ログイン"Siap, Maid. Tapi, maaf. Jika saya boleh tahu, Tuan Muda Gideon sedang berada di mana sekarang, Maid?"
"Oh, kalau pagi-pagi begini, Tuan Muda Gideon sedang kuliah online. Jadi saat inilah waktu yang tepat untuk Anda membersihkan ruang pribadinya," tutur maid Lilis lagi. "Siap, Maid. Saya akan membersihkan semuanya dengan baik," ucap Septin penuh semangat kerja. "Baiklah, Pengasuh Septin. Saya pergi dulu, untuk mengurus pekerjaan lainnya." Lalu maid Lilis pun menjauh dari hadapan Septin dengan cepat. Septin memasuki kamar Tuan Muda Gideon dengan tekad yang kuat untuk membersihkannya. Ruangan itu seolah-olah seperti medan perang setelah diterjang badai. Pakaian berserakan di lantai, buku-buku bertumpuk di meja, dan aroma khas rempah dari makanan ringan yang terlupakan melayang di udara. Dengan sikap yang penuh keuletan, Septin menghela napas ringan. "Sial! Sangat berantakan! Ini kamar apa gudang barang rongsokan?" gumamnya sambil melihat sekeliling kamar yang berantakan. Dia tidak pernah menyangka bahwa membersihkan kamar Gideon bisa separah ini. Namun, keuletannya tak membiarkannya menyerah begitu saja. Sementara itu, Gideon yang sedang berada di ruang belajarnya sedang duduk di depan laptopnya, tenggelam dalam dunia kuliah online. Akan tetapi dia juga melihat pekerjaan pengasuh barunya yang sedang membersihkan kamarnya. "Septin Adena! Aku ingin lihat apakah kamu bisa menaklukkan kekacauan ini!" serunya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar. Gideon memang terbiasa melakukan kekacauan, dan Septin tahu itu dari para maid yang telah menceritakan semua keisengan dari sang tuan muda. Dari hari pertama Septin bekerja sebagai pengasuhnya. Gideon telah melakukan beberapa hal iseng untuk menakut-nakuti gadis itu. Namun sayangnya, Septin tidak takut sama sekali dengan semua kejahilan sang tuan muda. Sejujurnya Gideon kewalahan untuk mengisengi Septin. Berbagai cara telah dilakukan oleh Gideon agar gadis itu menyerah menjadi pengasuhnya. Yang terjadi malah sebaliknya. Septin sama sekali tak gentar dengan semua perlakuan Gideon kepadanya. Sang tuan muda masih berpikir keras bagaimana caranya menyingkirkan gadis itu secepatnya, sebagai pengasuhnya. Dengan sapu dan kemoceng di tangannya, Septin mulai menyusuri lautan pakaian yang berserakan di lantai kamar itu. Gadis itu melipat semua kain dan kembali menyusunnya ke dalam lemari. Dia juga tak lupa membersihkan timpukan kertas-kertas yang tidak terpakai lagi ke dalam sebuah tong sampah. Keuletan Septin yang merapikan setiap sudut kamar Gideon, akhirnya membuahkan hasil. Kamar itu pun berubah. Dari kapal yang hampir tenggelam dalam badai, menjadi kapal yang kembali bersih dan teratur. Septin tersenyum puas melihat hasil kerjanya yang begitu menakjubkan. Dia pun menyeka keringatnya pertanda jika dirinya mulai kelelahan saat ini. "Bermain dengan badai adalah spesialisasi saya, Tuan Gideon!" ujar Septin lagi. Gideon seakan tak percaya dengan semua hasil kerja dari Septin. Pria itu saat ini sedang melihat keadaan kamarnya dari setiap sudut melalui kamera CCTV. "Shitt! Ternyata perempuan itu telaten juga! Damn it! Apa yang harus ku lakukan untuk membuatnya tidak betah bekerja di sini?" Gideon menjadi bingung sendiri menyadari jika Septin ternyata bisa diandalkan. "Jika begini terus! Gadis itu bisa besar kepala! Cih! Jangan harap aku akan melepaskan mu, Septin Adena!" ujarnya tajam dari dalam hatinya. Karena kekacauan sudah hilang, dari kamar Gideon. Septin pun meninggalkan kamar dengan senyuman puas, menunjukkan bahwa keuletannya mampu mengubah bahkan keadaan paling kacau sekalipun. Setelah mengetahui jika Septin telah meninggalkan dari kamar sang tuan muda. Gideon pun segera ke luar dari ruang belajarnya dan mulai melangkah menuju ke dalam kamarnya. Pria itu ingin melihat secara langsung kerapian dan kebersihan kamarnya yang telah dilakukan oleh gadis itu. Gideon melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan hati-hati. Pria itu tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Sang tuan muda terhenti sejenak di ambang pintu, matanya memperhatikan perubahan yang luar biasa dengan kamarnya. Seperti sihir yang menyelinap di malam hari, kamarnya berubah menjadi lebih rapi dan bersih. Sang tuan muda semakin masuk ke dalam kamarnya. Gideon pun dapat melihat sentuhan ajaib dari Septin, pengasuh barunya. Lemari buku yang sebelumnya penuh dengan tumpukan buku dan kertas, kini telah teratur dengan rapi. Setiap judul buku tersusun dengan sempurna, sebagai kumpulan pengetahuan yang menunggu untuk dijelajahi. Gideon tertawa kecil, menemukan beberapa buku yang sudah lama hilang kini ditemukan dan diletakkan dengan indah. "Ha-ha-ha! Kamarku sungguh rapi sekarang! Ternyata pengasuh itu bisa diandalkan!" ujarnya memuji hasil kerja Septin. Gideon sangat senang mendapati kamarnya yang begitu bersih. Tanpa sadar dia juga memuji hasil kerja dari Septin. Namun tiba-tiba Gideon berkata lagi, "Hei! Ada apa denganku? Kenapa aku malah memuji hasil kerjanya? Dasar menyebalkan!" Gideon malah marah kepada dirinya sendiri karena malah Menyukai hasil kerja Septin di dalam kamarnya. Lalu Gideon juga dapat melihat di sepanjang meja belajarnya, perubahan lain yang menakjubkan terjadi. Pena-pena dan kertas-kertas yang berserakan telah digantikan oleh lapangan yang bersih dan terorganisir. Alat tulis tersusun secara teratur, dan komputer portabelnya ditempatkan di tengah-tengah meja, siap untuk mengeksplorasi dunia maya atau menangkap inspirasi yang muncul secara tiba-tiba. Gideon melirik ke arah tempat tidurnya, dan dia tak bisa menyembunyikan senyumannya. Selimut dan bantalnya disusun dengan indah, menciptakan panggung kenyamanan yang mengundangnya untuk beristirahat setelah hari yang panjang. Gideon merasa berterima kasih kepada Septin yang telah memberikan sentuhan kelembutan pada tempat yang biasanya kacau. "Terima kasih, Septin," ucap Gideon dengan suara lembut, meskipun tahu bahwa pengasuhnya mungkin tidak mendengar. Gideon merasa beruntung memiliki seseorang yang memahami kebutuhan dan keinginannya dengan begitu baik. Lagi-lagi pria itu tanpa sadar malah memuji hasil kerja dari pengasuh barunya itu. Gideon lalu melangkah ke arah jendela. Dia melihat pemandangan luar yang seolah menyatu dengan perasaannya yang kini terangkat. Taman yang terletak di luar tampak lebih hidup, sebagai refleksi dari perubahan positif yang terjadi di dalam kamarnya. Burung-burung yang riang berkicau di ranting pohon, dan sinar matahari yang masuk melalui jendela memberikan sentuhan hangat pada ruangan yang dulu sering diselimuti kekacauan. Sementara Gideon menikmati momen itu, dia merenung tentang arti dari perubahan ini. Lebih dari sekadar kebersihan fisik, kamarnya kini mencerminkan ketenangan dan ketertiban dalam pikirannya. Ini bukan hanya tentang tempat untuk tidur dan belajar, akan tetapi juga tentang merawat diri dan menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan pribadi. Gideon malah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga kekacauan tetap menjauh, dan untuk menghargai upaya Septin yang tak kenal lelah membersihkan kamarnya. Kini, kamarnya bukan hanya sebuah ruangan, melainkan tempat di mana ide-idenya untuk melukis berkembang pesat. Gideon tidak pernah merasakan perasaan tenang dan nyaman seperti ini. "Kenapa aku malah merasakan kedamaian yang hakiki saat ini? Setelah pengasuh itu membersihkan kamarku?" tanyanya dalam hati.Perayaan ulang tahun Abed dan Alice,Pagi Sabtu yang cerah, suasana di Tamani Kids Café, Kemang, Jakarta Selatan terasa meriah. Balon-balon berwarna cerah dan dekorasi penuh warna menghiasi seluruh sudut ruangan, menandai perayaan ulang tahun bersama Abed Mosha yang genap berusia lima tahun dan Alice Mosha yang merayakan ulang tahunnya yang ke tiga tahun.Meja-meja dipenuhi dengan berbagai macam makanan dan kue yang menarik perhatian, sementara di tengah ruangan terdapat kue ulang tahun besar berlapis tiga, dihiasi dengan karakter kartun favorit Abed dan Alice.Gideon dan Septin tampak sibuk menyapa para tamu yang mulai berdatangan. Keduanya tersenyum lebar, menikmati setiap momen kebahagiaan yang mengalir di tengah pesta tersebut."Selamat datang, Tuan Ronald, Nyonya Sera! Terima kasih sudah datang," sambut Gideon ketika salah satu koleganya memasuki ruangan bersama keluarganya.Tuan Ronald, yang datang bersama Nyonya Sera serta kedua anak mereka, Sebastian dan Rose, menjabat tangan
Dua tahun telah berlalu sejak kelahiran Baby Abed Mosha,Pagi itu, suasana di rumah Keluarga Mosha terasa hangat dan penuh kebahagiaan. Di ruang tamu yang luas dan elegan, Gideon terlihat sedang sibuk memastikan semua persiapan untuk menyambut kedatangan Septin, istrinya dan Baby Alice yang telah lahir beberapa saat yang lalu, sudah sempurna. Bunga-bunga segar menghiasi meja, dan balon warna pink dan peach bergantungan di sudut ruangan. Wajahnya tak henti-hentinya tersenyum sambil sesekali melihat ke arah Abed, putra sulungnya yang sedang asyik bermain dengan mainan mobil-mobilannya."Papi, kapan Mami dan adik bayi pulang ke rumah kita?" tanya Abed dengan mata berbinar-binar."Sabar, Nak. Sebentar lagi Mami dan adik Alice akan sampai," jawab Gideon lembut sambil mengelus kepala Abed, putra sulungnya. "Kamu senang ya punya adik perempuan?"Abed mengangguk dengan antusias. "Iya, Papi! Abed mau ajak adik main sama-sama nanti!"Gideon tertawa kecil melihat semangat putranya. "Ha-ha-ha
Sudah sebulan berlalu sejak Gideon dan Septin kembali dari bulan madu mereka di Finlandia. Masa-masa bulan madu itu terasa seperti mimpi indah yang tak berkesudahan, tapi kebahagiaan keduanya belum berhenti di situ. Ketika Septin mengetahui bahwa dirinya hamil, keduanya terkejut sekaligus bahagia. Sekarang, usia kandungan Septin sudah mencapai lima bulan, dan hari ini adalah hari yang mereka tunggu-tunggu yaitu pemeriksaan kehamilan di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta.Pagi itu, Gideon izin dari kantornya, Mosha Corp, di mana dia menjabat sebagai CEO, agar bisa menemani Septin ke dokter kandungan. Di dalam mobil mewah mereka, suasana terasa tenang dan penuh harapan. Gideon mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam tangan Septin yang duduk di sebelahnya.“Aku masih nggak percaya kalau kita akan punya bayi laki-laki, Sayang.” ucap Gideon, suaranya dipenuhi kegembiraan. “Rasanya seperti baru kemarin kita menikah, dan sekarang kita akan jadi orang tua.
Pagi itu di hotel mewah mereka di Finlandia, sinar matahari pagi yang lembut menerobos masuk melalui jendela besar suite tempat Gideon dan Septin menginap. Setelah menghabiskan malam penuh cinta, keduanya memulai hari dengan suasana yang tenang dan damai. Kamar suite yang hangat dan nyaman menjadi saksi kebahagiaan mereka sebagai pasangan suami istri.Setelah mandi air hangat dan mengenakan pakaian santai, Septin melangkah ke meja sarapan yang sudah disiapkan oleh staf hotel. Sepiring roti panggang, buah segar, dan secangkir kopi panas menunggu mereka.“Mas, ini sarapan yang sempurna setelah malam yang panjang,” ucap Septin sambil tersenyum ke arah Gideon, yang sudah duduk di kursi berhadapan dengannya.Gideon tersenyum lebar, tatapan matanya penuh cinta saat dia mengambil secangkir kopi. “Kamu benar, Sayang. Oh ya, hari ini aku punya rencana yang lebih sempurna untuk kita.”Septin mengangkat alis, penasaran. “Rencana apa itu, Sayang?”Gideon meletakkan cangkir kopinya dan bersandar
Setelah seharian menikmati keindahan negara Finlandia yang begitu sangat memukau, Gideon dan Septin tiba di hotel mereka yang megah dan hangat. Hotel bintang lima itu terletak di tepian danau yang memantulkan kilauan cahaya bulan yang berpendar di langit malam. Embun malam yang lembut mulai jatuh di luar jendela kamar suite itu. Seolah-olah kehangatan memenuhi ruangan tersebut saat mereka masuk. Septin yang masih mengenakan jaket tebal tersenyum lelah namun bahagia sambil menatap pada Gideon.“Kamu capek, Sayang?” Gideon bertanya lembut sambil menurunkan ransel dari pundaknya.Septin mengangguk kecil. “Sedikit, Mas. Tapi aku sungguh sangat bahagia. Hari ini benar-benar luar biasa. Aku tidak percaya kita benar-benar ada di sini, di Finlandia, untuk bulan madu.”Gideon tersenyum lebar, lalu melangkah mendekat, menarik istrinya ke dalam pelukan hangatnya. “Aku juga, Sayang. Aku sangat senang dan bahagia bisa menghabiskan waktu ini bersamamu, di tempat seindah ini.”Mereka berdua berdir
Setelah waktu yang panjang dan penuh kemesraan di dalam kamar mandi hotel suite mewah mereka, Gideon dan Septin keluar dari kamar mandi dengan tubuh segar dan hati yang penuh kebahagiaan. Udara pagi di Kota Helsinki terasa semakin segar, dan matahari yang lembut bersinar menembus tirai jendela besar. Kamar suite tersebut dihiasi dengan gaya modern namun tetap memiliki sentuhan keanggunan Finlandia. Meja makan di dekat jendela telah dipersiapkan dengan sempurna untuk sarapan pagi."Aku sudah lapar. Ayo kita makan dulu, Sayang." ucap Gideon sambil menatap meja yang penuh dengan berbagai makanan khas Finlandia. “Iya, Mas. Perutku juga udah kosong banget, nih.” tutur Septin uang mulai kehabisan energi akibat aktivitas panasnya dengan Gideon, suaminya.Di atas meja makan, ada beberapa cupcake dengan topping buah beri lokal yang segar, jus buah yang dingin, serta beberapa gelas mocktail yang siap untuk dinikmati.Septin tersenyum lembut, menatap makanan di depannya. "Semua makanan ini te
Hari ini adalah hari yang sangat dinanti-nantikan oleh Gideon dan Reza. Mereka akan berhadapan dalam sebuah balapan mobil di arena balapan mobil di Sentul, Bogor. Pertarungan ini bukan hanya sekadar adu kecepatan, melainkan juga sebuah duel untuk membuktikan siapa yang lebih unggul di antara mereka
Di pagi yang cerah, matahari bersinar hangat menyinari Kota Jakarta, dan langit tampak biru tanpa awan, suasana di sebuah kampus begitu damai. Di tengah kesibukan mahasiswa yang berjalan ke sana kemari, Gideon melangkah dengan penuh semangat menuju ke kelasnya. Dia tidak sendiri, di sampingnya ada
Tuan muda Gideon baru saja menyelesaikan persiapan terakhirnya di pagi yang cerah ini. Setelah sekian lama menjalani kuliah online dari rumah, akhirnya dia bisa merasakan atmosfer kampus yang sesungguhnya. Hari itu adalah hari pertamanya kembali ke kampus setelah melakukan perkuliahan online yang
Matahari pagi mulai menyingsing, menyebarkan sinar keemasan yang menyelimuti langit biru. Suara kicauan burung bersahut-sahutan, menambah suasana pagi yang tenang dan damai. Namun, di balik ketenangan pagi ini, ada semangat dan kesibukan yang membara di salah satu sudut kota Jakarta. Di rumah besar







