Compartir

BAB 16

last update Fecha de publicación: 2025-12-03 16:54:23

Pukul sebelas siang, Djiwa terbangun dari tidur nyenyaknya selama dua jam.

Ketika dia mengangkat kepalanya, lehernya seketika ngilu karena posisi tidurnya yang sambil duduk. Tangannya juga kesemutan sampai dia tak bisa menggerakannya dengan benar.

“Aduh!” rintihnya pelan, sambil terus membenarkan otot leher dan lengannya.

“Jam berapa, sih?” gumamnya, matanya melirik ke arloji di pergelangan tangan kirinya. “Ya ampun,” Djiwa membekap mulutnya. “Aku tidurnya kelamaan.”

Matanya segera bergerak
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (8)
goodnovel comment avatar
Aku Abim
wahai penulis yg budiman,,,ak ga mau ya ntar karma u si duo rese menyebalkan itu menye².pokoknya hrs kejam.
goodnovel comment avatar
Yaumi Jasuli
iklannya terlalu banyk
goodnovel comment avatar
Deska Yoga
ribet banget pake acara iklan
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 538

    “Kamu operasi, ya, Mas ….” bisik Djiwa lirih dalam dekapan suaminya. Kepalanya bersandar di dada bidang Radja, sementara kedua lengannya melingkar erat di pinggang pria itu, seolah takut kehilangan. Tak ada jawaban. Djiwa perlahan mendongak, menatap wajah Radja yang tetap tenang—terlalu tenang untuk situasi seperti ini. “Kamu harus operasi, Mas.” “Harus?” alis Radja terangkat tipis, suaranya datar namun menyimpan arti. “Iya,” jawab Djiwa tegas, meski suaranya bergetar. “Kalau gak, aku bakal kasih tahu anak-anak kalau Daddy-nya gak mau berjuang buat hidup. Kamu egois, kamu gak mikirin aku sama anak-anak.” Sudut bibir Radja terangkat, membentuk seringai tipis yang justru membuat dada Djiwa semakin sesak. “Jangan senyum kayak gitu,” lanjut Djiwa, napasnya memburu. “Aku tahu aku juga pernah keras kepala waktu milih antara aku sama Sankara. Tapi makasih, karena kamu akhirnya tetep milih aku buat hidup.” Matanya mulai berkaca-kaca. “Sekarang aku minta hal yang sama dari kamu,” ucap

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 537

    Tubuh Karin seketika menegang. Napasnya tercekat saat bayangan itu benar-benar menjelma menjadi sosok nyata di hadapannya. Radja. Berdiri tegak beberapa meter di belakangnya, dengan tatapan lurus—dingin, tajam, dan penuh tekanan. Tak ada senyum. Tak ada basa-basi. Hanya diam yang terasa menyesakkan. Perlahan, Radja melangkah mendekat. Sepatu kulitnya beradu dengan kerikil halus di area pemakaman, menciptakan suara kecil yang justru terdengar begitu keras di telinga Karin. “Karin.” Suara itu rendah tenang tapi menusuk. Karin menelan ludahnya susah payah, berdiri perlahan dari posisi jongkoknya. “A-aku ... gak nyangka kamu ada di sini, Mas,” ucapnya, berusaha terdengar biasa. Meski suaranya sedikit bergetar. “Kamu ngapain di sini? Melayat kuburan siapa?” Radja berhenti tepat di depannya. Terlalu dekat. Tatapannya turun sebentar ke nisan di hadapan mereka, lalu kembali naik menatap wajah Karin. “Apa yang membuatmu melakukan hal sejauh ini?” Angin sore berhembus pelan, menggerak

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 536

    “Daddy kapan pulang dari sini?” tanya Ratu malam itu, suaranya lembut namun penuh harap. Radja menghela napas pelan, jemarinya terulur mengusap puncak kepala putrinya dengan sayang. “Belum tahu, Nak. Nanti kalau dokter sudah izinkan, Daddy langsung pulang, ya.” “Tapi ... kenapa nanya begitu?” lanjutnya, sedikit memiringkan kepala. “Ratu tidak suka rumah sakit, hm?” Ratu menggeleng pelan. “Bukan … tapi Ratu gak suka lihat Daddy sakit.” Kalimat sederhana itu membuat dada Radja terasa sesak. “Padahal Daddy makan sayur sama buah, sama kayak Ratu, Mas Regan, Mas Naren,” lanjut Ratu polos. “Tapi kenapa Daddy sakit terus, kami nggak?” Radja terdiam sesaat, menahan sesuatu yang berusaha naik ke permukaan. “Sakit itu bisa datang dari banyak hal, Nak. Bukan cuma dari makanan.” “Terus Daddy sakit karena apa?” tanya Ratu lagi, matanya menatap lurus tanpa ragu. “Karena Daddy pernah kecelakaan. Kamu ingat, kan?” Bahu kecil itu langsung merosot. “Oh … iya.” “Iya,” Radja tersenyum tipis, me

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 535

    “Kenapa Anda memberitahu istri saya?” tanya Radja dingin, begitu dokter selesai memeriksa kondisinya. Dokter itu tampak ragu sejenak. Ia menelan ludah, lalu menjawab hati-hati, “Saya terpaksa, Tuan. Ini demi keselamatan Anda. Saya berharap, dengan istri Anda mengetahui kondisi ini, Anda mau mempertimbangkan operasi.” Tatapan Radja mengeras. “Ini urusan saya,” ucapnya tegas. “Anda tidak perlu ikut campur.” “Justru saya harus ikut campur,” balas dokter itu, kali ini lebih mantap. “Karena ini menyangkut nyawa pasien saya.” Kedua tangan Radja mengepal di atas pangkuannya, rahangnya mengencang. Namun sebelum perdebatan itu berlanjut, pintu terbuka. Djiwa masuk. “Nyonya,” sapa dokter itu, langsung mengubah nadanya menjadi lebih ramah. “Kalau begitu, saya permisi.” Djiwa mengangguk singkat, memberi jalan. Tatapannya hanya sekilas mengikuti kepergian dokter itu, sebelum kembali beralih pada sosok di atas ranjang. Pintu tertutup. “Kamu gak seharusnya nyalahin dokter, Mas,” ucap Djiwa

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 534

    Djiwa hanya mampu mengangguk lemah, meski hatinya menolak. Langkah kaki kecil anak-anaknya semakin mendekat. Ratu yang paling duluan berlari, diikuti Regan dan Naren di belakangnya. “Daddy!” seru Ratu, langsung memanjat ke atas ranjang dan memeluk tubuh ayahnya tanpa ragu. Radja tersenyum tipis. Tangannya otomatis merangkul putri kecilnya itu. “Iya, sayang ….” Sementara itu, Regan dan Naren berdiri di sisi ranjang, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh tanya—terutama saat melihat mata ibunya yang masih sembab. “Mommy kenapa?” tanya Regan, keningnya berkerut tipis, menatap wajah ibunya yang masih menyisakan jejak air mata. “Mommy nangis, ya?” sambung Naren, suaranya lebih polos, sedikit meninggi karena khawatir. Djiwa melirik Radja sekilas. Tatapannya rapuh, seolah meminta bantuan tanpa suara. Radja menghembuskan napas pelan, lalu menepuk lembut punggung Djiwa sebelum mengalihkan perhatiannya pada ketiga anaknya. “Mommy gak kenapa-kenapa,” ucapnya tenang. “

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 533

    Radja mengusap lembut bahu Djiwa yang masih bergetar dalam tangis. Tubuh mereka berbaring berdampingan di atas brankar rumah sakit, dalam diam yang terasa menyesakkan. “Ssstt ….” bisik Radja pelan, suaranya rendah, sarat rasa bersalah. Tangannya terangkat, menghapus jejak air mata di pipi istrinya yang tak kunjung berhenti mengalir. Namun Djiwa perlahan bangkit. Ia duduk, berhadapan dengan Radja. Tatapannya kosong, rapuh, tapi menyimpan ribuan pertanyaan yang menyesakkan dada. “Ini gak masuk akal, Mas,” suaranya lirih, bergetar. “Gimana bisa kamu kena edema otak, dan langsung divonis waktu kamu gak lama lagi?” Ia menggenggam tangan Radja erat. Dingin. Terlalu dingin untuk seseorang yang masih bernapas di hadapannya. “Kecelakaan kamu itu belum lama, Mas … jangan bohongin aku,” lanjutnya, hampir memohon. Radja menghela napas pelan. Tatapannya tenang, terlalu tenang. “Sebelum kamu menikah dengan Kai, saya sudah pernah kecelakaan,” ucapnya akhirnya. Napas Djiwa tercekat.

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 79

    Pupil mata Inggrit membesar, bibirnya bergetar tanpa suara. Langkahnya mundur setengah tapak, seolah lantai di bawah kakinya mendadak runtuh. “Mas …,” napasnya tercekat. “A-apa maksud kamu?” Radja hanya menatapnya—diam, tajam, dan terlalu tenang. “Maksud saya jelas. Kalau kurang jelas, berarti ad

    last updateÚltima actualización : 2026-03-21
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 84

    “Mas Radja,” Djiwa menghampiri pria itu, refleks satu tangannya menutupi hidung ketika aroma alkohol menyergap tajam. “Djiwa?” mata Radja menyipit. Pandangannya sedikit kabur, namun ia tetap bisa mengenali siluet wanita itu—bahkan di tengah kepalanya yang berat, aroma khas Djiwa tak pernah salah.

    last updateÚltima actualización : 2026-03-21
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 89

    “Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d

    last updateÚltima actualización : 2026-03-21
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 67

    “Jahat ya kamu, Kai,” desis Fairish tajam. “Sengaja kamu belain Djiwa tadi? Mau buat aku marah, huh?” bola matanya membesar karena kesal. Kaisar menghela napas panjang. “Aku bukan sengaja mau buat kamu marah, tapi itu emang hal yang harus aku lakuin kan ke dia? Djiwa istri aku mau gimanapun.” “Ta

    last updateÚltima actualización : 2026-03-20
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status