LOGINFakhri mendekat khawatir, "Memangnya istri saya kenapa, Bu? Di mana dia?" "Neng Aya sandera sama Neng Jihan di rooftop." "Apa?!" "Pokoknya, sekarang Pak Fakhri harus selamatkan Neng Aya." Saat Fakhri hendak kembali masuk, lampu area hotel tiba-tiba saja menyala. Bu Hasma langsung menepuk cepat lengan Fakhri agar pria itu bisa segera menghentikan aksi gila yang akan Jihan lakukan. "Cepat, Pak. Itu suami saya sudah berhasil menyalakan listriknya." Fakhri tidak menunggu lagi, ia berlari secepat mungkin. Saking paniknya ia sampai mengabaikan fungsi lift dan memilih mendaki anak tangga. Tapi baru di tangga ke tujuh, tenaganya terkuras drastis dan ia memilih memencet tombol lift sembari mengambil waktu memulihkan diri. Ia mempersiapkan diri
"Hilang gimana?" Fakhri menatap Kayla dan Vano frustasi. Sore tadi saat jam pulang, Ayyana memberitahu Fakhri untuk tidak perlu mengantarnya pulang dan meminta izin pergi bersama Jihan. Katanya sih mereka ingin jalan-jalan dan belanja-belanja saja. Karena itu, Fakhri memutuskan untuk lembur beberapa jam lantaran pekerjaannya juga memang sedang menumpuk. Tapi baru juga hendak membereskan meja kerjanya dan beranjak pulang, Kayla dan Vano datang dengan tergesa memberi kabar bahwa istrinya hilang bersama Jihan. Itu rasanya tidak masuk akal. "Kak Aya juga tadi ngajak aku sekalian, Kak. Tapi aku udah nunggu mereka berjam-jam ditempat janjian kita dan mereka sama sekali nggak datang. Nomornya juga nggak bisa dihubungi sampai sekarang," jelas Kayla yang sudah bersimbah air mata. Vano yang ada disampingnya juga tak kalah panik. Fakhri memijat pangkal hidung dan duduk untuk menenangkan diri sebentar. Ia meraih ponselnya untuk mencoba menghubungi sang istri, memastikan ucapan Kayla. Dan b
Karena itu, saat mereka sampai di bandara, Fakhri dan Ayyana berusaha sekuat tenaga untuk mencari keberadaan Jihan dan berharap bisa mencegahnya pergi. "Mas, itu Jihan bukan?" tunjuk Ayyana pada seorang perempuan yang tengah menarik koper hendak memasuki ruang tunggu keberangkatan. Ayyana menepuk pundak suaminya, meminta agar Fakhri segera mengejar karena tenaganya sendiri sudah hampir habis. "Jihan!" seru Fakhri menghentikan perempuan itu.Jihan yang mendengarnya pun reflek menoleh dan terkejut bukan main dengan kemunculan Fakhri. "Kak Fakhri kok bisa di sini?" ucap Jihan bingung, ditambah dengan kedatangan Ayyana dengan nafas memburu. "Kak Aya?" "Kamu mau ke mana?" tanya Ayyana langsung. "Kakak udah bilang kalau kamu itu keluarga kita, terus kenapa harus pergi diam-diam kayak gini?" Jihan menunduk dalam, "Maaf, Kak. Aku cuma nggak mau jadi beban dan menimbulkan masalah buat kalian lagi." "Kita udah bahas ini dan kita sepakat untuk saling memaafkan, kita anggap yang ud
"Kita mau ke mana sih, Mas?" keluh Ayyana saat dirinya dituntun oleh Fakhri entah menuju ke mana dengan mata tertutup kain. Suaminya bilang ingin memberi kejutan tetapi sama sekali tidak menjelaskan lebih jauh, sampailah Fakhri mengisyaratkannya untuk berhenti. "Udah sampai?" "Udah, sayang." Fakhri memegang kedua bahunya dan membenarkan posisi berdiri Ayyana. Lalu setelahnya, ia membuka kain penutup mata perempuan itu. "Surprise," bisik Fakhri menunjukkan kejutan makan malam romantis yang sudah di siapkan di halaman belakang rumah mereka. Mata Ayyana terbuka lebar dengan ekspresi takjub, halaman mereka disulap Fakhri menjadi tempat yang begitu indah, lengkap dengan beberapa hiasan bunga dan balon, lampu kerlap kerlip dan lilin. Lalu di pinggir kolam renang ada satu set meja makan bundar yang tak kalah menakjubkannya, lengkap dengan sajian hidangan yang terlihat menggiurkan. "Sebentar, ini ada apa? Kok kamu nyiapin ginian?" tanya Ayyana, ia khawatir jika sampai melewatkan peraya
Jihan malah terlihat kurang nyaman berada di dekat para pria itu, terutama Haikal. Begitu berhasil menemukan titik hubungan yang baik dengan Jihan, Ayyana juga mencoba melakukan hal lain seperti memutar lantunan ayat suci Al-Qur'an melalui ponsel sebagai bahan relaksasi untuk Jihan ataukah membacakannya secara langsung di hadapan perempuan itu. Lalu bertambah dengan memutar kajian untuk Jihan dengar dari para ustadz dan ustadzah melalui youtube atau platform lain. Ayyana mencoba membuat Jihan menemukan kembali jati dirinya sebagai seorang muslim yang punya sandaran kuat. Ia menyadari bahwa mungkin salah satu penyebab hancurnya mental dan pertahanan diri perempuan itu karena dia sudah tidak punya sandaran dan selalu menganggap dirinya sendirian. Ayyana ingin Jihan kembali pada kodratnya sebagai muslim, bahwa dirinya tidak pernah sendirian. Ada Allah, ada Rasulullah yang selalu harus kita jadikan tujuan. Dan ketika ia berhasil melakukan itu, harapannya semoga saja Jihan bisa
Ayyana tersentak bukan main dengan tindakan dan ucapan Jihan.Bukan hanya dia, bahkan pun Fakhri menatap Jihan tak percaya. Ini kali pertama, ia mendengar suara Jihan setenang itu setelah bertahun-tahun bersama dengannya. Di luar sana pun, semua orang yang turut menyaksikan hal itu ikut terkesiap. Dita bahkan sudah menutup mulut saking terkejutnya."Kamu nggak sendirian," ucap Jihan lagi.Ayyana mengarahkan tangannya perlahan mendekat ke arah Jihan pula, merapikan rambutnya yang tergerai berantakan dan hampir menutupi seluruh wajah perempuan itu."Iya, kita nggak sendirian," kata Ayyana setelah berhasil bersitatap langsung dengan Jihan."Kita?" perjelas Jihan dengan alis bertaut."Iya. Kamu juga nggak sendirian, Jihan."Jihan menggeleng cepat, tubuhnya kembali bergetar dan beringsut mundur. "Nggak! Aku sendirian, aku.. aku cuma sendiri.. karena aku jahat. Aku jahat... aku nggak dengerin ucapan Mamah dan Papah, aku.. aku.."Jihan menatap Ayyana kembali, lalu mulai terisak pelan. "A-aku
"SAH!"Ucapan para saksi yang duduk di sisi Fakhri membuat pria itu menghembuskan nafas lega."Alhamdulillah," lirihnya bersama beberapa orang yang lain termasuk Adrie, Raka dan orang tua mereka yang turut menyaksikan akad nikah tersebut.Hilman bahkan meneteskan air mata haru setelah berhasil menj
"Kamu sudah makan?" Tanya Fakhri."Sudah," jawab Ayyana. "Kayaknya Bapak lebih baik ikut mereka deh.""Kamu mau ditinggal sendiri?""Iya, enggak apa-apa. Saya juga udah ngantuk, pengen tidur.""Ya sudah, tidur saja. Saya nggak akan ganggu."Ayyana lantas berbalik memunggungi F
“Dia gadis yang lucu,” Ucap Fakhri tanpa mengalihkan pandangnya.Bayangan sosok gadis dengan seragam khas anak SMP tengah menggebuki seorang siswa SMA dengan ransel putihnya terlintas dalam benak Fakhri, pelan tapi pasti senyum di bibirnya pun kian mengembang.“Katanya nggak pernah menjalin hubunga
"Jadi gimana? Udah ada jawaban dari Aya?" Tanya Daffa. Fakhri yang duduk dibalik meja kerjanya mengalihkan pandangan dari berkas mendengar pertanyaan itu, hanya sekilas setelah itu ia kembali fokus pada pekerjaannya."Belum lah, ini kan baru dua hari Daf," jawabnya."J







