LOGINAkhirnya setelah sekian lama menunggu, Septin keluar juga dari kamarnya. Namun dengan berpakaian seragam pengasuh yang rapi. Melihat hal tersebut, Gideon menjadi geram sendiri.
"Sial! Kenapa pengasuh itu malah baik-baik saja?" kesalnya. Namun Gideon tersenyum licik. Seraya berkata, "Ini kan masih permulaan. Masih banyak cara lain agar pengasuh itu segera berhenti dari pekerjaannya!" Di ruang makan, Septin disambut hangat oleh para asisten rumah tangga lainnya. Tapi ada juga yang memandang sinis kepadanya. Septin tak tahu-menahu kenapa bisa begitu. Namun mereka takut karena Maid Lilis selalu berada di samping Septin. "Jadi Maid, saya hanya berada di kamar sepanjang waktu?" "Ya,begitulah. Anda bisa sambil belajar sementara menunggu bel berbunyi." "Jika bel tidak berbunyi itu tandanya Tuan Muda tidak membutuhkan saya, Maid?" "Nah! Itu Anda tahu cara mainnya. Segeralah bergegas masuk ke dalam kamar, siapa tahu Tuan Muda membutuhkan Anda," timpal Maid Lilis. Septin pun mengangguk lalu melangkah menuju kamarnya. Lalu tiba-tiba dia ingat dengan keanehan yang tadi dirinya rasakan saat mandi. Gadis itu pun segera membalikkan badannya untuk mencari Maid Lilis. Namun asisten rumah tangga itu seketika saja menghilang dari pandangan matanya. "Hei, Pengasuh Septin! Kamu jangan sok cari perhatian dengan Maid Lilis!" ketus salah satu dari asisten rumah tangga itu. Namun dengan tegas Septin menjawab, "Saya tidak sedang mencari perhatian dengan Maid Lilis. Saya hanya ingin berkonsultasi dengannya soal pekerjaan saya." "Cih! Nggak usah sok kepedean kamu!" hardik yang lainnya. Namun satu teriakan dari Maid Lilis yang berasal dari pengeras suara yang ada di ruangan itu, membubarkan semuanya. "Apa yang sedang kalian lakukan? Kenapa kalian menghalangi Septin untuk kembali ke kamarnya? Kalian semua menghadap saya sekarang juga! Septin kembali ke kamar Anda." "Siap, Maid." Gadis itu pun segera berjalan menuju kamarnya. Sementara para pekerja lain melangkah untuk menemui Maid Lilis di sebuah ruangan. "Kalian jangan sok jago! Kenapa kalian bersikap tak bersahabat dengan Pengasuh Septin? Asal kalian tahu, dia langsung direkrut oleh Nyonya Kemala. Atau kalian mau menggantikan posisinya mengasuh Tuan Muda Gideon?" "Tidak, Maid! Kami pasti tidak sanggup mengasuh Tuan Muda Gideon," seru mereka serentak. "Makanya kalian jangan mengganggu pekerjaannya!" "Iya, Maid. Kami berjanji tidak akan mempersulit Pengasuh Septin lagi." Sementara Septin terlihat sedikit pucat dan berkeringat dingin. Pasalnya, saat dirinya hendak masuk ke dalam kamarnya, banyak sekali kejadian aneh yang dirinya temui. Ular karet yang menghalangi jalannya. Lampu jalan yang tiba-tiba mati. Bahkan tadi saat Septin membuka pintu kamar, dia hampir saja terkena hujan tepung. Untung saja gadis itu cepat menghindar. Sampai Septin pun masuk ke dalam kamar dengan selamat tanpa terpengaruh dengan semua hal yang ingin menakut-nakutinya. Malam pun tiba, waktunya untuk tidur dan beristirahat. Tepat tengah malam lampu kamar Septin tiba-tiba mati. Lalu terdengar suara ketukan yang sangat keras dari jendela kamarnya. Septin yang sedang tidur nyenyak akhirnya terbangun juga. Dia mulai menajamkan pendengarannya. Saat ini dia dapat mendengar bunyi indera pendengarannya. Septin mulai mendengarkan suara yang sangat menyeramkan yang berasal dari jendela kamarnya. Alih-alih takut. Septin malah mengambil satu gayung air dari wastafel, membuka jendela kamarnya secara perlahan lalu mengguyur air tadi ke luar jendela kemudian dengan cepat dia menutup jendela itu lagi dari dalam. Di bawah jendela kamar, tubuh Gideon terkena satu gayung air yang disiram oleh Septin. "Sial! Gue jadi basah kuyup!" Gideon segera berlari dari tempat itu. Saat pemuda itu mendengar pintu kamar terbuka dari dalam. Dengan membawa sebuah senter, Septin mulai memeriksa lingkungan di sekitar kamarnya. Gadis itu sangat yakin jika saat ini seseorang sedang mengisenginya. "Tidak ada seorang pun di sini. Siapa sih yang iseng banget gangguin orang yang sedang tidur?" gerutunya sendiri. Sementara Gideon yang baru saja masuk ke dalam kamarnya terlihat sangat kesal, karena seluruh tubuhnya basah kuyup gara-gara disiram air oleh Septin. Gideon juga menjadi sangat kesal karena Septin terlihat di layar CCTV tidak menunjukkan aura ketakutan sedikitpun. "Sial! Ternyata gadis ini sangat pemberani!" kesal Gideon dari dalam hatinya. Sementara di dalam kamarnya, Septin kembali tidur tanpa gangguan apapun. "Siapapun Anda yang mencoba menakut-nakuti saya, sepertinya Anda salah alamat! Saya tidak takut kepada siapapun dan apapun!" serunya sambil mulai untuk tidur di malam itu. Pagi pun tiba, Septin berjalan ke ruang makan seperti biasanya. Beberapa pasang mata masih sinis melihat ke arahnya. Hanya saja bedanya pagi ini tidak ada satupun yang berani mencibirnya seperti hari kemarin. Lalu setelah makan, Maid Lilis menghampirinya, "Selamat pagi, pengasuh Septin. Pagi ini Anda akan memulai pekerjaan Anda sebagai pengasuh Tuan Muda Gideon." "Siap, Maid. Tapi Tuan Muda Gideon sampai pagi ini tidak juga menekan bel, sehingga bel yang ada di dalam kamar saya tidak pernah berbunyi," tutur Septin. "Memang benar. Tuan Gideon masih tidak membutuhkan Anda secara pribadi. Akan tetapi Anda perlu membersihkan kamar Tuan Muda, selagi dia sedang kuliah online," tukas Maid Lilis. "Oh, begitu rupanya cara kerjanya. Maaf Maid, saya tidak tahu." "Tak masalah Pengasuh Septin. Saya maklum karena Anda juga masih orang baru. Akan tetapi Ada baiknya Anda mengetahui dan mengingat setiap pekerjaan yang harus Anda lakukan mulai dari sekarang," ucap sang maid. "Baik, Maid Lilis." jawabnya. "Mari silakan, Anda ikut saya. Saya akan menunjukkan di mana tepatnya kamar Tuan Muda Gideon berada." Septin mengangguk lalu mengikuti langkah Maid Lilis Melewati setiap ruangan yang sangat elegan di rumah besar itu. Ternyata di dalam rumah megah itu terdapat lift yang menghubungkan setiap lantai yang ada di sana. Rumah keluarga Mosha terdiri dari empat lantai. Kamar Gideon berada di lantai empat. Setelah sampai di sana, keduanya pun sama-sama ke luar dari dalam lift. Maid Lilis mulai memberitahukan kepada Septin setiap ruangan yang ada di lantai empat tersebut. Ternyata semua ruangan yang ada lantai empat tersebut adalah milik Gideon yang terdiri dari kamar pribadinya yang sangat luas, ruang belajar, ruang untuk kuliah, ruang bermain, serta ruang untuk berolahraga raga. Septin tak henti-hentinya terkagum-kagum melihat begitu mewahnya semua fasilitas yang dimiliki oleh Gideon. "Wah, sungguh sangat elegan kehidupan Tuan Muda Gideon. Tapi ada dia tidak kesepian hidup ditengah kemewahan ini?" ujar Septin dalam hati. Karena dari tadi, gadis itu tak melihat satu orangpun yang ada di lantai empat ini. Setelah Septin mengetahui semua letak dari ruangan-ruangan tersebut, Maid Lilis meninggalkan tepat di depan pintu kamar Gideon. "Nah, yang ini kamar pribadi dari Tuan Gideon. Anda silakan masuk saja, dan mulai membersihkannya sesuai dengan yang saya ajarkan tadi."Maid Lilis sering kali mencoba berbicara dengan Gideon, berusaha memahami apa yang ada di dalam pikirannya. Namun, sang tuan selalu menjawab dengan senyum misteriusnya, seolah-olah dia menikmati kebingungan Maid Lilis. Bagi Gideon, mungkin itu adalah bentuk hiburan, cara dia mengisi waktu luangnya yang selalu beraktivitas di dalam rumah mewah dan elegan milik Keluarga Mosha.Namun bagi Maid Lilis, hal itu adalah misteri yang belum terpecahkan. Dia terus mencoba untuk mengerti maunya Gideon, mencoba memahami apa yang ada dibalik sikapnya yang aneh. Maid Lilis berharap suatu hari nanti, dia akan bisa memahami sang tuan muda yang mungkin bisa membantu Pengasuh Septin.Namun, sampai saat itu tiba, Maid Lilis hanya bisa tetap bingung dan bertanya-tanya. Dia terus melakukan tugasnya sebagai pelayan, sambil mencoba memahami misteri atas sikap-sikap anak dari majikannya yang selalu berubah-ubah, dan sengaja diciptakan oleh Tuan Muda Gideon. Dia tahu bahwa itu mungkin bukan tugas yang mudah, n
Sementara di dalam kamarnya, Gideon terlihat senyum-senyum sendiri melihat kerepotan dari sang pengasuh membersihkan ruangan pribadinya.“Rasain kamu, Pengasuh Septin! Ha-ha-ha! Makanya jangan berani melawanku!” seru Gideon, sambil terus menonton pengasuhnya yang sedang beres-beres itu.Seringai licik mulai tergambar jelas di wajah pria tampan itu. Sepertinya Gideon punya rencana lain untuk semakin membuat sang pengasuh menjadi sangat repot.“Ada baiknya aku menambah pekerjaannya!” sergah sang tuan muda dari dalam hatinya.Lalu Gideon melangkah keluar dari kamarnya dan mulai berjalan menuju ke dalam ruang perpustakaan pribadinya.Gideon, pria yang selalu menunjukkan sikap tenang dan berwibawa, hari ini tampak berbeda. Dia berjalan masuk ke dalam ruang perpustakaan miliknya dengan langkah yang berbeda dari biasanya. Perpustakaan itu adalah tempat dia biasanya mencari ketenangan dan pengetahuan, akan tetapi hari ini, Gideon memiliki niat lain.“Ha-ha-ha! Atraksi mahakarya dari ku akan s
"Tidak, Septin. Masih belum pas. Rasa susu ini ... rasanya terlalu ... saya tidak tahu," ucap Gideon dengan suara yang terdengar kecewa.Septin merasa hatinya seketika menjadi panas. Dia telah mencoba sekuat tenaga untuk memenuhi permintaan Gideon, namun sepertinya tidak ada yang bisa membuatnya puas."Tuan Muda Gideon, saya... saya sungguh minta maaf. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan lagi. Saya sudah berusaha untuk membuat segelas susu untuk Anda. Tapi Anda tetap tidak suka!" ucap Septin dengan suara yang penuh dengan rasa kesal yang ditahan.Gideon menatap Septin dengan senyum yang penuh dengan kepuasan karena berhasil membuat sang pengasuh marah. "Ya … sudah. Tidak apa-apa, Septin. Gue akan mencoba lagi lain kali. Terima kasih atas usaha Lo. Segera bereskan semua kekacauan ini! Gue mau tidur, jangan lupa bersihkan ruang belajar gue dan ruang exercise gue. Segera!”Setelah mengucapkan semua kalimat itu. Lalu dengan santainya Gideon menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya
Tuan Muda Gideon masih duduk di atas ranjangnya dengan wajah yang dipenuhi dengan kekesalan dan keheranan dengan permintaan sang pengasuhnya. Dia menatap pengasuhnya, Septin, dengan ekspresi kemarahan yang hakiki. Septin, yang hampir sebaya dengannya, berdiri di depannya dengan pandangan mata penuh harap."Tuan Muda Gideon, bagaimana dengan tawaran saya tadi? Jika next saya akan menemani Anda berpetualang di malam hari?" ucap Septin dengan nada penuh antusiasme, demi untuk mematahkan keegoisan sang tuan muda.Gideon menatap Septin dengan matanya yang masih memancarkan kekesalan kepada gadis itu. "Cih! Memangnya Lo sanggup mengikuti kegiatan gue di malam hari di luar rumah? Serius Lo, Pengasuh Septin?"Septin mengangguk pasti, dan tetap mempertahankan keinginannya. "Ya … saya serius, Tuan Muda. Kenapa kita tidak menjelajahi malam bersama-sama, seperti yang selalu Anda lakukan sendiri sebelumnya?"Gideon menahan diri untuk tidak langsung menolak tawaran itu. Dia mencoba memahami apa
“Tuan Muda, saya tahu kok kalau kita hampir sebaya. Tapi Anda juga harus tahu jika saya adalah pengasuh yang ditunjuk langsung oleh Nyonya Kemala,” tutur Septin kepada Gideon yang sangat keras kepala.“Terus … maksud Lo apa, hah?” hardik Gideon.“Ya ampun … Tuan Muda. Hanya ada kita berdua di dalam ruangan ini. Anda tidak perlu membentak saya,” ucap Septin sambil balik menatap Gideon yang dari tadi melirik ke arahnya dengan sangat sinis.“Katakan mau Lo Septin! Jangan kebanyakan bacot, Lo! Jangan sok mengatur gue!” Gideon bukannya mengecilkan suaranya. Pria itu malah menambah satu oktaf nada suaranya saat ini.“OMG! Ternyata Tuan Muda Gideon, sangatlah pemarah. Sabar … sabar Septin. Tarik napas dalam-dalam lalu buang perlahan,” gumam sang gadis dari dalam hatinya.“Maksud saya, kita harus saling menghargai, Tuan Muda. Anda sebagai anak asuh saya, dan saya sebagai pengasuh Anda. Sesimpel itu kok,” ucapnya mencoba menjelaskan semuanya kepada Gideon.“Kalau gue nggak mau, Lo mau apa?” ta
Gideon dan Septin mulai meraba-raba di kegelapan gudang. Mereka bersembunyi di balik tumpukan kotak-kotak kardus dan barang-barang usang. Bunyi langkah kaki para sekuriti yang berpatroli di sekitar kediaman keluarga Mosha menggetarkan udara di dini hari itu. Gideon tahu bahwa jika dia tertangkap, pria itu tak hanya akan menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri, akan tetapi juga bagi Septin. Pengasuh barunya yang baru saja direkrut oleh sang ibu, Nyonya Kemala."Dengar, Pengasuh Septin," bisik Arjuna dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar di antara suara derap langkah kaki di luar gudang. "Kita harus bersabar. Jangan bergerak sampai mereka benar-benar pergi."Septin yang masih belum paham tentang situasi itu, hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya kepada sang tuan muda.Gideon, dengan napasnya yang terengah-engah, berkata lagi, "Dengarkan, Pengasuh Septin. Kita harus tetap diam dan berharap mereka melewati gudang tanpa curiga."Lagi-lagi Septin menganggukkan kepalanya.







