Share

Bab 19

Author: JacqueAuthor
Aku hanya berdiri di sana, menatapnya tanpa mampu berkata apa-apa.

Lucas berbalik hendak pergi, tetapi kemudian dia berhenti. Perlahan, dia kembali menghampiriku dan menggenggam tanganku.

Tatapan kami bertemu. Kali ini, tatapannya jauh lebih lembut daripada yang pernah kulihat sebelumnya.

"Aku selalu menyukaimu, Ari. Aku benar-benar sedih atas semua yang terjadi padamu. Aku tahu beberapa hari ke depan nggak akan mudah. Aku tahu Asher akan terus menekanmu, tapi ...."

Dia mengembuskan napas. "Kura
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Antara Cinta Dan Benci: Menjadi Tawanan Bos Mafia   Bab 70

    Aku menyipitkan mata menatap ibuku, terpaku oleh apa yang baru saja dia katakan."Ibu serius?" tanyaku dengan suara tajam karena tidak percaya."Tentu saja," jawabnya dengan nada yang terlalu santai untuk percakapan seperti ini. "Maksud Ibu, dari yang Ibu dengar, pelurunya nggak mengenai bagian tubuh yang vital. Ibu yakin dia akan baik-baik saja. Tapi kalau pelurunya mengenai bagian yang lebih penting ... mungkin sekarang ceritanya sudah berbeda. Kita bahkan nggak perlu lagi mengkhawatirkan dia."Aku menatapnya dengan ngeri. Dia tidak mungkin baru saja mengatakan itu. Dia tidak mungkin benar-benar bermaksud seperti itu."Jadi maksud Ibu ... Ibu sebenarnya berharap peluru itu mengenai jantungnya? Atau kepalanya? Ibu berharap dia mati?" Suaraku bergetar saat mengucapkan kata-kata itu."Nggak, nggak, nggak," katanya buru-buru sambil mengangkat kedua tangannya, seolah-olah bisa menarik kembali ucapannya. "Ibu nggak pernah bilang begitu. Kenapa Ibu harus bilang begitu... Ibu nggak bilang it

  • Antara Cinta Dan Benci: Menjadi Tawanan Bos Mafia   Bab 69

    Begitu melihatku, mata ibu langsung dipenuhi kekhawatiran."Ariel, gimana keadaanmu?" tanyanya cepat sambil bergegas menghampiriku dan memelukku.Aku mematung. Ini hal yang baru. Aku menatapnya, bingung sekaligus diam-diam merasa hatiku hancur. "Aku baik-baik saja," jawabku pelan. "Memangnya kenapa?""Karena Asher," katanya lembut.Jantungku mulai berdetak lebih cepat, tetapi aku memaksakan raut wajah bingung. Ibuku tidak mengenalku sedalam itu. Dia tidak tahu bahwa aku sudah mengetahui semuanya. Dia menatapku penuh simpati dengan nada bicara yang hati-hati."Kamu belum tahu apa yang terjadi?""Apa yang terjadi?" tanyaku dengan berpura-pura kesal, berusaha terdengar terkejut sekaligus bingung."Oh, Sayang, mungkin kita sebaiknya duduk dulu," katanya sambil meletakkan kantong belanja di dekat pintu. Dia menggenggam tanganku dengan lembut dan menuntunku ke ruang tamu, menyuruhku duduk di sofa sebelum duduk di hadapanku."Sesuatu terjadi pada Asher, Sayang."Dadaku terasa sesak, tetapi ak

  • Antara Cinta Dan Benci: Menjadi Tawanan Bos Mafia   Bab 68

    "Ariel, dengarkan aku," kata Lucas dengan nada ringan tetapi tulus. "Sungguh, aku sama sekali nggak marah sama kamu. Maksudku, oke, mungkin aku sedikit kesal karena kalian berdua memutuskan melakukannya saat aku ada di kamar sebelah."Aku mengerang pelan. Rasa malu kembali menyelimutiku. Dia tertawa, jelas berusaha mencairkan suasana. Namun, kemudian dia kembali serius."Ariel," katanya sambil menyenggol lenganku pelan. "Dengar, aku justru suka kalau kamu punya keberanian. Kamu berjuang demi pria yang kamu cintai. Aku tahu kamu mencintai Asher. Dan Asher juga mencintaimu.""Sejujurnya, aku malah suka kamu mengancamku. Itu menunjukkan kalau kamu punya keberanian. Suatu hari nanti kamu akan menjadi seorang ratu. Kamu pasti akan membutuhkan sifat itu, 'kan?"Aku berhasil tersenyum tipis, lalu mengangguk."Tapi serius," lanjutnya sambil terkekeh, "Kasihanilah pria malang itu. Dia sedang terluka, demi Tuhan!"Dia kembali tertawa. Meskipun rasa maluku belum hilang, aku ikut tertawa juga. Can

  • Antara Cinta Dan Benci: Menjadi Tawanan Bos Mafia   Bab 67

    Rasanya aku hampir mati karena malu.Di satu sisi, ada rasa malu karena apa yang baru saja kami lakukan, karena Lucas tahu apa yang telah kulakukan, apa yang telah kami lakukan. Namun di sisi lain, ada nyawa Asher. Nyawa yang telah kutaruh dalam bahaya. Hanya karena aku ingin tidur dengannya. Karena aku ingin hamil.Namun, kalau dia mati ... maka semua ini akan sia-sia.Belum tentu juga aku akan hamil. Ada orang yang mencoba bertahun-tahun untuk hamil tetapi tidak berhasil. Sedangkan aku ... apa yang telah kulakukan? Aku mempertaruhkan nyawanya demi sesuatu yang belum pasti.Air mataku mulai mengalir. Aku bahkan tidak berusaha menghentikannya."Aku nggak ...." Suaraku pecah. "Maafkan aku."Aku menoleh menatap lengan Asher yang sedang kupegang, karena aku tidak sanggup menatap wajah Lucas saat ini.Dia tidak bilang bahwa lukanya parah .... Dia bilang pelurunya hanya menggores dagingnya. Aku tidak tahu ternyata separah ini."Nggak apa-apa," Lucas menyelaku dengan lembut. "Mungkin dia ngg

  • Antara Cinta Dan Benci: Menjadi Tawanan Bos Mafia   Bab 66

    Baru setelah kami berdua benar-benar kembali tenang, aku menyadari betapa basahnya tubuhku, dan betapa basahnya tempat tidur itu. Kamar itu gelap, hanya diterangi cahaya redup bulan yang masuk melalui jendela, tetapi bahkan dalam remang-remang itu, aku bisa merasakannya. Darah. Sangat banyak darah, lengket dan hangat di dadaku, juga di kedua tanganku.Asher berguling menjauh dariku, membuatku mengerang pelan.Dia bertanya, "Kamu baik-baik saja? Apa aku melukaimu?""Aku baik-baik saja," jawabku sambil meringis, berusaha menahan rasa pegal dan nyeri tajam yang menyertainya.Dia merebahkan diri di sampingku. Saat aku menoleh menatapnya, aku melihat tubuhnya basah kuyup oleh keringat dan wajahnya semakin pucat. Lalu aku melihat darah itu lagi dan menyadari darah itu berasal dari lengannya.Saat itulah semuanya tersadar. Selama dia berada di atasku tadi, menciumku, menggenggam rambutku, memegang leherku, mendekapku erat, dia terus menggunakan lengannya yang terluka. Lengan yang tertembak it

  • Antara Cinta Dan Benci: Menjadi Tawanan Bos Mafia   Bab 65

    Mungkin itu adalah hal paling bodoh dan paling gegabah yang pernah kulakukan, tetapi aku tidak ingin menggunakan kondom dari laci nakas itu. Itu sama sekali tidak akan membantu rencanaku. Aku harus hamil dan kondom hanya akan menggagalkan semuanya."Kenapa kamu ingin pakai kondom?" tanyaku sambil tetap menggerakkan pinggulku perlahan di atasnya.Wajahnya tampak tegang dan suaranya bergetar saat menjawab, "Kita nggak ingin kamu hamil. Kamu nggak boleh hamil ...."Dia mendesis pelan ketika aku terus bergerak. Kedua tangannya memegang pinggangku, berusaha menghentikanku. Aku mengangkat sebelah alis menatapnya.Dia menggeleng, lalu akhirnya berkata, "Kalau aku melakukannya tanpa kondom, aku akan mengeluarkan semuanya di dalammu dan kamu akan hamil. Kamu akan hamil sebelum kita menikah. Bisa bayangkan skandalnya?" katanya.Aku menatapnya, lalu bertanya, "Kamu sehat?""Tentu saja aku sehat," jawabnya tanpa ragu."Menurutmu aku juga sehat?""Tentu saja. Kamu masih perawan. Kamu belum pernah t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status