LOGINJika boleh jujur, Fakhri menginginkan jawaban setuju dari Ayyana. Akan tetapi, rasanya terlalu egois jika sampai perempuan itu menerima lamarannya dengan paksaan.
"Berikan jawaban sesuai dengan apa yang hati kamu inginkan," ucap Fakhri. "Saya hanya ingin jawaban yang jujur dari dalam hati kamu Aya."Selanjutnya, dering telepon dari ponsel keduanya terdengar, ada panggilan masuk dari Daffa pada Fakhri dan panggilan masuk dari Luna pada Ayyana."Sepertinya pembica"Kalau gitu gue duluan," pamit Dita mengacuhkan tatapan tajam yang dilayangkan oleh Daffa. Lagian kenapa pula dia malah menatapnya seperti hendak menelan orang mentah-mentah? "Pulang sama aku," ajak Daffa dengan nada tak ingin dibantah. Entah kenapa hatinya panas melihat Dita mengukir senyum manis pada pria lain, padahal kan posisinya perempuan itu sudah menyandang status calon istrinya. "Apaan sih lo, gue bisa pulang sendiri." Dita segera beranjak menjauh, tak ingin berurusan dengan Daffa dan juga muak melihat Fakhri. "Gue tuh calon suami lo, jangan pura-pura amnesia," seru Daffa mengekorinya. Ilham yang mendengar hal itu hanya menatap mereka cengo, sementara Fakhri tak menunjukkan kepedulian sama sekali. Baginya, tak ada yang lebih penting dari apapun selain bisa bertemu istrinya saat ini. Mengingat keberadaan Fakhri, Ilham kemudian beralih padanya dan sebelum Fa
"Adik kamu masih berduka karena kehilangan calon anaknya, jangan memperkeruh suasana dulu," Ayu kembali menengahi.Syukurnya kali ini Adrie tak menanggapi lagi, ia memilih untuk mengambil tempat di sofa bersama Dita dan Kayla yang juga masih ada disana.Saat Ilham mengabari tentang Ayyana pada ibunya, Adrie kebetulan sekali sudah sampai bersama istri dan anaknya.Dan Ayu yang panik mendengar Ayyana pendarahan langsung mengajak Adrie untuk mengantarnya ke rumah sakit, sembari turut mengabari Ayah yang sedang berada di perusahaan untuk menyusul mereka.Adrie yang tak tahu apapun mulai mengulik semua hal pada ibunya, tetapi Ayu hanya sekedar menjelaskan bahwa Ayyana hamil dan memang usia kandungannya baru jadi masih belum banyak yang diberitahu.Ayu mencoba menutupi masalah yang ada -sesuai permintaan Ayyana. Tetapi semuanya mulai menimbulkan kecurigaan saat Dania datang dan menangis histeris ketika mendengar penjelasan Kayla.Suasa
_harus kembali kehilangan janinnya.""Tapi keadaan istri saya baik-baik saja kan, Dok?"Kembali harus kehilangan calon anaknya tentulah hal yang sangat menyakitkan bagi Fakhri, tapi lebih dari itu keselamatan sang istri jauh diatas segalanya."Alhamdulillah, kondisi Ayyana sudah stabil saat ini, Pak. Pendarahannya berhasil kami kendalikan dan syukur benturan yang dialami tidak sampai menimbulkan cedera serius."Sejenak, helaan napas lega dari semua orang terdengar bersamaan dengan ucapan hamdalah atas keadaan Ayyana.Anggi menambahkan "Hanya saja, karena ini merupakan keguguran yang kedua kalinya jadi kemungkinan besar Ayyana akan sangat terpukul setelah tahu nanti."Tatapan Anggi jatuh pada Fakhri secara khusus, sebagai orang yang cukup tahu problem keluarga pasangan itu sebelumnya, Anggi secara sekilas bisa menangkap bagaimana hancurnya perasaan pria itu."Ini memang bukan hal mudah, tapi saya harap dalam keadaan seperti ini kita semua bisa tetap sabar,
"BRENGSEK!" Rahang Adrie mengeras, ia terus membubuhi tonjokan di wajah Fakhri yang hanya diam tanpa ada keinginan untuk melawan. "Adrie, tenangin diri lo!" Daffa bersama yang lain segera melerai mereka. Ayah dan Ilham menarik tubuh Adrie menjauh, sementara Daffa membantu Fakhri untuk bangun. Raka, Vano dan Papih yang baru datang hanya bisa menatap mereka kaget –tanpa bertanya apapun. "Kalau sampai ada apa-apa sama Aya dan kandunganya, gue nggak akan pernah maafin lo!" desis Adrie berusaha melepaskan diri, tangannya masih gatal ingin menghajar pria itu. Dengan ringisan pelan, Fakhri mengusap sudut bibirnya yang berdarah lalu menatap Adrie tak kalah tajam. "Apa maksud lo?" Tanyanya tak paham. Adrie berdecih dengan senyum miring, "Nggak usah pura-pura bego, Fakhri." Ia menunjuk Fakhri dengan emosi, "Apa yang dilakuin sama selingkuhan lo itu, jelas disengaja untuk mencelakai Aya dan janinnya." Fakhri yang sulit untuk mencerna maksud Adrie, menghentak tangan Daffa y
_saat tas milik Ayyana terjatuh dan beberapa isinya terhambur keluar, termasuk kertas hasil USG kehamilannya.Jihan yang tidak asing dengan hal itu dengan sigap meraihnya, tubuhnya bergetar membaca keterangan yang ada disana."Kamu hamil?" Todongnya pada Ayyana seraya meremas kuat kertas tersebut.Melihat perubahan sikap Jihan, Ayyana memutuskan untuk tidak menjawab. Begitu juga dengan Kayla yang masih cukup kaget akan serangan tiba-tiba Jihan."Brengsek, aku minta kamu lepasin Kak Fakhri, tapi kamu malah mengandung anak dia," murka Jihan.Ia kembali mendekat dan kali ini targetnya adalah Ayyana secara langsung. "Kalian harus pisah, Kak Fakhri itu cuma milik aku!""Kak Jihan, sadar!" Kayla mencoba menengahi.Ayyana yang menjadi sasaran mencoba mengamankan diri, "Jihan, tenangin diri kamu.""ENGGAK!! Kalian nggak boleh bahagia diatas penderitaan aku!"Amukan Jihan semakin menjadi, ia menarik kuat lengan Kayla yang mencoba menghalanginya dari Ayyana hingga gadis itu terhempas ke samping
Setelah kepergian suaminya, Ayyana yang hari ini sudah membuat janji dengan Kayla juga hendak bersiap untuk pergi.Tapi langkahnya tertahan saat Ibu memberi tahu bahwa hari ini Adrie sekeluarga akan datang.Seperti biasa, Adrie kesana untuk urusan bisnis, hanya saja Ayyana sedikit dibuat resah.Ia sangat tahu tabiat Adrie dan Ayyana tidak ingin masalahnya dengan Fakhri yang sudah mulai mendingin, kembali memanas jika saja Adrie sampai tahu.Karena itu, ia berpesan pada sang ibu, "Jangan bahas apapun dulu sama Kak Adrie, ya Bu."Saat kabur tanpa kabar beberapa hari pun, Ayyana juga sudah mewanti Ibu dan Ayahnya untuk tidak menceritakan hal itu pada Adrie.Tetapi Ayyana khawatir jika sampai Ibunya keceplosan membahas tentang mereka, jika sudah bertemu secara langsung nanti."Iya, Ibu ngerti, sayang." Ayu mengusap lembut lengan putrinya. "Dah, kamu siap-siap gih, katanya ada janji sama Kayla."Ayyana mengangguk, ta
"Sebelumnya Mami minta maaf kalau Mami terkesan ingin ikut campur dengan persoalan rumah tangga kalian." Kata Dania tak ingin membuat kesalahpahaman diantara mereka semakin melebar."Kamu tau kan, pernikahan kalian adalah hasil perjodohan dari keluarga, meskipun kami sama sekali tidak memaksa
Diruang makan sedang berkumpul semua para perempuan untuk menikmati sarapan, para laki-laki pula sudah sarapan lebih dulu dan tengah bersiap ke kantor.Termasuk Fakhri, setelah beberapa hari tidak masuk ia memutuskan untuk berangkat kerja hari ini.Begitu selesai mengenakan pakaiannya Fak
Hari ini, Ayyana sudah diizinkan untuk pulang dan ia begitu bahagia saat sampai di rumah karena semua keluarganya berkumpul disana.Yang paling antusias menyambutnya adalah Gio, ia hanya pernah menjenguk Ayyana sekali jadi rasanya begitu bahagia saat tantenya itu bisa pulang.Gi
'Assalamu'alaikum, Mas.' "Wa'alaikumussalam. Sayang tolong lihat di kamar, kayaknya ada berkas aku yang ketinggalan." 'Map biru bukan?' "Iya bener. Aku minta karyawan aku kesana buat ambil, kamu tolong kasih ya." 'Nggak usah Mas, ini aku udah di jalan buat nganter berkasnya.'







