로그인“Radit!”
Panggilan papaku membuyarkan lamunanku. Aku tersentak, menatapnya dengan wajah bingung yang sulit disembunyikan.
“Hah? Iya, Pa?” jawabku cepat sambil menggeleng.
Aku melirik layar ponsel sekali lagi. Perempuan itu masih sibuk dengan dunianya, seolah tidak peduli dengan percakapan di sekitarnya. Tapi garis wajah, sorot mata, hingga lekuk tubuhnya... ingatanku berteriak kencang.
Aku sangat yakin itu Kia.
Tapi bagaimana mungkin?
Setahuku Kia tinggal di Malang dengan orang tuanya. Aku ingat pernah melihat ibunya saat pembagian rapor, dan wanita itu jelas bukan Tante Sarah yang modis ini.
“Oh iya, karena papa udah booking semua persiapan pernikahan, jadi acara bisa dipercepat tiga minggu lagi,” lanjut papaku santai.
Sontak aku menoleh kaget. Sendok yang kupegang terlepas dan berdenting keras di atas piring. Tanganku mendadak lemas tak bertenaga.
“Pa…”
Papaku hanya melirik sekilas, lalu menepuk bahuku sekali, lebih seperti isyarat supaya aku diam daripada menenangkan.
“Papa akhir bulan depan ada proyek di luar kota lama. Papa maunya sebelum itu urusan rumah sudah beres,” lanjutnya datar.
Di layar, Tante Sarah tersenyum lebar.
“Iya dan mumpung kamu sama Rara juga masih libur kuliah, jadi sekalian aja,” sahut Tante Sarah dengan senyum lebarnya.
Rara tampak menarik napas pelan. Bukannya membalas dengan nada tinggi, dia justru menoleh ke arah ibunya lebih dulu, sorot matanya lembut meski jelas ada keraguan di sana.
“Kalau itu yang Mama mau, Rara ikut aja,” katanya tenang. “Rara cuma perlu waktu sedikit buat menyesuaikan diri. Tapi Rara percaya Mama pasti udah mikirin yang terbaik.”
Ketika Rara berbicara dengan kalimat cukup panjang itu, seketika aku tersadar, seluruh keraguanku lenyap. Itu benar-benar suara Kia, si ketua geng sialan itu.
Kepalaku terasa berputar hebat, keringat dingin mulai membanjiri punggungku.
“Nanti malam kita dinner di restoran, supaya semua lebih akrab,” kata papaku sambil menarik kembali ponselnya.
Aku hanya bisa mengangguk pelan. Di balik rasa cemas yang menyesakkan, muncul rasa penasaran yang membakar.
Apakah dia benar-benar Kia?
Ataukah hanya kembaran yang sangat mirip?
Aku harus memastikannya nanti malam.
___
Malam tiba. Restoran berbintang ini terasa sangat dingin bagi syarafku yang tegang.
“Pa, berarti Tante Sarah itu dari dulu cuma tinggal berdua sama anaknya ya?” tanyaku, mencoba menggali informasi sebelum mereka datang.
“Nggak. Sejak umur 7 tahun, Rara tinggal sama kakaknya Tante Sarah. Setelah lulus SMA, baru tinggal sama Tante Sarah lagi,” jawab papa enteng.
Aku membelalak. “Tinggalnya di mana? Di Jakarta juga?”
Papa mendesah pelan, akhirnya menurunkan ponselnya sebentar. “Papa nggak ngurus sampai situ. Yang jelas bukan Jakarta.”
Lalu matanya kembali ke layar, seolah pertanyaanku cuma gangguan kecil.
Aku terdiam. Dadaku berdegup makin cepat. Jawabannya justru menguatkan dugaanku. Malang… sangat mungkin Malang.
Belum sempat aku bertanya lagi, papa sudah berdiri lebih dulu.
“Udah, nanti juga kamu lihat sendiri orangnya. Jangan banyak tanya,” katanya datar.
Aku menoleh mengikuti arah pandangannya.
Sosok Tante Sarah muncul di kejauhan.
Glek!
Seksi!
Jauh lebih berani dari kemarin!
Dada montoknya seolah mendesak keluar dari balik gaun merah tanpa lengan dengan belahan sangat rendah. Warna itu benar-benar menonjolkan kulitnya yang putih mulus.
“Halo, maaf ya agak lama. Biasanya perempuan dandannya lama,” sapa Tante Sarah dengan senyum menggoda.
Papa menyambutnya dengan antusias, sementara aku hanya bisa melongo melihat body gitar Spanyol-nya yang luar biasa padat untuk wanita usia kepala empat.
“Mana Rara?” tanya papaku.
“Oh, dia ke toilet sebentar, Mas,” jawab Tante Sarah, lalu beralih menatapku. “Radit, kenapa mukamu kayak gitu? Ada yang salah sama penampilan tante?”
“Oh? Nggak ada kok, Tante,” sahutku gugup sambil membuang muka.
Tak lama, suara langkah kaki dari belakang membuat jantungku nyaris copot.
“Mama, maaf lama,” katanya.
Aku menoleh. Mataku membulat sempurna. Itu dia! Benar-benar Kia!
“Halo, Om Damar. Radit,” sapanya ramah dengan senyum manis yang terlihat sangat normal.
Sikapnya benar-benar berbeda dengan Kia yang dulu kejam. Tubuhnya kini lebih matang; ramping dengan dada dan pantat yang bulat padat.
Dia tampak seperti orang yang hidup normal, seolah tidak pernah menyiksa orang lain sampai nyaris gila.
Aku memalingkan wajah, menunduk kesal. Tanganku mengepal di bawah meja, menahan getaran amarah. Aku tidak terima melihat dia bisa tersenyum tanpa dosa sementara aku harus berjuang melawan trauma setiap hari.
Tapi sepertinya, perubahan fisikku yang drastis membuatnya sama sekali tidak mengenali siapa aku.
“Rara kuliah jurusan apa?” tanya papaku berusaha mencairkan suasana.
“Aku jurusan Fashion Design, Om. Mau jadi kayak mama,” jawabnya bangga.
“Wah hebat sekali!” puji papaku, lalu melirikku. “Radit, ayo ajak ngobrol Rara.”
Aku menatap papaku sejenak, lalu melirik Kia. Dia duduk tepat di sampingku. Aroma parfumnya yang tajam mulai menusuk hidung, membangkitkan ingatan pahit.
“Oh iya, Rara ini lahir tahun berapa? Kalau... ”
“Dua ribu,” sahutku cepat sebelum papa menyelesaikan kalimatnya.
Seketika meja menjadi hening. Mereka semua menoleh ke arahku dengan tatapan heran.
Kia pun terdiam, alisnya bertaut, menatapku tajam seolah sedang mencari tahu bagaimana aku bisa tahu hal sepribadi itu.
Aku bisa merasakan jantungnya berdegup kencang di balik punggungnya yang menempel pada dadaku, sebuah ritme yang liar dan tak beraturan.Tanganku merayap lebih berani, menyelinap ke balik daster satin putihnya yang tipis. Begitu jemariku menyentuh area paling pribadinya, aku tertegun sejenak. Cairan hangat yang lengket dan banjir sudah membasahi kain tipis itu. Dia sudah benar-benar terjatuh dalam jurang nafsu yang kusiapkan.“Ma... rasakan ini,“ bisikku serak, tepat di telinganya.Aku tidak hanya mengelusnya. Aku mulai meremas bibir bawahnya yang sensitif dengan ritme yang menuntut.Mama Sarah tersentak, tubuhnya melengkung ke belakang, memberikan akses lebih luas bagi tanganku untuk menjelajah. Rintihan yang keluar dari mulutnya bukan lagi rintihan takut, melainkan suara pemuasan yang selama ini terpendam di balik topeng istri yang patuh.“Sebut namaku, Ma... ayo sebut,“ tuntutku, memberikan tekanan lebih dalam pada jemariku. “Jangan anggap aku anakmu. Sebut namaku!““Akhhh... R-R
Aku terbangun dengan energi yang meluap. Setelah kejadian di dapur dini hari tadi, tidurku mungkin tidak lama, tapi adrenalin di dalam nadiku membuatku merasa sangat bugar. Aku segera membasuh wajah, menatap pantulan diriku di cermin yang kini tampak lebih mengintimidasi, lalu mengganti pakaian dengan celana pendek olahraga dan kaos singlet yang melekat ketat.Aku harus menjaga asetku. Roti sobek di perut dan otot-otot ini adalah senjataku untuk membuat wanita di rumah ini bertekuk lutut.Aku memulai dengan lari kecil memutari area rumah, lalu berakhir di halaman belakang yang cukup luas. Aku menjatuhkan diri ke rumput yang masih berembun, melakukan serangkaian push up dengan ritme cepat. Keringat mulai mengucur, membuat kulitku mengkilap dan kaosku basah, menonjolkan setiap garis otot dada dan perutku. Setelah itu, aku beralih mengambil barbel besi yang terletak di sudut teras belakang.Satu... dua... tiga...Suara pintu belakang yang berderit menghentikan hitunganku.Aku melirik
Aku bisa merasakan setiap inci tubuh Mama Sarah yang menempel pada tubuhku yang bertelanjang dada. Daster satin basah yang ia kenakan kini bukan lagi sekadar pakaian, melainkan kulit kedua yang transparan, yang mempertemukan panas tubuh kami tanpa penghalang yang berarti.Aku menyadari satu hal, tidak ada perlawanan. Tangannya yang tadi mencengkeram bahuku karena takut pada tikus, kini mulai meremas kulitku dengan cara yang berbeda, sebuah cengkeraman yang lahir dari rasa lapar yang tertunda.”Ma...” bisikku, suaranya parau, bergetar karena keinginan yang hampir meledak.Aku tidak menunggu jawabannya. Aku memeluk pinggangnya secara tiba-tiba, menarik tubuh matangnya hingga tidak ada lagi udara yang bisa lewat di antara kami. Mama Sarah terkesiap, kepalanya terdongak ke belakang, menatapku dengan mata yang sayu dan kabur oleh kabut gairah. Dia tidak mendorongku. Dia tidak berteriak. Dia hanya diam, membiarkan dadanya yang kenyal tanpa pelindung itu tertekan hebat pada dadaku.Ini ad
Aku berguling ke kiri, lalu ke kanan, mencoba mencari posisi nyaman di atas kasur yang mendadak terasa seperti tumpukan bara api. Pikiranku kacau. Bayangan Mama Sarah yang bergerak liar di atas Papa, lalu wajah murungnya saat ditinggalkan tidur begitu saja, terus berputar-putar seperti kaset rusak di kepalaku.”Sialan, aku benar-benar tidak bisa menutup mata,” umpatku lirih sambil menyugar rambut dengan frustrasi.Setiap kali aku memejamkan mata, yang terbayang adalah daster satin maroon itu. Gairah dan dendam adalah campuran yang berbahaya, dan malam ini, keduanya sedang berpesta di dalam nadiku.Aku bangkit dari tempat tidur, merasa tenggorokanku kembali kering atau mungkin itu hanya alasanku untuk kembali berburu.Aku turun ke bawah dengan langkah yang lebih ringan dari hembusan angin. Saat kakiku mencapai lantai dapur yang dingin, aku melihat pemandangan yang membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Di bawah cahaya lampu dapur yang temaram, Mama Sarah sedang berdiri memb
Aku mengerang pelan, mencoba mengumpulkan kesadaran yang tercerai-berai. ”Sial, sepertinya setelah makan malam yang penuh sandiwara itu aku malah ketiduran,” gumamku serak.Tenggorokanku terasa seperti padang pasir yang kerontang. Efek dari ketegangan di meja makan dan adrenalin yang meledak tadi sore sepertinya menguras cairan tubuhku. Aku bangkit, hanya mengenakan celana pendek hitam tanpa kaos, dan melangkah keluar kamar. Rumah ini terasa seperti makam, sunyi, dingin, dan penuh rahasia yang terpendam di balik tembok-temboknya yang megah.Aku menuruni tangga dengan langkah yang sangat hati-hati, tidak ingin membangunkan lantai kayu yang bisa saja berderit. Di dapur, aku menuangkan air dingin dari dispenser, membiarkan cairan itu membasahi kerongkonganku dalam satu tegukan panjang. Segar. Namun, rasa segar itu tidak bertahan lama ketika telingaku menangkap sebuah frekuensi yang tidak asing.Ah... hh... mmpth...Aku mematung. Gelas di tanganku hampir saja merosot. Suara itu berasal
Aku memicingkan mata, menatap ke arah tangga menuju ke bawah. Sunyi. Hanya sayup-sayup suara denting piring dari lantai bawah yang menandakan aktivitas makan malam sudah dimulai.Aku kembali masuk ke kamar dan memberi isyarat pada Kiara yang masih berdiri kaku dengan handuk melilit bahunya. ”Sekarang. Lewat balkon belakang, loncat ke jendela kamar lo. Pastikan nggak ada suara,” desisku tajam.Kiara menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, ada sisa ketakutan, namun juga ada gumpalan rasa yang aku tahu adalah benih-benih ketergantungan yang baru saja kutanam. Tanpa kata, dia menyelinap keluar. Aku berdiri di ambang pintu balkon sampai aku yakin dia sudah masuk ke kamarnya dengan selamat. Aku mengelus dadaku, merasakan detak jantung yang masih berpacu liar. Hampir saja, batinku. Selangkah lagi, dan rencana besar untuk menghancurkan hidupnya akan hancur berantakan.Setelah merapikan kaos dan rambutku, aku turun ke bawah dengan langkah yang kelihatannya sangat santai. Di ruang







