Share

BAB 206

Auteur: Langit Parama
last update Dernière mise à jour: 2026-02-02 08:21:09
“Mas gak pulang?” suara Fairish terdengar pelan saat ia melangkah masuk ke ruang kerja sang suami.

Sultan mengangkat pandangannya. Tatapan itu tetap dingin seperti biasa, namun ada sorot tajam yang menyusuri setiap gerak Fairish yang mendekat, seolah sedang menimbang sesuatu yang tak terucap.

“Kamu sudah mengantuk?” tanya Sultan datar, sembari menutup laptop di hadapannya. “Kalau iya, saya bisa antar kamu pulang sekarang.”

Fairish melirik meja kerja itu sekilas, lalu kembali menatap wajah
Langit Parama

Halo, bacanya dari bab 204-206, ya. Tunggu diperbaiki isi babnya, sambil di refresh supaya muncul. Maaf banget kemarin upnya jadi triple untuk bab 203 karena sistem🙏🏻 Buat yg udah buka pake koin 2 bab sebelumnya, gak perlu buka pake koin lagi, udah bisa langsung dibaca, kok. Makasih, ya☺️🫶🏻

| 43
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (10)
goodnovel comment avatar
Langit Parama
Udah di refresh belum, kak?
goodnovel comment avatar
Ikeu Kodila
aku gabisa baca yg 204 dari 203 langsung loncat ke 205 jadinya gajelas dan ga nyambung bacanya
goodnovel comment avatar
Langit Parama
Halo, babnya udah bisa dibaca, ya. Dari bab 204-206. Kabari aku kalau udah baca, terima kasih(✿◠‿◠)
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 296

    “Saya sudah tanyakan langsung pada Sultan setelah kamu bicara siang tadi,” ucap Radja, nadanya tegas namun tertahan. Djiwa menelan ludah dengan susah payah. “Terus?” “Sultan mengaku,” jawab Radja tanpa bertele-tele. “Dan dia juga mengakui kalau Mami yang memintanya melakukan semua itu.” Djiwa memalingkan wajah. Bahunya bergetar. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan, membasahi pipi yang sejak lama menyimpan luka. “Saya juga korban,” lanjut Radja, suaranya kini lebih rendah, hampir berbisik. “Saya benar-benar tidak tahu apa-apa.” Ia menarik napas panjang, seolah sedang mengumpulkan keberanian. “Saya minta maaf, Djiwa. Karena saya terlambat tahu. Kalau sejak awal kamu bicara, bukan pergi begitu saja, saya pasti bantu kamu.” Djiwa terkekeh pahit, lalu menoleh dengan tatapan tajam yang dipenuhi kecewa. “Tapi kamu juga sama, M

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 295

    “Kasurnya empuuuk ….” Ratu terus meloncat di atas kasur besar itu, tawanya renyah, matanya berbinar penuh kebanggaan—seolah dunia barunya benar-benar nyata. Kemewahan yang baru ia rasakan hari ini seharusnya menjadi miliknya sejak bayi, seperti dua saudara lain yang ia kenal namun tak tahu kalau mereka saudara kembar. Radja melangkah mendekat, lalu menarik lengan kecil itu sebelum lompatannya semakin liar. “Jangan kenceng-kenceng, nanti jatuh,” katanya sambil mendudukkan Ratu di pangkuannya. Ratu tertawa kecil, lalu bersandar nyaman. “Seru, Daddy. Soalnya kasur di rumah lama itu keras, gak empuk,” adunya sambil matanya berkeliling. “Kamarnya gede banget. Lampunya banyak. Dapur sama WC juga jauh, gak nyatu.” Radja tersenyum tipis, ada bangga yang tak ia sembunyikan.

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 294

    Mobil yang Radja minta akhirnya datang juga. Sebuah Alphard putih berhenti tepat di depan gang rumah petak itu, mobil yang dulu ia beli khusus untuk Djiwa, agar istrinya nyaman setiap kali bepergian. Kilau catnya masih sama, bersih dan elegan, sangat kontras dengan gang sempit yang mengelilinginya. Radja memang terpaksa memanggil mobil itu. Mobil sport yang ia kendarai sebelumnya tak cukup lapang untuk menampung barang-barang Ratu dan Djiwa. Pintu mobil terbuka. Sopir turun lebih dulu, membungkuk hormat. “Silakan, Tuan.” Djiwa berdiri kaku, menatap mobil itu lama. Matanya menyapu dari velg, pintu geser otomatis, hingga interior mewah yang sekilas terlihat dari luar. Dadanya naik turun pelan, seolah sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Radja tak mendesak. Ia hanya mengulurkan tangan pada Ratu lebih dulu. “Ayo, Nak.” Ratu langsung menyambar tangan ayahnya dengan senyum lebar, lalu menoleh ke Djiwa. “Mommy ikut, kan? Daddy bilang rumahnya gede.” Djiwa terdi

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 293

    “Cie … Daddy sama Ibu—eh, sama Mommy so sweet,” goda Ratu riang dari dalam gendongan Djiwa, matanya berbinar menatap Radja yang barusan mengecup kening ibunya. Djiwa terperanjat. Matanya membulat, napasnya tertahan. Sementara Radja sudah menarik diri, memasang senyum tipis—tenang, seolah apa yang barusan terjadi hal paling wajar di dunia. “Mommy udah sadar, kan, kalau itu Daddy?” seru Ratu antusias. “Ini Daddy, Bu. Daddy udah pulang dari kerja jauh.” “Iya, sayang,” Radja menimpali lembut sambil mengusap puncak kepala putrinya. “Mommy kamu cuma kaget.” Tatapannya beralih pada Djiwa, suaranya tetap tenang. “Bayangkan saja, Daddy pergi kerja jauh sejak kamu masih bayi. Daddy juga salah karena tidak pernah memberi kabar. Wajar kalau Mommy kamu lupa, dan mungkin kecewa.” Bibir Ratu mencebik, lalu menatap ibunya penuh harap. “Mommy jangan marah, ya. Daddy udah minta maaf. Terus Ratu di

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 292

    “Ratu … Ratu, Ratu,” panggil Djiwa berulang kali begitu memasuki rumah sepetak itu. Suaranya menggema di ruang sempit yang menyatukan kamar, dapur, dan kamar mandi dalam satu tarikan napas kehidupan mereka. Namun rumah itu kosong. Terlalu kosong. Tak ada tawa kecil. Tak ada langkah kaki berlari. Hatinya langsung mengerat. “Jangan-jangan masih di taman,” gumamnya lirih. Tanpa sempat berganti alas kaki, Djiwa kembali melangkah cepat menuju angkringan dekat taman—tempat Ratu biasa bermain sebelum senja. Keramaian menyambutnya. Asap makanan mengepul, suara tawa bercampur musik pelan. Beberapa influencer sibuk mengarahkan kamera ke makanan, tertawa riuh, seolah dunia sedang baik-baik saja. Namun mata Djiwa hanya mencari satu hal. Ia menyapu taman dengan pandangan cemas. Empat anak kecil terlihat tertawa di ayunan. Tapi bukan Ratu. “Nggak ada,”

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 291

    “Iya, Om. Adjiva,” ucap Ratu pelan, seolah takut salah. “Nama depannya sama kayak Ibu.” Radja menelan ludahnya. Suaranya keluar lirih, bergetar tanpa ia sadari. “Siapa nama ibu kamu, Nak?” “Adjiva Nadjwa.” Dunia Radja runtuh seketika. Tangannya yang semula bertengger lembut di puncak kepala Ratu perlahan turun, mengepal di samping tubuhnya. Napasnya terasa berat, dadanya seolah diremas sesuatu yang tak kasatmata. Tatapan gelapnya menelisik wajah gadis kecil di hadapannya, dan di sanalah ia akhirnya melihat dengan jelas. Mata itu. Hidung kecil itu. Lengkungan senyum yang bahkan saat menangis pun masih sama. Semuanya milik Djiwa. “Di mana … Papa kamu?” tanya Radja akhirnya, suaranya berat, ragu, seolah ia berdiri di tepi jurang yang dalam dan gelap. Ratu terdiam. Bibirnya bergetar. “Papa …,” gumamnya lirih, matanya kembali berkaca-kaca. Radja menahan napas. “Kenapa, Nak?” “Kata Ibu, Papa udah meninggal,” jawab Ratu pelan, nyaris tak terdengar. “Ratu gak punya

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status