LOGINPernikahan yang diimpikan Nisa berubah menjadi mimpi buruk. Doni, pria yang dulu ia cintai, kini berubah menjadi dingin dan tak peduli. Keluarganya pun tak kalah kejam, memperlakukan Nisa seolah ia tak berharga. Setiap hari, Nisa menelan hinaan demi hinaan. Namun, demi bayi dalam kandungannya, ia terus berusaha bertahan. Tapi, sampai kapan ia mampu menghadapi kebencian ini? "Dasar perempuan miskin! Kalau bukan anakku yang menikahimu, mana ada yang mau." "Kamu itu cuma pembawa sial!"
View MoreMalam itu tidak hanya memeluk hutan — ia meresap sampai ke dasar akar, menyalakan napas tua yang tertidur selama ratusan tahun.Lira duduk bersila di depan makhluk itu, tubuhnya perlahan terbiasa dengan hawa dingin yang terbit setiap kali sang cahaya kecil merespons dunia. Reno berdiri setengah lingkaran di belakangnya, sementara tiga elder — Biru, Keemasan, dan Putih — melayang seperti bintang yang memilih menetap di bumi.Semua menunggu.Semua mendengarkan.Cahaya kecil itu terus berdenyut, seperti sebuah hati yang mencari irama pertamanya. Lira merasakan getaran kecil menyentuh kulitnya — seperti bulu halus air di permukaan sungai.Lalu sebuah bisikan muncul lagi:…Titik itu… memanggilku…Lira menarik napas. “Bisakah kau mendeskripsikannya?”Hening.Kabut menari sebentar, menyelip di antara akar seperti ular putih lembut.Lalu:Seperti… cahaya yang tidak lengkap.Seperti… akar yang belum menyentuh tanah.Seperti… aku.Reno bergerak sedikit. “Ia menemukan resonansi.”“Resonansi?” ta
Cahaya kecil itu tertidur.Jika “tidur” adalah kata yang benar untuk menggambarkan keadaan makhluk yang belum sepenuhnya memiliki wujud. Namun demikianlah ia tampak: melayang tenang di atas akar waringin, berdenyut lembut seperti hembusan napas pertama anak manusia yang baru lahir. Kabut yang tadi terbelah kini berkumpul pelan, mengerut mengelilingi wujud mungil itu seolah menjadi selimut.Lira duduk bersila tak jauh darinya, kedua telapak tangannya hangat oleh sisa getaran makhluk tersebut. Ia merasa lelah — bukan lelah tubuh, melainkan lelah batin yang datang setelah menghadapi sesuatu yang belum sempat ia pahami sepenuhnya.Reno berdiri di sampingnya, cahaya tubuhnya memancar seperti api unggun yang dipenuhi kesabaran.“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Lira tanpa membuka mata.“Mengawasinya,” jawab Reno. Suaranya tidak lebih keras dari desau kabut. “Ia belum menemukan bentuk, belum mengenali batas antara dirinya dan dunia.”Lira mengangguk pelan. “Ia menghilangkan energ
Fajar merayap perlahan dari balik lembah, menyebarkan garis-garis cahaya keemasan yang menembus sela-sela pohon tinggi. Embun yang masih menempel di ujung daun memantulkan sinarnya, membuat hutan tampak seperti dipenuhi serpihan kaca kecil yang berkilau. Pada pagi itu, keheningan terasa bukan sebagai kekosongan, melainkan sebagai ruang luas tempat dunia bernapas dengan damai.Di bawah pohon waringin, tempat cahaya selalu kembali berkumpul, Lira duduk bersandar pada akar raksasa yang seolah memeluknya. Ia memejamkan mata, membiarkan suara dari kedalaman hutan memasuki dirinya perlahan, sampai ia bisa membedakan setiap detaknya: denyut sungai, bisik dedaunan, getar halus cahaya yang menari di udara.Namun pagi itu, ada sesuatu yang tidak sepenuhnya sama.Ada desah samar di antara irama hutan — suara yang bukan milik Reno, bukan milik para penjaga lama, dan bukan pula gema nyanyian Lira sendiri.Suara itu… muda.Seperti ranting kecil yang patah, atau seperti helaan napas yang belum diaja
Pagi datang tanpa tergesa.Kabut tipis masih melayang di antara batang-batang pohon, membentuk tirai putih yang bergeser perlahan ketika cahaya pertama menyentuh daun-daun basah. Di udara, aroma tanah dan lumut berpadu lembut, seperti ingatan yang menolak pudar. Suara air menetes dari ujung daun terdengar seperti denting kecil, mengisi kesunyian yang tidak benar-benar sunyi.Reno berjalan tanpa suara.Langkahnya tak meninggalkan jejak di tanah, hanya pantulan samar cahaya yang sesekali menyala di sekitar rumput yang ia lewati. Wujudnya kini nyaris tak bisa dibedakan dari kabut—kadang tampak, kadang lenyap, seperti bagian dari napas hutan itu sendiri.Ia telah belajar hidup dalam keabadian yang tenang.Tidak ada siang, tidak ada malam; hanya irama panjang antara cahaya dan kabut, antara embun yang turun dan sungai yang bangun. Namun meski segalanya mengalir dalam keseimbangan, ia tahu hutan tak pernah benar-benar berhenti berubah. Setiap daun yang gugur, setiap akar yang merambat sedik
Nisa merenggangkan otot-otot tubuhnya saat sudah sampai di rumah. Perutnya terasa kram, akibat berjalan terlalu jauh menuju ke pasar.Mau naik ojek, tapi Nisa tidak punya biayanya. Tadi saja uang belanja yang di berikan oleh ibu mertuanya kurang, terpaksa mau tidak mau Nisa mengambil uangnya yang d
"Cuci itu baju! Jangan sampe ada yang ketinggalan! Kamu itu di sini sudah makan gratis, mau belagu pula sok menjadi ratu! Kamu kira anak saya kerja banting tulang cuman buat kamu habis-habiskan hm? Kamu shopping? Kamu leha-leha di kasur gitu?" cerca seorang wanita paruh baya sambil berkacak pinggan
Hari ini sesuai yang di ucapkan oleh Nisa kemarin, wanita itu pergi ke klinik yang berada di Desa itu. Pastinya, setelah Nisa sudah siap dengan pekerjaan rumah, serta pergi ke pasar. Jarak klinik itu lumayan jauh, Nisa berjalan kaki, karena uangnya hanya cukup untuk memeriksa kandungannya saja. N
"Sudah mau pulang? Kamu mau bude bawakan makanan tidak Nis?" Sira menawarkan makanan pada Nisa, namun Nisa menggelengkan kepalanya, jelas tentu menolaknya karena Nisa terlalu sungkan selalu di berikan makanan seperti itu pada bude Sira setiap harinya. "Enggak usah bude, nanti Nisa makan di rumah.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews