แชร์

Bab 06

ผู้เขียน: Dang Aldo
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-29 01:53:16

Beberapa hari berlalu, Tante Sarah jadi lebih sering datang ke rumah. Tentu saja, itu semua aku manfaatkan untuk menjalin kedekatan dengannya. Sekaligus mencari letak lemah wanita itu.

Hari ini, hujan datang sejak pagi. Papaku baru akan kembali dari kantor di malam hari. Jadi, seharian aku seorang diri.

Namun, sore itu aku tidak menyangka jika orang yang seharusnya mulai menjaga jarak denganku, justru datang. Bel rumah berbunyi dan saat aku membukanya, Tante Sarah sudah berdiri di sana.

“Eh, Tante Sarah. Kok gak kasih tahu dulu mau ke sini?” tanyaku basa-basi, tapi mataku tidak bisa lepas dari tubuhnya yang basah kuyup.

Blouse putih gading yang dipakainya nyaris transparan karena tubuhnya yang basah setelah berlari dari mobil ke pintu rumah. Rok span hitam basah yang dipakainya berhasil mencetak jelas garis pakaian dalamnya.

Rambut panjangnya yang biasanya ditata rapi, sekarang terlihat lepek dan agak acak-acakan. Tapi, itu justru membuatnya tampak semakin seksi.

“Iya, Tante habis dari butik, mau mampir dan bawa kue buat kamu sama papamu,” jawabnya sambil tersenyum manis, tubuhnya sedikit bergetar karena kedinginan.

“Oalah, Papa belum pulang sih,” kataku sambil terus memperhatikan lekuk tubuhnya. “Tante masuk dulu aja, ganti baju dulu biar gak kedinginan.”

“Tante gak bawa baju lagi, Dit, sebenernya,” ujarnya sambil mulai melangkah masuk. Udara AC yang bertemu dengan tubuh basahnya sepertinya membuatnya semakin menggigil.

Aku menatapnya sejenak. Di sini tidak ada baju perempuan.

“Kalau Tante gak keberatan, bisa aku pinjami kaosku atau kemeja Papa,” kataku

menawarinya, tapi tiba-tiba satu ide muncul di kepalaku. “Tapi, biasanya lemari baju Papa dikunci. Jadi, paling opsi terakhir pakai kaosku aja, Tante. Gimana?”

Tante Sarah terlihat sedikit terkejut. Dia terdiam sejenak sambil menatapku. Matanya tampak bergetar ragu, tapi entah kenapa terasa agak aneh karena ada sedikit keinginan di sana.

Sampai akhirnya, dia berkata, “Y-ya udah gak apa-apa deh pakai kaos kamu. Tante takut masuk angin.”

Aku tersenyum dan mengangguk, “Kotak kuenya biar di meja sini dulu aja Tante. Kita ke kamarku.”

Tante Sarah membelalakkan matanya, “K-kenapa ke kamarmu? Tante tunggu di sini aja deh.”

Aku mengambil alih kotak kue itu, lalu meletakkannya di meja ruang tengah. Setelah itu, aku menatapnya sejenak dan berkata, “Biar Tante bisa pilih sendiri kaos yang pas, sekalian langsung ganti baju, kan.”

Tanpa menunggu, aku langsung berjalan ke arah kamarku. Dan benar saja, Tante Sarah tetap mengikutiku.

Begitu sampai di kamar, aku langsung membuka lemari pakaianku. Sengaja membukanya lebar-lebar dan membiarkan tumpukan pakaian dalamku terlihat.

“Nah ini, Tante mau pakai kaos atau hoodie biar hangat? Kayaknya muat buat Tante karena bajuku kebanyakan ukurannya besar sih,” kataku sambil menatap Tante Sarah, dan sedikit menunjuk bagian depannya yang membulat besar dengan tatapan mataku.

“Radit … kamu ini …” Wajah Tante Sarah tampak memerah. Tatapannya sesekali melirik ke arah tumpukan pakaian dalamku. Tangannya meremas ujung blousenya sendiri, seperti untuk menyalurkan rasa gugupnya.

“Iya kenapa, Tante?” tanyaku dengan tatapan biasa saja.

“Kamu …” Dia menatapku sejenak, wajahnya makin memerah. “Kenapa lemarinya dibuka selebar itu di depan Tante. Pakaianmu jadi terlihat semua …”

“Memangnya kenapa, Tante? Kan biar Tante bisa milih sendiri,” jawabku apa adanya sambil tersenyum.

Tante Sarah tidak menjawab, masih terdiam dengan tatapan malu, tapi juga seperti tidak ingin melewatkannya.

“Kalau yang itu” kataku lagi sambil menunjuk tumpukan celana dalamku. “Kan Tante juga pasti pernah lihat yang kayak gitu sebelumnya.”

“Beda dong, Radit. Kan itu dulu punya mantan suami Tante,” jawabnya sambil memalingkan wajahnya.

Aku tersenyum tipis. “Jadi, Tante mau pakai baju yang gimana?”

“Eum, yang mana saja boleh,” katanya sambil sedikit melirikku. Tangannya menyilang di depan dada, memeluk tubuhnya sendiri, sambil sesekali mengusap lengannya agar merasa hangat.

Akhirnya, aku mengambil satu crewneck dan celana pendek, lalu memberikannya pada Tante Sarah. “Pakai ini aja kalau gitu, biar agak hangat.”

Tante Sarah menerimanya, lalu setelah mengucap terima kasih, dia pergi ke toilet luar yang ada di dekat kamarku. Sementara itu, aku pergi ke dapur untuk membuat teh hangat.

Saat aku sedang sibuk mengaduk teh, tiba-tiba suara Tante Sarah membuatku berhenti mengaduk teh itu.

“Radit, bajunya muat,” katanya pelan, tapi bisa kudengar.

Aku berbalik dan langsung mendapati Tante Sarah berdiri di belakangku. Crewneck itu ternyata agak kebesaran, bahkan celana pendek yang tadi kuberikan nyaris tidak terlihat.

Tapi, bukan itu yang paling penting.

Melainkan, dua buah kenyal itu yang tampak bergelantungan bebas di balik baju kebesaran milikku. Aku yakin, Tante Sarah pasti menanggalkan pakaian dalamnya karena basah.

Karena tatapanku yang tidak lepas darinya, Tante Sarah menyilangkan tangannya di depan dada. Dia ingin menutupi bagian depannya, tapi yang tidak dia sadari, itu malah membuatnya terlihat lebih jelas.

“Ah, syukurlah kalau muat, Tante,” kataku sambil tersenyum. Lagi-lagi, aku melihat wajahnya memerah.

“Kamu lagi buat apa, Dit? Biar Tante bantu ya,” ujarnya sambil melangkah mendekat.

Belum sempat aku menjawab, Tante Sarah sudah berdiri di sampingku dan meraih gelas teh yang sejak tadi di hadapanku.

Dia menyendok sedikit teh dan mencobanya, lalu dengan cepat berkata, “Agak kurang manis ini.”

Tante Sarah langsung mengambil toples gula seperti telah hafal letak barang-barang di dapur rumah ini.

Aku tersenyum tipis sambil terus memperhatikan gerak-geriknya yang entah kenapa terasa seperti orang yang ingin menyembunyikan rasa gugup. Gerakan tangannya terkesan cepat, agak kaku.

“Bawanya pakai piring kecil biar gak panas, Tante. Di sini piringnya,” kataku sambil melangkah ke sampingnya hingga jarak kami menyempit.

Tanganku menjulur ke rak di depan tubuhnya, sengaja menekan sedikit hingga lenganku menyentuh buah kenyal tanpa pelindung itu.

Reaksinya langsung terasa. Tante Sarah menegang seketika, bahunya naik tipis, napasnya tertahan sepersekian detik seolah tubuhnya refleks bereaksi lebih dulu daripada pikirannya.

‘Kayaknya dia ini memang lemah sama sentuhan pria ya,’ pikirku dalam hati.

Selama dia dekat dengan papaku, aku bisa melihat bagaimana dia selalu tampak ingin disentuh papaku. Lalu, ketika aku tidak sengaja menyentuhnya pun tubuhnya langsung bereaksi seperti itu.

‘Menarik juga,’ pikirku lagi.

Aku menarik piring kecil itu tanpa buru-buru. Membiarkan tanganku bersentuhan dengan buah kenyal itu.

“Nah, pakai piring ini aja, Tante,” kataku sambil menatapnya dari samping.

Namun Tante Sarah tidak langsung bereaksi. Pandangannya justru terpaku pada lenganku yang menegang saat bergerak, sorot matanya kosong sejenak, seakan lupa harus melihat ke mana.

“Tanganmu berotot. Kamu pasti rajin olahraga ya, Radit?” tanya Tante Sarah tiba-tiba, jauh dari respon seharusnya tentang ucapanku sebelumnya.

‘Kena kau!’ batinku semangat.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 06

    Beberapa hari berlalu, Tante Sarah jadi lebih sering datang ke rumah. Tentu saja, itu semua aku manfaatkan untuk menjalin kedekatan dengannya. Sekaligus mencari letak lemah wanita itu.Hari ini, hujan datang sejak pagi. Papaku baru akan kembali dari kantor di malam hari. Jadi, seharian aku seorang diri.Namun, sore itu aku tidak menyangka jika orang yang seharusnya mulai menjaga jarak denganku, justru datang. Bel rumah berbunyi dan saat aku membukanya, Tante Sarah sudah berdiri di sana.“Eh, Tante Sarah. Kok gak kasih tahu dulu mau ke sini?” tanyaku basa-basi, tapi mataku tidak bisa lepas dari tubuhnya yang basah kuyup.Blouse putih gading yang dipakainya nyaris transparan karena tubuhnya yang basah setelah berlari dari mobil ke pintu rumah. Rok span hitam basah yang dipakainya berhasil mencetak jelas garis pakaian dalamnya.Rambut panjangnya yang biasanya ditata rapi, sekarang terlihat lepek dan agak acak-acakan. Tapi, itu justru membuatnya tampak semakin seksi.“Iya, Tante habis dar

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 05

    "M... maksudku, aku lahir tahun dua ribu," koreksiku cepat.Lidahku hampir saja kelu. Jantungku berdegup kencang, seolah-olah angka itu adalah kode rahasia yang bisa membongkar penyamaranku."Oh, ya? Sama, dong, dengan Rara!" Tante Sarah menyahut antusias.Matanya berbinar, kontras sekali dengan suasana hatiku yang mendadak mendung. Dada besarnya sedikit membusung saat ia tertawa, membuat gaun merah itu semakin ketat menjiplak bentuk tubuhnya."Bulan apa, Radit? Kalau Rara bulan April.""Bulan Juli, Tante," jawabku lirih. Suaraku nyaris tertelan denting sendok dan garpu di restoran mewah ini.Tentu saja aku tahu. Tujuh April tahun dua ribu. Tanggal keramat yang dulu harus kuhafal di luar kepala karena aku wajib membelikannya kado mahal dengan uang jajanku yang pas-pasan. Kalau tidak, kepalaku akan berakhir di dalam lubang toilet sekolah yang bau."Berarti aku yang jadi kakak, ya!" Kia menyenggol bahuku pelan. Dia terkekeh, sebuah candaan ringan yang seharusnya mencairkan suasana.Deg.

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 04

    Bab 4“Dit, kamu kenapa?”Pertanyaan papaku membuyarkan lamunanku. Aku tersentak, menatapnya dengan wajah bingung yang sulit disembunyikan.“Hah? Nggak, Pa,” jawabku cepat sambil menggeleng.Aku melirik layar ponsel sekali lagi. Perempuan itu masih sibuk dengan dunianya, seolah tidak peduli dengan percakapan di sekitarnya. Tapi garis wajah, sorot mata, hingga lekuk tubuhnya... ingatanku berteriak kencang.Aku sangat yakin itu Kia.Tapi bagaimana mungkin?Setahuku Kia tinggal di Malang dengan orang tuanya. Aku ingat pernah melihat ibunya saat pembagian rapor, dan wanita itu jelas bukan Tante Sarah yang modis ini.“Oh iya, karena papa udah booking semua persiapan pernikahan, jadi acara bisa dipercepat tiga minggu lagi,” lanjut papaku santai.Sontak aku menoleh kaget. Sendok yang kupegang terlepas dan berdenting keras di atas piring. Tanganku mendadak lemas tak bertenaga.“Pa…”Papaku menepuk bahuku, sementara Tante Sarah di layar tersenyum lebar.“Papa tahu ini mendadak, tapi akhir bula

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 03

    Atasan putih ketat membalut dada besarnya yang naik-turun pelan karena napas yang memburu, garis bra renda samar terlihat menjiplak di balik kain yang tipis.Rok pensil hitam memeluk pinggul lebar dan pinggang rampingnya dengan sempurna, sementara kaki panjangnya terbungkus stoking hitam transparan yang menggoda. Rambutnya terurai sedikit acak, menambah kesan liar, tapi aura matangnya langsung menyergap indra penciumanku.Aku terbelalak bingung dan kaget. Kenapa dia ada di parkiran sepi ini?“Tante …”Matanya melebar sesaat melihat kondisiku yang nyaris telanjang dan kotor, lalu sorot matanya langsung berubah tegas. Tanpa bicara, dia berlutut di depanku. Sebuah pisau lipat kecil muncul dari tas bermereknya, memotong tali rafia yang mengikat tanganku dengan gerakan cepat dan efisien. Begitu bebas, tanpa ragu dia langsung memeluk tubuhku yang gemetar erat-erat. Blazer mahalnya dilepas dan dibungkuskan ke tubuhku untuk menutupi kulitku yang terekspos.Aroma tubuhnya yang hangat dan wang

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 02

    Aku buru-buru berbalik badan dan memasukkan benda berhargaku ke dalam sangkarnya dengan gerakan serampangan. Jantungku berpacu kencang, rasa malu bercampur tegang membuat tanganku sedikit gemetar.Tante Sarah diam sejenak, lalu dengan suara pelan dan agak tersendat, berkata, “Besar juga ya, Dit…”Kalimat itu keluar hampir seperti bisik, wajahnya langsung memerah. Sekilas aku melirik, dia buru-buru menunduk, tangannya memainkan ujung baju sambil tersenyum kecil yang malu-malu. Tapi matanya sesekali mencuri pandang ke arahku, seolah penasaran, tapi tak berani lama-lama menatap.Aku terbelalak, lalu kembali memalingkan wajahku. Napasku tersendat.“Dia… malu juga ternyata? Tapi, kenapa masih aja berdiri di situ?” batin ku bergumam.Tapi entah kenapa, sikapnya yang malu-malu itu malah membuatku semakin salah tingkah. Sekali lagi aku meliriknya, berharap dia peka dan pergi. Tapi, aku malah melihat dada besarnya naik-turun cepat karena napasnya yang agak tersengal, dan gerakan kecil tangann

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 01

    “Ahh... kamu gak boleh lakuin ini, Radit…” Aku menatapnya tanpa ekspresi. Pakaiannya sudah acak-acakan, dada besarnya telah sepenuhnya terekspos, bergoyang pelan mengikuti napasnya yang memburu. Roknya tersingkap tinggi hingga ke pangkal paha, membuat celana dalamnya yang basah oleh rembesan cairan terlihat jelas. Pemandangan yang sangat indah di ranjangku malam ini. Tubuh matang itu benar-benar menantang insting liarku. “Tapi, aku gak bisa nahan lagi,” kataku datar, suara beratku terdengar dingin saat tangan mulai menurunkan resleting celana. Tante Sarah berusaha menutupi tubuhnya dengan tangan, meskipun rasanya sia-sia. Bagian kecil yang telah mengeras di balik jemarinya itu justru makin membakar gairahku. “Radit … jangan …” Aku tak mendengar ucapannya. Perlahan aku maju, mengulurkan tanganku untuk menyentuhnya. Telapak tanganku meraba paha dalamnya yang panas. Bagian itu telah sepenuhnya lembap dan basah, sehingga langsung menarik jariku masuk begitu saja ke dalam kehangatan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status