirinya di sofa.
"Sini aku bantuin sayang," ujar Bella dengan sengaja merapatkan dirinya ke Steve sambil membuka dasinya.
"Terima kasih sayang," ucap Steve yang tidak merespon akan sentuhan yang diberikan oleh Bella.
Dengan malas, Bella berdiri setelah melepaskan dasi dari kerah baju suaminya.
"Mau makan malam dulu ? Atau mau mandi ?" tanya Bella tepat di hadapan Steve yang sedang membuka kancing kemejanya.
Steve berdiri dan mengecup sesaat bibir Bella membuat Bella sangat bahagia.
"Apa malam ini aku yang harus memancing Steve pertama kali..?" pikir Bella.
Steve berjalan ke meja makan. Dan tersenyum merekah melihat begitu banyak masakan yang sudah di siapkan oleh Bella.
Steve menarik kursi meja makan dan duduk "Sepertinya, aku makan malam dulu. Tolong kamu siapkan air hangat untuk mandiku, sayang."
Bella tersenyum dan berjalan mendekat ke arah Steve, kemudian mengambil piring dan menyendokkan nasi secukupnya di piring Steve.
"Selamat makan sayang, aku siapkan air hangat kamu...!" seru Bella dengan senyuman manis dan menggodanya.
Dipikirannya sudah terlintas, malam ini akan menjadi malam hangat mereka lagi setelah satu tahun lebih mereka tidak melakukannya.
Dengan perasaan senang, Bella menyiapkan air hangat suam kuku di bathtub dan tidak lupa memberikan beberapa tetesan aroma therapi agar rasa penat dan lelah Steve ikut menguap.
Setelah selesai, Bella keluar kamar dan melihat Steve yang juga sudah menyelesaikan makan malamnya.
"Airnya sudah siap sayang," bisik Bella tepat di telinga suaminya.
"Terima kasih sayang," balas Steve dengan tersenyum.
Steve pun berdiri dari duduknya, kemudian membuka seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi.
Bella mengambil pakaian kotor Steve dan memasukkannya di Laundry Bag. Setelah itu di bersihkannya meja makan dan mencuci piring bekas pakai Steve.
Karena mereka hanya hidup berdua, Steve dan Bella memutuskan tidak memakai Asistent Rumah Tangga.
Setelah selesai dengan pekerjaan rumahnya. Bella masuk ke kamar, kemudian Bella membuka lemarinya dan mencari gaun tidurnya yang paling menggoda dan seksi.
"Hmm, Perfect !" puas Bella melihat pantulan dirinya didalam cermin.
Tidak lupa Bella memakai lotion dan parfum di titik yang Steve sukai di tubuhnya.
Kurang lebih lima belas menit Bella menanti Steve dengan duduk di pinggir ranjang menghadap kamar mandi. Detak jantung Bella berdegup begitu kencang menanti dirinya yang harus bertindak agresif ke suaminya nanti.
Bella mengepalkan tangannya dan berbicara kepada dirinya sendiri, "Hari ini, harus terjadi!" untuk menguatkan tekadnya. Yang betapa rindunya akan sentuhan suaminya. Ia membaca segala macam artikel mengenai masalah ranjang sepasang suami istri.
Dan menurut artikel yang ia baca, pasangan suami istri memang kadang diserang rasa jenuh dalam hal tersebut. Oleh karena itu, salah satu dari pasangan harus bertindak lebih agresif atau melakukan diskusi dengan pasangan.
Ceklek
Steve keluar hanya dengan handuk yang menutupi tubuh bagian bawah dan menampilkan perut sixpacknya berjalan menuju ranjang.
Steve yang mendapati Bella duduk di tepi ranjang menaikkan alisnya dengan heran. "Kamu belum tidur ?"
Bella menjadi gugup dan mengepalkan tangan. Dengan wajah malu-malu, "Iya sayang," sahut Bella.
Sambil mengayunkan kakinya, Bella berkata dengan begitu pelan dan mesra "Hmm, sayang... bagaimana kalau hari ini kita..."
"Sudah sangat lama kita tidak melakukan itu..." sambung Bella dengan gusar.
Steve menatap Bella dengan perasaan bersalah "Maaf sayang, hari ini sangat melelahkan... Mari kita lakukan lain kali…hmm?!" sahut Steve dan memeluk bahu Bella.
"Lagi pula aku ada meeting penting besok pagi," sambung Steve.
"Padahal aku sudah memakai gaun seksi ini, tapi Steve masih tidak tergoda?" batin Bella penuh kekecewaan.
Dia mengikuti Steve yang berjalan menuju ranjang sambil berpikir "Tidak! Harus hari ini !"
Dengan gerakan cepat Bella berjongkok dan membuka handuk putih yang melingkar di pinggang Steve.
"Bella..!" kejut Steve melihat Bella menarik handuknya dan memasukkan miliknya ke dalam mulutnya.
"Kita harus melakukannya hari ini Steve! Ini semua juga demi rumah tangga kita. Aku ingin kita seperti dulu lagi, sayang." batin Bella yang sudah memegang kendali.
Steve yang awalnya tidak mau, akhirnya menikmati apa yang dilakukan Bella. Tanpa sadar Steve mendesah dan mendesis "Ahh,"
Bella dengan perlahan mengarahkan suaminya untuk duduk di tepi ranjang dan dirinya melanjutkan memanjakan milik suaminya di dalam mulutnya.
Dengan kedua lengannya Steve menahan bobot badannya di atas ranjang "Ugh Bella !" racau Steve sambil menutup mata.
Bella menutup matanya menikmati setiap moment yang sangat dia rindukan "Hmm, rasanya sudah sangat lama aku tidak menikmati milik Steve !" batin Bella dengan senang.
Tanpa jeda Bella mengulum dan menjilati milik Steve "Uhm rasa ini, aroma ini... Sangat aku rindukan..."
"Uh Bella, kalau kau terus begitu..A-ku...!" suara berat Steve mendominasi.
"Stop-pp Bella!" seru Steve dan menahan kepala Bella agar berhenti bermain dengan miliknya yang sudah tegap sempurna.
Dengan tatapan menggoda dan pose yang seksi "Bisakah kita melakukannya sekarang, sayang ?"
Steve melihat miliknya dan hasratnya pun sudah naik karena perlakuan Bella.
Pria itu berdiri dan mengangkat Bella, "Berbaring sayang!" suara berat Steve.
Raut wajah Steve yang mendominasi ingin bercinta sudah sangat lama tidak Bella lihat membuat dirinya begitu terangsang.
"Sudah sangat lama aku tidak melihat wajahmu yang sangat mendamba seperti ini Steve !" batin Bella bahagia.
Steve mengangkat kaki Bella dan melepaskan dalaman segitiga tipisnya yang berwarna pink.
"Kamu sudah sangat basah Bella !" bisik Steve.
Steve mulai mengarahkan miliknya di depan milik Bella. Dan siap untuk menancapkannya.
Tapi... Dengan tertunduk, Steve bergumam lirih, "Bella tunggu, kenapa jadi seperti ini ?"
Melihat miliknya yang tiba-tiba melemas tidak bertenaga.
Bella bangun dari tidurnya dan memeluk Steve, "Maaf sayang, aku tidak tahu kalau kamu sangat kelelahan seperti ini. Mari kita berhenti..." jawab Bella dengan lembut.
Dengan wajah tersenyum, Bella mengusap wajah Steve "Kamu bisa istirahat sayang, aku ingin minum coklat panas lalu menyusulmu beristirahat..."
Wanita cantik itu turun dari ranjang dan keluar dari kamar. Bella menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju sofa ruang tamu. Dirinya terduduk lemas dan melihat miliknya yang sudah begitu basah.
"Hmmm..."
XavierI read the notice once, and it sounded wrong in my head.It was noon, and sixty students stood in front of the notice board outside the dining hall. I counted them without meaning to. They were about sixty-two. They pressed close together, and nobody was talking. The notice was pinned in the middle of the board on cream paper, with the Board’s round seal pressed into red wax at the top.By Order of the Board.Under that were four short lines. Elvira Giamatti. Placement withdrawn. Consent of guardians: received. The school wishes her well. I counted the words under the heading. Thirteen. It was a plain notice, and it said what the Board wanted it to say.Below it, held by a single pin, was a smaller sheet of cream paper with handwriting on it. A letter. I leaned in and read it.Dear Headmistress, Our Ellie writes that she is happy and doesn’t want a fuss. Thank you for everything the school has done. We hope you will let her go quietly. With love.There was no signature. Only a
ElianoI was on my knees in the laundry room, speaking to a pile of sheets.It was eight o’clock in the morning, and I hadn’t slept. The room was long and hot, with steam hanging under the low ceiling and washing lines strung from wall to wall. Baskets of clean linen stood in rows. One of the piles, at the far end under the last line, had moved when I came in. Then it had gone still.“I’m not going to shout,” I said quietly. “I’m not going to take you to Pruitt. I only want to talk.”Nothing answered.“You’re not in trouble. Nobody is angry at you. I need your help, and I think you’re the only one who can help me.”The sheets shook. A hand came out and pulled the sheets tight again to cover him properly.I had found him the hard way. Pruitt’s patrol had searched the girls’ hall at first light and found nothing. Now the whole school had started telling stories. Some said she had run away. Rafael had told me at dawn, on the cold steps, the one thing he had heard Albert say, very quietly
ElviraThe stone against my cheek was cold on one side of my face and warm on the other.I lay still and tried to work out why. My eyes were open, but I couldn’t make sense of what I saw. The stone was dark and rough with a crack running across it. My head hurt behind my eyes, and my mouth was dry and tasted bitter.Then I remembered the hand.I sat up so fast that the room turned. I pressed both palms to the floor and waited for it to stop. The stone was colder under my left hand and warmer under my right. I didn’t understand that yet. What I understood was that I was not in Room 68 anymore.I checked myself, because that was the first practical thing to do. My arms moved. My legs moved. My head had no bump that I could find. I still had my coat on, buttoned wrong, and both my shoes. Nothing was broken or bleeding. Whoever had taken me had not wanted to hurt me, and I did not know if that was good news.Then I looked up.The room was round. It was about the size of my dorm room, with
RafaelBy half past twelve, I had decided that I would open the handle of Room 68, because no one else was going in.I stood on the front steps of the dormitory hall with the other three and watched Sir Albert try to answer a question he had asked himself. He had told us that Mrs. Pruitt’s guards woke him an hour ago. He said they told him Miss Giamatti had not come down from her floor. So he had decided to come at once.“Then go and find her,” Gideon said. His voice was rough. “You stood on those steps today and told over four hundred students she was right. So tell me, why is she gone suddenly?”“Nobody is to go into the girls’ hall tonight,” Albert said, ignoring Gideon. “That is an order. Mrs. Pruitt will search at first light, with her full patrol. I want all of you in your beds. Now.”“First light is five hours away.”“Gideon.” Eliano still had hold of his sleeve. He was holding it harder than he needed to.I stood closest to the rail, a little behind them, where I always stood s
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews