แชร์

Bab 05

ผู้เขียน: Dang Aldo
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-29 01:33:48

"M... maksudku, aku lahir tahun dua ribu," koreksiku cepat.

Lidahku hampir saja kelu. Jantungku berdegup kencang, seolah-olah angka itu adalah kode rahasia yang bisa membongkar penyamaranku.

"Oh, ya? Sama, dong, dengan Rara!" Tante Sarah menyahut antusias.

Matanya berbinar, kontras sekali dengan suasana hatiku yang mendadak mendung. Dada besarnya sedikit membusung saat ia tertawa, membuat gaun merah itu semakin ketat menjiplak bentuk tubuhnya.

"Bulan apa, Radit? Kalau Rara bulan April."

"Bulan Juli, Tante," jawabku lirih. Suaraku nyaris tertelan denting sendok dan garpu di restoran mewah ini.

Tentu saja aku tahu. Tujuh April tahun dua ribu. Tanggal keramat yang dulu harus kuhafal di luar kepala karena aku wajib membelikannya kado mahal dengan uang jajanku yang pas-pasan. Kalau tidak, kepalaku akan berakhir di dalam lubang toilet sekolah yang bau.

"Berarti aku yang jadi kakak, ya!" Kia menyenggol bahuku pelan. Dia terkekeh, sebuah candaan ringan yang seharusnya mencairkan suasana.

Deg.

Tubuhku langsung menegang kaku, keras seperti batu. Sentuhan itu... rasanya seperti sengatan listrik yang dingin menjalar ke seluruh sarafku. Memori ototku bereaksi lebih cepat daripada logikaku.

Dulu, senggolan bahu itu bukan sekadar akrab-akraban. Itu adalah sinyal. Sebuah kode sebelum dia menyeretku ke area parkir yang sepi, tempat di mana dia dan teman-temannya akan menjadikanku samsak hidup atau badut tontonan yang ditelanjangi.

Bayangan itu berputar liar di kepalaku. Bau asap rokok di parkiran, tawa melengking Kia yang menghina, dan rasa sakit yang menghunjam ulu hati saat tas sekolahku dilempar ke atas atap.

Semua kembali tanpa izin, merusak ketenanganku. Di hadapanku sekarang, dia adalah gadis cantik yang tampak anggun dan berkelas, tapi di mataku, dia tetaplah monster yang sama dari masa laluku di Malang.

"Radit? Kok bengong?" suara Tante Sarah memecah lamunanku.

Aku mengerjapkan mata, mencoba kembali ke realitas. Aku tidak boleh hancur sekarang. Tujuanku jelas, jangan sampai dia mengenali si pria culun yang dulu dia injak-injak dengan sepatu mahalnya.

Aku menyesap air putih dengan rakus untuk membasahi kerongkonganku yang kering dan panas.

"Ah, gak apa-apa, Tante. Cuma agak kaget aja ternyata kami seumuran," kataku, berusaha memasang senyum paling natural yang aku punya, meski bibirku terasa kaku.

Sejujurnya, fokusku terbelah menjadi dua kutub yang ekstrem. Di satu sisi, ada kebencian yang meluap dan rasa jijik pada Kia.

Di sisi lain, setiap kali mataku tak sengaja melirik ke arah Tante Sarah yang duduk tepat di depan Papa, ada desiran aneh yang mengganggu.

Gaun merah dengan belahan rendah yang dikenakannya malam ini benar-benar menonjolkan lekuk tubuhnya yang matang dan sangat berisi, sesuatu yang sangat sulit diabaikan oleh pria normal mana pun, termasuk aku yang saat ini sedang merencanakan dendam.

Sepanjang sisa makan malam, Kia berkali-kali mencoba memancing obrolan. Dia melontarkan lelucon, menanyakan hobi, tapi aku hanya menanggapinya seadanya dengan nada datar.

"Ya,"

"Tidak,"

"Mungkin."

Aku ingin dia merasa bahwa aku adalah tembok yang mustahil ditembus, sosok misterius yang tak tersentuh.

Malam itu berakhir dengan jabat tangan dan senyum formal. Papa dan Tante Sarah tampak sangat puas, menganggap makan malam ini adalah fondasi yang sempurna untuk keluarga baru mereka.

Begitu sampai di kamar, aku melemparkan tubuhku ke tempat tidur tanpa mengganti baju. Langit-langit kamar seolah memproyeksikan wajah Kia yang tertawa puas di masa SMA saat melihatku menangis.

Tebakanku tidak meleset. Dia adalah orang yang sama. Satu hal yang membuat darahku mendidih, kenapa dia bisa hidup setenang itu?

Dia tertawa seolah tidak pernah menghancurkan mental seseorang sampai hancur berkeping-keping.

Dia bernapas lega tanpa beban, sementara aku? Aku harus bergelut dengan serangan cemas dan keringat dingin setiap kali mendengar suara yang mirip dengannya.

Ini benar-benar tidak adil.

“Aku akan balas semua perbuatanmu, Kia sialan!” gerutuku seorang diri, lebih seperti tekad kuat.

Tanganku mengepal kuat di atas sprei, meremas kain itu hingga kusut. Aku butuh lebih dari sekadar permintaan maaf yang basi.

Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya hidup dalam ketakutan yang mencekam setiap detiknya. Aku ingin dia tahu rasanya menjadi tidak berdaya dan terhina.

Mataku menyipit saat sebuah ide gila sekaligus keji mulai merayap di pikiran. Aku memperhatikan bagaimana cara Kia menatap ibunya tadi, penuh kasih sayang, hormat, dan proteksi.

Aku tersenyum tipis, dadaku bergejolak hebat. Sebuah tawa puas muncul pelan, seolah aku telah menemukan apa yang aku cari selama ini.

“Ibumu …” gumamku pelan dengan tawa kemenangan.

Aku yakin, Tante Sarah adalah pusat dunia Kia, yang mungkin bisa menjadi satu-satunya kelemahan yang dia miliki.

Kalau aku tidak bisa menghancurkannya secara langsung tanpa ketahuan Papa, aku akan menghancurkan apa yang paling berharga baginya.

“Tunggu pembalasanku, jalang sialan!”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 06

    Beberapa hari berlalu, Tante Sarah jadi lebih sering datang ke rumah. Tentu saja, itu semua aku manfaatkan untuk menjalin kedekatan dengannya. Sekaligus mencari letak lemah wanita itu.Hari ini, hujan datang sejak pagi. Papaku baru akan kembali dari kantor di malam hari. Jadi, seharian aku seorang diri.Namun, sore itu aku tidak menyangka jika orang yang seharusnya mulai menjaga jarak denganku, justru datang. Bel rumah berbunyi dan saat aku membukanya, Tante Sarah sudah berdiri di sana.“Eh, Tante Sarah. Kok gak kasih tahu dulu mau ke sini?” tanyaku basa-basi, tapi mataku tidak bisa lepas dari tubuhnya yang basah kuyup.Blouse putih gading yang dipakainya nyaris transparan karena tubuhnya yang basah setelah berlari dari mobil ke pintu rumah. Rok span hitam basah yang dipakainya berhasil mencetak jelas garis pakaian dalamnya.Rambut panjangnya yang biasanya ditata rapi, sekarang terlihat lepek dan agak acak-acakan. Tapi, itu justru membuatnya tampak semakin seksi.“Iya, Tante habis dar

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 05

    "M... maksudku, aku lahir tahun dua ribu," koreksiku cepat.Lidahku hampir saja kelu. Jantungku berdegup kencang, seolah-olah angka itu adalah kode rahasia yang bisa membongkar penyamaranku."Oh, ya? Sama, dong, dengan Rara!" Tante Sarah menyahut antusias.Matanya berbinar, kontras sekali dengan suasana hatiku yang mendadak mendung. Dada besarnya sedikit membusung saat ia tertawa, membuat gaun merah itu semakin ketat menjiplak bentuk tubuhnya."Bulan apa, Radit? Kalau Rara bulan April.""Bulan Juli, Tante," jawabku lirih. Suaraku nyaris tertelan denting sendok dan garpu di restoran mewah ini.Tentu saja aku tahu. Tujuh April tahun dua ribu. Tanggal keramat yang dulu harus kuhafal di luar kepala karena aku wajib membelikannya kado mahal dengan uang jajanku yang pas-pasan. Kalau tidak, kepalaku akan berakhir di dalam lubang toilet sekolah yang bau."Berarti aku yang jadi kakak, ya!" Kia menyenggol bahuku pelan. Dia terkekeh, sebuah candaan ringan yang seharusnya mencairkan suasana.Deg.

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 04

    Bab 4“Dit, kamu kenapa?”Pertanyaan papaku membuyarkan lamunanku. Aku tersentak, menatapnya dengan wajah bingung yang sulit disembunyikan.“Hah? Nggak, Pa,” jawabku cepat sambil menggeleng.Aku melirik layar ponsel sekali lagi. Perempuan itu masih sibuk dengan dunianya, seolah tidak peduli dengan percakapan di sekitarnya. Tapi garis wajah, sorot mata, hingga lekuk tubuhnya... ingatanku berteriak kencang.Aku sangat yakin itu Kia.Tapi bagaimana mungkin?Setahuku Kia tinggal di Malang dengan orang tuanya. Aku ingat pernah melihat ibunya saat pembagian rapor, dan wanita itu jelas bukan Tante Sarah yang modis ini.“Oh iya, karena papa udah booking semua persiapan pernikahan, jadi acara bisa dipercepat tiga minggu lagi,” lanjut papaku santai.Sontak aku menoleh kaget. Sendok yang kupegang terlepas dan berdenting keras di atas piring. Tanganku mendadak lemas tak bertenaga.“Pa…”Papaku menepuk bahuku, sementara Tante Sarah di layar tersenyum lebar.“Papa tahu ini mendadak, tapi akhir bula

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 03

    Atasan putih ketat membalut dada besarnya yang naik-turun pelan karena napas yang memburu, garis bra renda samar terlihat menjiplak di balik kain yang tipis.Rok pensil hitam memeluk pinggul lebar dan pinggang rampingnya dengan sempurna, sementara kaki panjangnya terbungkus stoking hitam transparan yang menggoda. Rambutnya terurai sedikit acak, menambah kesan liar, tapi aura matangnya langsung menyergap indra penciumanku.Aku terbelalak bingung dan kaget. Kenapa dia ada di parkiran sepi ini?“Tante …”Matanya melebar sesaat melihat kondisiku yang nyaris telanjang dan kotor, lalu sorot matanya langsung berubah tegas. Tanpa bicara, dia berlutut di depanku. Sebuah pisau lipat kecil muncul dari tas bermereknya, memotong tali rafia yang mengikat tanganku dengan gerakan cepat dan efisien. Begitu bebas, tanpa ragu dia langsung memeluk tubuhku yang gemetar erat-erat. Blazer mahalnya dilepas dan dibungkuskan ke tubuhku untuk menutupi kulitku yang terekspos.Aroma tubuhnya yang hangat dan wang

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 02

    Aku buru-buru berbalik badan dan memasukkan benda berhargaku ke dalam sangkarnya dengan gerakan serampangan. Jantungku berpacu kencang, rasa malu bercampur tegang membuat tanganku sedikit gemetar.Tante Sarah diam sejenak, lalu dengan suara pelan dan agak tersendat, berkata, “Besar juga ya, Dit…”Kalimat itu keluar hampir seperti bisik, wajahnya langsung memerah. Sekilas aku melirik, dia buru-buru menunduk, tangannya memainkan ujung baju sambil tersenyum kecil yang malu-malu. Tapi matanya sesekali mencuri pandang ke arahku, seolah penasaran, tapi tak berani lama-lama menatap.Aku terbelalak, lalu kembali memalingkan wajahku. Napasku tersendat.“Dia… malu juga ternyata? Tapi, kenapa masih aja berdiri di situ?” batin ku bergumam.Tapi entah kenapa, sikapnya yang malu-malu itu malah membuatku semakin salah tingkah. Sekali lagi aku meliriknya, berharap dia peka dan pergi. Tapi, aku malah melihat dada besarnya naik-turun cepat karena napasnya yang agak tersengal, dan gerakan kecil tangann

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 01

    “Ahh... kamu gak boleh lakuin ini, Radit…” Aku menatapnya tanpa ekspresi. Pakaiannya sudah acak-acakan, dada besarnya telah sepenuhnya terekspos, bergoyang pelan mengikuti napasnya yang memburu. Roknya tersingkap tinggi hingga ke pangkal paha, membuat celana dalamnya yang basah oleh rembesan cairan terlihat jelas. Pemandangan yang sangat indah di ranjangku malam ini. Tubuh matang itu benar-benar menantang insting liarku. “Tapi, aku gak bisa nahan lagi,” kataku datar, suara beratku terdengar dingin saat tangan mulai menurunkan resleting celana. Tante Sarah berusaha menutupi tubuhnya dengan tangan, meskipun rasanya sia-sia. Bagian kecil yang telah mengeras di balik jemarinya itu justru makin membakar gairahku. “Radit … jangan …” Aku tak mendengar ucapannya. Perlahan aku maju, mengulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Telapak tanganku meraba paha dalamnya yang panas. Bagian itu telah sepenuhnya lembap dan basah, sehingga langsung menarik jariku masuk begitu saja ke dalam kehangatan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status