Mag-log inA witch and a werewolf should have never been mates. It never happened, and should have never happened. Believing he was cursed by the Moon Goddess herself, Alpha Cain Cadell had the surprise of his life when he found his mate. Cordelia had a troubled life, extremely troubled even for a witch. Scorned by her people, hated by her mother, and wished dead by the council of magic. She really didn't have it easy. And when the Alpha of the biggest of packs wants to claim her as his, Cordelia has to fight spells, nails, and teeth. …. Blurb: “This is all sorts of wrong, alpha. I can't be your mate. Witches and werewolves can't be mates.” I shouted, trying to drill the fact into his mind. “Yet, it happened.” He stepped closer, cornering me to the wall. His eyes drifted between my eyes and my lips and he breathed out, “You are my mate; mine to love, mine to fuck, you're simply mine Cordelia and nothing and no one will stop me from getting you.” The possessiveness in his voice sent shivers down my spine. I itched to kiss him, I wanted him to kiss me, but I knew I shouldn't. But the fight in me was dying down as he leaned closer, his lips almost brushing mine. “Admit it, darling. You want me as much as I want you. Just give in.” His hand on my neck felt hotter, and I let out a shaky breath. It was one hell of a fight that I had to put up with myself. Cain Cadell was all sorts of bad. He's power hungry, his desire for power was almost maddening, and witches were very disposable to him. “I will never.” I couldn't even convince myself with that shaky voice.
view moreIni hari pernikahan suaminya.
Pagi itu terlihat kesibukan di sebuah rumah besar bergaya eropa. Hiasan telah terpasang di taman belakang rumah yang akan digunakan untuk acara. Sebuah meja dengan empat buah kursi telah dipersiapkan di tengah-tengah. Dina masih tepekur disisi tempat tidur yang telah di hias cantik. Dengan tangannya sendiri dia menghias setiap sudut dengan apiknya. Dia memandang sekeliling dengan tatapan kosong, ada rasa tidak rela di hatinya, tapi dia juga tak tega untuk menggagalkan pernikahan ini. Hatinya sakit sangat sakit. Tapi menangis pun tak ada gunanya nasi telah menjadi bubur. Dan dia hanya bisa menerima ini dengan lapang dada, berusaha menguatkan batinnya yang sudah terkoyak.“Sudah selesai menghias kamarnya, Din?” dina menoleh ke asal suara di sana ibu mertuanya berdiri memandang sekeliling kamar wanita paruh baya itu sepertinya puas dengan hasil kerja menantunya. “Bagus banget hiasannya, Angga pasti senang.” Dina hanya tersenyum sekilas. “Ayo keluar, Din, ijab qobulnya akan segera dimulai.” Dina memandang ibu mertuanya nanar, haruskah dia hadir di sana menyaksikan Angga menikah denga Kiera. Tidak adakah seseorang yang mengerti perasaannya yang tidak baik-baik saja. Hatinya begitu sakit, seolah ada pisau yang menggoresnya. Tangannya mengepal menyembunyikan getaran yang akan semakin membuatnya lemah. Dia wanita yang kuat. Hidupnya tidak pernah mudah, sebagai anak panti asuhan yang tak mengenal siapa orang tuanya, dina terbiasa memendam perasaannya sendiri. ‘Kamu akan baik-baik saja, Dina. Angga berjanji akan berbuat adil padamu.’ Dina terus mensugesti dirinya agar mau melangkah ke tempat acara. ***Tak pernah sekali pun terlintas dalam benak Dina, dia akan menjadi wanita kedua dalam hidup suaminya. Dia juga harus menerima kenyataan bahwa cinta sang suami sudah terkubur bersama gundukan tanah merah bertabur bunga. Jangan pernah membayangkan dia adalah perebut suami orang yang lebih dicintai dari pada istri pertama. Dina bukan wanita seperti itu, sebagai wanita yang besar di panti asuhan dia tak punya pilihan lain saat seorang wanita yang sudah dia anggap menjadi ibunya datang dan meminta untuk menjadi istri sang putra dan sebagai ibu untuk kedua cucunya yang baru saja ditinggal untuk selama-lamanya. lima tahun pernikahan mereka Dina masih berharap, suaminya akan sedikit demi sedikit mencintainya, tapi ternyata hidup memang tak segampang seperti cerita di novel yang pada akhirnya saling jatuh cinta dan hidup bahagia selamanya. Dina tersenyum miris mungkin dia harus mengurangi membaca novel-novel itu, supaya pikirannya tetap logis sesuai dengan realita yang ada. Dan sekarang dia harus menghadapi kenyataan lain dalam pernikahannya. Suaminya akan menikahi wanita lain, menjadikan luka di hatinya makin menganga, mungkin orang lain bisa memberontak, mengatakan pada dunia bahwa dialah wanita yang paling tersakiti. Dina tak bisa dia tidak sanggup menyakiti hati suaminya dan juga orang-orang yang mengharapkan pernikahan ini. Rasa cinta memang membuatnya bodoh."Kamu baik-baik saja kan, Din?" Dina mengangkat kepalanya sejenak dia lupa kalau ibu mertuanya berjalan di sampingnya. "Iya, Ma," jawabnya singkat. "Maafkan Angga ya, Din, karena kesalahannya kamu harus rela diduakan." Dina hanya mengangguk singkat dia tak tahu harus berkata apa. Mungkin sudah takdirnya yang harus menjalani kehidupan seperti ini.Mereka kembali berjalan menuju tempat acara. Dina memandang nanar pada laki-laki berbalut jas hitam yang duduk di depan penghulu. Dia Airlangga Wicaksana, laki-laki yang menikahinya lima tahun yang lalu, laki-laki yang selama lima tahun ini selalu mendominasi pikirannya, menggeser nama-nama yang sebelumnya menjadi prioritasnya. Laki-laki yang selama ini secara fisik hanya miliknya meski tak secuil pun hatinya bisa dia miliki, tapi mulai hari ini dia bukan hanya miliknya, ada wanita lain yang memiliki hak yang sama.Di sampingnya duduk wanita yang sebentar lagi resmi menjadi madunya, wanita yang juga memiliki hak atas suaminya.Dina menundukkan pandangannya kenapa kenyataan begitu kejam, saat hatinya sudah sepenuhnya menjadi milik sang suami. Kakinya bergetar seolah tak mampu menompang tubuhnya yang tiba-tiba lemas. Bolehkah dia pergi dari tempat ini? Dia hanya ingin sendiri. Lagi pula tak ada pentingnya dia hadir di sini, benar dia harus pergi sebelum dia merangsek maju dan menyeret suaminya pergi supaya pernikahan mereka tak pernah terjadi."Din! Mau kemana?" ibu mertuanya yang sejak tadi berada di sampingnya menangkap pergelangan tangan Dina. "Tetap di sini, Din." "Dina sedang tidak enak badan, Ma, mau ke kamar saja."Dina melihat mertuanya menghela nafas sedih lalu berkata, "Ini mungkin sulit, Din, sebagai sesama wanita Mama juga pasti tidak sanggup melihat suami menikah lagi, tapi kamu harus tetap di sini sebagai bukti bahwa kamu merestui pernikahan mereka."Wanita paruh baya itu menggenggam tangan Dina lembut."Banyak kolega yang datang, jika sampai mereka tahu kamu terpaksa menerima ini akan jadi gosip yang akan merusak citra Angga, jadi berusahalah tersenyum." Tersenyum, apa mama mertuanya sudah gila? Mana bisa dia tersenyum bahkan dari tadi air matanya sudah akan menetes. Lagipula untuk apa mereka mengundang para kolega, ini bukan pernikahan pertama Angga. Dina terpaksa mendudukkan bokongnya di kursi tangannya tak lepas dari genggaman sang mertua, mungkin wanita itu takut Dina melarikan diri, atau lebih parahnya mengacau di tengah acara."Bun, kenapa Papa duduk di sana?" Dina menoleh saat mendengar suara Ara putri semata wayangnya yang baru berusia empat tahun. Dina lupa ada putrinya yang harus dia perhatikan. "Papa sedang ada tamu jadi tidak bisa duduk bersama kita, Ara sini sama bunda." Dina mencoba meraih Ara dalam gendongannya tapi anak itu lebih gesit dia berlari ke arah Papanya, sambil berteriak "Papa!" yang membuat semua perhatian tertuju padanya. Dina sedikit kesusahan karena kain jarik yang dipakainya, bahkan anak itu sudah merengek menarik-narik baju papanya. Dina mempercepat langkahnya tak ingin sang putri lebih lama menjadi pusat perhatian. Dapat didengarnya bisik-bisik yang membuat panas telinganya. "Ara sama Bunda dulu ya, Papa masih ada perlu nanti kita main lagi."Dina memandang suaminya yang juga memandangnya meminta bantuan. Tak ingin banyak bicara Dina segera meraih putrinya dari gendongan sang suami. Tangis putrinya membuat hati Dina makin pilu.'Apa putri kecilnya ini juga merasakan hatinya yang sedang terkoyak.' Dina terus saja melangkahkan kaki tak pedulikan lagi bisik-bisik para tamu yang makin jelas mampir di telinganya.Dia hanya mengangguk sekilas saat melewati ibu mertuanya. Dia sudah tak sanggup lagi, rasanya dia ingin menangis bersama sang putri. Persetan dengan citra suami yang harus dia jaga, kenapa dia harus repot-repot melakukannya sementara mereka semua tak ada yang tahu kepedihan hatinya.Dina memeluk putrinya erat, dan menuju kamar tidur putrinya. Air matanya luruh tak dapat ditahan lagi saat pintu kamar tertutup, tangisnya melebur jadi satu dengan Ara, putrinya. Entahlah Dina sendiri tak tahu kenapa Ara menangis, putrinya itu bukan anak yang cengeng. Mungkinkah bocah empat tahun ini juga merasakan kepedihan bundanya.Cordelia Blackwell "Daniel, it has been a week! You can't tell me you have no clue where he is or what he's doing!" I exclaimed in fury, my anger burning bright and its flames heating my skin. I was currently in the Blood Moon Pack's mansion. Standing in their foyer, and hoping that Daniel would let any useful information slip. "We don't know where he is." He let out a sigh, "The entire pack is distressed. He came back that night, told me to manage the pack till he returns, I asked him where he was going, but he gave nothing away." "It's true." Sheila added in a sad tone. "The pack needs him now more than ever, I tried asking him what had happened." She shook her head, "Can you tell me what happened?" "No." I answered firmly, letting my glare drift to Daniel. "You tell me what happened during your visit to Jamestown. Everything changed after he came back." Daniel sighed, "Please have a seat." I raised an eyebrow, "I think the witch he met said something to him.""What witch?" …
Cordelia Blackwell “You have to come downstairs, love.” I heard Tom’s voice in the background of my mind. “We’re keeping her in the East Wing.” His hand touched my shoulder softly, “You’ve been cooped up in this room for three days now, Delia.” Three days? Is that how long it has been? It felt longer than that. “Fiona said she’ll only talk to you.” He urged me further, but it didn’t matter to me. Nothing matters with him not around. “Why should I care? Fiona and Debra can kill him for all I care.” I mumbled without averting my eyes from the sight of the afternoon’s sun through my window. Tom let out a soft breath, then sat on the edge of bed. “If only this was true.” He muttered softly. “This isn’t about Cadell, it’s about you. Fiona is your mother, a terrible one at that, but we need to know what she’s planning.” “Fine.” I agreed with a petulant huff. “I’ll meet you there.” Once Tom left, I took a shower and dressed to impress. Fiona has always been peculiar about the way I loo
Cordelia BlackwellCain marched towards us with a look of fury in his eyes. It shook me to my bones, and I instantly jolted away from Tom as if his mere closeness burned my skin. The feelings I had were confusing; they contradicted each other greatly. I was elated and relieved to see Cain with my own eyes safe and sound after being worried for so long. But at the same time, I found myself fearing what he would do. Thomas and Cain stood face to face staring at each other. It looked like each one was trying to prove he's the Alpha Male. "What do you think you're doing with my mate?" Cain gritted out. His voice remained low, but menacing and dangerous. "What you've been failing to do all along." Tom answered, as if it was the most obvious thing in the world. I stood there, watching Cain taking a hold of Tom by the collar of his white shirt, baring his teeth at him. "Who do you think you are to touch my mate so freely?!" Cain all but growled at him. "I'm the one person who knows her
Cordelia Blackwell In the past two days, I’ve noticed that my strength was failing me. I have become weaker and weaker. The mark no longer burned, but my magic remained uncontrolled, and I remained tired most of the time.Tonight is the coven meeting, and I dreaded it tonight more than ever. I was sitting in the armchair in our parlor when I heard Morgana’s heels clicking on the marble floor. “Don’t worry. Everything will be fine.” “I wish I can have your confidence. I’m even more worried that we didn’t hear from Cain for the past two days.” I turned to her, “Do you think something happened to him?” “Cordelia.” She had this scolding tone. “We need to focus…” Before she could finish, there was a knock on the door. Maria went to open it, and to my surprise I found Thomas standing there in all his blonde glory and black trench coat. He looked more rugged than usual. “Oh my God, Thomas.” I said jumping off my chair and wrapping my arms around him.He stumbled back in surprise but let






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rebyu