แชร์

Bab 04

ผู้เขียน: Dang Aldo
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-29 01:28:50

Bab 4

“Dit, kamu kenapa?”

Pertanyaan papaku membuyarkan lamunanku. Aku tersentak, menatapnya dengan wajah bingung yang sulit disembunyikan.

“Hah? Nggak, Pa,” jawabku cepat sambil menggeleng.

Aku melirik layar ponsel sekali lagi. Perempuan itu masih sibuk dengan dunianya, seolah tidak peduli dengan percakapan di sekitarnya. Tapi garis wajah, sorot mata, hingga lekuk tubuhnya... ingatanku berteriak kencang.

Aku sangat yakin itu Kia.

Tapi bagaimana mungkin?

Setahuku Kia tinggal di Malang dengan orang tuanya. Aku ingat pernah melihat ibunya saat pembagian rapor, dan wanita itu jelas bukan Tante Sarah yang modis ini.

“Oh iya, karena papa udah booking semua persiapan pernikahan, jadi acara bisa dipercepat tiga minggu lagi,” lanjut papaku santai.

Sontak aku menoleh kaget. Sendok yang kupegang terlepas dan berdenting keras di atas piring. Tanganku mendadak lemas tak bertenaga.

“Pa…”

Papaku menepuk bahuku, sementara Tante Sarah di layar tersenyum lebar.

“Papa tahu ini mendadak, tapi akhir bulan depan papa ada kerjaan lama di luar kota. Papa pengen urusan keluarga beres sebelum itu. Jadi selama papa pergi, kamu ada temennya di rumah.”

“Iya dan mumpung kamu sama Rara juga masih libur kuliah, jadi sekalian aja,” sahut Tante

Sarah dengan senyum lebarnya. Rara tampak menarik napas pelan. Bukannya membalas dengan nada tinggi, dia justru menoleh ke arah ibunya lebih dulu, sorot matanya lembut meski jelas ada keraguan di sana.

“Kalau itu yang Mama mau, Rara ikut aja,” katanya tenang. “Rara cuma perlu waktu sedikit buat menyesuaikan diri. Tapi Rara percaya Mama pasti sudah mikirin yang terbaik.”

Ketika Rara berbicara dengan kalimat cukup panjang itu, seketika aku tersadar, seluruh keraguanku lenyap. Itu benar-benar suara Kia, si ketua geng sialan itu.

Kepalaku terasa berputar hebat, keringat dingin mulai membanjiri punggungku.

“Nanti malam kita dinner di restoran ya, supaya semua lebih akrab,” kata papaku sambil menarik kembali ponselnya.

Aku hanya bisa mengangguk pelan. Di balik rasa cemas yang menyesakkan, muncul rasa penasaran yang membakar.

Apakah dia benar-benar Kia?

Ataukah hanya kembaran yang sangat mirip?

Aku harus memastikannya nanti malam.

****

Malam tiba. Restoran berbintang ini terasa sangat dingin bagi syarafku yang tegang.

“Pa, berarti Tante Sarah itu dari dulu cuma tinggal berdua sama anaknya ya?” tanyaku, mencoba menggali informasi sebelum mereka datang.

“Nggak. Sejak umur 7 tahun, Rara tinggal sama kakaknya Tante Sarah. Setelah lulus SMA, baru tinggal sama Tante Sarah lagi,” jawab papa enteng.

Aku membelalak. “Tinggalnya di mana? Di Jakarta juga?”

Papa menatapku heran. “Papa gak tahu persisnya, tapi yang jelas bukan di Jakarta.”

Aku diam. Dadaku berdegup kencang. Jawaban papa makin menguatkan dugaanku bahwa Malang adalah tempat persembunyian yang masuk akal. Belum sempat aku bertanya lagi, sosok Tante Sarah muncul di kejauhan.

Glek!

Seksi!

Jauh lebih berani dari kemarin!

Dada montoknya seolah mendesak keluar dari balik gaun merah tanpa lengan dengan belahan sangat rendah. Warna itu benar-benar menonjolkan kulitnya yang putih mulus.

“Halo, maaf ya agak lama. Biasanya perempuan dandannya lama,” sapa Tante Sarah dengan senyum menggoda.

Papa menyambutnya dengan antusias, sementara aku hanya bisa melongo melihat body gitar Spanyol-nya yang luar biasa padat untuk wanita usia kepala empat.

“Mana Rara?” tanya papaku.

“Oh, dia ke toilet sebentar, Mas,” jawab Tante Sarah, lalu beralih menatapku. “Radit, kenapa mukamu kayak gitu? Ada yang salah sama penampilan tante?”

“Oh? Nggak ada kok, Tante,” sahutku gugup sambil membuang muka.

Tak lama, suara langkah kaki dari belakang membuat jantungku nyaris copot.

“Mama, maaf lama,” katanya.

Aku menoleh. Mataku membulat sempurna. Itu dia! Benar-benar Kia!

“Halo, Om Damar. Radit,” sapanya ramah dengan senyum manis yang terlihat sangat normal.

Sikapnya benar-benar berbeda dengan Kia yang dulu kejam. Tubuhnya kini lebih matang, ramping dengan dada dan pantat yang bulat padat.

Dia tampak seperti orang yang hidup normal, seolah tidak pernah menyiksa orang lain sampai nyaris gila.

Aku memalingkan wajah, menunduk kesal. Tanganku mengepal di bawah meja, menahan getaran amarah. Aku tidak terima melihat dia bisa tersenyum tanpa dosa sementara aku harus berjuang melawan trauma setiap hari.

Tapi sepertinya, perubahan fisikku yang drastis membuatnya sama sekali tidak mengenali siapa aku.

“Rara kuliah jurusan apa?” tanya papaku berusaha mencairkan suasana.

“Aku jurusan Fashion Design, Om. Mau jadi kayak mama,” jawabnya bangga.

“Wah hebat sekali!” puji papaku, lalu melirikku. “Radit, ayo ajak ngobrol Rara.”

Aku menatap papaku sejenak, lalu melirik Kia. Dia duduk tepat di sampingku. Aroma parfumnya yang tajam mulai menusuk hidung, membangkitkan ingatan pahit.

“Oh iya, Rara ini lahir tahun berapa? Kalau... ”

“Dua ribu,” sahutku cepat sebelum papa menyelesaikan kalimatnya.

Seketika meja menjadi hening. Mereka semua menoleh ke arahku dengan tatapan heran.

Kia pun terdiam, alisnya bertaut, menatapku tajam seolah sedang mencari tahu bagaimana aku bisa tahu hal sepribadi itu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 06

    Beberapa hari berlalu, Tante Sarah jadi lebih sering datang ke rumah. Tentu saja, itu semua aku manfaatkan untuk menjalin kedekatan dengannya. Sekaligus mencari letak lemah wanita itu.Hari ini, hujan datang sejak pagi. Papaku baru akan kembali dari kantor di malam hari. Jadi, seharian aku seorang diri.Namun, sore itu aku tidak menyangka jika orang yang seharusnya mulai menjaga jarak denganku, justru datang. Bel rumah berbunyi dan saat aku membukanya, Tante Sarah sudah berdiri di sana.“Eh, Tante Sarah. Kok gak kasih tahu dulu mau ke sini?” tanyaku basa-basi, tapi mataku tidak bisa lepas dari tubuhnya yang basah kuyup.Blouse putih gading yang dipakainya nyaris transparan karena tubuhnya yang basah setelah berlari dari mobil ke pintu rumah. Rok span hitam basah yang dipakainya berhasil mencetak jelas garis pakaian dalamnya.Rambut panjangnya yang biasanya ditata rapi, sekarang terlihat lepek dan agak acak-acakan. Tapi, itu justru membuatnya tampak semakin seksi.“Iya, Tante habis dar

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 05

    "M... maksudku, aku lahir tahun dua ribu," koreksiku cepat.Lidahku hampir saja kelu. Jantungku berdegup kencang, seolah-olah angka itu adalah kode rahasia yang bisa membongkar penyamaranku."Oh, ya? Sama, dong, dengan Rara!" Tante Sarah menyahut antusias.Matanya berbinar, kontras sekali dengan suasana hatiku yang mendadak mendung. Dada besarnya sedikit membusung saat ia tertawa, membuat gaun merah itu semakin ketat menjiplak bentuk tubuhnya."Bulan apa, Radit? Kalau Rara bulan April.""Bulan Juli, Tante," jawabku lirih. Suaraku nyaris tertelan denting sendok dan garpu di restoran mewah ini.Tentu saja aku tahu. Tujuh April tahun dua ribu. Tanggal keramat yang dulu harus kuhafal di luar kepala karena aku wajib membelikannya kado mahal dengan uang jajanku yang pas-pasan. Kalau tidak, kepalaku akan berakhir di dalam lubang toilet sekolah yang bau."Berarti aku yang jadi kakak, ya!" Kia menyenggol bahuku pelan. Dia terkekeh, sebuah candaan ringan yang seharusnya mencairkan suasana.Deg.

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 04

    Bab 4“Dit, kamu kenapa?”Pertanyaan papaku membuyarkan lamunanku. Aku tersentak, menatapnya dengan wajah bingung yang sulit disembunyikan.“Hah? Nggak, Pa,” jawabku cepat sambil menggeleng.Aku melirik layar ponsel sekali lagi. Perempuan itu masih sibuk dengan dunianya, seolah tidak peduli dengan percakapan di sekitarnya. Tapi garis wajah, sorot mata, hingga lekuk tubuhnya... ingatanku berteriak kencang.Aku sangat yakin itu Kia.Tapi bagaimana mungkin?Setahuku Kia tinggal di Malang dengan orang tuanya. Aku ingat pernah melihat ibunya saat pembagian rapor, dan wanita itu jelas bukan Tante Sarah yang modis ini.“Oh iya, karena papa udah booking semua persiapan pernikahan, jadi acara bisa dipercepat tiga minggu lagi,” lanjut papaku santai.Sontak aku menoleh kaget. Sendok yang kupegang terlepas dan berdenting keras di atas piring. Tanganku mendadak lemas tak bertenaga.“Pa…”Papaku menepuk bahuku, sementara Tante Sarah di layar tersenyum lebar.“Papa tahu ini mendadak, tapi akhir bula

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 03

    Atasan putih ketat membalut dada besarnya yang naik-turun pelan karena napas yang memburu, garis bra renda samar terlihat menjiplak di balik kain yang tipis.Rok pensil hitam memeluk pinggul lebar dan pinggang rampingnya dengan sempurna, sementara kaki panjangnya terbungkus stoking hitam transparan yang menggoda. Rambutnya terurai sedikit acak, menambah kesan liar, tapi aura matangnya langsung menyergap indra penciumanku.Aku terbelalak bingung dan kaget. Kenapa dia ada di parkiran sepi ini?“Tante …”Matanya melebar sesaat melihat kondisiku yang nyaris telanjang dan kotor, lalu sorot matanya langsung berubah tegas. Tanpa bicara, dia berlutut di depanku. Sebuah pisau lipat kecil muncul dari tas bermereknya, memotong tali rafia yang mengikat tanganku dengan gerakan cepat dan efisien. Begitu bebas, tanpa ragu dia langsung memeluk tubuhku yang gemetar erat-erat. Blazer mahalnya dilepas dan dibungkuskan ke tubuhku untuk menutupi kulitku yang terekspos.Aroma tubuhnya yang hangat dan wang

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 02

    Aku buru-buru berbalik badan dan memasukkan benda berhargaku ke dalam sangkarnya dengan gerakan serampangan. Jantungku berpacu kencang, rasa malu bercampur tegang membuat tanganku sedikit gemetar.Tante Sarah diam sejenak, lalu dengan suara pelan dan agak tersendat, berkata, “Besar juga ya, Dit…”Kalimat itu keluar hampir seperti bisik, wajahnya langsung memerah. Sekilas aku melirik, dia buru-buru menunduk, tangannya memainkan ujung baju sambil tersenyum kecil yang malu-malu. Tapi matanya sesekali mencuri pandang ke arahku, seolah penasaran, tapi tak berani lama-lama menatap.Aku terbelalak, lalu kembali memalingkan wajahku. Napasku tersendat.“Dia… malu juga ternyata? Tapi, kenapa masih aja berdiri di situ?” batin ku bergumam.Tapi entah kenapa, sikapnya yang malu-malu itu malah membuatku semakin salah tingkah. Sekali lagi aku meliriknya, berharap dia peka dan pergi. Tapi, aku malah melihat dada besarnya naik-turun cepat karena napasnya yang agak tersengal, dan gerakan kecil tangann

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 01

    “Ahh... kamu gak boleh lakuin ini, Radit…” Aku menatapnya tanpa ekspresi. Pakaiannya sudah acak-acakan, dada besarnya telah sepenuhnya terekspos, bergoyang pelan mengikuti napasnya yang memburu. Roknya tersingkap tinggi hingga ke pangkal paha, membuat celana dalamnya yang basah oleh rembesan cairan terlihat jelas. Pemandangan yang sangat indah di ranjangku malam ini. Tubuh matang itu benar-benar menantang insting liarku. “Tapi, aku gak bisa nahan lagi,” kataku datar, suara beratku terdengar dingin saat tangan mulai menurunkan resleting celana. Tante Sarah berusaha menutupi tubuhnya dengan tangan, meskipun rasanya sia-sia. Bagian kecil yang telah mengeras di balik jemarinya itu justru makin membakar gairahku. “Radit … jangan …” Aku tak mendengar ucapannya. Perlahan aku maju, mengulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Telapak tanganku meraba paha dalamnya yang panas. Bagian itu telah sepenuhnya lembap dan basah, sehingga langsung menarik jariku masuk begitu saja ke dalam kehangatan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status