LOGINPagi, mohon dukungan dan apresiasinya untuk buku ini, ya. Vote Gem/Hadiah, terima kasih. Buat yang belum pernah vote Gem, jangan lupa vote Gem sekarang, supaya semangat up🫶🏻
Mobil yang Radja minta akhirnya datang juga. Sebuah Alphard putih berhenti tepat di depan gang rumah petak itu, mobil yang dulu ia beli khusus untuk Djiwa, agar istrinya nyaman setiap kali bepergian. Kilau catnya masih sama, bersih dan elegan, sangat kontras dengan gang sempit yang mengelilinginya. Radja memang terpaksa memanggil mobil itu. Mobil sport yang ia kendarai sebelumnya tak cukup lapang untuk menampung barang-barang Ratu dan Djiwa. Pintu mobil terbuka. Sopir turun lebih dulu, membungkuk hormat. “Silakan, Tuan.” Djiwa berdiri kaku, menatap mobil itu lama. Matanya menyapu dari velg, pintu geser otomatis, hingga interior mewah yang sekilas terlihat dari luar. Dadanya naik turun pelan, seolah sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Radja tak mendesak. Ia hanya mengulurkan tangan pada Ratu lebih dulu. “Ayo, Nak.” Ratu langsung menyambar tangan ayahnya dengan senyum lebar, lalu menoleh ke Djiwa. “Mommy ikut, kan? Daddy bilang rumahnya gede.” Djiwa terdi
“Cie … Daddy sama Ibu—eh, sama Mommy so sweet,” goda Ratu riang dari dalam gendongan Djiwa, matanya berbinar menatap Radja yang barusan mengecup kening ibunya. Djiwa terperanjat. Matanya membulat, napasnya tertahan. Sementara Radja sudah menarik diri, memasang senyum tipis—tenang, seolah apa yang barusan terjadi hal paling wajar di dunia. “Mommy udah sadar, kan, kalau itu Daddy?” seru Ratu antusias. “Ini Daddy, Bu. Daddy udah pulang dari kerja jauh.” “Iya, sayang,” Radja menimpali lembut sambil mengusap puncak kepala putrinya. “Mommy kamu cuma kaget.” Tatapannya beralih pada Djiwa, suaranya tetap tenang. “Bayangkan saja, Daddy pergi kerja jauh sejak kamu masih bayi. Daddy juga salah karena tidak pernah memberi kabar. Wajar kalau Mommy kamu lupa, dan mungkin kecewa.” Bibir Ratu mencebik, lalu menatap ibunya penuh harap. “Mommy jangan marah, ya. Daddy udah minta maaf. Terus Ratu di
“Ratu … Ratu, Ratu,” panggil Djiwa berulang kali begitu memasuki rumah sepetak itu. Suaranya menggema di ruang sempit yang menyatukan kamar, dapur, dan kamar mandi dalam satu tarikan napas kehidupan mereka. Namun rumah itu kosong. Terlalu kosong. Tak ada tawa kecil. Tak ada langkah kaki berlari. Hatinya langsung mengerat. “Jangan-jangan masih di taman,” gumamnya lirih. Tanpa sempat berganti alas kaki, Djiwa kembali melangkah cepat menuju angkringan dekat taman—tempat Ratu biasa bermain sebelum senja. Keramaian menyambutnya. Asap makanan mengepul, suara tawa bercampur musik pelan. Beberapa influencer sibuk mengarahkan kamera ke makanan, tertawa riuh, seolah dunia sedang baik-baik saja. Namun mata Djiwa hanya mencari satu hal. Ia menyapu taman dengan pandangan cemas. Empat anak kecil terlihat tertawa di ayunan. Tapi bukan Ratu. “Nggak ada,”
“Iya, Om. Adjiva,” ucap Ratu pelan, seolah takut salah. “Nama depannya sama kayak Ibu.” Radja menelan ludahnya. Suaranya keluar lirih, bergetar tanpa ia sadari. “Siapa nama ibu kamu, Nak?” “Adjiva Nadjwa.” Dunia Radja runtuh seketika. Tangannya yang semula bertengger lembut di puncak kepala Ratu perlahan turun, mengepal di samping tubuhnya. Napasnya terasa berat, dadanya seolah diremas sesuatu yang tak kasatmata. Tatapan gelapnya menelisik wajah gadis kecil di hadapannya, dan di sanalah ia akhirnya melihat dengan jelas. Mata itu. Hidung kecil itu. Lengkungan senyum yang bahkan saat menangis pun masih sama. Semuanya milik Djiwa. “Di mana … Papa kamu?” tanya Radja akhirnya, suaranya berat, ragu, seolah ia berdiri di tepi jurang yang dalam dan gelap. Ratu terdiam. Bibirnya bergetar. “Papa …,” gumamnya lirih, matanya kembali berkaca-kaca. Radja menahan napas. “Kenapa, Nak?” “Kata Ibu, Papa udah meninggal,” jawab Ratu pelan, nyaris tak terdengar. “Ratu gak punya
Rokok di tangan Radja jatuh ke lantai, apinya mati terinjak tanpa sadar. Radja melepaskan kerah kemeja Sultan perlahan. Dadanya naik turun, napasnya berat, matanya memerah bukan karena marah semata—melainkan karena pengkhianatan. “Mami?” gumam Radja lirih, nyaris tak terdengar, seolah kata itu terlalu berat untuk keluar dari bibirnya. “Jadi … benar, Mami juga terlibat?” Sultan menunduk lebih dalam. Bahunya mengeras, napasnya tertahan. Ia tak sanggup menatap wajah kakaknya. “Dan kamu memilih menuruti kemauan Mami,” suara Radja bergetar karena amarah yang ditahan mati-matian. “Membunuh orang yang sama sekali tidak bersalah?” Kedua tangan Radja mengepal di sisi tubuhnya. Urat-urat di pelipisnya menegang. “Kenapa, Tan?” desaknya, suaranya merendah namun tajam. “Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa sampai setega itu? Saya … saya tidak pernah menyangka kamu bisa melakukan hal seperti ini.” “Saya terpaksa, Mas,” jawab Sultan akhirnya. Suaranya kecil, rapuh. “Terpaksa bagaimana?”
Mobil Radja akhirnya berhenti di depan penthouse yang lima tahun lalu ia beli—tempat yang dulu ia impikan sebagai rumah bagi dirinya, Djiwa, dan anak-anak mereka. Radja sadar, keluarganya akan terkejut jika tahu istrinya telah ditemukan setelah menghilang selama lima tahun. Karena itu, ia membawanya ke sini lebih dulu. Tempat yang masih ia anggap paling aman. “Ayo turun,” ucap Radja, tangannya sudah lebih dulu mencengkeram pergelangan tangan Djiwa. “Aku mau pulang ke rumah aku sendiri,” balas Djiwa tegas, tetap menatap lurus ke depan. Radja mengerutkan kening. “Ini rumah kamu, Djiwa.” Djiwa akhirnya menoleh, menatap mata Radja tanpa gentar. “Ini bukan rumah aku. Karena aku bukan lagi istri kamu.” Ia menarik napas dalam, menegakkan bahunya. “Kita udah pisah lima tahun, Mas. Gak ada nafkah materi, gak ada nafkah batin, gak ada kehidupan bersama. Pernikahan itu udah aku anggap gugur.” Radja hendak menyela, namun Djiwa lebih dulu melanjutkan, suaranya dingin dan terukur.







