LOGINKehilangan segalanya di masa muda hingga harus terjerumus ke dalam lembah prostitusi membuat Gendhis merasa harus merelakan perasaannya pada sosok cinta pertama. Terpisah oleh keadaan di masa SMA, tak lagi bertemu bertahun lamanya, Gendhis dan Rai sang dokter muda dipertemukan oleh takdir dalam situasi yang asing tapi begitu emosional. "Kamu harus pake pengaman, Rai. Aku ini pelacur," bisik Gendhis menahan dada Rai yang sudah mulai melepas dress miliknya, menampilkan bra hitam berendanya. "Aku bukan Rai yang kamu kenal di 10 tahun yang lalu, Ndhis. Aku tau resiko dari keputusan yang kuambil." Rai yang kini menjelma menjadi seorang dokter spesialis muda nan mulia, bertekad untuk tidak lagi melepas Gendhis yang masih dicintainya. Namun, bagi Gendhis, strata sosial yang membentang di antara mereka adalah jurang pemisah tanpa dasar yang tak bisa diabaikan. Gendhis hanya tidak tahu, betapa sekali Rai berjanji, pantang baginya untuk mengingkari. Cinta mereka akan banyak diuji, akan banyak melukai. Namun kepercayaan Gendhis yang dulunya telah pudar, kini perlahan berhasil Rai buat bersemi kembali.
View More"Argh… Sakit, sakit banget!"
"Mbak, Mbak masih bisa denger suara saya?" Sekuat tenaga Gendhis berusaha mengangguk saat guncangan di Pundak dan pertanyaan itu ditujukan padanya. “Sakit sekali, Dokter.” Lagi-lagi, hanya erangan kesakitan yang Gendhis beri sebagai tambahan jawabannya. Tangannya tergerak mencengkeram perut bagian bawahnya, keringat dingin membasahi sekujur tubuh. "Dari kapan sakitnya?" tanya perawat di sebelah Gendhis. Gendhis menggeleng, "Semalam…" gumamnya tak yakin. "Ada bercak darah?" Gendhis mengangguk kali ini, ia berusaha membuka matanya. Tak jauh dari ranjangnya sekarang, seorang perempuan berusia 40 tahunan tengah menatapnya dari kejauhan. Tampak cemas, tapi juga tak berani mendekat. "S-saya hamil. Test pack saya positif," ungkap Gendhis terbata. Tak ada jawaban, semua orang yang menangani Gendhis di Instalasi Gawat Darurat itu tampak sibuk melakukan tugasnya masing-masing setelah mendengar pengakuannya. Air mata Gendhis menetes, ia ingin menjadi gila saja setelah semua yang dialaminya. Di tengah rasa sakit yang menyerang sekujur tubuh, ia kumpulkan kekuatan untuk lebih membuka matanya, meski sulit. Obrolan orang-orang di sekitarnya masih bisa Gendhis dengar dengan baik meski menggunakan bahasa medis yang asing, berusaha memanggil dokter kandungan dengan cepat. Napas Gendhis makin tak teratur, rasa sakit menghujam perut bagian bawahnya semakin kuat. “Status?” Sebuah suara berat membuat kegaduhan yang tadi Gendhis dengar senyap seketika. Terasa jemari Gendjis diraba lembut, hangat. "Perdarahan pervaginam, gangguan hemodinamik, nyeri tekan panggul dan perut, hasil USG transvaginal, suspect K.E.T, Dok." "Hubungi OK, dan seseorang tolong bicara dengan walinya." Begitu mendengar para tenaga medis itu menyebut tentang wali, Gendhis berusaha membuka mulutnya. Meski pandangannya sudah memudar, setidaknya ia harus memberi penjelasan mengenai statusnya. "Saya sebatang kara. Nggak punya wali," ungkap Gendhis. Helaan napas berat menjadi tanggapan pertama dari ucapan Gendhis. Sejenak tampak sepi, hanya terdengar suara sirine dari luar ruangan IGD itu. "Kamu hampir kehabisan darah, kita harus segera ngambil tindakan operasi. Dan kita butuh persetujuan wali kamu," ucap sang dokter. Gendhis menggeleng, "Lakukan apa aja Dok, saya nggak punya wali," sebut Gendhis. "Orang yang nganter saya adalah germo di tempat saya bekerja," ujarnya mengejutkan semua orang. "Oke, masalah wali biar jadi urusan saya," kata sang dokter berwajah sangat tampan ini. "Saya yang akan jadi pendonor darah kamu," katanya. Air mata Gendhis mengalir lagi, ia coba untuk membuka matanya perlahan. Cahaya putih memendar menghalangi pandangannya. Ia itarkan tatapannya ke sekeliling, tenaga medis yang menanganinya sudah berkurang jumlahnya. Dari sekitar selusin, hanya ada 4 orang sekarang, termasuk si pemilik punggung tegap yang baru saja datang dan menanyai soal walinya tadi. "Saya yang akan jadi walinya," ucap si dokter tampan yakin, memunggungi tempat Gendhis berbaring. "Tolong persiapkan operasinya, saya ke bank darah sebentar," pamitnya. "Dokter!" Gendhis memanggil dengan sisa tenaganya. Punggung tegap nan lebar itu berbalik perlahan. Wajah tampan dengan hidung mancung menantang yang tertutup masker, mendekat kembali pada Gendhis. "Kehamilan Ektopik Terganggu, kondisi kamu sangat mengancam nyawa, harus segera dioperasi. Saya yang akan jadi wali sekaligus pendonor darah untuk kamu. Bertahanlah, Gendhis," ucap sang dokter penuh pengharapan. Seakan tak asing oleh suara dan wajah di balik masker itu, Gendhis berusaha menajamkan pandangan. Namun, si tampan baik hati justru berlalu pergi tanpa penjelasan atas panggilan akrabnya pada Gendhis barusan. "Tadi siapa?" tanya Gendhis pada seorang perawat muda di sampingnya. "Dokter barusan," tambahnya timbul tenggelam. "Dokter Christ, spesialis Obgyn Mbak," balas sang perawat. Bibir Gendhis bergetar hebat, sungguh, ia tidak mau bertemu dengan masa lalunya itu di situasi semacam ini. Betapa takdir yang sangat berantakan. Gendhis langsung teringat pada sosok masa lalunya. Rai Damian Christopher Wisanggeni. "Rai, apa itu kamu?" ###"Rai, gimana anak-anak?" tanya Gendhis, suaranya lemah, kesadarannya baru saja pulih. "Mereka semua baik, adek rada lemah, tapi masih aman. Mereka masih di NICU ya, tunggu ijin dokter anak dulu sebelum dibawa ke sini," jawab Rai lembut, ia usap kening Gendhis penuh cinta. "Makasih ya Ndhis, udah berjuang sekuat tenaga buat anak kita, makasih udah bertahan dan baik-baik aja," tambahnya. "Makasih juga ke kamu, Rai. Kamu pasti juga berjuang buat bawa mereka selamat ke dunia," balas Gendhis. "Aku udah hubungi Ben sama Ann, mereka bakalan ambil penerbangan pertama buat ke Indo besok pagi. Kalau kakek sama neneknya yang di sini udah pada nggak sabar ketemu, mereka numpuk nunggu semua di depan NICU," jelas Rai. "Kamu nggak ikut juga liat anak kita?" tanya Gendhis. Rai menggeleng, "Anak-anak kita udah aman di tangan para profesional, aku mau nemenin istriku di sini. Kamu yang udah bertaruh nyawa buat mereka, nggak akan kuabaikan," ungkapnya. Senyum Gendhis terbit. Rai memang
"Dok, panggilan cito dari IGD," kata Suster Tiwi menjeda kegiatan Rai yang tengah memeriksa pasiennya. "Lagi?" gumam Rai menahan nafas. Pasalnya, ia baru saja menyelesaikan operasi caesar untuk kasus ketuban pecah dini dua jam yang lalu. "Pasien atas nama Gendhis Wisanggeni," ujar Suster Tiwi lagi. Rai menoleh cepat, matanya membulat sempurna. Untuk sepersekian detik keheningan merebak, Rai linglung. "Gendhis Wisanggeni? Gendhis Kemuning Btari? Istri saya?" tanya Rai memastikan lagi pendengarannya. "Betul Dok, Mbak Gendhis, Nyonya Dokter Christopher," ulang Suster Tiwi mantap. "Bunda, mohon maaf, saya harus ke ruang OK sekarang," ucap Rai pada pasiennya, tampak panik. "Saya resepkan vitamin dan obat anti mualnya. Ini dianter Suster Tiwi ke bagian poliklinik di samping ruangan, biar diarahkan," jelasnya runtut meski terlihat tergesa. Setelah mendapat anggukan paham dari pasiennya, Rai bergegas menuju unit IGD. Ia bertemu Danisha yang mengantar Gendhis, menyambutnya
Setelah membersihkan diri dan mengurus kekacauan yang terjadi di kediaman Adhyaksa, Rai dan Gendhis kembali dalam tampilan rapinya. Mereka memimpin prosesi pemakaman Eriska sampai pada proses kremasinya. Meski pernah begitu menderita karena perlakuan Eriska, Gendhis setia mendampingi suaminya. Kini, dua kekuatan bisnis besar di Indonesia ada dalam genggaman Rai, orang-orang tunduk dan hormat padanya, sekaligus pada Gendhis. "Kamu nggak capek? Habis ini kita langsung ke rumah besar ya, biar kamu bisa istirahat," kata Rai perhatian. "Kamu nggak ngelapor ke Ben sama Ann dulu soal Adhyaksa?" tanya Gendhis lembut. Rai menggeleng, "Danisha sama Benji pasti udah ngobrol sama Ben, mereka tau apa yang musti dilakuin," tukasnya. "Ya udah, aku juga rada laper, kita ke rumah ya," ucap Gendhis langsung setuju. Mengandung dua janin di dalam perutnya sekaligus memang cukup membuat Gendhis mudah lelah. Apalagi ia baru saja mengalami hal yang cukup traumatis bagi orang awam, Rai takut is
Memaksa untuk menunggu Rai di depan kediaman Adhyaksa, ditemani Danisha, Gendhis menahan kecemasannya. Ia tahu, Rai bisa lepas dari kepungan orang-orang Adhyaksa, tapi belum tentu tanpa luka. "Dia bakalan baik-baik aja. Ada Bas yang jadi back up-nya," hibur Danisha, sengaja mengusap pundak Gendhis agar membuatnya tenang. "Aku udah curiga dari awal Kak, pasti bakalan aza tragedi di pemakaman Eriska," desah Gendhis menyadari ketajaman intuisinya. "Kalau aja aku beh ngelarang Rai buat jangan dateng," sesalnya. "Christ tetep bakalan dateng meskipun kamu ngelarang dia, Ane-san. Eriska adalah satu-satunya keluarga yang punya hubungan darah sama dia, sebagai laki-laki Takahashi, Christ tau banget aturannya."Gendhis menghela nafas panjang, mencerna kalimat Danisha mengenai karakter lelaki Takahashi yang begitu gentle dan penuh wibawa. Rai memang dididik keras oleh Ben, tapi juga ditanamkan rasa setia pada keluarga di dalam hatinya. "Minta maaf!" Axel tiba-tiba datang, ia mengiring Kiara












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews