Mag-log in“Jangan kasar-kasar sama calon suami” “Bapak tuh bisa nggak sih, mulutnya jangan asal mengklaim orang” “Kenapa sih kamu kesal banget saya bilang calon istri?” “Ya karena saya bukan calon istri bapak” Ayyana memberikan penekanan disetiap ucapannya “Nanti malam saya lamar kalau gitu” “Nggak usah aneh-aneh” Ayyana memijat pelipisnya, lama-lama ia bisa darah tinggi jika terus berhadapan dengan Fakhri “Sesuai kesepakatan, saya udah makan siang sama bapak. Urusan mobil, tinggal kirim nomor rekening, nanti saya transfer” Ucap Ayyana “So please, jangan ganggu saya lagi. Jangan recokin hidup saya lagi, jauh-jauh dari saya” Lanjutnya melangkah menjauh “Kalau Mami kangen pengen ketemu calon mantunya gimana?” Ucap Fakhri setengah berteriak namun Ayyana tak berniat lagi menanggapi Perempuan itu melajukan mobilnya meninggalkan halaman dengan raut wajah dongkol setengah mati, sementara Fakhri tersenyum geli memilih melakukan hal yang sama, beranjak kembali menuju kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang terpaksa harus ia tinggal demi memenuhi janji makan siangnya pada Ayyana yang malah menyita waktu lumayan panjang Tapi ia tak keberatan bahkan rasanya menyenangkan melihat Ayyana meleparkan tatapan tajam padanya setiap kali Fakhri berhasil membuatnya kesal Mungkin Maminya tidak salah mengenalkan mereka, karna nyatanya Ayyana memiliki daya tarik tersendiri bagi Fakhri. Entahlah, tapi ia bahkan meragukan sendiri ucapannya saat menyebut Ayyana sebagai calon istri Perempuan itu terlalu baik untuk ia jadikan tumbal untuk kembali bertemu Jihan. Fakhri masih waras untuk tidak menarik adik sahabatnya itu dalam kubangan lumpur yang ia diami selama ini
view moreFakhri mendekat khawatir, "Memangnya istri saya kenapa, Bu? Di mana dia?" "Neng Aya sandera sama Neng Jihan di rooftop." "Apa?!" "Pokoknya, sekarang Pak Fakhri harus selamatkan Neng Aya." Saat Fakhri hendak kembali masuk, lampu area hotel tiba-tiba saja menyala. Bu Hasma langsung menepuk cepat lengan Fakhri agar pria itu bisa segera menghentikan aksi gila yang akan Jihan lakukan. "Cepat, Pak. Itu suami saya sudah berhasil menyalakan listriknya." Fakhri tidak menunggu lagi, ia berlari secepat mungkin. Saking paniknya ia sampai mengabaikan fungsi lift dan memilih mendaki anak tangga. Tapi baru di tangga ke tujuh, tenaganya terkuras drastis dan ia memilih memencet tombol lift sembari mengambil waktu memulihkan diri. Ia mempersiapkan diri
"Hilang gimana?" Fakhri menatap Kayla dan Vano frustasi. Sore tadi saat jam pulang, Ayyana memberitahu Fakhri untuk tidak perlu mengantarnya pulang dan meminta izin pergi bersama Jihan. Katanya sih mereka ingin jalan-jalan dan belanja-belanja saja. Karena itu, Fakhri memutuskan untuk lembur beberapa jam lantaran pekerjaannya juga memang sedang menumpuk. Tapi baru juga hendak membereskan meja kerjanya dan beranjak pulang, Kayla dan Vano datang dengan tergesa memberi kabar bahwa istrinya hilang bersama Jihan. Itu rasanya tidak masuk akal. "Kak Aya juga tadi ngajak aku sekalian, Kak. Tapi aku udah nunggu mereka berjam-jam ditempat janjian kita dan mereka sama sekali nggak datang. Nomornya juga nggak bisa dihubungi sampai sekarang," jelas Kayla yang sudah bersimbah air mata. Vano yang ada disampingnya juga tak kalah panik. Fakhri memijat pangkal hidung dan duduk untuk menenangkan diri sebentar. Ia meraih ponselnya untuk mencoba menghubungi sang istri, memastikan ucapan Kayla. Dan b
Karena itu, saat mereka sampai di bandara, Fakhri dan Ayyana berusaha sekuat tenaga untuk mencari keberadaan Jihan dan berharap bisa mencegahnya pergi. "Mas, itu Jihan bukan?" tunjuk Ayyana pada seorang perempuan yang tengah menarik koper hendak memasuki ruang tunggu keberangkatan. Ayyana menepuk pundak suaminya, meminta agar Fakhri segera mengejar karena tenaganya sendiri sudah hampir habis. "Jihan!" seru Fakhri menghentikan perempuan itu.Jihan yang mendengarnya pun reflek menoleh dan terkejut bukan main dengan kemunculan Fakhri. "Kak Fakhri kok bisa di sini?" ucap Jihan bingung, ditambah dengan kedatangan Ayyana dengan nafas memburu. "Kak Aya?" "Kamu mau ke mana?" tanya Ayyana langsung. "Kakak udah bilang kalau kamu itu keluarga kita, terus kenapa harus pergi diam-diam kayak gini?" Jihan menunduk dalam, "Maaf, Kak. Aku cuma nggak mau jadi beban dan menimbulkan masalah buat kalian lagi." "Kita udah bahas ini dan kita sepakat untuk saling memaafkan, kita anggap yang ud
"Kita mau ke mana sih, Mas?" keluh Ayyana saat dirinya dituntun oleh Fakhri entah menuju ke mana dengan mata tertutup kain. Suaminya bilang ingin memberi kejutan tetapi sama sekali tidak menjelaskan lebih jauh, sampailah Fakhri mengisyaratkannya untuk berhenti. "Udah sampai?" "Udah, sayang." Fakhri memegang kedua bahunya dan membenarkan posisi berdiri Ayyana. Lalu setelahnya, ia membuka kain penutup mata perempuan itu. "Surprise," bisik Fakhri menunjukkan kejutan makan malam romantis yang sudah di siapkan di halaman belakang rumah mereka. Mata Ayyana terbuka lebar dengan ekspresi takjub, halaman mereka disulap Fakhri menjadi tempat yang begitu indah, lengkap dengan beberapa hiasan bunga dan balon, lampu kerlap kerlip dan lilin. Lalu di pinggir kolam renang ada satu set meja makan bundar yang tak kalah menakjubkannya, lengkap dengan sajian hidangan yang terlihat menggiurkan. "Sebentar, ini ada apa? Kok kamu nyiapin ginian?" tanya Ayyana, ia khawatir jika sampai melewatkan peraya
Fakhri menyusul di sofa seberangnya, "Jujur aku kaget waktu Aya cerita, Papi tau sendiri kan gimana sikap Mami."Setelah kejadian Ayyana kecelakaan saat itu, Fakhri memang sempat meminta Papinya untuk tidak memberi tahu Maminya terkait foto yang membuat Ayyana marah.Yang Fakhri
Di ruang tengah, Dania hanyut dalam pikirannya sendiri. Ada beberapa hal yang terasa menggajal dalam hatinya, tapi juga tidak bisa memecahkan kejanggalan itu.Dari arah tangga, Rama yang melihatnya mendekat dan memecah keheningan yang menyelimuti sang istri."Mami lagi mikirin a
"Sebelumnya Mami minta maaf kalau Mami terkesan ingin ikut campur dengan persoalan rumah tangga kalian." Kata Dania tak ingin membuat kesalahpahaman diantara mereka semakin melebar."Kamu tau kan, pernikahan kalian adalah hasil perjodohan dari keluarga, meskipun kami sama sekali tidak memaksa
Diruang makan sedang berkumpul semua para perempuan untuk menikmati sarapan, para laki-laki pula sudah sarapan lebih dulu dan tengah bersiap ke kantor.Termasuk Fakhri, setelah beberapa hari tidak masuk ia memutuskan untuk berangkat kerja hari ini.Begitu selesai mengenakan pakaiannya Fak












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu