LOGINNamira menjawab dengan anggukan pelan. Seolah hal itu sudah menjadi jawaban pasti tanpa perlu penjelasan panjang lebar.Percayalah, tak ada yang tak mungkin jika itu berasal dari kasih Tuhan. Setelah sekian lama hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang pedih, akhirnya Namira bisa bangkit dari keterpurukannya. Pikirannya sudah seperti orang normal pada umumnya. Bayangan masa lalu tentang Latief yang meninggalkannya perlahan menghilang dan tergantikan dengan kebahagiaan yang bersumber dari putrinya.‘Apakah ini salah satu bukti mukjizat darimu, Tuhan? Kau mengembalikan ibuku kepadaku. Akhirnya… akhirnya Ibu…’Thalita tak bisa berkata-kata lagi walau hanya dalam hati. Tangisnya pecah dan langsung memeluk sang ibu dengan erat. “Ibu, aku sayang Ibu.” Thalita menangis di pelukan Namira. Wanita cantik itu berlutut di atas lantai sembari memeluk sang ibu dengan tangis yang tak dapat ditahan lagi.Namira tak bisa menahan isak tangis, sama seperti sang putri. Akhirnya pasangan ibu dan anak itu
Kedua mata Thalita terarah pada tayangan televisi yang kini menunjukkan pemandangan menyedihkan. Sebuah kecelakaan maut tunggal yang telah menewaskan wanita yang pernah merebut kebahagiaan ibunya. Bukan kebahagiaan yang ada di benak Thalita saat ini, melainkan iba pada nasib keluarga yang ditinggalkan.“Permisi, Nona Thalita, ini teh hangatnya,” ucap Stefani sembari meletakkan secangkir teh hangat permintaan sang majikan. Tak mendapat jawaban karena Thalita sedang fokus pada apa yang tersaji di layar televisi, Stefani segera berpindah posisi. Ia kini berdiri di samping Rico dan pria itu berbisik di telinganya. Terjawablah sudah apa yang membuat dirinya bertanya-tanya. Kembali pada Thalita dan Baskara…Baskara membalik tubuh Thalita agar mereka bisa saling bersitatap. “Ada apa, Sayang?”“Nggak apa-apa, Mas.” Thalita menjawab singkat tanpa berniat memberikan penjelasan. “Oh ya, Mas, habis ini aku mau ke rumah Ibu, ya,” ucap Thalita meminta ijin. “Mau ke rumah Ibu? Perlu aku temani? M
“Sayang, maaf aku lam—” Baskara yang hendak melanjutkan kata-katanya tiba-tiba membelalakkan mata. Tepat di saat itu juga, tangan Karina yang hendak menampar Thalita dihentikan seseorang. Bukan Yudith ataupun Baskara, melainkan Tahlita sendiri-lah yang melakukannya. “Kamu pikir kamu bisa menamparku? Jangan harap kamu bisa menyentuhku, Karina! Saat kamu berani menamparku, aku akan membalasmu 10 kali lipat dari tamparan serta rasa sakit yang kamu berikan padaku. Masih berani coba? Aku nggak main-main, Karina.” Thalita tampak berbeda saat ini. Wanita yang tengah mengandung buah cintanya dengan Baskara itu terlihat tegas, ambisius dan diliputi amarah yang tak main-main.Karina sontak memundurkan tubuhnya. Tumbuh rasa takut yang kini menyelubungi hatinya. Ia melirik ke arah Yudith yang diam saja dan sepertinya tidak akan berada di pihaknya. “Kamu itu tunanganku tapi kenapa malah diam? Kenapa kamu nggak angkat bicara saat wanita ini menggangguku?” Karina menyalahkan Yudith yang memilih d
“Ada apa ini? Kenapa kalian—” Yudith hendak mempertanyakan tapi dicegah oleh Karina. Karina mengangkat satu tangannya yang lain dan memberi penjelasan. “Dia mau merebut gaun pilihanku, padahal gaun ini aku yang pilih duluan untuk pernikahan kita.” Wanita itu dengan tegas menuduh mantan kekasih dari tunangannya melakukan hal demikian. Mendengar hal itu, Thalita sedikit terkejut. Jujur, ia seperti sudah terbiasa meladeni orang-orang yang suka asal menuduh dan menjatuhkan orang lain demi memuaskan kesenangan diri sendiri. Wanita cantik yang pernah menjadi kembang kampus itu melepaskan gaun dari tangannya secara tiba-tiba.Gaun yang tadi menjadi bahan perebutan sekaligus perdebatan dua wanita cantik itu terhempas ke arah Karina. Karina yang belum siap dengan pergerakan Thalita nyaris tersungkur ke belakang karena sebelumnya ia menarik cukup kuat. Dua wanita itu sempat menggunakan tenaga mereka saat memperebutkan gaun tersebut. Tapi kini Thalita-lah orang yang mengikhlaskan gaun itu untu
Mendengar seseorang yang paling tak ingin lagi ia lihat di sepanjang hidupnya disebut di hadapannya, Thalita refleks menggeleng cepat.“Jangan sebut orang itu lagi, Nek. Beliau sudah lama pergi dari kehidupan Ibu dan saya. Jadi ke depannya, saya sudah menemukan seseorang yang tepat untuk menjadi wali nikah saya. Dan jelas orang tersebut bukan ayah kandung saya. Ada orang yang lebih pantas dan mampu menjadi wali nikah untuk pernikahan saya dan Mas Baskara.” Thalita tersenyum manis pada nenek dari calon suaminya. Seruni tak bisa memaksa, ia bisa dan juga paham di mana dirinya memposisikan diri sebagai Thalita. Tak mudah bagi wanita cantik itu dan ibunya selama belasan tahun ditinggalkan Latief begitu saja untuk menerima kembali kehadirannya. Apapun alasannya, Thalita pasti akan mencari solusi lain. “Ya sudah kalau begitu. Nenek dan Kakek pulang dulu, ya. Kamu pasti juga lelah, dan ingin beristirahat di rumah ibumu. Nenek nggak akan mengganggu pertemuan kalian. Kamu pasti sangat merind
“Nyonya Seruni—” Thalita tak mampu berkata-kata. Mengapa wanita tua ini di sini? Di rumahnya? Bersama ibunya?Tanda tanya besar terlihat jelas di keningnya atau bahkan malah terlihat jelas dari raut wajahnya saat ini. Hal tersebut segera dijawab oleh Seruni didampingi Teddy. “Biar saya jelaskan semuanya,” tegas Seruni pada Thalita. “Kemarilah, Thalita. Ada banyak hal yang belum kamu tahu tentang masa lalu semua orang yang ada di sini,” jelas Seruni selanjutnya.Thalita mendekat lalu ia diminta duduk di dekat Seruni. Terungkaplah sudah segalanya. Kini, Thalita tahu apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu. “Jadi yang menolong anda saat itu adalah ibu saya?” Thalita mulai paham. Ia menyimpulkan semuanya dengan anggukan dari kepalanya. “Ya. Ibumu adalah penyelamat saya saat itu. Saya berhutang nyawa padanya. Dan saat tahu bahwa ibu kamu mengalami hidup yang tidak mudah setelah kepergian ayah kamu, saya merasa sangat bersalah. Andai saat itu saya tahu bahwa bukan Ferry yang telah men







