Home / Romansa / Candu Cinta Dokter Muda / 3. Memastikan Tentangmu

Share

3. Memastikan Tentangmu

Author: Sayap Ikarus
last update Last Updated: 2025-03-25 13:37:30

"Ada yang mau ditanyakan?"

Gendhis bungkam, ia hanya menatap tajam pada sosok tampan berjas snelli dengan masker menutupi separuh wajahnya itu.

Tiga hari pasca operasi, Gendhis dipindahkan ke ruang perawatan setelah kondisinya dipastikan stabil.

"Kapan dia bisa dibawa pulang, Dok?" Wida—perempuan berpenampilan mencolok yang tak pernah berada jauh dari sisi Gendhis, sang mucikari veteran.

"Harus dilihat perkembangannya Bu," jawab dokter di sebelah ranjang Gendhis, Dokter Christ, atau Gendhis mengenalnya sebagai Rai.

"Kamu jijik sama aku?" tanya Gendhis tiba-tiba, menatap tajam pada Rai.

"Ya?" Rai mengernyit tak mengerti.

"Ah, aku bener. Sikapmu yang begini… aku paham kok,” ujar Gendhis terdengar kecewa. “Kupikir malam itu aku emang cuma mimpi."

"Sepertinya sudah tidak ada pertanyaan lagi. Kalau gitu, saya permisi.”

Menatap punggung Rai yang berlalu, hati Gendhis seakan runtuh bak gletser di kutub.

Perih menyayat bukan hanya pada bekas luka operasinya, tapi di dalam dadanya. Jauh di lubuk sana, hatinya bak tercabik, dikoyak oleh perasaan lama yang masih tersisa.

"Dokter itu juga yang donor darah buat lo," ucap Wida membuat Gendhis tersadar akan keberadaannya. "Lo kenal sama dia?" tanyanya.

Gendhis menggeleng, "Kayaknya salah orang," lirihnya parau.

"Gue nggak bisa lama-lama nemenin lo, nanti rumah gimana kalau gue nggak ada? Biar gue kirim anak buat nemenin nanti malem," kata Wida beranjak menenteng tasnya.

"Nggak usah Mi," tolak Gendhis. "Gue juga nggak bakalan kabur kok."

"Gue nggak khawatir lo kabur, gue cuma nggak mau orang-orang di sini jadiin lo bahan gunjingan karena lo berasal dari rumah bordil dan hamil tanpa suami. Semua dokter dan perawat yang nanganin lo tau situasi itu," desis Wida seraya berlalu sambil melambaikan tangan.

Setelah itu, suasana kamar rawat Gendhis lengang. Sesekali hanya terdengar suara humidifier yang menebar aroma terapi di dalam ruangan, Gendhis melamun menatap ke luar jendela kamar. Pikirannya melayang jauh, mengingat nasibnya yang harus hamil tanpa suami, entah anak dari pelanggannya yang mana.

"Permisi, saya ganti infusnya dulu ya Mbak," seorang perawat muncul, membuyarkan lamunan Gendhis.

"Di mana saya bisa ketemu Dokter Christ, Sus?" tanya Gendhis setelah mengangguk ramah.

"Kayaknya Dokter Christ masih di ruangannya Mbak, sejak sejak tadi sudah mulai jadwal praktik di poli, tapi tadi beliau sempatkan untuk visit pasien ranap dulu," sebut sang perawat.

Ada ekspresi yang coba disembunyikan dengan rapi oleh perawat itu, sebelum kembali berujar, "Sekedar info kalau Mbak tertarik. Calon istrinya Dokter Kiara residen spesialis penyakit dalam. Permisi ya Mbak."

Gendhis tertegun, rasa penasarannya tak bisa dibendung. Ia turun perlahan, mati-matian menahan sakit di tubuhnya untuk bisa mencapai kursi roda di pojok ruangan sambil menarik tiang infusnya.

Susah-payah, Gendhis memutar kursi rodanya, mencari ruangan tempat Rai dijadwalkan untuk memulai praktek. Beruntung seorang perawat berbaik hati mengantarnya hingga ke poli di mana sudah ada beberapa pasien menunggu untuk diperiksa.

"Mbak mau periksa juga?" tegur seorang perawat di meja pendaftaran pada Gendis.

Gelengan Gendhis berikan, "Saya pengin ketemu Dokter Christ. Saya pasien rawat inap," terangnya.

"Harus tunggu selesai beliau praktik ya Mbak, sebentar," kata perawatnya lagi.

Gendhis mengangguk. Ia menurut saja saat kursi rodanya didorong ke ujung lorong, paling dekat dengan pintu ruang praktik poli. Sambil menunggu dua antrean lagi, Gendhis mengamati para ibu hamil itu. Ia mengusap perutnya sendiri, kehamilan singkat yang tak ia sadari dan hampir merenggut nyawanya.

"Maaf Dok, masih ada satu lagi, pasien rawat inap," terdengar perawat berucap di dalam ruangan.

"Oke," sahut suara berat Rai singkat.

Gendhis menarik napas dalam-dalam setelah mendengar jawaban setuju dari Rai.

Sang perawat muncul dengan senyuman ramah, ia bantu mendorong kursi roda Gendhis tanpa diminta.

Jantung Gendhis berdebar, setelah hampir 13 tahun tidak bertemu, ia sengaja menemui Rai lagi.

"Kenapa?" tegur Rai tampak kaget melihat wajah pasien yang duduk di kursi roda itu. "Jam praktik saya sudah selesai, saya harus ke rumah sakit lain," tandasnya kaku.

"Aku cuma mastiin," ucap Gendhis tersendat. "Aku lega sekarang, karena tau kamu masih hidup," tambahnya sekuat tenaga menahan air mata.

###

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Candu Cinta Dokter Muda   269. Terima Kasih Untuk Semua Cinta (End)

    "Rai, gimana anak-anak?" tanya Gendhis, suaranya lemah, kesadarannya baru saja pulih. "Mereka semua baik, adek rada lemah, tapi masih aman. Mereka masih di NICU ya, tunggu ijin dokter anak dulu sebelum dibawa ke sini," jawab Rai lembut, ia usap kening Gendhis penuh cinta. "Makasih ya Ndhis, udah berjuang sekuat tenaga buat anak kita, makasih udah bertahan dan baik-baik aja," tambahnya. "Makasih juga ke kamu, Rai. Kamu pasti juga berjuang buat bawa mereka selamat ke dunia," balas Gendhis. "Aku udah hubungi Ben sama Ann, mereka bakalan ambil penerbangan pertama buat ke Indo besok pagi. Kalau kakek sama neneknya yang di sini udah pada nggak sabar ketemu, mereka numpuk nunggu semua di depan NICU," jelas Rai. "Kamu nggak ikut juga liat anak kita?" tanya Gendhis. Rai menggeleng, "Anak-anak kita udah aman di tangan para profesional, aku mau nemenin istriku di sini. Kamu yang udah bertaruh nyawa buat mereka, nggak akan kuabaikan," ungkapnya. Senyum Gendhis terbit. Rai memang

  • Candu Cinta Dokter Muda   268. Berjuang Bersama

    "Dok, panggilan cito dari IGD," kata Suster Tiwi menjeda kegiatan Rai yang tengah memeriksa pasiennya. "Lagi?" gumam Rai menahan nafas. Pasalnya, ia baru saja menyelesaikan operasi caesar untuk kasus ketuban pecah dini dua jam yang lalu. "Pasien atas nama Gendhis Wisanggeni," ujar Suster Tiwi lagi. Rai menoleh cepat, matanya membulat sempurna. Untuk sepersekian detik keheningan merebak, Rai linglung. "Gendhis Wisanggeni? Gendhis Kemuning Btari? Istri saya?" tanya Rai memastikan lagi pendengarannya. "Betul Dok, Mbak Gendhis, Nyonya Dokter Christopher," ulang Suster Tiwi mantap. "Bunda, mohon maaf, saya harus ke ruang OK sekarang," ucap Rai pada pasiennya, tampak panik. "Saya resepkan vitamin dan obat anti mualnya. Ini dianter Suster Tiwi ke bagian poliklinik di samping ruangan, biar diarahkan," jelasnya runtut meski terlihat tergesa. Setelah mendapat anggukan paham dari pasiennya, Rai bergegas menuju unit IGD. Ia bertemu Danisha yang mengantar Gendhis, menyambutnya

  • Candu Cinta Dokter Muda   267. Sebentar Lagi Usai

    Setelah membersihkan diri dan mengurus kekacauan yang terjadi di kediaman Adhyaksa, Rai dan Gendhis kembali dalam tampilan rapinya. Mereka memimpin prosesi pemakaman Eriska sampai pada proses kremasinya. Meski pernah begitu menderita karena perlakuan Eriska, Gendhis setia mendampingi suaminya. Kini, dua kekuatan bisnis besar di Indonesia ada dalam genggaman Rai, orang-orang tunduk dan hormat padanya, sekaligus pada Gendhis. "Kamu nggak capek? Habis ini kita langsung ke rumah besar ya, biar kamu bisa istirahat," kata Rai perhatian. "Kamu nggak ngelapor ke Ben sama Ann dulu soal Adhyaksa?" tanya Gendhis lembut. Rai menggeleng, "Danisha sama Benji pasti udah ngobrol sama Ben, mereka tau apa yang musti dilakuin," tukasnya. "Ya udah, aku juga rada laper, kita ke rumah ya," ucap Gendhis langsung setuju. Mengandung dua janin di dalam perutnya sekaligus memang cukup membuat Gendhis mudah lelah. Apalagi ia baru saja mengalami hal yang cukup traumatis bagi orang awam, Rai takut is

  • Candu Cinta Dokter Muda   265. Di Bawah Kuasa Takahashi

    Memaksa untuk menunggu Rai di depan kediaman Adhyaksa, ditemani Danisha, Gendhis menahan kecemasannya. Ia tahu, Rai bisa lepas dari kepungan orang-orang Adhyaksa, tapi belum tentu tanpa luka. "Dia bakalan baik-baik aja. Ada Bas yang jadi back up-nya," hibur Danisha, sengaja mengusap pundak Gendhis agar membuatnya tenang. "Aku udah curiga dari awal Kak, pasti bakalan aza tragedi di pemakaman Eriska," desah Gendhis menyadari ketajaman intuisinya. "Kalau aja aku beh ngelarang Rai buat jangan dateng," sesalnya. "Christ tetep bakalan dateng meskipun kamu ngelarang dia, Ane-san. Eriska adalah satu-satunya keluarga yang punya hubungan darah sama dia, sebagai laki-laki Takahashi, Christ tau banget aturannya."Gendhis menghela nafas panjang, mencerna kalimat Danisha mengenai karakter lelaki Takahashi yang begitu gentle dan penuh wibawa. Rai memang dididik keras oleh Ben, tapi juga ditanamkan rasa setia pada keluarga di dalam hatinya. "Minta maaf!" Axel tiba-tiba datang, ia mengiring Kiara

  • Candu Cinta Dokter Muda   264. Perlawanan Terakhir

    Gendhis berusaha mengatur nafasnya, bertahan mati-matian melawan, sekuat yang ia bisa. Namun, karena kehamilannya, energinya terbatas. Geo berhasil memukul mundur dan menepis pedang di tangan Gendhis, membuat perhatian Rai teralih hingga Nando memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerangnya. Terhuyung karena tendangan Nando yang di luar prediksinya, Rai terjerembab. Beberapa bagian wajahnya sudah memar dan mengeluarkan darah, hasil berduel sengit dengan Nando. Meski begitu, Rai tidak menyerah, ia bangkit, memilih untuk mendatangi Geo yang berusaha untuk menekan istrinya. Ditendangnya punggung Geo sekuat tenaga, membuat Gendhis berhasil lepas dan melempar pedang pada Rai. "Orang Adhyaksa nggak pernah berubah, hobinya maen keroyokan," kata Rai mengeringai, sudah berdiri di depan Gendhis untuk melindunginya. "Lo udah terpojok Christ, menyerah dan kami bakalan melepaskan kalian," desis Nando, ia juga babak belur wajahnya karena serangan Rai. "Terpojok? Kalian make ibu hamil buat mengan

  • Candu Cinta Dokter Muda   263. Tuan dan Nyonya Takahashi

    "Rai," Gendhis mengusap lengan suaminya lembut. Meski duel yang digagas Nando tak lagi bisa dikendalikan dan dibatalkan, Gendhis sebenarnya tak menginginkan situasi ini. Seandainya ia tak terlalu mencemaskan keselamatan sang suami, tentu saja saat ini ia tak menjadi beban bagi Rai. "Mereka ngutus orang buat menjemputku di kediaman, dan mereka bilang kamu yang nyuruh," lanjut Gendhis membuat Rai seketika menatapnya. "Kamu bukan ke sini atas inisiatifmu sendiri?" gumam Rai membulatkan matanya. Gendhis mengangguk, "Ada dua orang yang dateng, mereka bilang disuruh kamu buat jemput aku," ucapnya. "Ternyata mereka ngebohongin aku." "Nggak pa-pa, udah terlanjur, kamu udah di sini. Nggak akan ada yang bisa menyentuhmu selama aku masih hidup," kata Rai seraya melepas kemeja putih yang membalut tubuhnya. Kini, ia bertelanjang dada memamerkan tato yang menjadi identitas Takahashi itu. "Rai, apa sebaiknya nggak usah kamu ladenin si Nando itu? Kita masuk ke perangkap mereka, ini ha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status