Share

S2 bab 89

Penulis: Mariahlia
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-23 13:54:40

Fajar menyapu desa dengan cahaya pucat. Embun masih menempel di dedaunan, dan bau tanah basah sisa hujan semalam memenuhi udara. Di jalan-jalan kecil, para warga mulai keluar dari rumah, sebagian untuk menyalakan api di tungku dapur, sebagian lain untuk memeriksa keadaan sawah yang sempat tergenang air. Namun, rasa lega belum sepenuhnya hadir di hati mereka. Malam tadi, mereka mendengar sendiri pengakuan Darma yang mengguncang: ada sosok lain, seorang dalang besar bernama Surapati, yang selama ini menggerakkan semua kekacauan.

Balai desa masih menjadi pusat perhatian. Warga bergantian datang untuk menengok keadaan Darma, meski dengan hati-hati dan penuh curiga. Sebagian membawakan makanan hangat atau ramuan herbal, tapi sebagian lain hanya berdiri jauh-jauh, takut bila Darma masih punya tipu daya.

Di dalam balai desa, suasana hening. Ayudia duduk bersila di samping ayahnya yang tertidur lemah, napasnya berat tapi teratur. Tangannya tak pernah lepas dari selimut yang menutupi tubuh
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Cacian Keluarga SuamiKu    S2 bab 96

    Angin sore berhembus pelan, membawa aroma tanah basah setelah hujan tipis yang baru saja reda. Di desa kecil itu, kehidupan mulai kembali seperti sedia kala. Anak-anak berlarian di pematang sawah, para petani bersiul riang saat menanam padi, dan suara lesung menumbuk padi terdengar dari kejauhan. Desa itu, yang sempat terancam musnah, kini kembali pulih dengan semangat baru.Namun, bagi Arthayasa, kedamaian itu menyisakan sebuah pertanyaan besar.Malam itu, ia duduk sendirian di serambi rumah kayu sederhana yang baru selesai ia bangun bersama para warga. Rumah itu terletak tak jauh dari balai desa, dikelilingi pohon jati dan bambu yang menari pelan tertiup angin malam. Cahaya bulan menerangi wajahnya yang kini tampak lebih dewasa, matanya menyimpan keteduhan, namun juga ada gurat kegelisahan yang sulit disembunyikan.Ayudia menghampirinya, membawa segelas wedang jahe hangat. Senyum lembutnya selalu menjadi penawar bagi luka batin Arthayasa.“Masih saja melamun?” tanya Ayudia sambil du

  • Cacian Keluarga SuamiKu    S2 bab 95

    Kesunyian malam hanya dipecah oleh isak tangis Ayudia dan doa lirih yang dipanjatkan para pemuda desa. Di dalam balai desa, Arthayasa terbaring pucat di atas tikar. Ki Sangkala dengan telaten membersihkan luka di dadanya, namun darah terus merembes keluar. Nisa, ibu Arthayasa, tak henti-hentinya menggenggam tasbih, bibirnya bergerak membaca mantra-mantra penyembuhan. Fajar mulai menyingsing, mewarnai langit timur dengan gradasi jingga dan ungu. Cahaya mentari pagi perlahan menyelinap masuk melalui celah dinding balai desa, menerangi wajah-wajah penuh harap yang menanti di sekeliling Arthayasa. Namun, wajah Arthayasa tetap tenang, seolah jiwanya telah berlayar jauh dari raganya. Ayudia menggenggam erat tangan Arthayasa, air matanya terus membasahi pipi. "Artha, kumohon bangunlah," bisiknya lirih. "Jangan tinggalkan aku sendiri di sini." Tiba-tiba, jari Arthayasa bergerak sedikit. Ayudia tersentak, matanya membulat penuh harap. "Ki Sangkala, lihat! Dia bergerak!" serunya. Ki Sang

  • Cacian Keluarga SuamiKu    S2 bab 94

    Malam bulan purnama akhirnya tiba. Cahaya perak memancar dari langit, menerangi desa dengan keindahan yang menenangkan. Namun, di balik keindahan itu, tersembunyi ketegangan yang mencekam. Udara terasa berat, seolah-olah setiap hembusan napas membawa serta firasat buruk.Di balai desa, Arthayasa berusaha bangkit dari tikarnya. Tubuhnya masih terasa sakit, namun ia memaksakan diri. Dengan bantuan Ayudia, ia berhasil duduk bersandar di dinding kayu. Matanya menatap tajam ke arah pintu, seolah-olah bisa melihat menembus kegelapan malam."Artha, jangan memaksakan diri," kata Ayudia cemas. "Biarkan mereka yang bertempur. Kamu harus tetap di sini, aman."Arthayasa menggeleng. "Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus melihat dengan mata kepala sendiri. Aku harus memastikan mereka semua selamat."Ayudia tak bisa membantah. Ia tahu betul tekad suaminya. Ia hanya bisa menggenggam erat tangannya, memberikan kekuatan yang ia miliki. Begitupun dengan Nisa, ibu Arthayasa, ia hanya bisa menangis di d

  • Cacian Keluarga SuamiKu    S2 bab 93

    Malam kembali menebarkan selimut gelapnya ke seluruh penjuru desa. Balai desa yang sepanjang hari dipenuhi riuh rendah suara tangisan, doa, dan perbincangan kini berangsur lebih tenang. Obor yang tertancap di sekeliling halaman berayun diterpa angin malam, cahaya kuningnya menari di permukaan tanah basah, menciptakan bayangan panjang yang bergerak seolah-olah hidup.Namun, di balik ketenangan semu itu, hati setiap orang masih dibebani kecemasan. Semua tahu, Surapati bukanlah lawan biasa. Dia ibarat bayangan hitam yang selalu siap menyergap kapan saja.Bahkan, mereka tidak kembali ke villa yang mereka tempati. Arthayasa berbaring di atas tikar pandan. Tubuhnya masih terasa berat, namun pikirannya menolak untuk diam. Setiap detak jantung, setiap tarikan napas, seakan menjadi pengingat bahwa hidupnya baru saja direbut kembali dari genggaman maut.Di sisinya, Ayudia duduk sambil menundukkan kepala. Rambut hitamnya yang tergerai menutupi sebagian wajahnya yang pucat. Kedua tangannya masih

  • Cacian Keluarga SuamiKu    S2 bab 92

    Fajar yang mulai merekah di balik pepohonan terasa berbeda pagi itu. Cahaya mentari yang biasanya hangat kini seakan membawa pertanda, bahwa hari-hari yang akan datang tidak lagi sama. Suara ayam jantan bersahut-sahutan, sementara embun di dedaunan memantulkan cahaya keperakan. Namun di balai desa, suasana masih pekat oleh rasa cemas dan lega yang bercampur jadi satu.Arthayasa membuka matanya lebih lebar, meski kelopak terasa berat seperti diselimuti batu. Nafasnya pelan, tersengal, namun ada sedikit tenaga yang kembali hadir di tubuhnya. Nisa langsung memeluknya, menempelkan wajahnya ke dada putranya, seolah ia baru saja mendapatkan kembali nyawa yang sempat direnggut.“Anakku… kau kembali. Kau tidak meninggalkan ibu…” suaranya parau, basah oleh tangis.Arthayasa mengangkat sedikit tangannya, meski gemetar, lalu menyentuh punggung ibunya. “Ibu… jangan menangis. Aku masih di sini. Aku… akan bertahan.”Ayudia, yang duduk di sisi lain, hanya bisa menangis tanpa suara. Tangannya yang ke

  • Cacian Keluarga SuamiKu    S2 bab 91

    Malam semakin dalam, seolah ikut menanggung beban duka yang menggantung di balai desa itu. Api obor yang berderet di sekeliling balai bergoyang tertiup angin, menciptakan bayangan panjang di wajah-wajah tegang para warga. Suara tangisan perempuan, doa lirih yang dipanjatkan, serta langkah panik beberapa orang yang berusaha mencari kain, air, dan ramuan obat, bercampur jadi satu.Di tengah hiruk pikuk itu, tubuh Arthayasa terbaring di atas tandu bambu. Bajunya basah oleh darah yang terus merembes meski sudah ditekan berkali-kali dengan kain. Setiap tetes darah yang jatuh ke lantai kayu balai desa membuat semua orang merinding, seolah hitungan waktu bagi hidupnya kian menipis.Nisa duduk di sisi kepala anaknya, wajahnya pucat dan mata bengkak karena tangis. Tangannya tak pernah lepas menggenggam jemari Arthayasa yang dingin. Bibirnya komat-kamit melafalkan doa, kadang terputus oleh isakan, kadang oleh teriakan lirih:“Ya Allah… jangan ambil dia dariku. Kalau harus ada yang pergi, ambil

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status