LOGIN"M... maksudku, aku lahir tahun dua ribu," koreksiku cepat.
Lidahku hampir saja kelu. Jantungku berdegup kencang, seolah-olah angka itu adalah kode rahasia yang bisa membongkar penyamaranku.
"Oh, ya? Sama, dong, dengan Rara!" Tante Sarah menyahut antusias.
Matanya berbinar, kontras sekali dengan suasana hatiku yang mendadak mendung. Dada besarnya sedikit membusung saat ia tertawa, membuat gaun merah itu semakin ketat menjiplak bentuk tubuhnya.
"Bulan apa, Radit? Kalau Rara bulan April."
"Bulan Juli, Tante," jawabku lirih. Suaraku nyaris tertelan denting sendok dan garpu di restoran mewah ini.
Tentu saja aku tahu. Tujuh April tahun dua ribu. Tanggal keramat yang dulu harus kuhafal di luar kepala karena aku wajib membelikannya kado mahal dengan uang jajanku yang pas-pasan. Kalau tidak, kepalaku akan berakhir di dalam lubang toilet sekolah yang bau.
"Berarti aku yang jadi kakak, ya!" Kia menyenggol bahuku pelan.
Dia terkekeh, sebuah candaan ringan yang seharusnya mencairkan suasana.
Deg.
Tubuhku langsung menegang kaku, keras seperti batu. Sentuhan itu... rasanya seperti sengatan listrik yang dingin menjalar ke seluruh sarafku. Memori ototku bereaksi lebih cepat daripada logikaku.
Dulu, senggolan bahu itu bukan sekadar akrab-akraban. Itu adalah sinyal. Sebuah kode sebelum dia menyeretku ke area parkir yang sepi, tempat di mana dia dan teman-temannya akan menjadikanku samsak hidup atau badut tontonan yang ditelanjangi.
Bayangan itu berputar liar di kepalaku. Bau asap rokok di parkiran, tawa melengking Kia yang menghina, dan rasa sakit yang menghunjam ulu hati saat tas sekolahku dilempar ke atas atap.
Semua kembali tanpa izin, merusak ketenanganku.
Di hadapanku sekarang, dia adalah gadis cantik yang tampak anggun dan berkelas, tapi di mataku, dia tetaplah monster yang sama dari masa laluku di Malang.
"Radit? Kok bengong?" suara Tante Sarah memecah lamunanku.
Aku mengerjapkan mata, mencoba kembali ke realitas. Aku tidak boleh hancur sekarang. Tujuanku jelas, jangan sampai dia mengenali si pria culun yang dulu dia injak-injak dengan sepatu mahalnya.
Aku menyesap air putih dengan rakus untuk membasahi kerongkonganku yang kering dan panas.
"Ah, gak apa-apa, Tante. Cuma agak kaget aja ternyata kami seumuran," kataku, berusaha memasang senyum paling natural yang aku punya, meski bibirku terasa kaku.
Sejujurnya, fokusku terbelah menjadi dua kutub yang ekstrem. Di satu sisi, ada kebencian yang meluap dan rasa jijik pada Kia.
Di sisi lain, setiap kali mataku tak sengaja melirik ke arah Tante Sarah yang duduk tepat di depan Papa, ada desiran aneh yang mengganggu.
Gaun merah dengan belahan rendah yang dikenakannya malam ini benar-benar menonjolkan lekuk tubuhnya yang matang dan sangat berisi, sesuatu yang sangat sulit diabaikan oleh pria normal mana pun, termasuk aku yang saat ini sedang merencanakan dendam.
Sepanjang sisa makan malam, Kia berkali-kali mencoba memancing obrolan. Dia melontarkan lelucon, menanyakan hobi, tapi aku hanya menanggapinya seadanya dengan nada datar.
"Ya,"
"Tidak,"
"Mungkin."
Aku ingin dia merasa bahwa aku adalah tembok yang mustahil ditembus, sosok misterius yang tak tersentuh.
Malam itu berakhir dengan jabat tangan dan senyum formal. Papa dan Tante Sarah tampak sangat puas, menganggap makan malam ini adalah fondasi yang sempurna untuk keluarga baru mereka.
Begitu sampai di kamar, aku melemparkan tubuhku ke tempat tidur tanpa mengganti baju.
Langit-langit kamar seolah memproyeksikan wajah Kia yang tertawa puas di masa SMA saat melihatku menangis.
Tebakanku tidak meleset. Dia adalah orang yang sama.
Satu hal yang membuat darahku mendidih, kenapa dia bisa hidup setenang itu? Dia tertawa seolah tidak pernah menghancurkan mental seseorang sampai hancur berkeping-keping.
Dia bernapas lega tanpa beban, sementara aku? Aku harus bergelut dengan serangan cemas dan keringat dingin setiap kali mendengar suara yang mirip dengannya.
Ini benar-benar tidak adil.
“Aku akan balas semua perbuatanmu, Kia sialan!” gerutuku seorang diri, lebih seperti tekad kuat.
Tanganku mengepal kuat di atas sprei, meremas kain itu hingga kusut. Aku butuh lebih dari sekadar permintaan maaf yang basi.
Aku ingin dia merasakan bagaimana rasanya hidup dalam ketakutan yang mencekam setiap detiknya. Aku ingin dia tahu rasanya menjadi tidak berdaya dan terhina.
Mataku menyipit saat sebuah ide gila sekaligus keji mulai merayap di pikiran. Aku memperhatikan bagaimana cara Kia menatap ibunya tadi, penuh kasih sayang, hormat, dan proteksi.
Aku tersenyum tipis, dadaku bergejolak hebat. Sebuah tawa puas muncul pelan, seolah aku telah menemukan apa yang aku cari selama ini.
“Ibumu …” gumamku pelan dengan tawa kemenangan.
Kalau aku tidak bisa menyentuhnya langsung tanpa menimbulkan kecurigaan papa, maka aku akan menyentuh sesuatu yang jauh lebih dalam.
Aku tidak peduli kalau papa nanti marah. Tidak peduli kalau hubungan kami hancur.
Selama ini pun aku hanya jadi alat baginya. Disuruh ini itu, dimanfaatkan saat perlu, lalu diabaikan saat tidak berguna. Tidak pernah benar-benar dianggap keluarga.Jadi untuk apa aku menjaga perasaan orang yang tak pernah benar-benar menjagaku?
Kalau semuanya harus runtuh, biarlah runtuh sekalian. Asal semua juga merasakan sakitnya.
“Tunggu pembalasanku, jalang sialan!”
Aku bisa merasakan jantungnya berdegup kencang di balik punggungnya yang menempel pada dadaku, sebuah ritme yang liar dan tak beraturan.Tanganku merayap lebih berani, menyelinap ke balik daster satin putihnya yang tipis. Begitu jemariku menyentuh area paling pribadinya, aku tertegun sejenak. Cairan hangat yang lengket dan banjir sudah membasahi kain tipis itu. Dia sudah benar-benar terjatuh dalam jurang nafsu yang kusiapkan.“Ma... rasakan ini,“ bisikku serak, tepat di telinganya.Aku tidak hanya mengelusnya. Aku mulai meremas bibir bawahnya yang sensitif dengan ritme yang menuntut.Mama Sarah tersentak, tubuhnya melengkung ke belakang, memberikan akses lebih luas bagi tanganku untuk menjelajah. Rintihan yang keluar dari mulutnya bukan lagi rintihan takut, melainkan suara pemuasan yang selama ini terpendam di balik topeng istri yang patuh.“Sebut namaku, Ma... ayo sebut,“ tuntutku, memberikan tekanan lebih dalam pada jemariku. “Jangan anggap aku anakmu. Sebut namaku!““Akhhh... R-R
Aku terbangun dengan energi yang meluap. Setelah kejadian di dapur dini hari tadi, tidurku mungkin tidak lama, tapi adrenalin di dalam nadiku membuatku merasa sangat bugar. Aku segera membasuh wajah, menatap pantulan diriku di cermin yang kini tampak lebih mengintimidasi, lalu mengganti pakaian dengan celana pendek olahraga dan kaos singlet yang melekat ketat.Aku harus menjaga asetku. Roti sobek di perut dan otot-otot ini adalah senjataku untuk membuat wanita di rumah ini bertekuk lutut.Aku memulai dengan lari kecil memutari area rumah, lalu berakhir di halaman belakang yang cukup luas. Aku menjatuhkan diri ke rumput yang masih berembun, melakukan serangkaian push up dengan ritme cepat. Keringat mulai mengucur, membuat kulitku mengkilap dan kaosku basah, menonjolkan setiap garis otot dada dan perutku. Setelah itu, aku beralih mengambil barbel besi yang terletak di sudut teras belakang.Satu... dua... tiga...Suara pintu belakang yang berderit menghentikan hitunganku.Aku melirik
Aku bisa merasakan setiap inci tubuh Mama Sarah yang menempel pada tubuhku yang bertelanjang dada. Daster satin basah yang ia kenakan kini bukan lagi sekadar pakaian, melainkan kulit kedua yang transparan, yang mempertemukan panas tubuh kami tanpa penghalang yang berarti.Aku menyadari satu hal, tidak ada perlawanan. Tangannya yang tadi mencengkeram bahuku karena takut pada tikus, kini mulai meremas kulitku dengan cara yang berbeda, sebuah cengkeraman yang lahir dari rasa lapar yang tertunda.”Ma...” bisikku, suaranya parau, bergetar karena keinginan yang hampir meledak.Aku tidak menunggu jawabannya. Aku memeluk pinggangnya secara tiba-tiba, menarik tubuh matangnya hingga tidak ada lagi udara yang bisa lewat di antara kami. Mama Sarah terkesiap, kepalanya terdongak ke belakang, menatapku dengan mata yang sayu dan kabur oleh kabut gairah. Dia tidak mendorongku. Dia tidak berteriak. Dia hanya diam, membiarkan dadanya yang kenyal tanpa pelindung itu tertekan hebat pada dadaku.Ini ad
Aku berguling ke kiri, lalu ke kanan, mencoba mencari posisi nyaman di atas kasur yang mendadak terasa seperti tumpukan bara api. Pikiranku kacau. Bayangan Mama Sarah yang bergerak liar di atas Papa, lalu wajah murungnya saat ditinggalkan tidur begitu saja, terus berputar-putar seperti kaset rusak di kepalaku.”Sialan, aku benar-benar tidak bisa menutup mata,” umpatku lirih sambil menyugar rambut dengan frustrasi.Setiap kali aku memejamkan mata, yang terbayang adalah daster satin maroon itu. Gairah dan dendam adalah campuran yang berbahaya, dan malam ini, keduanya sedang berpesta di dalam nadiku.Aku bangkit dari tempat tidur, merasa tenggorokanku kembali kering atau mungkin itu hanya alasanku untuk kembali berburu.Aku turun ke bawah dengan langkah yang lebih ringan dari hembusan angin. Saat kakiku mencapai lantai dapur yang dingin, aku melihat pemandangan yang membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Di bawah cahaya lampu dapur yang temaram, Mama Sarah sedang berdiri memb
Aku mengerang pelan, mencoba mengumpulkan kesadaran yang tercerai-berai. ”Sial, sepertinya setelah makan malam yang penuh sandiwara itu aku malah ketiduran,” gumamku serak.Tenggorokanku terasa seperti padang pasir yang kerontang. Efek dari ketegangan di meja makan dan adrenalin yang meledak tadi sore sepertinya menguras cairan tubuhku. Aku bangkit, hanya mengenakan celana pendek hitam tanpa kaos, dan melangkah keluar kamar. Rumah ini terasa seperti makam, sunyi, dingin, dan penuh rahasia yang terpendam di balik tembok-temboknya yang megah.Aku menuruni tangga dengan langkah yang sangat hati-hati, tidak ingin membangunkan lantai kayu yang bisa saja berderit. Di dapur, aku menuangkan air dingin dari dispenser, membiarkan cairan itu membasahi kerongkonganku dalam satu tegukan panjang. Segar. Namun, rasa segar itu tidak bertahan lama ketika telingaku menangkap sebuah frekuensi yang tidak asing.Ah... hh... mmpth...Aku mematung. Gelas di tanganku hampir saja merosot. Suara itu berasal
Aku memicingkan mata, menatap ke arah tangga menuju ke bawah. Sunyi. Hanya sayup-sayup suara denting piring dari lantai bawah yang menandakan aktivitas makan malam sudah dimulai.Aku kembali masuk ke kamar dan memberi isyarat pada Kiara yang masih berdiri kaku dengan handuk melilit bahunya. ”Sekarang. Lewat balkon belakang, loncat ke jendela kamar lo. Pastikan nggak ada suara,” desisku tajam.Kiara menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, ada sisa ketakutan, namun juga ada gumpalan rasa yang aku tahu adalah benih-benih ketergantungan yang baru saja kutanam. Tanpa kata, dia menyelinap keluar. Aku berdiri di ambang pintu balkon sampai aku yakin dia sudah masuk ke kamarnya dengan selamat. Aku mengelus dadaku, merasakan detak jantung yang masih berpacu liar. Hampir saja, batinku. Selangkah lagi, dan rencana besar untuk menghancurkan hidupnya akan hancur berantakan.Setelah merapikan kaos dan rambutku, aku turun ke bawah dengan langkah yang kelihatannya sangat santai. Di ruang







